(7) Kritik yang Konstruktif

Kritik yang Konstruktif

Memberikan tanggapan malah nasihat karena dianggap sesepuh di NTT, tentu patut dihargai, apalagi orang ‘selevel’ Ben Mboi. Dengan pengalamannya sebagai gubernur yang nota bene terkenal dengan ONM dan ONH yang cukup ‘berhasil’, maka nasihat itu perlu didengar oleh gubernur terpilih.

Mengapa tidak. Sebuah catatan kritis penuh nilai. Secara jelas, suami Nafsiah Mboi itu mengharapkan agar secara moral, sosial, politis, dan administratif, perlu diadakan autokritik dan auto-koreksi agar orang tidak tenggelam dalam kemenangan dan lupa daratan. Yang ditunggu di depan adalah kerja dan bukan sekedar merayakan kemenangan.

Harapan akhir jelas. Semoga kemenangan yang diperoleh kini menjadi sebuah acuan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih positif lima tahun ke depan. Sampai di sini semuanya terlihat sangat positif, dan mengapa tidak harus diperhatikan oleh Lebu Raya. Hemat saya apa pun yang dikatakan ‘sesepuh’ itu harus diterima karena Lebu Raya dan mengapa tidak, Lebu Raya pun pasti tahu diri bahwa saat Ben Mboi menjadi gubernur, ia belum ada ‘apa-apanya’.

Sampai di sini semua kelihatan OK. Tetapi membaca secara keseluruhan, apalagi ketika disertai dosis penonjolan diri yang sudah tidak lagi pada tempatnya, maka rasa miris pun muncul. Lihat saja. Panggilan ‘saudara’, mestinya dianggap biasa. Ia malah mengungkapkan kedekatan: bro (brother). Tetapi ia terlanjur punya makna memandang orang yang disapa lebih rendah. Padahal logisnya, yang satu (mantan) perlu juga legowo menghormati penggantinya, terlepas apakah pada masanya lebih hebat atau tidak. Itu tuntutan manusiawi.

Tidak hanya itu,. Menyimak permintaan Ben Mboi agar gubernur terpilih untuk membaca Nota Perhitungan Anggaran 1979/1988 pada masanya,maka rasa kepantasan itu seakan melorot dan merosot sekali. Belum lagi sebuah ungkapan bahwa program yang dilaksanakan Lebu Raya kini hanyalah berbeda secara nomenklatur karena semuanya itu sudah dilaksanakan.

Kekurangan dalam cara pengungakpan dan nada tak sopan itu yang mestinya dikritisi Vian K Burin dalam artikelnya: Sebuah Catatan Menanggapi Surat Ben Mboi. Sayangnya karena terlampau kagum malah ‘merinding’ saat membacanya, demikian ungkapan Burin, maka tidak terlihat dimensi kritis seperti yang dijanjikan. Apalagi kedekatan dan keterikatan politis pada Gerindra menjadikan artikel itu hanya merupakan pengungkapan ‘dengan kata lain’, tetapi tidak menampilkan pautan refleksi yang diharapkan.

Lebih lagi merujuk pada kesimpulan Burin bahwa: proses pilgub kali ini benar-benar tidak berbeda dengan pola yang dijalankan di masa Orde Baru dimana birokrat (PNS) dan struktur pemerintah mulai dari Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, dan Kepala Desa dikerahkan untuk memenangkan partai tertentu. Sebuah kesimpulan yang tak elegan karena tidak sekedar bicara camat dan kepala desa, di tataran bupati, pasti tidak semuanya berasal dari partai yang sama.

Tanpa Ironi

Buletin Etica y Valores (Etika dan Nilai), Desember 2007, mengangkat tema: Crítica Constructiva. Dibeberkan dua jenis kritik yakni: konstruktif dan destruktif.

Kritik konstruktif akan ditandai upaya untuk mengadakan perbaikan. Ia dilaksanakan dalam nuansa kematangan pribadi terutama dari pihak yang mengkritik. Ia tidak akan mengagungkan diri sambil memperkecil peran orang yang dikritik. Ia sadar bahwa tidak ada yang diperjuangkan selain agar terjadi perubahan berarti. Di sana tentu saja secara elegan ditampilkan juga kekurangan-kekurangan tetapi tanpa ironi karena disertai usaha menyadarkan orang yang dikritik tentang akar penyebabnya dan berusaha untuk memperbaikinya ke depan.

Hal itu berbeda dengan kritik destruktif. Yang ditampilkan hanyalah hal-hal negatif dan yang kurang serta belum dilaksanakan. Memang ada usaha menampilkan hal positif tetapi semuanya dibalut dengan ironi dan sarkasme yang diungkapkan dengan tujuan melemahkan dan mengapa tidak hanya ingin menghancurkan orang lain. Apa yang dibuat orang lain (yang dikritisi) selalu salah. Sementara itu upaya mengagung-agungkan diri begitu diberi tempat hingga orang yang berada di luar lingkarannya akan dengan cepat merasakan ada ekspresi keangkuhan yang tak pantas.

Dalam konteks ini, tentu berlebihan dan mengapa tidak sangat infantil jika mengatakan Ben Mboi memberikan kritik destruktif dengan tujuan merusak tatatan sosial politik yang nota bene pernah ia bangun. Ia justru memberikan penyadaran kepada penggantinya untuk tidak tenggelam dalam euforia kemenangan. Sebaliknya, komitmen tanggungjawab perlu ditegakkan agar ke depan, NTT yang diharapkan menjadi lebih baik.

Tetapi kita pun berangan, andai saja isi yang begitu indah seperti yang diimpikan Ben Mboi itu dilukiskan secara deskriptif dengan bahasa yang lebih menggugah. Lebih lagi kalau digambarkan bagaimaana hal itu telah memengaruhi masyarakat. Dan yang paling penting, mengajukan alternatif demi perbaikan.

