Di Balik World Cup

DI BALIK WORLD CUP

Batam Pos 20 Juli 2006

WORLD CUP sudah usai. Ia pergi membawa segala kenangan. Bagi yang sedikit tenggelam dalam fanatisme mengunggulkan tim tertentu yang akhirnya kalah,  barangkali ada perasaan kecewa. Tetapi mereka yang mengutamakan permainan cantik dari tim mana pun, pasti sangat terhibur.

Aneka perasaan seperti ini memunculkan pertanyaan: mengapa sehingga sepak bola begitu menyentuh nurani kita? Apakah ada nilai lain yang dapat kita petik, selain hiburan dan olah fisik?

PERMAINAN, demikian tulis Johan Huizinga dalam “Homo Ludens” (manusia sebagai makhluk yang bermain) memiliki arti yang sangat penting. Di satu pihak, ia menjadi aktivitas fisik, melalui mana manusia dapat melenturkan otot-ototnya. Tubuh digerakkan, hingga akhirnya mengeluarkan keringat. Melalui proses ini, tubuh mendapatkan kesegaran. Kesegaran seperti ini mempengaruhi situasi jiwa. Tubuh dan jiwa adalah dua realitas yang saling mengandaikan.

Tetapi, makna permaianan tidak berhenti di situ. Huizinga bahkan melangkah lebih jauh dalam menginterpretasi (menafsir) permainan. Baginya terdapat makna kultural. Jelasnya, dari  permainan, lahirlah kebudayaan. Melihat betapa indahnya kerjasama, sportivitas dan spontanitas mengakui kekalahan dan kemenangan dalam sebuah pertandingan, orang lalu berandai: mengapa kebajikan seperti itu tidak bisa diaplilkasikan bahkan dibakukan menjadi norma dalam kehidupan? Permainan sungguh menjadi inspirasi, bahkan dorongan untuk membentuk kehidupan yang lebih baik.

Kita misalnya merasa terpanah untuk menyebut beberapa peristiwa berikut. Beberapa saat yang lalu, FC Barcelona menjadi saksi bertemunya dua tim dari negara yang sementara berkonflik: Israel dan Palestina. Atau Korea Utara dan Selatan membentuk satu tim sepak bola sebagai ekspresi kerinduan akan persatuan. Di sini permainan menjadi inspirasi, sekaligus acuan untuk sebuah masyarakat yang lebih rukun dan damai. Semuanya melihat kehidupan sebagai sebuah lapangan, tempat kita semua bermain. Namun agar permainan membawa makna, maka diperlukan keikhlasan untuk menaati aturan.

PERMAINAN sebagai inspirasi lahirnya kebudayaan, tidak bersifat satu arah melainkan dua arah. Kita tidak hanya membentuk kebudayaan dari permainan, tetapi juga permainan menjadi ekspresi realitas kebudayaan kita. Sebuah bangsa yang sudah mantap kesadaran kebangsaannya akan merasa terpanggil untuk memberikan segala-galanya. Baginya warna kaos (yang merupakan gambaran dari benderanya), sudah memiliki arti sendiri. Di sana, secara mati-matian (tanpa menggunakan senjata dan kekerasan)  mereka mempertahankan nama bangsanya. Italia misalnya hadir dalam Piala Dunia dengan aneka skandal suap. Sajian permainan pada awalnya pun agak redup hingga melenyapkan prediksi bakal  menjadi juara. Tetapi seirama dengan perjalanan waktu, ia mengukuhkan semangat untuk mengadakan perubahan hingga akhirnya memeluk gelar juara.

Hal itu sangat berbeda dengan Spanyol. Tim Matador itu hadir begitu meyakinkan namun memunculkan kecurigaan. Alasannya karena secara kedalam, masih terganjal oleh belum terumus secara baik nasionalismenya. Ada problem yang mengganjal. Orang Catalan (wilayah Barcelona) dan Vascos (wilayah klub seperti Osasuna dan Athletic del Bilbao), atau Galicia (wilayah klub Celta di Vigo), belum merasakan bahwa Spanyol menjadi identitasnya. Ia lebih akrab dengan daerah asalnya.

