(2) Meletakkan Flores (1)

“Meletakkan Flores”

Saya ikut terkejut atau kaget saat membaca hasil temuan Dhakidae sebagaimana dikutip St. Sularto (Kompas 28/6). Diungkapkan, dalam sebuah diskusi antara Soekarno dengan para misionaris SVD yang berkarya di Flores saat itu, ada dua pertanyaan krusial yang mengagetkan Bung Karno.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Hal itu berkaitan dengan posisi Soekarno dan Flores dalam bangun negara yang akan didirikan. Lengkapnya: “Dalam negara yang Anda cita-citakan itu, di manakah kamu letakkan namamu?”. Hal itu dilengkapi dengan pertanyaan kedua: “Dalam negara yang Anda cita-citakan itu, di manakah kamu meletakkan Flores?”

Bukan maksud tulisan ini untuk mengedepankan ‘Flores’ sebagai tempat yang harus mendapatkan perhatian dalam pusaran negara dan perlu ‘didewakan’ (diperhatikan) karena ia bagian dari pemikiran tentang ideologi negara. Yang terpenting adalah bagaimana meletakkan kemajemukan di tengah bangun  negara yang akan didirikan. Jelasnya, bagaimana Flores dengan ‘kekatolikannya’ bisa menjadi inspirasi sekaligus (mengapa tidak) menjadikan dirinya perlu bangkit dan memberikan kontribusi dalam pembangunan negara ini.

Pulau Permenungan

Mengikuti alur penemuan Pancasila, harus diakui, masa pembuangan Bung Karno di Ende (1934 – 1938) menjadi momen yang sangat penting. Soekarno yang sangat mengebu-begu dalam pidatonya sebagai gambaran dirinya yang sangat ‘ekstrovert’, harus mengalami pembuangan sebagai sebuah ketersiksaan luar biasa.

Dari situ, ‘di bawah pohon sukun’, ia tergerak untuk termenung tidak saja dalam kesendirian tetapi lebih jauh bermeditasi untuk menemukan dirinya (siapakah aku) dan misi yang akan diembannya. Sebuah refleksi  yang amat mendalam. Ia menyadari bahwa niscaya sebuah perjuangan (yang selama ini dilaksanakan) akan sukses kalau hanya didasari pada ‘keberapi-apiannya’ berpidato dan ‘memprovokasi’ masyarakat untuk merdeka.

Sebaliknya, sebuah perjuangan itu perlu memiliki pijakan refleksif yang sangat kuat. Melaluinya, sebuah bangun pemikiran dan cita-cita akan menjadi matang. Dalam konteks ini, Indonesia, mestinya bersyukur atas Flores, lebih terutama umatnya yang sangat mengakrabi keheningan. Lebih lagi, Indonesia perlu bersyukur atas luasnya pemahaman dan pemikiran para misionaris yang dengan hati melihat sebuah ide besar akan lahir terutama dalam proses dialog dengan seorang yang sangat diwaspadai oleh Penjajah, Soekarno.

Dengan penekanan ini, secara ‘Indonesia’, mata tidak sedikit orang terbuka untuk mengalami bahwa sebuah inspirasi penting telah lahir dari Ende khususnya dan Flores pada umumnya, sampai meski agak berlebihan kita bisa menjuluki sebagai sebuah pulau permenungan.  Hal itu tentu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan dalam sebuah proses yang tentu tidak pendek dalamnya sebuah tidak sedikit orang telah mengambil bagian.

Dialog Kebudayaan

Yang dimaksud di sini, Flores tidak sekedar sebuah tempat melainkan mewakili sebuah ‘cara hidup’ yang terbentuk sebagai hasil dari sebuah proses dialogis dan inkulturatif  antara Injil yang diwartakan yang nota bene memiliki latar belakang ‘dunia Barat’ yang secara tepat berpadu dengan lingkup lokal sehingga keduanya berdialog secara baik dan sempurna.

Inilah pertemuan yang kadang terlupakan, hal mana diungkapkan Michael Amalados, dalam Dialogue and Mission, 2002. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak sedikit proses penginjilan dilakukan dalam keangkuhan. Injil begitu diagung-agungkan. Ia adalah kata sakti yang hanya bisa diterapkan.  Yang terlupakan, Injil lahir dari sebuah proses kultural, dalamnya mewakili sebuah budaya karena itu yang mestinya terjadi adlaah dialog interkultural antara Injil (dengan konteks budaya asing) dan buday asetempat.

