46. Lusilame dan Konstruksi Identitas

Lusilame dan Konstruksi Identitas

Jauh di selatan Atadei, sekitar 40an km dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, terdapat sebuah kampung di atas bukit (woloi). Orang-oragnya menamakan diri “atawolo” orang yang berasal (berdiam) di atas bukit. Dari sisi pemerintahan, ia lebih dikenal sebagai Lusilame.ATAWOLO 9

Tahun 2015 menjadi arti yang khusus. Di kampung berpenduduk hanya 341, warganya bisa membangun sebuah Gereja megah, hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Yang menarik, bangunan gereja megah (barangkali termegah di Lembata) itu bukan dibangun atas sumbangan atau hibah, tetapi atas prakarsa sendiri orang Atawolo. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Roh Pemersatu

Realiasi pembangunan Gereja megah senilai 1,5 miliar rupiah, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan. Apalagi latar belakang semua warganya yang ‘hanya’ petani-peladang. Tetapi mengapa hal itu bisa terwujud?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa dicari kini. Ia harus dilihat dalam bingkai historis yang jadi inspirasi dan kemudian bergerak bagai rantai pemersatu. Dari sana, berbagai lingkup dipersatukan dalam tekad yang sama hal mana digambarkan oleh Thomas B Ataladjar dalam Lame Lusi Lako (2015).

Buku terbitan Yayasan “Koker” (Niko Strawn– Bernard Beeker) dari putera-puteri paroki Lerek itu, mengangkat kisah tutur tentang ‘Ata tuan no ular’ (si tua dan ular). Di suatu saat, demikian cerita lisan, ada seekor ular yang awalnya dipelihara dalam sebuah ‘wetak’ (gudang), tetapi suatu hari ia tak tahan lagi berada dalam kepungan asap, hal mana membuatnya keluar dari tempat nan aman.ATAWOLO 17

Sayangnya, setelah lari ia berubah jadi buas. Makanannya pun tidak lain adalah ‘anak-anak kecil’. Hal itulah yang membuat amarah masyarakat dan berusaha memerangkapnya hingga tertangkap. Ular pun dibunuh.

Tetapi kematian ular tidak mengakhiri masalah. Malah masalah baru muncul. Bangkai ular yang begitu menyengat tidak bisa ditahan oleh siapa pun hal mana mengusir semua warganya keluar dari kampung. Mereka tercerai berai.

Untung saja, ada figur bernama Sadi yang tidak ingin agar orang menjadi tercerai berai. Ia lalu mengutus “luher “ (elang) dan “lakor” (musang) untuk memanggil semua waga terpisah kembali menempati lagi kampung yang mereka tinggalkan. Jadilah, terkumpul 15 suku (kini tinggal 12 suku) yang menerima tawaran.ATAWOLO 16Suku-suku itu disingkat dalam LAKO (Lamalangun-Koleh)-LUHE (Luon-Henakin)-HUWI (Huar-Witin)-DOHI (Dolun-Hipir)-KAME (Karangora Lamaroning-Mehan)-NULA (Nuban-Ladjar) –TOU (Tolok-Laba Nobeng Unarajan), dan NA (Namang).

Bisa dipastikan bahwa pemberian singkatan itu sebagai refleksi pasca kejadian. Ibarat Kisah penciptaan Adam dan Hawa yang bukan kisah historis tetapi konstruksi kemudian demi menjawabi pertanyaan tentang asal usul manusia, demikian juga frase itu bisa dipastikan sebuah ciptaan demi menguatkan persatuan.ATAWOLO 23

Yang menakjubkan, di balik aneka derita, masyarakat mampu menciptakan kisah yang memberi optimisme tentang masa depan di tengah realitas yang kontradiktoris. Pengalaman tragis tidak dilihat sebagai kendala (mulai dari Keroko Puken / Lepan Batan) hingga proses menempati buki yang kini jadi kampungnya.

Bahkan ketika sudah menetap dan harus mulai mengembangkan pertanian, mereka sekali lagi diterpa derita oleh kematian Peni Muklolon yang harus jadi korban (dibunuh oleh saudaranya Laba) agar darinya bisa hadir benih padi dan jagung.ATAWOLO 15Rangkaian derita itu justeru jadi cambuk. Mereka harus kembali menatap realitas. Derita harus dihadapi bukan dihindari karena di sana ada pembelajaran penting.

