Bencana, Menjernihkan Peran Tuhan

BENCANA, MENJERNIHKAN PERAN TUHAN

Jurnal Nasional, 23 Juli 2006

Bencana kini datang lagi. Rasanya ia tidak membiarkan sedikit pun jedah, buat negeri ini membangun dirinya. Malah seakan ia sudah punya daftar panjang untuk daerah yang perlu ‘dikunjungi’ hingga terkesan tergopoh-gopoh. Barusan kita tertampar untuk tsunami kedua kalinya dalam dua tahun terakhir, ‘boro-boro’ Selat Sunda pun ‘mengamuk’.

Keseringan terjadinya gempa, tidak bisa tidak, memaksa kita untuk lebih serius mengadakan refleksi. Permenungan itu dapat bermakna ganda. Di satu pihak kita menjernihkan aneka asumsi teologis yang menjerumuskan. Pada sisi lain, diperlukan upaya mengais makna yang di dalamnya terkandung ajakan untuk lebih menunjukkan komitmen berbenah diri.

Asumsi Teologis

Terhadap fenomen alam mahadasyat seperti tsunami kali ini, manusia merasa tak berdaya. Kita menatap langit kosong, sambil mengajukan pertanyaan dalam kehampaan. Pasalnya, Sang Khalik yang dianggap penguasa segala sesuatu, Mahakuasa dan Mahabijaksana, ternyata begitu sadis menghanyutkan manusia. Dengan kata lain, bencana alam pasti datang dari Dia, demikian pandangan orang.

Terhadap asumsi ini bisa muncul dua sikap. Pada satu sisi, orang bisa saja merasa sia-sia untuk tetap mempertahankan dirinya sebagai orang beriman. Alasannya karena bencana dilihat sebagai sebuah ketidakadilan dari Tuhan. Lihat saja. Apa yang sebenarnya menjadi salah dan dosa anak-anak kecil yang begitu asyik main di bibir pantai hingga terhanyut menjadi korban tsunami?  Bukankah dalam dirinya terdapat suatu janji untuk sebuah masa depan yang lebih baik? Siapa tahu kalau diantara bocah itu terdapat juara fisika internasional? Dan kepedihan pun kian bertambah ketika kaum ateis pun bergabung untuk menertawakan orang yang masih beriman.

Pada sisi lain, muncul usaha mempersalahkan tabiat manusia. Bencana dianggap sebagai sesuatu yang ‘wajar’. Dosa dan kesalahan sudah terlampau menggunung. Rasa malu dan sesal yang seharusnya menjadi pengendali aneka tindakan kejahatan semakin menipis. Bahkan dalam banyak hal, justeru manusia semakin bangga dengan kedosaannya. Korupsi, masih begitu dilaksanakan. Bisnis haram mulai dari narkoba hingga persenjataan terus dilaksanakan. Dan di deretan panjang itu masih tampak juga aneka tindakan pencurian, perampokan, pemerkosaan. Berhadapan dengan itu, tsunami adalah sebuah hukuman. Kita mesti menerimanya demikian asumsi mereka.

Iman Infantil

Asumsi teologis yang menyertai refleksi atas tragedi alam seperti digambarkan, muncul dari pemahaman bahwa alam masih berada dalam kuasa langsung Allah. Alam tidak memiliki otonomi. Ia berada dalam kendali ‘Sang Khalik’. Kapan saja,  ketika memandang ketakbecusan manusia, Ia akan ‘menggoyang bumi’ dan ‘memompa’ air laut menjadi tsunami.

Pemahaman demikian ada baiknya. Orang semakin aktif dan giat kembali beribadah demi melerai bencana. Sayangnya, iman yang muncul karena bencana, dalam banyak hal tidak lama bertahan alias infantil alias kekanak-kanakan karena hanya mendasari ketaatan bila disertai hukuman. Setelahnya, bila keadaannya kembali normal, ia akan kembali seperti sebelumnya. Karena itu konsepsi seperti ini perlu dijernihkan. Masalahnya, bila ‘pertobatan semu’ yang sempat tercipta ternyata tidak mampu ‘menghentikan’ bencana alam, maka irama hidup sebelumnya akan kembli dipraktekkan.

