KOMUNIKASI, KOMUNITAS, DAN KOMUNI

Komunikasi, Komunitas, dan Komuni

(Di Balik Pengunduran Diri Imam dari Jabatan Diosesis Ruteng)

Banyak orang merasa heran dan tak percaya. Enampuluhan imam Diosis Ruteng menyatakan mengundurkan diri dari jabatan yang diemban mulai pastor paroki, Vikep, Puspas, dan sebagainya. Umat dengan segera menilai sebagai sebuah ‘kesombongan para imam’, yang tidak taat pada uskup yang merupakan pemimpinnya.

Tetapi apakah penilaian itu benar? Apakah protes dari puluhan imam yang hampir mewakili seluruh imam di dioses tersebut dinilai sepihak?

Masalah komunitas

Dalam bukunya. Ética, el derecho y el deber de informar, 1999, Desantes, J.M menekankan tentang korelasi antara komunikasi dan komunitas. Komunikasi dilihat sebagai dasar darinya lahir sebuah komunitas. Di sana individu yang menjalin hubungan intens menciptakan kedekatan sehingga melahirkan sebuah keterikatan dalam sebuah komunitas.

Lebih lanjut Desantes menekankan terciptanya komunikasi didasarkan pada kesadaran tentang kerapuan diri. Manusia adalah makhluk tidak sempurna. Tetapi melalui komunikasi, maka terjembatani kerapuhan itu menuju kesempurnaan yang akan terus terjadi.

Namun proses menuju kepada kesempurnaan di mana ditandai dengan hubungan intens tidak selalu terjadi dalam setiap komunitas. Adanya penambahan anggota, egoisme pribadi atau otoritarianisme dari pemimpin, atau kecenderungan terselubung dari pemimpin, bisa saja menyebabkan komunitas bersifat renggang, dingin, yang ditandai dengan hubungan tak mendalam.

Tonnies, F dalam Gemeinschaft und Gessellschaft, 1887 menggambarkan hubungan yang hambar itu sebagai tipe gessellschaft. Di sana yang ada adalah hubungan karena ada kepentingan. Ada interes terselubung yang ingin dicapai individu melampaui interés kelompok.

Semestinya komunitas, demikian Tonnies bersifat lebih dalam dengan menjadi sebuah ‘gemeinschaft’. Sebuah hubungan sosial yang didasarkan pada relasi alamiah, sebuah bentuk organis dari keberadaan sosial, yang dicirikan juga oleh hubungan penting bak dalam sebuah keluarga. Orang bersatu mengikuti sebuah naluri yang dijiwai oleh perasaan kesatuan dan solidaritas.

Proses komunitas yang hidup seperti ini dimaknai lebih jauh oleh Paus Yohanes Paulus II. Dalam Communio et Progrssio, Instruksi Pastoral untuk Media Komunikasi no 8 menekankan tentang puncak dari komunikasi yang intens adalah tercapainya ‘communio’ atau persatuan.

Persatuan ini begitu mendalam karena di dasarnya merupakan perwujudan nyata dari komunikasi tritunggal: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Persatuan yang dimaksud tidak bisa terlepas dari pengorbanan Allah untuk menjadi manusia, sebagai ekspresi dari pengorbanan tanpa batas.

Persatuan dalam setiap komunitas pun akan terwujud karena didasarkan pada pengorbanan diri. Di sana orang meminggirkan kepentingan diri demi mencapai sebuah persatuan yang lebih intens dan mendalam. Para pemimpin selain keras dengan orang lain juga keras dengan diri sendiri. Kontrol diri, hidup yang keras menjadi pengawas untuk pemimpin.

Sementara anggota pun memiliki kepercayaan penuh oleh keyakinan, kekuasaan yang diberikan tidak akan diselewengkan. Para pemimpin akan menunjukkan sikap jujur hal mana memunculkan rasa percaya.

Sebuah Ujian

Informasi tentng ‘perpecahan’ antara Uskup Ruteng dan para pastor tidak bisa dilihat sepihak entah sebagai ‘ketidaktatan imam’ (hal mana sulit ditemukan contohnya di dunia di mana para imam protes dengan meletakkan jabatan) atau pun arogansi sang uskup. Tetapi ia perlu ditelusuri dengan mempertanyakan tentang tingkatan komunikasi dan kedalaman komunitas yang menjadi pijakan utama.

Pertama, adanya kedatangan 60 imam dan tidak hadirnya uskup adalah sebuah tanda minimnya komunikasi. Di sana pesan yang hendak disampaikan dua belah pihak tidak bisa akan terkomunikasikan ketika antara sender (pengirim) dan receiver tidak mampu mengkodifikasi apa yang disampaikan satu sama lain.

Jelasnya, permintaan para imam tentang transparansi khususnya dalam hal keuangan dan kebijakan pastoral lainnya yang menjadi alasan ‘demo’, tidak dipahami kedua belah pihak. Apa yang dijelaskan dan realitas terselubung masih menjadi tanda tanya. Ada kecurigaan, manajemen yang diterapkan ‘mengatasnamakan Roh Kudus’ demi menyembunyikan kepentingan pribadi.

