HOMILI POLITIK?

Homili Politik?

Di tengah arus reformasi yang penuh dengan aura kebebasan, masalah politik yang terjadi di masyarakat semakin terbuka dibicarakan, tidak hanya di mimbar umum tetapi juga dalam perayaan liturgi. Homili menjadi momen untuk membicarakan hal nyata. Apalagi dengan tujuan menjadikan homili lebih aktual, ‘membumi’, dan tepat sasar, tak jarang dibicarakan masalah politik yang sangat ‘panas’.

Menjadi pertanyaan: apakah homili dapat membicarakan masalah-masalah politik? Pertanyaan ini penting terutama menjelang pemilukada seperti ini. Mimbar kerap kali digunakan untuk menyuarakan aspirasi tertentu yang bisa saja bertujuan menjamin kebenaran. Sayangnya homili politik itu, seperti pernah terjadi, justeru dijadikan momen mendiskreditkan figure tertentu yang sayangnya diikuti dengan upaya menggugat homili sebagai pencemaran nama baik.

Tiga pilihan

Julio Lois Fernández dalam bukunya ‘Fe y Politica’, membagi 3 model keterlibatan iman dan politik. Dengan pengalamannya di Amerika Latin khususnya di Bolivia terutama pergulatan Teologi Pembebasan, pengajar Universidad Pontificia de Salamanca Spanyaol mengemasnya secara menarik.

Opsi pertama dalah membedakan secara tegas antara iman dan politik. Iman dan politik dilihat sebagai dua bidang berbeda. Dengan demikian urusan agama harus dibedakan dari politik. Para pemimpin agama memiliki ruang ‘kerja’ yang berbeda. Demikian juga para politisi tidak bisa menggunakan bendera agama dalam urusan politik. Keduanya ada di bidang berbeda dan tidak pernah bersenggolan apalagi berada bersama.cover-final-homili-yang-membumi

Opsi lainnya justeru melihat perlunya keterlibatan langsung iman dalam bidang politik. Artinya, agama perlu terlibat langsung. Kitab Suci dianggap memiliki acuan tidak saja untuk kehidupan rohani tetapi juga kehidupan sosial. Acuan tersebut yang digunakan untuk menata masyarakat. Dalam perspektif ini, maka didirikan partai politik dengan bendera agama.

Pilihan ketiga yang lebih menjadi opsi adalah sebuah keterlibatan iman (bukan agama) dalam politik. Setiap orang beriman harus turut serta dalam kehidupan sosial. Bila politik atau ‘’res politica’ dilihat sebagai seni mengatur masyarakat demi mencapai kesejahteraan maka keterlibatan itu menjadi sangat penting. Dengan demikian setiap orang beriman harus bertanggungjawab atas kehidupan sosial dan politik yang terjadi.

Opsi ketiga ini menjadi pilihan bijaksana. Iman bagaimana pun tidak bisa lepas dari tanggungjawab sosial politik. Iman karena itu harus terlibat karena tanpa pebuatan, iman itu mati. Pada sisi lain, politik yang berpijak pada iman akan lebih bermakna karena mengarah kepada kesejahteraan bersama dan menyeluruh. Ia tidak terbatas pada golongan tertentu tetapi meluas mencapai semua orang.

Permasalahannya, bagaimana merumuskan keterlibatan itu? Sebuah keterlibatan yang mestinya digagas secara baik. Tidak sekedar melemparkan isu tetapi harus melalui sebuah proses kajian mendalam. Keterlibatan tidak bisa sekedar pada tataran mengkritik hal mana memang penting tetapi ia perlu dirumuskan secara lebih konstruktif.

Model keterlibatan seperti ini dirumuskan secara baik oleh teolog Asia seperti Michael Amaladoss. Teolog asal India ini dalam membahas tentang Teologi Pembebasan di Asia, merumuskan model kehadiran seperti garam. Orang Kristen harus menjadi garam (dan terang dunia).

Ibarat garam, seorang kristen di dunia mayoritas bukan kristen harus merumuskan perannya. Yang dibutuhkan bukan menonjolkan perbedaan fisik atau menampilkan diri dengan ciri khas yang berbeda yang sekaligus membedakan satu kelompok dair kelompok lainnya, tetapi bagaimana memaknai peran itu secara baik.