Sayangnya, hal itu nyaris ada dalam Surat Terbuka itu. Lebih lagi karena disertai dosis ironi dan sarkasme serta upaya memperlakukan orang lain bak anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Lebih lagi kalau disertai juga usaha penonjolan kesuksesan diri yang nota bene kalau dikritisi, tentu juga banyak hal yang bisa dipertanyakan.

Tidak hanya itu. Memberikan ungkapan penghargaan atas sebuah kemenangan (entah besar atau kecil), adalah sebuah ekspresi kebesaran seseorang. Bila berpikiran positif maka dukungan atas kemenangan itu patut diapresiasi karena itulah salah satu manfaat dari demokrasi langsung dan bukannya mengecilkannya dengan menonjolkan kekalahan yang nota bene ‘sangat tipis’.

Membangun

Catatan Ben Mboi dan ungkapan ‘dengan kata lain’ dari Vian K Burin, mesti tidak berhenti para ‘perang pena’ atau tak lanjut karena terhenti pada aneka ironi. Yang terpenting, bagaimana menyikapinya ke depan.

Pertama, kritik perlu diterima secara reseptif. Apa yang disampaikan Ben Mboi tentu saja keluar dari kesadaran akan keterikatannya dengan NTT yang sudah dibangunnya. Ia lalu tentu sangat ‘sakit hati’, kalau bangun nation building yang telah dirawatnya, kini harus terkoyak oleh tindakan memecahbelahkan hanya karena persoalan kekuasaan.

Persoalan agama misalnya akhirnya ‘dihidupkan’ lagi dalam pilgub. Namun kalau kita kritis, mestinya isu itu tidak bisa diberatkan pada satu pihak. Dalam tulisan tentang “Iman dan Politik dalam Pilgub NTT”, penulis melihat bahwa dengan kesuksesan masing-masing pasangan di ‘basisnya’ (Frenly di basis Katolik dan Esthon-Paul di basis Protestan), keduanya bertanggungjawab atas isu itu.

Yang satu (Frenly) bisa saja merasa ‘di atas angin’ kalau isu itu dijadikan konsumsi karena di atas kertas berada di atas angin. Tetapi yang lainnya (Esthon-Paul) bisa saja menyebarkan isu itu untuk mendapatkan simpati seakan menjadi yang paling plural dan paling nasionalis. Metode itu biasa digunakan dalam dinamika politik untuk mendapatkan simpati publik.

Kedua, catatan kekecewaan Ben Mboi perlu dilihat dari segi isinya dan tidak sekedar terpengaruh pada cara pengungakpan. Apalagi sudah berumur sehingga terkadang rung kebijakan itu bisa saja berkurang. Terlepas dari model pengungkapan yang tak elegan dan nyaris ada kebijakan ada dalamnya, Lebu Raya perlu menerima dengan ‘kuping besar’ masukan dari Ben Mboi. Yang dimaksudkan adalah periode kedua sebagai gubernur (atau malah periode ketiga karen melanjutkan periode Piet Tallo), perlu dijadikan momen yang lebih ditampilkan tanggungjawab.

Ketiga, kritik itu perlu diterima dengan otokritik yang harus terus dihidupi. Keberhasilan yang kini diraih Lebu Raya mesti dan pasti tidak bisa dilihat sebagai kemenangan sendiri. Dengan jiwa besar ia tidak bisa mengklaim ‘anggur merah’ sebagai miliknya. Lebih lagi melihat semua keberhasilan bersala darinya. Dengan kesederhanaan dan kerendahan hati (sebagaimana diakui Lebu Raya sebagai anak petani) ia akui bahwa ‘garis tangan’ dan ‘rahmat Tuhan’ sangat luar biasa berkarya dalam karirnya. Tanpa merendahkan karena sang gubernur juga tahu bahwa sampai beberapa tahun yang lalu, tidak ada yang membayangkan bahwa putera Adonara ini akan maju begitu tinggi hingga kini. Tetapi itulah karya Tuhan. Yang besar dan angkuh akan direndahkan dan yang rendah hati akan disanjung dan ditinggikan, hal mana menjadi kekuatan besar bagi Leburaya.

Karena itu ke depan, usaha merajut NTT yang lebih dan baik dan kompak perlu diutamakan. Usaha menyitir kesatuan kepada perpecahan perlu dihindari. Sementara itu profesionalitas perlu dikedepankan. Lebu Raya pasti tahu bahwa tidak semua teman itu baik dan tidak semua musuh itu jelek. Kejelian dan kebijaksanaan akan menjadi acuan sekaligus tanggungjawab dalam kepemimpinan lima tahun ke depan agar semuanya bisa bermankna untuk NTT.

Keempat, kekalahan apa pun predikatnya (terhormat atau tidak), ya tetap kekalahan. Itulah pelajaran pertama saat mempelajari filsafat. ‘Kuda hitam ya tetap kuda’. Kekalahan harus diterima. Memang kita bisa menghibur diri ‘hampir’ menang, tetapi itu tidak membuat kita mengungkapkan secara berlebihan untuk mendapatkan belas kasih. Karena itu usaha menerima kekalahan adalah tindak yang paling bijak hal mana sudah ditunjukkan oleh Esthon dan Paul.

Pada sisi lain, saya setuju dengan Ben Mboi yang mengutip Woodrow Wilsaon: bagi yang menang, jangan terlenah pada kemenangan. Yang terpenting adalah bagaimana tanggungjawab itu diwujudkan dalam karyalimatahuna ke depan. Bravo NTT.

Flores Bangkit, 10 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s