Di sini segala isu perlu disampaikan secara terbuka lewat komunikasi. Paus Fransiskus memberikan contoh. Dalam kunjungannya ke Brazil 28/7/2013, ia secara terbuka membongkar perbuatan keji Uskup Nunzio Scarano yang diduga terlibat dalam pencucian uang untuk Gereja melalui Bank Vatikan. Paus hendak menunjukkan bahwa kecurangan itu manusiawi bisa terjadi pada siapa pun. Yang tepenting orang tidak bisa bersembunyi di balik otoritas, jabatan, ataupun jubah demi melindungi diri dari dugaan (yang bisa saja tidak benar) akan penyelewengan. Semuanya itu akan terjelaskan lewat proses komunikasi dan kejujuran tentunya.

Kedua, minimnya komunikasi akan berimbas pada renggangnya keakraban komunitas. Komunitas yang dibangun hanya secara fisik tetapi tidak memiliki ikatan internal. Dengan kata lain, komunitas keuskupan misalnya ada, tetapi kehilangan komunikasi sebagai pembentuk. Tanpa komunikasi sebenarnya tidak bisa terbentuk komunitas. Ia hanya sekadar sebuah kerumunan atau kelompok ‘gessellschaft’ yang dingin, tidak memiliki roh, dan hanya sekadar kumpulan orang tanpa jiwa yang menjadi wadah.

Peristiwa yang terjadi di Ruteng sebenarnya hanya sebuah contoh bahwa komunitas kecil perlu terus dihidupi. Kehidupan imam projo yang semuanya berpusat pada Uskup kerap menjadi sebuah ujian ketika transparansi itu tidak dimulai dari pihak orang-orang penting. Di sana akan ada rasa curiga. Hal itu berbeda dalam komunitas biarawan yang hal serupa juga terjadi tetapi dengan kemungkinan yang lebih kurang oleh kontrol yang terus dilaksanakan dan kehidupan spiritual bersama yang terus dijaga.

Ketiga, minimnya komunikasi seperti dilukiskan, bagi kaum awam terasa aneh. Dalam arti, umat memiliki pandangan yang terlampau positif bahwa di dalam kehidupan rohaniwan/biarawan-biarawati, seperti apa yang selalu dikhotbahkan’ adalah pribadi pemberi contoh dalam komunikasi dan ketulusan.

Kini persatuan yang selalu dikumandangkan sedikit hadir mempertanyakan kebenarannya. Jelasnya, apabila tidak terjadi komunikasi yang intens dan jujur maka sudah pasti persatuan itu hanya berada pada tataran verbal. Mengutip Paus Yohanes Paulus II, ‘comunio’ menjadi begitu hadir sebagai rongga tanda absensi yang nyata.

Persatuan itu pula secara tidak langsung tercermin juga dalam bahasa Uskup yang tidak bisa menghadiri pertemuan dengan para imam karena ada urusan ‘keluarga’ yang sangat mendesak. Di sini secara jelas, konsep keluarga atau kekeluargaan yang harusnya menjadi hal utama sebagai gambaran hubungan batin antara orang tua dan anak, antara uskup dan imam, tidak lebih dari sebuah formalitas karena ternyata ada relasi kekeluargaan lain yang dirasa lebih penting dan mendesak.

Keempat, terwujudnya komunitas dalam bahasa Desantes hanya bisa tercipta di atas kerapuhan manusiawi. Rasa tak berdaya dan kesadaran akan keterbatasan mendorong terwujudnya kedekatan untuk saling mengorbankan diri dan kepentingan demi terwujudnya persatuan yang lebih intens.

Rasa tak berdaya dan rapuh ini yang mestinya ditunjukkan baik oleh uskup maupun para imam. Sebagai pemimpin Gereja Lokal, Uskup dengan segala atribut kebesaran tidak bisa luput dari kekeliruan yang akan terkoreksi ketika ada kejujuran yang tulus yang melahirkan pembaharuan diri. Para imam pun yang terpesona oleh kesaksian Sang Gembala akan mudah tersentuh untuk bersama-sama membangun sebuah Gereja Lokal yang tangguh.

Pada sisi lain, membuat kesalahan hendaknya tidak dianggap sebagai masalah besar. Memang kerap keseringan menasihati orang lain membuat orang yang dianggap sempurna tidak menyadari kelemahan diri. Padahal kelemahan diri menjadi alasan untuk membangun komunitas yang kuat.

Bila proses ini dilaksanakan, niscaya komuni itu semakin nyata dan kembali menjadi sebuah kebanggan bersama. Semoga.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Sumber: FloresPost.Co. 15 Juni 2017. http://florespost.co/2017/06/15/opini-komunikasi-komunitas-dan-komuni-di-balik-pengunduran-diri-imam-dari-jabatan-dioses-ruteng/

Advertisements