(4) “Por Ende”

“Por Ende”

Berita wafatnya suami Megawati, Taufiq Kiemas (TK) pada 8 Juni 2013, sungguh mengejutkan. Di tengah usianya yang belum dikatakan uzur ditambah posisinya sebagai ketua MPR, juga mempertimbangkan kualitas pribadinya sebagai tokoh rekonsiliasi (Kompas 10/6),  menjadikan kematiannya menggugah relung.Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Banyak menulis Opini untuk Harian KompasYang menarik, peristiwa wafatnya tokoh yang sangat menjunjung tinggi pluralisme dan sangat mengutamakan persatuan dan kebersamaan dikaitkan dengan sebuah kota di Flores bernama Ende. Mengapa kota ‘Marilonga’ itu begitu penting?Titik BalikSoekarno dalam pembuangan ke Ende, demikian Hatta, seperti dikutip Dhakidae (Kompas 31/5) secara politik mati. Bila dibanding dengan pembuangan pertama yang dihadapinya dengan gagah berani, kali ini ia sungguh merasakan pembuangan itu.Namun bukan Soekarno kalau ketersiksaan itu tidak dimaknai lebih jauh. Di kota dengan penduduk muslim terbesar di Flores, Soekarno malah menjadi lebih religius. Bila sebelumnya ia lebih terlibat dalam aktivitas politik darinya kekurangan waktu untuk bersemadi, justru ia kini lebih reflektif dan agamis.

Di kota ini pula, ia mendapatkan kesempatan untuk bisa berdialog dengan para misionaris SVD. Meski seasal dengan penjajah, tetapi penyerapan nilai-nilai sosial-agamis, menjadikan mereka sadar bahwa penjajahan itu tidak sesuai dengan perikemanusiaan yang nota bene sangat dimuliakan dalam ajaran kristiani.

Tidak hanya itu. Upaya mendidik masyarakat pun dilakukan. Kali ini tidak melalui pidato berapi-api. Ia masuk lebih perlahan melalui media teater. Dengan berakting, Soekarno menyisipkan pesan tentang situasi penjajahan sambil membangun komitmen untuk merdeka.

Proses itu tidak selesai. Semua pergulatan selama 4 tahun (1934-1938), diresapi dan didalami dalam refleksi yang dibuatnya di bawah pohon sukun yang kemudian kita sebut dengan Pancasila. Ende, menjadi titik balik dari kematian kepada nilai yang menghidupkan negeri ini.

Tentu tidak pada tempatnya membandingkan Bung Karno dan TK. Yang satu adalah penemu Pancasila dan pendiri bangsa ini. Yang lainya, ‘hanya’ seorang mantan aktivis GMNI yang juga ‘kebetulan’ mantu Soekarno. Juga selama periode tertentu ia pun lebih banyak berada di balik bayang-bayang Megawati, istrinya.

Kematiannya pun mestinya tidak dibesar-besarkan. Dengan riwayat penyakit jantung apalagi disertai jadwal yang sangat padat dan melelahkan, maka konsekuensi seperti yang dialami TK bisa saja terjadi.

Namun sebagai rahasia ilahi, kematian itu tentu saja punya makna yang lebih dalam. Keutamaan yang dimiliki ‘Bapak Negara’ itu terutama kesaksian hidupnya yang jarang menewan (yang jarang diumbar) tidak akan banyak diketahui. Roh pemersatu dan rekonsiliasif yang identik dengan Soekarno tidak akan begitu direnungkan seperti sekarang ini.

Kematiannya pun menjadi sebagai sebauh momen tepat dan mengapa tidak, sebuah promosi paling manjur tentang Pancasila. Memang, pada 1 Juni yang lalu, di Ende, tokoh setingkat wapres dan para menteri, belum terhitung tokoh MPR, hadir. Tetapi harus diakui, momen itu ‘kalah’ dengan kematian tokoh yang lahir 31 Desember 1942 itu.

Kini dengan wafatnya, pasca pulang dari ‘kota Pancasila’ Ende, nilai Pancasila justeru kian didengungkan. Ada kesadaran, kita berada di titik kritis. Yang kita sembah bukan lagi Tuhan yang Maha Esa tetapi kepentingan sesaat yang menyesatkan. Nilai kemanusiaan jauh dari perwujudan, sementara persatuan  kian rapuh oleh dominasinya egoisme. Demokrasi sebatas wacana yang akhirnya kian menjauhkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Yang hebatnya dari TK, ia tidak sekadar berhenti mengulang konsep ideologis, tetapi  mengembangkannya seirama dengan tuntutan zaman, dan membingkainya dalam empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Konsep Etis

Konsep ideologis yang melekat pada Pancasila, harus diakui tidak bisa diragukan lagi. Malah di negeri ini tidak sedikit aturan hingga terkesan berlebihan untuk menguatkannya. Retorika penguat pun cukup banyak untuk mengklaim diri sebagai paling ‘Soekarnois’, ‘Pancasilais’, dan sebagainya.

Kalau hanya berhenti pada tataran itu, negeri ini kelebihan orang, hal mana hampir membenarkan sebuah pepatah Latin: Corruptissima re publica plurimae leges yang artinya semakin korup sebuah republik, semakin banyak undang-undang. Jelasnya, di negeri ini, kalau soal wacana, jangan dilawan. Sayangnya, secara etis, kita malah tertatih-tatih.

Tidak berlebihan kalau di Ende, TK menekankam kembali konsep etis sebagai bagian tak terpisahkan dari Pancasila. Ia adalah ekspresi komitmen untuk membicarakan apa yang kita buat dan membuat apa yang sudah kita rencanakan, hal mana sangat diperlukan saat ini. Ideologi diungkapkan tidak hanya secara verbal tetapi terwujud sebagai tindakan nyata.

Di sini ‘kematian politik’ yang dialami Bung Karno sebelum ke Ende  dan kematiaan riil TK setelah dari Ende punya makna mendalam. Meminjam bahasa Spanyol, kata ‘ende’ itu tak terpisahakan dari frase ‘por ende’, yang artinya ‘pada akhirnya’, yang nota bene merupakan kesimpulan yang memiliki nuansa akhir bahagia.

Jelasnya, Ende tadinya dikira akhir segalanya, tetapi pada akhirnya (por ende) menjadi rahim lahirnya Pancasila. Kini, Ende bukan tempat yang mempercepat kematian TK, tetapi pada akhirnya (por ende), menghidupkan empat pilar kebangsaan dan terutama seruan etis dari Pancasila.

Flores Bangkit, 12 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s