Analogi ini menjadi dasar pijakan dalam menilai model keterlibatan politik dalam Gereja khususnya dalam membahas masalah politik dalam homili. Yang terpenting bukan menyatakan bahwa seseorang salah dan yang lainnya benar tetapi bagaimana merumuskan kehadiran sehingga bisa bermakna. Seorang pengkhotbah akan selalu berada dalam kondisi tarik menarik antara domba yang baik dan domba yang hilang. Semuanya tetap bermakna. Ia tidak sekedar mengkritik yang menyebabkan kian liarnya domba tetapi mencari cara yang tepat agar domba yang hilang itu dapat kembali ke jalan yang benar.

Tepat Tempat

Memberikan pencerahan kepada umat terhadap konteks politik yang terjadi adalah bagian yang tak terpisahkan dari tugas protes para imam, pendeta, atau ulama. Dengan netralitis dan integritas yang dimili ia (diharapkan) mampu membedakan mana yang benar yang harus dipilih dan membuka wawasan umat untuk tidak terkondisi oleh trik yang menjerumuskan.

Namun demikian tidak berarti homili dalam konteks liturgi dapat digunakan untuk membicarakan kasus tertentu. Liturgi seperti dalam konteks Kristen Katolik ditempatkan di atara Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Ia seperti ‘engsel pintu’ yang melenturkan jendela agar dapat dibuka dan ditutup. Artinya ia menjadi jembatan yang bisa menghubungkan liturgi sabda dan ekaristi.

Homili dalam arti ini memiliki arti menghantar orang kepada perayaan iman. Dalam liturgi ekaristi umat terbantu untuk dapat merayakan imannya. Homili yang dibawakan dalam bahasa kekeluargaan akan membuka mata umat untuk bersyukur serta merayakan peristiwa imannya.

Dalam arti ini, niscaya orang merayakan iman ketika homili yang diterima bukan ditujukan pada dirinya melainkan kepada orang lain. Lebih lagi ketika menyaksikan bahwa pastor yang harusnya bersifat netral yang berdiri bebas dari kungkungan interes kandidat tertentu ternyata telah mengarahkan refleksinya kepada pengutamaan atau pemojokan kelompok tertentu. Hal itu tentu akan dilihat secara berbeda-beda.

Dalam perspektif ini maka homili mestinya bersifat umum dan mencerahkan. Umum dalam arti membuka wawasan umat untuk berpikir secara jernih, menganalisis situasi dengan cermat dan pada akhirnya menentukan pilihan dengan tepat. Homili seperti ini juga bisa dikategorikan sebagai ‘homili politis’ dalam arti membuka wawasan agar umat dapat terlibat dalam ‘res publica’ yakni mencapai kesejahteraan umum.

Namun, apabila yang dimaksud dengan homili politik lebih diartikan kepada membahas masalah yang spesifik politik dengan aneka ragam tanggapan, maka tidak bisa digagas secara terbuka dalam homili liturgis. Ia bisa dibawakan dalam konteks khotbah yang bersifat paranetis, misioner atau kerigmatis, dan kateketis yang nota bene dilakukan di luar konteks liturgi. Dalam pertemuan yang dilakukan dalam konteks seperti ini, umat dengan berinspirasi pada bacaan Kitab Suci dapat membagi pengalaman (sharing). Ada saling koreksi karena hak bicara diberikan kepada semua orang. Dengan demikian pandangan pribadi yang tendensius bisa diluruskan oleh peserta lain. Pada akhirnya ditemukan jawaban yang lebih merupakan kesepakatan bersama.

Homili sementara itu berkaitan dengan perayaan iman. Homili karena itu perlu mengantar orang untuk merayakan imannya. Hal yang bersifat kritik tajam untuk pihak tertentu tentu saja tidak membantu umat merayakan imannya. Malah ia kian cemas dan tak terarah oleh homili politik yang tendensius.

Robert Bala. Penulis buku: HOMILI YANG MEMBUMI, Penerbit Kanisius, Desember, 2016. Artikel ini dimuat di Flores Pos Akhir November 2016.