Syukur, di Flores, proses itu tidak terjadi. Yang terjadi, adanya sebuah pemahaman bahwa Injil yang diwartakan mewakili sebuah budaya yang dalam hal ini agak ‘asing’ bagi masyarakat setempat. Pada sisi lain, mereka berhadapan dengan budaya Flores. Karena itu yang diretas bukan sambil meniadakan melainkan secara inkulturatif berdialog.

Pertemuan kedua budaya inilah yang menghasilkan Flores yang refleksif. Di satu pihak ia terbuka terhadap ide-ide baru yang hadir. Ia sadar, apa yang datang dari luar tidak selamanya buruk juga tidak seluruhnya baik. Karena itu keterbukaan menerima yang baik dan kritis pada hal yang tidak baik adalah jalan bijak.

Selanjutnya, kebudayaan yang sudah dimiliki dipahami dapat memberikan kontribusi yang lebih kaya bila didialogkan secara kontruktif. Nilai-nilai keduanya inilah yang menjadikan Flores begitu terbuka dan mengapa tidak menjadi begitu kaya. Ia menjadi lahan subur tempat di mana ide-ide besar bisa lahir.

Akar Filosofis

Harus diakui, dialog kebudayaan (injil dan budaya setempat) adalah sebuah hasil. Ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan dalam proses yang tentu tidak pendek. Dalam proses itu, harus diakui bahwa kehadiran misionaris lebih terutama melalui lembaga pendidikan para calon imam (Semintari Tinggi Ledalero dan kemudian Ritapiret), adalah gudang, darinya terlahir pemikir-pemikir yang tidak mudah terkecoh dengan realitas konkrit yang terkadang mengelabui, melainkan mengupasnya secara filosofis untuk menemukan inti dari sebuah pemikiran.

Di saat pendidikan karir yang selalu identik dengan spesialisasi pada bidang-bidang praktis belum ada di Flores, di pulau ini, sebuah terobosan yang luar biasa telah dilakukan dengan mengawali sebuah pendidikan tinggi yang menempatkan filsafat sebagai induk segalanya.

Hal itu bisa saja dikatakan kebetulan karena memang pendidikan imam sangat mengadalkan pemahaman filsafat sebagai utama malah segalanya. Tetapi dalam kacamata refleksi kini, sebuah langkah luar biasa telah dilakukan dengan memberikan basis sebuah perkembangan pada permenungan sebagai akar dari sebuah proses.

Ada kesadaran, apa yang disampaikan dan kemudian dikaryakan adalah ekspresi atau pancaran dari apa yang dijiwai. Atau paling kurang, ada kesadaran bahwa apa yang dilakukan mesti lahir dari sebuah proses berpikir. Malah lebih ekstrim bisa dikatakan, keberadaan seseorang justru diukur dari ‘keberpikirannya’, yang dalam kaca filsafat dimaknai sebauh ‘cogito, ergo sum’ (saya berpikir maka saya ada).

Hal ini memberi kesadaran dan terutama dengan menilai realitas kita saat ini, ternyata kesimpang-siuran yang terjadi di negeri ini bisa saja (dana mengapa tidak pasti) lahir dari sebuah praksis yang tidak berakar pada pemikiran yang matang. Orang seakan begitu berapi-api untuk mengampanyekan sesuatu, berpidato ‘menjual diri’ sebagai yang ‘terbaik’ dan menjadi mesias penyelamat negeri ini, hal mana kerap kita temui terutama dalam pemilu entah eksekutif atau legislatif.

Dengan cepat kita temui bahwa apa yang disampaikan ternyata lahir dari ‘kekosongan’ diri karena tidak dibasiskan pada sebuah pemikiran dan refleksi yang matang. Kita pun sadar bahwa orang (politisi) seperti itu sayangnya tidak mengalami ‘Flores’ sebagaimana Soekarno mengalaminya. Permenungan dan refleksi tidak menjadi basis yang kuat. Yang ada hanyalah ‘semangat’ bukan untuk melayani melainkan untuk mencari kepentingan diri.

Yang lebih memprihatinkan, ketika politisi asal Flores yang sebenarnya ‘dari sononya’ refleksif, akrab dengan nilai keagamaan dan senang refleksi, mereka juga melupakan akar yang dulu ditimbah Soekarno di Flores. Muara dari segalanya, bisa saja kesemrawutan seperti yang kita alami sekarang ini. Antara kata dan perbuatan tidak sejalan dan kemandekan menjadi sebuah konsekuensi yang kita sedang alami.  BERSAMBUNG

Sumber: FloresBangkit, 3 Juli 2013