Fuga Mundi


‘FUGA MUNDI’ POLITIK

Batam Pos 5 Oktober 2006

Reformasi sebagai sebuah masa recovery, sudah hampir satu dasa warsa umurnya. Namun,  tanda-tanda ke arah perbaikan belum terlihat. Lantas muncul pertanyaan:  apakah kita masih perlu terus berharap pada (partai) politik ataukah membangun alternatif lain?

Infantilisme

‘Politik’, sebuah kata penuh makna positif-konstruktif. Ia menjadi ajang perjuangan kesejahteraan bersama. Masyarakat masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi. Sementara itu, para pemimpinnya punya dedikasi total karena sadar bahwa mereka lahir dari rahim masyarakat. Mereka dikandung dalam kerinduan yang sangat dalam. Tak jarang, ia juga ‘ngidam’ menikmati kelezatan spaguetti, pizza, KFC, hamburger, atau paella. Namun ia sadar, yang terpenting bagaimana menjadikan yang lokal dan nasional diperhitungkan dalam kancah global.

Dalam proses ini, parpol memainkan peran yang sangat penting. Ia menjadi agen pembaharu. Para kader yang memiliki kualitas kepribadian yang handal, karakter terpercaya, dan punya kesadaran nasionalisme yang tinggi, diberi prioritas. Di sana dapat diharapkan terlahir ‘leadership’ yang kuat, bermoral yang selanjutnya menjadi garda terdepan dalam pembaharuan bangsa.

Dalam kenyataan, kevakuman elemen di atas semakin kuat dirasakan. Partai-partai politik yang lahir pasca lengsernya Soeharto memang hadir dengan janji  pembaharuan. Dan memang hal itu terwujud. Lembaga-lembaga negara hingga UUD 1945 dirombak karena dinilai sebagai kendala struktural yuridis konstitusional.

Masalahnya, pembaharuan justeru mandek di sana. Setelah perangkat UU diciptakan, ternyata tidak diikuti perbaikan. Menjadi tanya: dimanakah akar penyebabnya? Tanpa menyepelehkan aspek lain, tetapi pembaharuan internal dalam parpol merupakan salah satu dalangnya. ‘Kegigihan dan daya juang’ para anggota parpol di legislatif ternyata tidak disokong oleh pambaharuan internal. Di sana mentalitas lama masih terlalu kuat. Uang adalah panglima yang mengatur strategi politik. Yang punya ‘duit’ dengan mudah melenggang ke kursi kepemimpinan partai sambil mengharapkan jenjang jabatan yang lebih tinggi lagi. Sementara yang kalah (dalam dana dan ketiadaan jaringan pendukung yang primordialistik) didepak.

Tetapi di sana, the show must go on. Masih ada alternatif bagi yang kalah. Pendirian parpol baru yang nota bene terpecah dari induknya menjadi sebuah gejala yang cukup nyata di negeri ini, hal mana terlihat dalam kubuh Golkar, PDIP, PPP, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Memang dinamika seperti ini normal. Di negara mana pun gesekan kepentingan kerap terjadi. Bedanya, kalau di tempat lain masalah-masalah ideologis antara konservatif-progresif menjadi latar belakangnya, maka di negeri ini persoalannya lebih bersifat infantilistik-egoistik lantaran tidak merenggut kekuasaan. Ibarat seorang anak kecil yang merengek meminta-minta kekuasaan, dan ketika hal itu tidak dipenuhi, ia berontak dan mendirikan partai baru.

Fuga mundi?

Realitas politik yang kacau tidak bisa tidak memunculkan kemuakan. Masyarakat merasa dirinya telah diperdaya demi tujuan sesaat dan sesat. Kerinduan akan terjadinya pembaharuan sekedar ‘dibakar’ demi mempercepat pencapaian kekuasaan.

Kekecewaan yang lahir dalam situasi seperti ini dapat berdampak ganda. Di satu pihak, mekanisme politik dan parpol yang curang perlahan disadari dan perlahan ditinggalkan. Ada kerinduan untuk menggapai dinamika politik yang lebih sehat, inklusif dan  transparan.

Tetapi di lain pihak, sebagaimana cukup menonjol dirasakan kini adalah kebosanan, pratanda kekecewaan itu sudah sangat mendalam. Bahkan kelas menengah yang sangat potensial untuk menjadi agen pembaharu, memilih mengundurkan diri dari kancah pertaruangan duniawi (fuga mundi) dan memilih struktur alternatif  seperti LSM, sebagai elemen civil society.

Gejala seperti ini sangat disayangkan, hal mana ditulis oleh J.M. Mardones. Dalam Fe y Poltica: 1989 (Iman dan Politik), teolog politik Spanyol ini melihat pelarian diri sebagai sebuah kepicikan politik. Lebih tepat, ia merupakan ekspresi ‘ketidakjantanan’ dalam menghadapi masalah. Alasannya karena, lembaga alternatif, sekuat apapun, ia tetap menjadi penyorak di pinggir lapangan. Sementara itu, pergulatan politik yang dilakoni para ‘residu’, alias tidak terpakai dalam bidang lain bakal menggumpal dan memperkuat daya pengaruhnya di lembaga politik. Di sana kata-kata sejarawan Inggris Anold J. Toynbee (1889-1975) menjadi nyata: ‘hukuman bagi yang tidak senang pada politik, akan dikuasai oleh pemimpin yang tidak dikehendakinya’.

Pembaharuan internal

Reformasi yang tersendat lantaran kiprah parpol yang mengecewakan perlu dijawab dengan pembaharuan partai. Langkah perbaikan internal perlu dimulai. Hanya dengan demikian, arah reformasi lebih pasti. Kesadaran seperti ini sudah dialami India. Pada akhir milenium yang lalu, Bharatya Janata Party (BJP), berhasil menciptakan ‘titik start’. Dengan bermodalkan komitmen kebangsaan dan keberanian bertindak, mereka mengadakan perubahan yang cukup signifikan. Meski hal itu harus dibayar dengan menurunnya popularitas akibat menmbengkaknya angka kemiskinan, tetapi langkah itu terus diyakini sebagai awal yang menjanjikan. Pada tahun 2020, India dengan penduduk lima kali lebih besar dari kita, bakal tampil bersama Cina sebagai raksasa ekonomi dunia.

Untuk Indonesia, gema pembaharuan harus dimulai. Mentalitas lama sekedar menjadikan parpol bagai kendaraan berlapis baja yang siap menggeser dan menyundul siapapun yang mengganjal perlu ditinggalkan. Sebaliknya, ia perlu berbenah diri. Kaum intelektual muda perlu berani dan gesit kembali menemukan kiprah politiknya, dan terlibat karena pembaharuan hanya mungkin ketika mesinnya (dalam hal ini parpol) berjalan. Hanya saja, perjuangan perlu dilakukan secara bersama-sama dan dijiawai patriotisme demi menghindari kegelapan mata akibat tawaran kekuasaan yang meninabobokan dan membelokan horizon yang mulia kepada kepuasaan sesaat dan sesat.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial-Politik. Sumber: Batam Pos 5 Oktober 2006</em

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s