Identitas Dibentuk

Kesadaran akan persatuan sebagai kekuatan menjadi inspirasi dasar. Dalam pertemuan awal pada Juli 2012, muncul kesadaran untuk mengukuhkan persatuan seagai basis membangun Gereja dan aneka kegiatan kreatif lainnya.

Proses itu berjalan hampir setahun. Hingga tahun 2013, pelbagai anggota keluaga yang sudah merantau, seperti di Lewoleba, Hokeng, Larantuka, Maumere, Mbai, Manggarai, Timor, Kalimantan, Singapura, Batam, Singapura, dan Jakarta (sekedar menyebut beberapa nama) dikontak. Semuanya sepakat untuk melakukan sesuatu.ATAWOLO 25

Selama dua tahun setiap orang memasang target. Tidak sedikit perantau, meski dengan penghasilan ‘seadanya’ bersedia menyumbang Rp 3 juta rupiah dan dicicil dalam 2 tahun. Jadilah sebuah kekuatan terbentuk. Bersama-sama dalam semangat gemohing, mereka mewujudkan apa yang diimpikan hingga memiliki gereja yang diberkati oleh Uskup Frans Kopong Kung pada tanggal 5 Juli 2015.

Keberhasilan tidak saja diraih kampung kecil ini tetapi terutama jadi pembelajaran penting. Pertama, orang Atawolo menyadarkan siapa pun bahwa identitas tidak diciptakan tetapi dibentuk. Kenyataan kita tidak bisa mengelak dari pengalaman yang hadir. Lebih lagi, dari aneka derita yang menerpa.

Klaim sebagai kaum yang kalah bisa saja muncul. Pasrah pada nasib dan menerima derita sebagai takdir juga bisa saja ada. Tetapi hal itu tidak terjadi. Secara bijak, masyarakat adat meneguhkan hati, menguatkan pikiran untuk dapat berdiri kembali setelah mengalami kejatuhan. Malah derita tidak menjadi akhir tetapi awal. Di sana, dibentuk identitas sebagai pejuang, orang yang selalu berdiri dan sigap menghadapi tantangan. Identitas diri inilah yang bisa jadi jawaban mengapa orang dari ‘kampung kecil’ itu dapat membangun sebuah rumah Tuhan yang sangat megah.ATAWOLO 26

Kedua, butuh figur pemersatu. Di sebuah kampung dengan dasar keretakan dan keterpisahan, sangat penting kehadiran pemersatu. Dalam lingkup yang sangat demokratis seperti Atawolo, mereka tidak persoalkan siapa pun yang memersatukan. Malah dalam banyak hal, pemersatu itu malah berasal dari luar. Tetapi itu tidak dipermasalahkan karena semua orang punya hak yang sama, terlepas dari asal usulnya.

Kehadiran figur pemersatu itu bukan kebetulan. Dalam sejarah Lamaholot, figur Ama Sadi itu sangat jelas. Dia bisa menyuruh “Lakor” dan “Luher” untuk dapat memanggil semua suku yang tercerai berai untuk bersatu. Figur ini yang jadi simbol. Di sini selain tercermin semangat demokratis tetapi juga menjadi awasan bahwa peran kepemimpinan ini sangat penting. Atawolo yang jadi kekuatan besar bisa saja mudah tercerai berai ketika pemimpin yang diharapkan tidak sanggpu menunjukkan kebajikan diri. Ia justeru menjadi batu penghalang.ATAWOLO 24

Ketiga Gereja itu usai kini, dengan mudah umat dapat melihat siapa yang telah memersatukan. Tetapi itu tidak terlalu penting. Yang teurtama adalah kerjasama semua pihak dan bukan hanya seorang saja. Memang tidak dapat dihindari ada figur. Tetapi oleh Bernard Boli Rebong, frase yang tepat adalah peran semuanya “minle no mio” (untung ada kalian), yang bisa dimaknai, untungnya ada kita semua. Di sana semua mengatakan “Ya” untuk sebuah proyek luar biasa dan kini terwujud.

Sumber Flores Bangkit 30 Juni 2015

Foto-foto: Harry Ajjah dan Very Namang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s