47. Atawolo, Gereja Gemohing dan Rekonsiliasi

47. Atawolo, Gereja Gemohing dan Rekonsiliasi

Dengan peresmian Gereja St. Paulus Atawolo, hasil dari sebuah kerja keras secara bersama-sama maka terhadirkan sebuah konsep yang lahir dari praksis: Gereja Gemohing. Sebuah gereja yang lahir dari kesadaran akan kebersamaan di masa silam, warisa leluhur dan kini dimaknai sertai dihadirkan secara nyata di Atawolo.ATAWOLO 8Bernardus Boli Rebong, inisiator berdirinya Gereja St. Paulus Atawolo. Tapi menurut Boli, hal itu tidak mungkin terjadi tanpa partisipasi semua warga Atawolo “Er mek tek no mio hi” (Kalau kalian tidak ada).

Di manakah rahasia dari Gereja Gemohing? Apa yang menjadi kekuatan sebenarnya? Mustahil bertanya demikian. Sebuah karya besar dengan arsitek yang luar biasa dengan biaya dua miliar lebih tidak bisa tidak memiliki rahasia yang perlu diketahui.

Disokong derita.

Merentetkan kisah perjalanan orang Atawolo mulai dari Serang Gorang, Lepan Bata (Keroko Puken), Tuak Wutu Awololo, hingga menetap di desa yang kemudian disebut “Lusi Lame” tidak kurang derita.

Derita akibat ombak tinggi menghatam perahu kecil “Tena Laga Doni”, menjadi bak makanan sehari-hari. Rasa legah ketika perjalanan menyusuri Maluku akhirnya sampai di Keroko Puken (Lepan Batan).

Di tanah ini, digambarkan sangat subur, diharapkan jadi tempat tinggal aman. Sayangnya, tahun 1500-an, demikian analisis dari Thomas B. Atadlajar, penulis “Lame Lusi Lako”, terjadi air bah alias tsunami.

Dari sana, sebagian menyusuri utara hingga sampai ke Tuak Wutu Awololo. Di sana mereka pun tidak lama. Tragedi yang sama terjadi di sana, yang mendorong mereka untuk terus berjalan menyusuri Lewotolok, Waikomo, Belek, dan akhirnya sampai di Wai Ketoi Tawa, Tuwu Lenge, dan akhirnya Atawolo.ATAWOLO 11

Yang lainnya menyurusi wilayah Selatan dan akhirnya sampai di Bobu dan Tanjung Atadei. Di sana mereka menyusuri kali besar dan berjalan hingga sampai di Atawolo. Sebuah perjalanan yang tidak mudah. Bahkan sebelum sampai di kampung yang sekarang, mereka harus melewati aneka tantangan dan cobaan.

Di tempat yang diharapkan menjadi tempat ‘terakhir’ hal mana terwakilkan dalam frase MORI: “Mio mai Olaoni Rae Ile” (kamu pergi cari makan dan tinggal di gunung). Tertapi derita tidak henti. Di gunung, saat harus menetap, mereka harus menghadapi korban Peni Muklolon yang harus dibunuh dan dari darahnya akan muncul benih jagung dan padi.

Dari hasil kebun ini ‘wetak’ (gudang penampung hasil panen), mereka cukup berjaya dalam kelimpahan. Tetapi sebuah awasan karena selama waktu itu mereka bahakn memelihara juga ‘ular’ yang kemudian menjadi musuh. Awalnya mereka hidup dalam keakraban tetapi lewat perjalanan waktu, ular itu menjadi buas terutama setelah keluar dari ‘wetak’ tempat tinggal ular bersama hasil kebun.

Akibat memakan ‘anak kecil’ maka ular itu akhirnya dibinasakan.Tetapi justeru di sana hadir malapetaka baru. Bau menyengat dengan ulat kecil yang muncul justeru jadi musibah yang secara tidak langsung mengusir warga Atawolo. Mereka pergi tercerai berai.