Akibatnya, ketika para pemainnya bersatu dalam satu tim, mereka seakan kehilangan spirit yang melandasi persatuan. Bahkan, kemengan tim itu, seakan kontradiktoris dengan perjuangan regionalismenya. Bukan mustahil kalau tim ini baru sekali masuk Semifinal(1950). Selebihnya empat kali kandas di perempat final (1934, 1986, 1994, dan 2002), bahkan babak penyisihan belum terhitung enam kali tidak ikut dalam Piala Dunia. Untuk itu, meski kali ini Luis Aragones menyertakan psikolog untuk mendampingi para pemain, tetapi hal itu belum berhasil karena ada akar nasionalisme yang belum tersentuh.

PRESTASI Indonesia tentu tidak bisa diperbandingkan dengan Spanyol. Kita tidak memiliki tradisi sepak bola yang begitu kuat. Tetapi kalau melihat hadirnya Jepang dan apalagi Korea dalam Piala Dunia (terutama tahun 2002 lalu), maka ada pertanyaan yang perlu kita dalami. Mengapa negara-negara seperti itu bisa tampil gemilang? Mengapa tim ‘Merah Putih’ bukan saja tidak pernah tampil lagi dalam laga Piala Dunia dalam tiga puluh tahun terakhir, tetapi bahkan dalam kawasan regional pun, ia harus bertekuk lutut di bawah Vietnam atau Laos yang barusan keluar dari krisis internalnya?

Tidak mudah menjawab pertanyaan di atas. Tetapi  tesis Huizinga dalam Homo Ludens mengingatkan kita bahwa bukan kebetulan semuanya itu terjadi. Sebagaimana sebuah kebudayaan yang mantap lahir dari permainan yang indah dan menarik, maka dari sebuah permainan yang curang yang lebih diwarnai adu jotos dapat berpengaruh terhadap dinamika kehidupan bangsanya. Atau sebaliknya, realitas bangsa yang masih begitu ‘lengket’ dengan KKN, arogansi kekuasaan dan bisnis haram persenjataan (sebagaimana kini melanda TNI), konflik antaretnis yang masih terus terjadi, hubungan antaragama yang masih rawan, sadar atau tidak akan begitu spontan terekspresi dalam permainan. Permainan kita menjadi kotor dan menjijikan karena lebih didominasi oleh egoisme dan kepentingan sesaat, daripada memperjuangkan kerja sama tim untuk membentuk kesatuan yang lebih tangguh. Di sini sebagai bangsa kita kehilangan roh yang menjadikan kita bangga sebagai orang Indonesia.

Kenyataan seperti ini semakin mencemaskan ketika para pemimpin sebagai pilar negeri ini belum menunjukkan komitmen kebangsaan. Atau dalam bahasa José Ortega  dan Gasset ketika merefleksikan kegagalan nasionalisme Spanyol mengatakan bahwa sebagian besar tanggungjawab berada di tangan para pemimpin. Seharusnya mereka menjadi pelopor untuk membangunkan kembali kebanggan kita sebagai orang Indonesia. Namun dalam kenyataannya, praksis hidupnya lebih menaburkan kebingungan dan kekecewaan daripada kepastian/

Tetapi kenyataan seperti ini hendaknya tidak membuat kita pesimis. Membanjirnya tidak sedikit kita untuk menyaksikan Piala Dunia, bahkan mengorbankan waktu istirahat kita, pada hemat penulis bukan sekedar meyaksikan sebuah hiburan. Ia mengekspresikan kerinduan tidak sedikit masyarakat Indonesia untuk berangan menyaksikan hal yang sama dalam tim nasionalnya. Tetapi untuk sampai ke sana, kita harus membenahi dahulu komitmen kebangsaan kita.

Robert Bala.

Pengamat Masalah Sosial. Alumnus Universidad Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid-Spanyol. Sumber: Batam Pos, 20 Juli 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s