Yang perlu dihidupkan dalam refleksi gempa seperti ini, bahwa alam justeru diciptakan oleh Tuhan dengan otonominya dalam sebuah keharmonisan. Ia berputar, bergerak, mengikuti hukum-hukumnya. Selain itu, manusia yang diciptakan sebagai ‘mahkota ciptaan’ diserahi tugas dan tanggungjawab untuk menjaga keharmonisan itu. Untuk hal ini justeru memunculkan kekaguman akan kebijaksanaan Tuhan. Mengapa tidak? Semua yang berasal dariNya, baik adanya, hal mana akan menumbuhkan kedewasaan dalam beriman.

Pada sisi lain, kekeguman itu disertai penyesalan. Tanggungjawab yang dilimpahkan kepada manusia itu ditelantarkan. Ia malah bersikap antropocentris, yakni memusatkan semua kekayaan alam kepada kesejahteraan sesaat, tanpa sedikit pun menyisihkan bagian untuk generasi berikutnya. Harmonisasi yang dari awalnya tercipta secara baik menjadi hilang. Yang tertinggal hanyalah ‘murka’ sebagai reaksi atas ketidakseimbangan itu.

Makna Bencana

Lalu, hikmah apa yang dapat dipetik di balik tragedi kali ini? Pertama, dibutuhkan pertobatan dan pembenahan diri. Tobat yang diamaksud di sini, tidak bermaksud meniadakan bencana alam. Alasannya karena bumi yang kita tempati ini, merupakan warisan leluhur yang sudah semakin parah. Ekosistem yang tercipta sebagai sebuah hubungan saling ketergantungan anatarmakhluk hidup (juga dengan alamnya), sudah terganggu. Dengan demikian gempa bumi dan tsunami, suka atau tidak, terus akan hadir ‘mengunjungi’ kita.

Dalam situasi demikian, pembenahan diri yang dimaksud, meski kemungkinan besar tidak bakal menhentikan bencana alam, tetapi yang pasti, semakin menyadarkan manusia untuk menjadikan ‘waktu yang masih tersisah’ seperti dikatakan Ebiet G. Ade untuk berbuat baik. Pada sisi lain, ia merasa alam sudah sangat kejam meninggalkan petaka karena itu ia tidak perlu menambahkan derita yang nota bene masih dalam kewenangannya. Korupsi yang selama ini mencederai kebersamaan kita perlu dihentikan. Kekerasan, penindasan, permusuhan antaretnis bahkan antarumat beragama, seharusnya dilerai, bukan karena hal itu berlawanan dengan semangat cinta damai dari agama-agama, tetapi juga karena alam sudah terlampau berat menimpahkan bencana. Karena itu, kita seharusnya dapat mengekang pelbagai tindakan egoistik dan emosional destruktif karena akan membuat bumi yang sudah duka, semakin ditambah lara lagi.

Kedua, keberadaan tanah air kita yang ‘ditakdirkan’ berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, menunjukkan bahwa gempa dan tsunami yang terjadi kini hanyalah awal dari sederetan panjang tragedi. Kenyataan seperti ini selain mendatangkan kewaspadaan, tetapi juta seharusnya memunculkan peringatan bahwa giliran ‘dikunjungi’ akan datang, hanya saja kita tidak mengetahui kapan. Kita perlu waspada dan peka terhadap tanda-tanda alam yang memberitahukan bakal datangnya bencana alam. Selanjutnya, kita saling mengingatkan demi menghindari bahaya yang lebih besar.

Di sini ada sisi manfaatnya menjadi orang beriman, di mana ‘lampu imannya’ tetap menyalah. Ia tidak membiarkan sedikit pun kesempatan untuk hidup dalam kegelapan karena ia sadar bahwa kematian itu hadir bagai pencuri yang tidak pernah akan memberitahukan saat kedatangannya. Sebaliknya, ia justeru hadir saat manusia lengah. Untuk itu, dalam agama manapun, Tuhan selalu hadir menyadarkan manusia untuk selalu menjadikan hidupnya bermakna dan berarti oleh aneka kebajian yang dibuat. Hanya dengan demikian ketika tiba saatnya, kita didapatiNya sudah siap dijemput Sang Khalik.

Robert Bala. Pemerhati Ekologi. Menyiapkan Disertasi tentang Teologi Ekologi. Sumber: Jurnal Nasional 23 Juli 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s