Rekonsiliasi

Derita sebagai bagian dari perjalanan bisa saja mudah menghadirkan rasa putus asah. Pilihan pergi untuk tidak kembali adalah logis. Tetapi tidak demikian halnya untuk Atawolo. Dalam beberapa kisah, terlihat bahwa panggilan untuk kembali begitu kuat. Di sana derita itu haus diterima, dimaknai, dan jadi pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya.ATAWOLO 18

Dalam kisah Nira Wati tentang berubahnya manusia jadi batu tersingkap sebuah pembelajaran. Nira dan Wati yang setelah melewati pelayanan yang jauh, mestinya tidak ‘kembali’ lagi ke perahu. Sekali mendarat, mereka harus memilih untuk memulai hidup. Tetapi justeru mereka dua ingin kembali mengambil sirih dan pinang yang membuat mereka berubah jadi batu.

Atau frase indah “Matem Batem” yang merupakan singkatan dari “Mio Ata Tanah Ekan, Mio Balik Tanah Ekan Muri” menjadi sebuah pembelajaran indah. Kematian yang merupakan akhir dari derita di dunia bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia harus dihadapi dengan gembira karena di sana kita semua akan kembali.

Atas dasar penerimaan derita ini maka terdorong untuk adanya persatuan (rekonsiliasi). Kali ini seruan persatuan menjadi lebih kuat karena yang memanggil bukan lagi sesama manusia yang tentu saja masih terikat dengan kemanusiawian terutama dengan masa lampau yang pahit

Dari ketinggian dan dari bawah “Luher” (elang) dan “Lakor” (Musang) memanggil untuk bersatu: “Mio Pai Hone Tele Ia, Pai Wane Tele Pia” . Sebuah seruan untuk melihat ke depan karena ketika semua bersatu, apapun derita menjadi ringan. Seruan itu akhirnya disambut 15 suku yang mengatakan ‘ya’ kembali hidup di bukit, memulai sebuah kehidupan baru.ATAWOLO 13

Persatuan itu malah menjadi kuat. Semua kekuatan berekonsiliasi dan menata kembali kampung dengan membangi aneka tugas dan tanggungjawab. Semua orang mendapatkan tempatnya dan diberi peran untuk dapat membangun kampungnya. Semuanya secara bersama-sama secara ‘gemohing’ membangun gerejanya.

Jiwa persatuan inilah yang bisa terlihat kini dan menjadi sebuah ‘tontotan’ yang menggembirakan. Semua orang Atawolo dari berbagai penjuru tanah air malah ada yang dari luar negeri (Singapura, Hongkong, Brunei, Chile, dan Tahiti) melihat pada satu tujuan yang sama dan mengatakna ‘ya’ untuk secara ‘gemohing’ membangun Gerejanya.

Di atas kebersamaan ini, semua orang saling mengandaikan dan memiliki peran. Semua orang punya peran masing-masing dan tidak ada yang menjadi pemeran tunggal. Meskipun figur ‘Atarajan Sadi’ tidak bisa disangkali hadir melalui pribadi tertentu tetapi mereka tidak lebih dari utusan (seperti Lakor dan Luher) yang memanggil: “Mio Pai Hone Tele Ia, Pai Wane Tele Pia” .

Seruan itu bila tidak ditanggapi pun tidak akan berhasil. Sia-sia “Lakor” dan “Luher” berteriak kalau tidak ada tanggapan. Di sini kehendak baik untuk menanggapi hal tersebut patut disatuli. Semua orang dengan kontribusi berbeda-beda, dengan jumlah yang tentu saja tidak sama, tetapi yang pasti dari hatinya yang paling ikhlas memberi yagn terbaik demi terwujudnya gereja itu kini.

Malah bagi yang tidak menyumbang, demikian Bernard Boli Rebong, inisiator, bisa saja mereka menyumbang lebih lewat doa-doanya. Mereka berdoa sehingga kita yang lain sehat dan bisa kuat bekerja hingga hari ini kita saksikan gereja Santu Paulus berdiri megah di Atawolo.

Sumber Flores Bangkit 01 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s