AZIZAH DAN MAZMUR

AZIZAH DAN MAZMUR

Video tentang Azizah yang menyanyikan mazmur di Gereja Kloangrotat Maumere (Video unggah 23/2) cukup menarik perhatian publik. Tidak sedikit orang yang mengungkapkan rasa kagumnya. Bukan saja karena dia salah satu pemenang KDI, tetapi terutama kehadiran suara emasnya membantu suasana ibadah.Azizah2

Hal ini telah memunculkan diskusi.Tulisan Avent Saur, dalam “Kutak-Kutik” Flores Pos 25/12. Di bawah judul “Toleransi Keliru”, Saur memberikan argumen gemilang membangunkan kesadaran akan pemahaman keliru. Yang terjadi dalam cuplikan itu, justeru umat agama lain (Azizah) mengambil bagian dalam peristiwa liturgis yang hanya boleh dibawakan oleh orang beriman “Kristen Katolik”.

AZIZAHH2Tetapi apakah keterlibatan Azizah dalam liturgi itu seluruhnya keliru?

Makna Luas

Hadirnya Azizah di Gerja, apalagi membawakan mazmur saat perayaan ekaristi, tentu saja sebuah kejutan buat umat Kloangrotat. Untuk menyaksikannya, umat yang bak ‘kapal selam’ hadir di Gereja, bisa terdorong untuk wajib ke Gereja. Daripada harus menyaksikan Azizah bernyanyi dan harus membayar, yang ditampilkan di Gereja tentu saja gratis.

Dengan tampilnya Azizah juga tidak terpikir sejauh menjadikan liturgi sebagai ‘show’. Tampilnya Azizah menyanyikan mazmur bukan kali ini saja saat sudah jadi bintang. Sebelumnya, saat Azizah belum ‘siapa-siapa’, ia sudah berpartisipasi dalam menyanyi di Gereja. Untung saja saat itu ia belum terkenal dan belum jadi berita seperti sekarang ini.AZIZAH MARMUR2Lalu, apakah bantuan yang diberikan itu lantas dianggap keliru? Sepintas ya. Ibadah dianggap sakral. Yang melaksanakan harus orang Kristen Katolik. Ia juga bukan ‘show’. Yang dilakukan justeru seseorang yang beragama lain. Jelas, sebuah toleransi keliru.

Tetapi bagaimana kalau hal ini dipahami sebagai sebuah bantuan dari luar kepada orang Katolik menghayati imannya? Sebuah bantuan misalnya tentu tidak mengharuskan seseorang untuk menjadi seperti orang yang dibantu. Ia tetap menjadi dirinya sendiri yang berbeda. Tetapi bantuannya itu bisa bermakna.AZIZAH MARMUR4Hal yang sama bisa dipahami dalam konteks bantuan suara Azizah. Ia tentu saja tidak memahami apa yang didaraskan (tetapi kalau dalam bahasa Indonesia, tentu kata-kata itu dipahami). Tetapi yang pasti, saat suaranya dilantumkan, orang yang mendengarnya bisa tergetar harinya. Siapa tahu, iman mereka makin diteguhkan dengan suara itu.

Hal ini sejalan dengan tujuan dari mazmur. Mazmur tidak ditujukan kepada orang berdosa yang ingin ditobatkan. Mazmur juga tidak berusaha menggantikan keyakinan seseorang saat mendengarkannya. Artinya mazmur tidak dimaksudkan untuk mengubah keyakinan seseorang. Seperti kitab Ayub, mazmur justeru ditujukan untuk orang saleh agar imannya makin dikuatkan.
Di  hari Kamis Putih, misa-paskah-paus-cuci-dan-cium-kaki-migran-Q2H

Di hari Kamis Putih, Paus membasuh kaki para imigran muslim. Apa ini toleransi keliru? 

