.11 Orang Amerika Latin Mirip Orang Flores? Flores

 Orang Amerika Latin (AL) Mirip Orang Flores?

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Sudah lama Amerika Latin menjadi sumber ‘kegalauan’. Hal itu sudah dirasakan ketika penulis mendapat kesempatan untuk berada di AL. Ada keinginan untuk melihat dan mendalami, mengingat selain struktur tubuh yang memiliki kemiripan, tetapi juga oleh kesamaan dalam budaya yang bisa menjadi titik  berangkat dari sebuah penelusuran yang lebih jauh.El Che

Kegalauan itu sedikit terjawab, saat penulis diminta untuk menjadi narasumber di Kementrian Luar negeri untuk mempresentasikan materi tentang Dialog Indonesia AL dalam bidang sosial budaya, pada Selasa, 12 November 2013. Dengan tema: Indonesia-AL, Menuju Persamaan Nilai dan Kebersamaan, penulis sesakan mendapatkan kesempatan mengungkapkan ‘unek-unek’ tentang persamaan budaya.

Kuali Peleburan

Memasuki AL artinya membuka diri untuk mengenal sebuah realitas yang sangat plural. Di benua ‘temuan’ Kolombus ini, berbagai suku bangsa dari berbagai benua hadir dan melebur bak dalam sebuah kuali (melting pot) untuk membentuk satu kesatuan masyarakat atau bangsa.

Kaum kolonialis, seperti Spanyol, Portugal, dan Perancis (diikuti pada abad XIX, juga bangsa-bangsa dari Eropa Timur), hadir dan memberi warna khusus. Bahasa Spanyol dan Portugis menjadi bahsa yang paling banyak digunakan. Belum lagi bidang seni, kesusasteraan.

Bangsa Afrika, meskipun awalnya hanya didatangkan sebagai budak, hal mana terjadi juga dengan orang China yang didatangkan dari pelabuhan seperti Maccau untuk bekerja di perkebunan, tetapi mereka dapat memberikan warna yang khusus.

Warna Asia, kemudian diperkaya oleh kehadiran orang Korea dan Jepang. Sejak abad XIX warna asiatik khususnya di Pada abad XIX, Cina (bersama Korea dan Jepang) sudah hadir sebagai imigran dan menetap di Brasil, Kuba, Guatemala, Méksiko, Panamá,  Perú.

Semua bangsa pendatang, lalu bergabung dengan suku asli orang Indian dan membentuk bangsa AL. Tak pelak, ia ibarat sebuah kuali peleburan atau melting pot (crisos de razas). Di sana heterogenitas bergabung dalam sebuah kebersamaan dan menjadi sebuah kebanggan.

Kebanggaan seakan belum tuntas, tanpa menyebut perkawinan silang antarsuku bangsa yang menghasilkan tipe baru di AL. Pencampuran antar etnis menjadikannya kian eksotik. Ada ‘mestizos’, hasil perkawinan antara orang kulit putih dan Indian. Ada ‘mulatos’, hasil perkawinan orang kulit putih dengan kulit hitam. Warna unik ‘zambos’ pun tidak kalah menariknya hasil perkawinan antara orang Indian dan orang kulit hitam.mestizos

Realitas yang sama, meski dengan intensitas yang tidak sebesar AL. Secara umum, suku Flores dapat digambarkan sebagai campuran etnis antara bangsa Melayu, Melanesia, dan Portugis. Tak heran, S.M. Cabot melihatnya bak bunga yang terdiri dari aneka warna, hingga mendorongnya memberi nama ‘Copa de Flores’ atau Tanjung Bunga.

Di pulau Bunga ini, mengutip tulisan Gorys Keraf, dan Inyo Fernandez, 1996, terdapat lima kelompok besar suku bangsa yang tergambar dari bahasa dengan rumpun yang sangat ‘berwarna-warni’.

Ada kelompok bahasa Manggarai – Riung yang meliputi kelompok Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen). Juga terdapat kelompok etnis Ngadha-Lio (yang terdiri dari bahasa Rangga, maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende).

Selanjutnya etnis Mukang, yang meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang, dan Muhang. Di bagian Timur Flores, terdapat etnis Lamaholot yang masih terbagi kelompok Lamaholot Barat, Timur, dan Tengah).

Etnis terakhir, meski hanya merupakan bagian dari Selatan Pulau Lembata, yakni Kedang, tetapi punya karakteristik sendiri. Dalam perjalanan, perbedaan antarbudaya itu menjadi kian kecil oleh interaksi antarbudaya sehingga terciptalah satu rasa sebagai orang Flores.

Saling Membantu

 

Kemiripan fisik itu ternyata didukung juga oleh fakta lain yang lebih dalam, khusunya dalam hal sikap dan sifat yang tidak saja menjadi miliki orang Flores tetapi menjadi sebuah ciri khas orang Indonesia pada umumnya. Lebih luas lagi sifat seperti itu lalu disebut sebagai ‘budaya Timur’, oleh keyakinan, hampir bangsa-bangsa dari Timur (dipandang dari Eropa), memiliki watak yang mirip.

Hal paling menonjol adalah solidaritas dan suka menolong juga menjadi sebuah kekayaan. Orang AL terkenal sangat ramah. Waktu begitu diluangkan untuk sesama, meski hanya sekedar  minum ‘mate’ (sejenis teh). Di sana waktu seakan dibiarkan begitu saja berjalan tanpa diperhitungkan apalagi dikejar karena yakin bahwa hal yang paling penting adalah relasi persaudaan.

Praksis hidup itu juga yang menjadi kebangaan kita. Waktu dianggap ada untuk manusia dan bukan sebaliknya. Karena itu sikap mementingkan relasi persaudaraan, berkomunikasi dengan siapa pun, dan keterbukaan dalam berdialog adalah nilai yang juga kita junjung tinggi.

Nilai lain adalah hospitalitas atau penghargaan atas tamu.  Terhadap tamu, orang AL bisa mengorbankan tempat tidurnya, sambil ia sendiri tidur di lantai. Nilai yang sama juga jadi kebanggaan kita. Hal itu pula yang kita hidupi sebagai nilai budaya kita. Siapa pun akan berkoban dengan memberikan yang terbaik untuk tamu, sementara kita sebagai ‘tuan rumah’ rela berkorban.

Semuanya tentu belum cukup kalau tidak dikaitkan dengan gotong royong atau gemohing atau sakoseng. Sikap saling membantu satu sama lain dikembangkan berdasarkan pertimbangan bahwa manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain.  Kegembiraan, kecemasan, tragedi dan kesuksesan adalah sebuah dinamika kehidupan yang selalu terjadi.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pernah tinggal di Paraguay, Amerika Latin.

 Sumber: FloresBangkit 18 November 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s