48. Elang – Musang dan Teologi Lokal

48. Elang-Musang dan Teologi Lokal

Dengan ditahbiskannya Gereja Santu Paulus Atawolo yang dibangun dalam waktu 2 tahun, memunculkan pertanyaan menarik: Adakah sesuatu yang baik dan dapat dijadikan pembelajaran tidak saja bagi orang Atawolo tetapi juga bagi gereja universal?ATAWOLO 20

Adakah makan teologis yang dapat ditimba sebagai kekuatan? Pertanyaan teologis ini menjadi final dari tulisan ini sekaligus puncak. Sebuah karya agung tidak bisa terjadi kalau menjadi ‘berkah’ yang diterima secara cuma-cuma.

Perpaduan Utuh

Leonardo Boff, teolog Amerika Latin paling populer dalam bukunya: El aguila y la gallina, una metafora de la condicion humana,menampilkan sebuah metáfora menarik. Baginya ‘aguila’ (elang) adalah metáfora dari sebuah kehidupan yang selalu memiliki ilusi. Ilusilah yang memberi optimisme untuk berjuang.ATAWOLO 21

Sementara ‘gallina’ (induk ayam) menandakan sebuah kehidupan yang selalu menyentuh dunia. Sebuah kehidupan riil yang membumi. Ia merupakan kritik terhadap pemikiran yang terlalu mengawang-awang, lupa membumi. Kehadiran ‘gallina’ justeru menandakan sebuah kehidupan riil.

Dua sisi ini bagi sang teolog harusnya menjadi ciri yang dimiliki oleh semua orang yang beragama. Agama tidak saja mengajarkan tentang ‘Allah’ (yang di atas), tetapi juga perlu membumi. Yang ‘di atas’ tentu saja memberi inspirasi tetapi ia tidak boleh menginjak di bumi.

Sayangnya hal ini kerap tidak sejalan. Dalam banyak hal, agama lebih mementingkan ‘yang di atas’. Tidak sedikit yang mengakui sangat beragama, alim dalam kehidupan, dan sangat taat beribadah. Sayangnya, kesaksian hidupnya mengecewakan. Hidup nyata justeru beseberangan dengan apa yang ia hidupi.

Tak disadari, orang Atawolo menggunakan metáfora yang hampir sama. Masyarakat di Selatan Atadei menggunakan ‘elang’ (luher) dan ‘musang’ (lakor). Yang satu mewakili kekuatan yang ‘di atas’. Yang lainnya mewakili yang ‘di bawah’.

Dua kekuatan inilah malah menyapa manusia untuk mewujudkan sebuah kebersamaan. Dua binatang yang secara alamiah berseberangan, ternyata menunjukkan sebuah kebersamaan dan selanjutnya menyapa semua orang berkehendak baik untuk hidup bersama.ATAWOLO 22

Contoh menggugah ini yang kemudian ditawarkan. Dalam kenyataannya menjadi sebuah kekuatan luar biasa. Sebuah kampung kecil hadir menggugah dengan menghadirkan contoh bahwa ketika dua kekuatan dipadukan, maka karya apa pun bisa terjadi. Di Selatan Lembata, bukti dalam Gereja megah hasil kerja keras masyarkat setempat menjadi buktinya.

Ia sekaligus menjadi kritik. Dalam ensikliknya “Evangelii Gaudium” Paus Fransiskus justeru menyangkan model berteologi dan beragama yang hanya mementingkan satu sisi. Ada banyak teolog yang mengajukan pertanyaan yang tidak ditanyakan orang sederhana. Teologi seperti itu sangat spekulatif. Sebaliknya berteologi mestinya didasarkanpada pertanyaan yang diajukan masyarakat sederhana.

Metafora “águila” dan “gallina” dari Leonardo Boff dan “Lakor” dan “Luher” dari masyarkat Atawolo justeur menghadirkan sesuatu yang nyata. Di tengah hadangan derita, masyarakat secara bijak mengonstruksikan jalan keluar dalam bentuk model beragama yang menyentuh. Ia menggapai “yang di atas” tetapi juga menyentuh “yang di bawah”. Sebuah kehidupan utuh.

Sebuah Panggilan

Keberhasilan warga Atawolo tentu tidak boleh dilebih-lebihkan. Ada banyak orang juga iktu ambil bagian, meskipun keterlibatan mereka tidak terlepas dari kedekatan dengan masyarakat Atawolo. Namun yang perlu ditampilkan adalah nilai teologis yang terkandung di dalamnya.

Pertama, kesuksesan membangun gereja tidak terjadi karena orang tersentuh dahulu. Warisan leluhur merupakan nilai yang mendahului karya besar kini. Keberanian leluhur mengonstruksi kisah sebagai pemersatu melalui figur “Lakor” dan “Luher” merupakan contoh yang patut diteladani.

Di sana orang Atawolo menyadari bahwa sebagaimana dua hewan yang berbeda ruagn lingkup dapat bersatu, demikian juga mereka terpanggil untuk mengikuti hal yang sama malah melampauinya. Contoh menggugah inilah yang menjadi salah satu Kunci yang dapat menjelaskan kokohnya kesatuan kini.

Kedua, masyarakat sederhana telah memberikan sebuah pembelajaran berharga. Mereka menggabungkan secara utuh antara “yang di atas” dan “yang di bawah” dalam sebuah kekuatan berdaya guna. Bagi mereka, sebuah karya hanya bisa berwujud kalau ‘dikehendaki’ oleh “Dia yang di atas”. Tetapi pada saat bersamaan, panggilan itu akan sia-sia kalau tidak ditindaklanjuti.

Kini yang memberi contoh bukan orang-orang ‘luar baisa’ tetapi orang-orang sederhana. Mereka tidak berkhotbah tentang kebersamaan, tetapi menghadirkan kebersamaan itu melalui teladan hidup menggugah kini.

Ketiga, orang sederhana mengajarkan tentang ‘cara berteologi’ yang seharusnya. Sebuah teologi yang berpijak pada pertanyaan konkrit. Ia merupakan hasil atas refleksi atas realitas. Darinya diangkat ke tingkat lebih mendalam.

Model paling menonjol yang ditampilkan adalah kebersamaan. Sebuah kebersamaan yang dibangun di atas kekurangan tetapi telah berubah menjadi sebuah kekuatan dahsyat. Kebersamaan ini sudah hadir sebagai contoh. Kesatuan teologis dalam Bapa, Putera, dan Roh Kudus, hadir secara nyata baik melalui metáfora “lakor” dan “luher”, dan kini kebersamaan yang berbuah dengan bukti lewat bangunan gereja, menjadi sebuah contoh.

Keempat, nilai teologis yang digali tentu tidak final. Ia baru hadir kini sebagai sebuah upaya rekonstruksi kembali. Itu berarti ia tetap menjadi sebuah projek yang harus diwujdukan di masa depan.

Sebagai projek yang belum selesai, ia bisa dihadapkan pada ancaman ketika tidak dipupuki. Itu berarti contoh mengagumkan itu belum selesai. Butuh upaya kerja keras. Keretakkan bisa saja hadir mencedarai hal positif yang telah dibangun. Karena itu keberhasilan yang diraih kini harus jadi inspirasi sekaligus mengingatkan bahwa perpaduan itu harus terus dihidupi.

Inilah panggilan yang haus terus diwujudkan. Hanya dengan demikian teologi akan lebih mengena, kehidupan menggereja lebih berkesan, dan kehidpan akan menjadi lebih utuh di mana yang rohani dan jasmani berpadu secara baik

Sumber Flores Bangkit 002 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s