Itu berarti, Azizah meskipun tidak beragama pun, apa yang didaraskan tetap valid karena ia hanya ingin meneguhkan iman orang yang mendengarkan. Kalau yang mendengar adalah orang saleh maka diharapakan lagu itu akan lebih menguatkan. Jelasnya, jenis bantuan yang diberikan tidak bisa dianggap keliru. Lebih lagi, bantuan itu bisa ditolak. Tetapi kalau hal itu positif, maka semestinya sejalan dengan mazmur itu sendiri.

AZIZAHHYang Manusiawi

Memberikan penilaian atas praksis toleransi keliru tentu tidak sebatas melihatnya dari sakralitas dan tuntutan kesamaan iman, tetapi perlu juga melihat esensi mazmur itu sendiri. Kitab mazmur ditulis 1400-an SM. Dikumpulkan hampir 1000 tahun. Ada 12 penulisnya dan sudah pasti, mereka bukan orang Kristen. Isinya pun tidak langsung berkaitan dengan satu agama. Meskipun ada nubuat yang dalam iman kita yakini terpenuhi dalam diri Yesus 1000 tahun sesudahnya, tetapi saat itu ia masih merupakan janji.

AZIZAH MARMUR3Tidak hanya itu. Pemazmur tidak pernah membataskan Tuhan untuk golongan tertentu. Pemazmur hanya memaknai Allah sebagai yang mahatahu, mahakuasa, mahahadir, serta kekekalan dan keabadian. Lebih dari itu, pemazmur menggunakan teologi alamiah, artinya memperkenalkan Allah sebagai pencipta semua dan segalanya.

Dalam konteks ini, penialain akan keterlibatan tentu saja tidak dibataskan pada pemahaman liturgis-kristologis tetapi mesti lebih luas dalam konsep teologis. Bila membataskan diri secara murni, maka esensi mazmur yang bukan langsung berasal dari kekristenan mestinya juga juga dianggap sebuah masalah.

Tetapi diskusi mestinya tidak serumit itu. Yang paling mendasar adalah membaca hal ini dalam konteks kehidupan manusia biasa. Bahkan, demikian tulis Jesus Burgalete, liturgis Spanyol, hal-hal yang bersifat teologis-liturgis yang rumit pun mesti dapat dijelaskan secara manusiawi. Hal itu akan memudahkan pemahaman. Pada sisi lain, berlindung pada penjelasan teologis-rumit untuk menjelaskan hal sederhana, kerap justeru mengaburkan makna yang hendak disampaikan.AZIZAH1Penegasan ini tidak bermaksud bersifa permisif dalam mengizinkan model toleransi keliru. Tentu saja tidak. Semua punya aturan main. Tetapi yang tidak kalah penting, menempatkan makna yang jauh lebih penting di atas prasyarat yang diandaikan dalam keabsahan sebuah liturgi.

Dalam konteks Azizah, keberadaannya yang bukan beragama Katolik bisa saja mengurani keabsahan dan validitas sebuah perayaan liturgi. Tetapi yang jauh lebih penting, bagaimana menerimanya sebagai orang yang sudah percaya (hal maan tujuan mazmur). Apabila mereka yang menerimanya merasa bahwa imannya lebih diteguhkan maka di situ tujuan mazmur (dan pemazmur) tercapai.12688184_1194263803937062_5880770978711971336_nAtau, Azizah bisa saja tidak percaya apa yang dinyanyikan. Ia ‘sekedar menyanyi’. Tetapi yang pasti, ia tahu, orang kepadanya Mazmur ditujukan adalah orang percaya. Nyanyian yang baik karena itu meneguhkan orang yang percaya hal mana menjadi tujuan dari Mazmur itu sendiri.

Dalam perspektif ini, saya yakin, apa yang dilakukan Azizah dan rekan-rekannya dari SMK Yohanes XXIII tidak keliru. Kalau pun keliru, pesan itu bila diterima dan meneguhkan iman yang mendengarkan, maka hal itu jauh lebih penting dari kekeliruan mereka.

Robert Bala. Pemerhati Budaya. Tinggal di Jakarta.