(3) Meletakkan Flores (2)

Meletakkan Flores

Kenyataan sejarah yang membanggakan karena di pulau bunga ini, Soekarno ikut menimbah ideologi dalam membangun negeri ini tentu saja membanggakan. Apalagi pada 1 Juni 2013 kali ini, sebuah perayaan berlevel nasional telah terjadi dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional hingga Wakil Presiden dan ketua MPR. Belum lagi deretan ‘orang pusat’ yang hadir.Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.Tetapi apakah kita berhenti di situ dengan kebanggan saja? Apakah setelah perayaan yang tentu saja membuka mata tidak sedikit orang tentang peranan Flores, pulau permenungan itu yang tentu saja diikuti dengan penggelontoran dana yang tidak sedikit untuk membangun ‘Pulau Pancasila’ merupakan tujuan yang lalu dengan cepat dilupakan? Atau, apa yang mestinya menjadi sisi kreatif yang perlu dikembangkan di Flores sehingga ia tidak saja menjadi kebanggan masa silam tetapi juga kini?Inspirasi Elang dan AyamKebanggan atas masa silam, dari sisi teologi pembebasan, sebagaimana ditulis Leonardo Boffdalam: El águila y la gallina. Una metáfora de la condición humana. Trotta, Madrid, 1998 dapat dimetaforakan dengan elang.Ide yang cerdas lahir dari filsafat penuh refleksi adalah sebuah pemikiran yang seakan beterbangan di angkasa. Ia hadir sebagai sebuah ide sekaligus cita-cita, mengikuti harapan untuk bercita-cita setinggi langit.Ia hadir sebagai sebuah impian yang membuat orang berharap tentang sebuah hidup yang lebih baik. Di sinilah, Soekarno menyukuri apa yang terjadi di Flores sebagai Pulau Permenungan. Di sini pula Soekarno kaget karena dari pulau ini terlahir pertanyaan menggugah rasa dan hati tentang pluralisme yang mesti dihidupi sebagai sebuah kekayaan negeri ini.

Dalam konteks pemikiran, inilah proses yang lahir dari refleksi dan pembelajaran filsafat yang mendasari tidak sedikit tokoh Flores. Entah dengan basis ‘mantan’ Ledalero dan Ritapiret atau karena dilingkupi oleh kehidupan keagamaan yang sangat baik, telah menjadikan tidak sedikit orang Flores bersyukur karena memiliki pijakan yang kuat dalam berkarya.

Tetapi apakah semuanya itu sudah cukup? Tentu saja tidak. Filsafat tidak bisa menjadi tujuan akhir melainkan sekedar ‘sarana’ yang mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih bermakna dan membumi. Leonardo Boff memaknainya sebagai kehidupan ‘ayam’ (apalagi ayam betina), yang bisa saja nyaris terbang tinggi, tetapi ia punya keunggulan dimana kakinya tetap berpijak untuk mengais di bumi.

Implikasinya jelas. Bagaimana menjadikan sebuah permenungan dan pemikiran dapat ‘landing’ pada sebuah perwujudan kreatif yang menjadikan sebuah ide itu tidak saja terpikir dan menjadi kebanggan individual karena telah sukses menemukan ‘nucleus’ alias inti dari sesuatu melainkan bagaimana mewujudkan hal itu dalam sebuah konsep yang membaskan.

Paradigma Baru

Lalu, bagaimana filsafat dan teologi yang sangat ‘mulia’ itu dapat membebaskan? Inilah pemikiran yang telah melahirkan Teologi Pembebasan yang selama beberapa dasawarsa terakhir telah menjadi ide segar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di seantero jagat, terutama di Amerika Latin.

Pada titik ini, pemikiran Filsafat dan Teologi telah menjadi bagian dari permenungan. Malah dalam konsepnya, sebuah perubahan paradigma berpikir terjadi. Jelasnya, tadinya, permenungan berawal dari sebuah konsep abstrak dan kemudian coba ‘dibumikan’ atau yang dikenal dengan metode deduktif.

