12. Menulis dan Diam

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Antara Menulis dan Diam

(In Memoriam Bernardus Kopong Gana)

Berita kematian, Bernardus Kopong Gana (BKG), mestinya tidak jadi berita. Ia ‘hanya’ seorang wartawan FloresBangkit.com, juga mantan wartawan  sejumlah media dalam kelompok Jawas Post di Mataram Lombok seperti: Media Suara Nusa, Lombok Post, Mataram News, Post Metro, dan Radar Mandailika.

Dari segi profesionalitas pun tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Alumnus Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi pun hanya melaksanakan tugas sebagaimana orang lain melakukajn dalam bidangnya. Ia menulis untuk hidup, kalau memang profesionalisme wartawan itu bisa menghidupan seseorang.

Selain itu, secara pribadi, saya tidak atau lebih tepat belum pernah mengenalnya selain lewat beberapa tulisan. Itu pun yang menarik dan sempat diingat, tulisan terakhir tentang kedatangan Gubernur NTT untuk ‘syukuran’, selain konflik di Adonara dan kegiatan OMK. Hal itu masih dianggap biasa dan wajar dan karenanya tidak perlu dibesar-besarkan untuk jadi berita.BKG

Namun mengapa hal yang ‘biasa’ ternyata ‘luar biasa?’ Apa yang menjadikannya ‘pantas’ dikenang dari sisi tulisan dan menulis itu sendiri?  Bagaimana memaknainya di era cybermedia seperti sekarang ini?

Diam itu Emas

Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang paling purba, jauh mendahului peradaban manusia dalam spek lain. Oleh karena itu, berbicara atau bahasa lisan atau oral sering dianggap dan diakui sebagai hakikat inti dari kegiatan berbahasa.

Tetapi kemampuan itu menjadi begitu umum. Semua manusia, tanpa kekecualian berarti’, bisa mengekspresikan kemampuan oral ini tanpa banyak dibantu. Ia terlahir untuk berbicara dan menjadi ciri kemanusiawiannya. Lalu apa sebenarnya yang memberinya lebih bermakna yang menjadikannya lain dari pada yang lain?

Selain banyak potensi, kemampuan menulis merupakan salah satunya. Malah ia menunjukkan sebuah etapa yang lebih maju yang bisa dilewati seseorang. Mengapa? Karena aktivitas ini butuh latihan. Seseorang perlu mempelajari cara menulis agar huruf yang dilukis itu sanggup dikodefikasi oleh orang lain.

Tidak hanya itu. Menulis butuh jedah. Apa yang ada dipikirkan tidak bisa ‘dituangkan’ sesegera mungkin. Untuk menulis, butuh waktu. Dalalm proses jedah atau diam inilah terlahir hal yang lebih bermakna. Apa yang penting diseleksi sehingga yang dikeluarkan adalah hal-hal yang terbaik, atau minimal tidak seburuk bila diungkapkan tanpa terpikir sebelumnya.

Meskipun proses ini sedikit rumit, tetapi tanpa disadari, kehadiran tulisan merupakan etapa yang paling bermakna dalam sejarah, demikian tulisa Margit Frenk dalam Entre la voz y el Silencio (Antara suara dan diam), 1997. Di sana, ungkapan lisan yang biasanya begitu boros diucapkan menemukan titik jedah sebentar untuk direnungkan. Paling kurang ia membenarkan pepatah Spanyol: el silencio es la cuna de la palabra (kesunyian adalah tempat lahirnya kata-kata).

Orang Latin justru menemukan sesuatu yang lebih bermakna. Diam ternyata bersifat produktif. Ia mengartikannya sebagai ‘silentium est aureum’, diam itu emas. Mengapa? Karena dalam tahap ini banyak sekali karya kreatif muncul. Tak pelak Walter Ong dalam Orality and Literacy, 1982, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia adalah etapa paling berharga yang pernah dimiliki sejarah peradaban. Banyak sekali terobosan dalam teknologi lahir pada masa ini.

“Pulang Kampung”

 

Meskipun menulis adalah sebuah tahapan yang paling maju tetapi tidak semua orang bisa menjadikannya sarana untuk menyampaikan sesuatu. Informasi yang disampaikan masih terkendala oleh media yang memungkinkannya.

