49. Atawolo, Merawat Demokrasi

49. Atawolo, Merawat Demokrasi

 Dengan meretas kembali sejarah kampung yang orang-orangnya menamakan dirinya sebagai ‘atawolo’ (orang bukit), tidak berhenti mengagetkan. Tidak hanya kebijakan leluhur yang tertata dalam ungkapan menakjubkan, tetapi juga nilai demokrasi.ATAWOLO 12

Apa kontribusi Atawolo terhadap penciptaan demokrasi? Apa yang jadi awasan dalam membangun sebuah politik demokrasi yang bertahan? Inilah pertanyaan yang perlu digali lebih jauh.

Demokrasi

Demokrasi menempatkan pola pengambilan keputusan yang beradal dari, oleh, dan untuk rakyat. Inspirasi harus berasal dari masyarkat. Ia bukan ‘titipan’ apalagi paksaan. Inisiatif selalu datang dari bawah.

Pelakunya juga adalah rakyat sendiri. Mereka tidak mengalihkan tanggungjawabnya pada orang lain. Dari perwujudannya, mereka juga ambil bagian sepenuhnya. Hasil dari proses ini pun diharapkan dinikmati oleh rakyat.ATAWOLO 14

Kekayaan demokratis itu sangat jelas terbaca dalam penelusuran sejarah, tulisan Thomas B. Ataladjar: Lame Lusi Lako. Inisiatif bersatu dan menata kampung datang dari masyarakat sendiri. Denagn metafora melalu ‘Lakor’ dan ‘Luher’, ia tunjukkan bahwa kedua binatang itu ‘diadakan’ sebagai representasi kehendak warga Atawolo untuk bersatu.

Setelah semua suku berkumpul, proses demokrasi tidak berhenti. Proses pemilihan siapa yang memegang ‘rumah adat’ sebagai acuan tidak berhenti. Tiga binatang hadir dalam ‘meeting’ untuk ditanyakan pendapatnya: lakor (musang), luher (elang) dan manuk (ayam). Dengan kode suaranya (luher biol, lakor lekihi, manuk peit) mereka memastikan bahwa pilihan yang diajukan diterima dengan baik.

Fakta demokrasi tidak berhenti di sini. Dalam pengaturan manajemen kampung, setiap suku diberi tugas dan tanggungjawab berbeda-beda. Ada yang menjaga rumah adat (koker), ada yang menerima tamu. Yang lain menanangai bidang kesehatan. Ada yang menjadi baik humas sebagai pencar aneka kegiatan. Ada juag yang membagi peran dalam pengelolaan tanah.

Di sana tercermin bahwa semua hal bisa diselesaikan secara bersama-sama. Dengan berinspirasi pada kerjasama ‘binatang’ (binatang saja bisa bekerjasama), maka orang tersapa untuk dapat mengadakan kerjasama sehingga kampung “Lame-Lusi Lia-Lako” dapat berkembang ke arah yang lebih baik.ATAWOLO 17

Tak kalah penting, dalam proses demokratis ini dihadirkan pula figur “Ama Sadi” yang digambarkan sebagai tokoh yang bijaksana. Ia adalah cermin pemimpin yang tidak tinggal diam ketika masalah menghantui, tetapi menjadi orang terdepan dalam proses penyelesaian masalah.

Figur ini digambarkan begitu disegani termasuk oleh alam dan binatang. Tiga binatang yang menjadi metafora kampung (Luher, Lakor, dan manuk) digambarkan begitu ‘taat’ pada “Atarajan Sadi”. Hal itu menggambarkan kewibawaan yang lahir dari contoh hidup memukau.

Rentan “Pecah”

Sebagaimana sebuah demokrasi yang diciptakan (bukan diwariskan) maka ia rentan terhadap konflik. Aneka gesekan dapat membuatnya tercerai-berai. Hal itu juga bisa mudah terjadi di kampung yang berada di atas bukit, Atawolo.

Pemimpin yang dimaksud harus cerdas dalam mengelola konflik yang bisa terjadi. Sebagai sebuah kampung, isu bermain sangat penting. Aneka ‘gosip’ bisa menjadi sebuah ancaman terhadap kesatuan, kalau tidak cepat ditangani secara cerdas oleh tokoh sebijak Ama Sadi.

Proses inilah yang menjadi catatan khusus. Dalam beberapa kasus terakhir yang melanda kampung, hal ini menjadi sebuah catatan khusus. Sejarah mencatat pernah terjadi bahkan pembunuhan orang yang dikategorikan ‘suanggi’. Atau isyu tentang ‘black magic’ bisa saja mengancam kesatuan ketika hal itu tidak dikelola secara baik dan diantisipasi.

Di sini peran pemimpin menjadi sangat penting. Ia harus berada di depan, berdiri di tengah, dan dapat merangkul semua pihak karena memang itulah yang jadi kekuatan Atawolo. Semua suku ‘doeloe’ terbentuk karena kesepakatan dan karena itu kesediaan semua pihak untuk ‘duduk bersama’ menjadi sebuah nilai yang harus diberi tempat dan ditata serta terus dikelola.

Terus Merawat

Tahbisan Gereja akan segera selesai dan menjadi kenangan. Tetapi ia tidak bisa menjadi akhir. Ia harus jadi awal untuk sebuah proses ke depan yang lebih baik.

Pertama, perlu mengedepankan demokrasi dalam kehidupan sosial. Kampung Atawolo yang jadi pioneer dalam demokrasi harus mempertahankan hal ini. Dalam pola ini, setiap orang memiliki tempatnya masing-masing. Tidak ada  yang lebih diutamakan dari yang lain. Selain itu masing-masing menyadari perannya dalam menjadikan Atawolo menjadi lebih baik.

Kedua, butuh pemimpin yang bijaksana. Sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan desa di Atawolo tidak pernah hanya berada pada satu tangan. Itu menunjukkan bahwa rotasi kepemimpinan itu menjadi hal yang biasa. Tetapi pada saat bersamaan, bisa saja hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan ideal masih terus dicari dan dibentuk.

Ketiga, demokrasi adalah hasil konstruksi (ciptaan) dan bukan sebuah keterberian. Sesuatu yang diwariskan lebih menekankan pada soal ‘darah’ sebagai alasan penentuan kepemimpinan tetapi lebih merupakan sebuah proses menjadi. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa hingga kata bijak itu ‘tercipta’ atas kesepakatan. Kebijakan itu mendorong untuk melahirkan frase pemersatu.

Kenyataan ini mestinya kian mendorong kreativitas kaum muda dan anak-anak kini. Mereka bersyukur memiliki warisan budaya berupa teladan tentang hidup bersama dan kebijakan menciptakan nilai pemersatu. Dengan itu mereka terpanggil agar kelak, dalam konteks mereka, dapat tercipta juga nilai persatuan yang lebih sesuai dengan konteks mereka.

Kesadaran ini menjadi dasar bahwa nilai demokratis yang telah ditanamkan harus dirawat. Selain karena ia rentan terhadap bahaya perpecayan dan konflik, tetapi juga karena ke depan hal itu dapat menjadi kekuatan bagi generasi berikutnya untuk dapat mematerikan karya lebih agung lagi sesuai tuntutan zaman.

Bila proses ini tertata dan terawat dengan baik maka Atawolo akan jadi inspirasi bagi warganya di mana saja dan dapat juga jadi contoh untuk warga lainnya. Semoga

Sumber Flores Bangkit 03 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s