Metode berpikir seperti ini sangat bagus dan sangat teratur dan mudah diterapkan. Tetapi sayangnya, terkadang ia berasal dari sebuah konteks berbeda dan karenanya ketika diterapkan, ia berhadapan dengan aneka kendala. Belum lagi apa yang terpikirkan itu begitu tinggi dan tidak mengena.

Berpijak pada kenyataan ini maka muncul kesadaran untuk menjadikan refleksi berpijak pada kondisi riil lalu perlahan direfleksikan hingga akhirnya bermuara pada penemuan nilai-nilai filosofis dan teologis yang nota bene lahir dari kekayaan budaya setempat.

Proses inilah yang dikenal dengan metode induktif. Dibandingkan dengan metode deduktif, metode ini lebih rumit. Dibutuhkan kesabaran untuk memaknai lebih jauh setiap peristiwa dan secara bersama menggali maknanya. Tetapi pada sisi lain ia lebih mengena karena lahir sebagai hasil dari apa yang dihidupi dan tentu saja apa yang ada dalam pikiran mereka.

Kenyataan ini memberi kesadaran bahwa nilai yang dihidupi masyarakat Flores pada dekade empat puluhan yang menjadikan Soekarno begitu terpesona tidak bisa diterapkan secara literal. Pasalnya, apa yang dihidupi ‘in illo tempore’ alias ‘pada saat itu’ berbeda dengan apa yang sedang dialami sekarang ini.

Situasi telah berubah oleh perubahan konteks. Karena itu yang terbaik dan bijak adalah bagaimana membuat refleksi atas apa yang dihidupi dan mengembangkannya sehingga cocok dengan tuntutan zaman. Inilah tugas sekaligus tanggungjawab yang harus terus dikembangkan oleh warga Flores saat ini.

Ada dua hal penting yang sekaligus menjadi kesimpulan. Pertama, perlunya kesadaran akan nilai-nilai yang dimiliki. Globalisasi misalnya telah menghadirkan aneka kemajuan yang bila tidak disadari terkadang memberikan gambaran palsu bahwa apa yang datang dari luar lebih baik daripada apa yang dimiliki.

Keadaan justru menjadi lain. Dengan perayaan Pancasila di Ende, memberikan kesadaran bahwa di level nasional, orang Flores punya ‘sesuatu’ bukan saja untuk dibanggakan tetapi menjadi nilai yang memberi bobot saat pendirian negeri ini dan selanjutnya terus memberikan kontribusi dalam proses melahirkan bangsa yang lebih maju dan beradab.

Kedua, perlu sebuah proses dialogis-kreatif yang meletakkan secara sejajar antara dialog iman dan budaya. Nilai Injil yang ditulis berada dari sebuah konteks budaya ‘masa lalu’. Tetapi ia punya nilai yang masih bermakna untuk diterapkan ‘di sini dan kini’. Keduanya selanjutnya menghadirkan sebuah kehidupan yang lebih lengkap. Ia tidak hanya menjadi  kebanggan masa silam tetapi menjadi sebuah nilai yang dirasakan manfaatnya sekarang.

Manfaat yang dimaksud tentu bukan sekedar sebuah kebanggan semu tetapi justru menjadi inspirasi karena memberikan bobot terhadap peningkatan kualitas hidup. Inilah makna yang sangat dalam. Agama tidak sekedar berhenti mengajari tentang Tuhan sebagai sebuah konsep (yang terkadang abstrak), tetapi sungguh menyata dalam proses pergulatan manusia mencari Tuhan.

Bila kita sampai di sini maka jelas, agama telah memberi inspirasi bagi kita untuk tidak saja bangga terhadap masa silam tetapi juga terdorong untuk bangkit dan menjadikan Flores bermakna juga bagi warganya dan sekaligus menjadi sebuah sumbangan teramat berharga untuk neger ini. (Habis)

Flores Bangkit, 3 Juli 2013

Advertisements