Banyak sekali informasi akhirnya kandas karena tidak ada sarana. Kalau pun diperoleh, jangkauannya sangat terbatas. Surat menyurat yang sampai dekade lalu masih cukup sering digunakan, dalam kenyataannya memilih daya jangkauan terbatas. Akibatnya sudah pasti. Lebih banyak orang menjadi ‘pembaca’, ‘penikmat’, atau malah hanya sekedar ‘objek’ dari tulisan.

Peluang itu terbuka di era cybermedia. Kehadiran Facebook, Twitter, dan cybermedia lainnya telah menjadi sebuah kesempatan emas. Tiap orang dapat menggunakan kemampuan kreatif berbasa yakni menulis agar bisa secepat itu diketahui orang lain, secepat ungkapan oral. “Kicauan’ dengan cepat diketahui oleh orang lain. Malah bukan satu. Dengan ‘ngetwitt’, informasi itu menyebar begitu cepat.

Tetapi apakah informasi itu bermakna dan memiliki imbas baik bagi diri maupun orang lain? Apakah sesuatu yang cepat, itu benar membawa makna atau sekedar ‘kicauan’ kosong tanpa makna? Apakah ia hanya menghadirkan kata-kata lepas yang kedengaran indah, seperti ketika Vicky menghiasi media denagn celotehan lepas-bombastis jauh dari makna?

Inilah pertanyaan yang menjdikan kontribusi BKG itu menjadi bermakna dan pantas menjadikannya berita.

Pertama, informasi atau sajian cepat melalui Flores Bangkit adalah sebuah kombinasi antara kecepatan dan kebermaknaan. Dari satu sudut di negeri ini (Watoone), ia berusaha memilih dan memilah berita yang bisa diangkat untuk menjadi perhatian pembaca.

Tetapi untuk menghasilkan berita berbobot, tentu butuh usaha yang tidak sedikit. Meminjam kata-kata Clarice Lispector: I only achieve simplicity with enormous effort, terekspresi bahwa untuk mencapai sesuatu yang sederhana dan mudah dipahami dan dinikmati semua orang termasuk ‘orang kampung’, butuh proses seleksi dan adaptasi yang tidak mudah.

Dalam proses ini, diam menjadi kata kuncinya. Seseorang butuh diam untuk merenungkan sambil menghadirkan wajah pembaca yang bisa jadi bingung saaat disajikan kata yang melampaui daya tangkapnya. Ia pun menyelesinya dan memberi warna lain dengan sajian yang lebih mudah dicerna.

Kedua, keputusan untuk ‘pulang kampung’, terlepas apakah dilatarbelakangi oleh sakit yang diderita, tetapi memiliki makna yang lebih jauh dan lebih dalam. Di era globalisasi di mana yang pinggir semakin dipinggirkan dan nyaris yang sudah tersingkir menjadi berita, keputusan untuk ‘bale nagi’, adalah sebuah keputusan menakjubkan.

BKG mau menghadirkan contoh bahwa di era globalisasi yang menjadikannya sekedar ‘global village’, bisa diberi makna lewat pemberian informasi tentang kampung. Dari sana, kampung Watoone, Witihama, ia terus ‘berkicau’, membuat berita untuk menunjukkan bahwa ‘kami masih ada’.

Ketiga, dengan memilih tinggal di kampung maka ‘silentium’ atau ‘diam’ tidak sekedar sebuah kesunyian yang kosong. Sebuah diam harus diberi makna dengan ada bersama atau ‘berdiam’, yang artinya tinggal bersama. Dengan tinggal bersama orang kampung maka akan terefleksikan kata-kata bermakna denganya dari sana bisa terlahir hal-hal yang lebih bernuansa.

Pilihan itu BKG itu tentu patut diletani. Dengan memilih ‘berdiam’ di Watoone, ia mengajak orang untuk membuka mata, bahwa dari kampung itu bisa lahir tokoh seperti Lebu Raya yang kini jadi gubernur NTT. Itu berarti, pilihan itu tidak salah dan mengajarkan bahwa kehidupan yang lebih berbobot harus bisa dimulai dan tetap terjaga dari kampung. Di sana ‘diam’ itu dengan ‘berdiam’ (tinggal), dapat secara ‘diam-diam’ menghasilkan hal-hal yang luar biasa.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Kolumnis pada harian Kompas.

Sumber: Flores Bangkit 10 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s