LOGIKA KONSUMTIF

LOGIKA KONSUMTIF
(Di Balik Bimtek Isteri Pejabat Lembata)

Membaca tulisan: “Bimtek Isteri Pejabat Lembata” (Duta News 22/3), nurani jurnalistik saya seakan tak nyaman. Di satu pihak, bisa saja hal itu muncul sebagai rasa iri (perasaan yang tidak bisa saya sembunyikan). Juga dengan segera terlihat pemikiran negatif yang segera hadir. Padahal dari kegiatan ini (siapa tahu) bisa saja ada hal produktif.BIMTEK1

Terlepas apakah hal ini benar adanya, tetapi berita ini mengajak untuk berpikir lebih jauh. Apakah logia berpikir seperti itu logis adanya?

Logika Konsumtif

Erik Pevernagie, pernah menulis sinis: “If consumption is a main goal in life, labor has become a painful gate to buying things, which are often unnecessary or totally useless.”Sorry, insufficient funds, goodbye!”.”

Ia cemas, kerusakan alam disebabkan oleh salah persepsi. Begitu banyak hal dihabiskan untuk hal yang tidak esenisial. Pekerjaan menjadi sia-sia untuk sesuatu yang belum tentu bermanfaat.dolar-rupiah

Toba Beta, hampir sama berpendapat. Ia menulis lebih dalam: “This civilization is the impact of the world’s consumption behavior.” Sivilisasi diparahami secara keliru, hal mana sangat disayangkan.

Meskipun kritik ini sangat pedas terhadap perilaku konsumtif, tetapi hal itu masih bisa ‘dipahami’ ketika orang menghabiskan apa yang ia peroleh. Memang kekayaan yang dihambur-hambur, meskipun itu milik seseorang, tetapi secara rakus telah mempercepat habisnya kekayaan alam dunia.

Tapi bagaimana pun, secara logis (logika konsumsi) masih bisa dipahami. Orang akan berpendapat “saya menghaiskan apa yang saya peroleh”. Atau “saya berfoya-foya dari hasil keringat sendiri”. Sebuah egoisme, tetapi hal itu sebatas menjadi cibiran dan sumber iri hati. Si pelaku tidak bisa ‘dihukum’ karena ia tidak mencuri. Ia menghabiskan apa yang dimiliki (moga-moga secara halal).pakettourkesingaporemerlion-singapore1

Tetapi apa yang terjadi ketika mentalitias itu justeru dimiliki oleh pejabat atau isteri pejabat? Uang siapa yang habiskan dalam sebuah kegiatan? Sejauh mana moralitas mengawasinya? Bagaimana relungnya bisa tenang terhadap semangat ‘menghabiskan dana yang sudah dialokasikan?’

Di sana dua kekeliruan dasar sedang dipertontonkan. Pertama, mentalitas konsumtif sekedar menghabiskan anggaran. Yang ada dalam pikiran adalah ‘menyerap anggaran’. Memang hal itu akan bersifat positif karena prosentasi penyerapan akan dikagumi. . Dengan demikian, sesuatu dicapai bukan karena pentig tetapi sekedar menghabiskan.

Kedua, bersenang-senang terhadap apa yang tidak dihasilkan. Konsumerisme modern dikritik tetapi masih ‘waja’ karena orang menghabiskan apa yang diperoleh dari hasil keringatnya. Yang disayangkan dalam mentalitas pejabat (dan isterinya) adalah menghabiskan uang rakyat.BMTEK3

Dalam konteks kini, mestinya seorang penjabat punya autokontrol diri. Ia tidak menunggu protes LSM untuk sadar akan kekelirunn. Pikiran dewasa dengan logika minimal telah menyadarkan dia akan kesia-siaan. Jelas, logika tak logis yang dipertontonkan.

Perlu Konstruktif

Realitas suram yang terjadi, memunculkan pertanyaan: apa yang seharusnya dibuat? Pertanyaan ini tidak ada mudah dijawab. Minimal ia perlu menyibak kepalsuan pada tahap awal demi membangun sesuatu yang lebih positif.

Pertama, politik konsumtif atau sekedar berbagi ‘berkah’ masih sangat kuat. Kritik pedas yang dilansirkan pejabat ke pejabat yang lainnya, lebih didasarkan pada belum mendapatkan apa yang diharapkan. Dalam kasus ini, yang melibatkan isteri kepala dinas dan isteri pimpinan DPRD, sangat jelas. Kritik itu tidak datang dari dalam, karena tidak ada yang dipertanyakan. Jelasnya, ketika isteri pimpinan DPRD juga ikut, lalu apa yang perlu dipertanyakan.WELCOME BATAM

Mentalitas seperti itu sekedar jadi contoh. Ia juga dapat menjdi ukuran bahwa perubahan pimpinan daerah misalnya tidak didasarkan pada idealisme tertentu. Tetapi ia sekedar bagi-bagi kekuasaan. Kekuasaan tidak dijadikan sarana untuk rakyat. Tidak. Ia ada untuk diri. Dalam arti ini suksesi sekedar sebuah sandiwara politik.

Kedua, mentalitas itu mestinya mendorong adanya usaha konstruktif untuk keluadari lingkaran setan. Sebuah lingkaran konstruktif perlu dibangun di luar logika timpang itu. Itu berarti, rekam jejak kesaksian hidup (bukan retorika) benar-benar menjadi perhatian.

Konstruksi yang dihrapkan tentu saja dimulai dari kiprah personal. Tata kelolah keluaga sebagai institusi terkecil merupakan contohnya. Kemudian diperlebar dalam perjuangan yang lebih mendasar. Dalam konteks otonomi daerah, hal itu bisa dilhat dari keterlibatan memperjuangkan Lembata saat belum apa-apa. Di situ bisa terukur pengabdian mengingat setelahnya, yang dicari tentu saja perjuangan yang ‘ada maunya’.BIMTEK2

Ketiga, semangat kontruktif ini hanya bisa dimiliki masyakat. Para pejabat (termasuk isteri) sudah berada dalam logika konsumtif dan saling menguntungkan. Dengan demikian, rakyat mestinya kian sadar bahwa pemimpin yang baik bukan dia yang sering memberi sesuatu (apalagi membeli suara). Pemimpin sejati terletak pada kesungguhan berkorban.

Takaran inilah yang perlu dimiliki dan menjadi pertimbangan penting dalam memberikan suara. Ia perlu mengggugat ketaklogisann yang masih saja muncul. Setelahnya, dengan hati, ia bisa ikut mengonstruksi pola kepemimpinan yang baik. Semoga.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Sumber Flores Pos 4 April 2016