Menelusuri Si Jagur demi Harmoni

Menelusuri Si Jagur demi Harmoni

Dalam tulisan CP Snow, Las dos culturas y un segundo enfoque (terjemahan edisi Inggris: Two Cultures and The Scientific Revolution, 1959), ia mengungkapkan kecemasannya yang nota bene lahir dari pengalaman pribadinya.
si jagur
Sebagai fisikawan dan sekaligus sastrawan, ia melihat adanya jurang pemisah antara kedua profesi itu.  Masing-masing disiplin ilmu (eksakta dan sosial) seakan mendewakan bidangnya masing-masin. Malah, ada kesan meremehkan disiplin lainnya.

Jurang pemisah itu menghendaki adanya keterbukaan untuk mengadakan dialog interdisipliner.  Dengan itu, keduanya saling melengkapi. Hanya dengan demikian, sebuah perkembangan utuh tercapai. Tidak hanya kemajuan dalam bidang sains tetapi diimbangi dengan kebersamaan secara sosial yang dilandasi oleh pijakan moral, dan sebaliknya.

Ungkapan Snow ini bisa menjadi sebuah permenungan sekaligus titik berangkat untuk memaknai tulisan Thomas B. Ataladjar, ‘Si Jagur, Riwayat dan Kisah Sejarahnya”. Penulis sebenarnya bisa saja cukup menelusuri karya tangan Manuel Tavares Bocarro (MTB) ini sebagai karya teknik metalurgi, dengan memadukan pengetahuan dan keahlian Timur dan Barat.

Ada juga alasan yang cukup untuk membanggakannya dari sisi ilmiah dan sekedar menghadirkan kisah ‘Si Jagur’ sebagai sebuah rekayasa teknologi tinggi. Belum lagi kalau hasil karya berkelas dunia itu dikaitkan dengan sederetan kebanggan bangsa penjajah. Jadilah utuh sebuah kebanggan ilmiah yang dibungkus dalam sebuah keangkuhan penjajah oleh kecanggihan peralatan militar.

Tidak hanya itu. Tulisan latin ‘Ex me ipsa, renata sum, yang berarti: Dari diriku sendiri aku dilahirkan, meski secara jelas mengungkapkan bahwa ‘Si Jagur’ dibuat dengan menuang 16 meriam kecil, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ungkapan itu mengandung sebuah kebanggaan karena sukses menghasilkan karya  karya kreatif sendiri, bukan hasil jiplakan.

Pada sisi lain, penulis juga tidak berhenti (atau terkecoh) dengan aneka kisah mistis yang dimiliki ‘Si Jagur’ yang nota bene penuh kekuatan sakti, apalagi dianggap Dewa Kesuburan. Karya sastra bernuansa fiktif menarik bisa lahir di sini, apalagi karya itu akan begitu diminati oleh beberan fenomen ‘pornografi’ yang ada padanya.

Kekayaan sastra saja seakan belum cukup. Ia malah lebih kuat lagi karena ruang lingkup dibuatnya meriam ini yang sangat erat kaitannya dengan bendera agama oleh perolehan kejayaan dan emas, bisa saja berujung pada penciptaan mitos oleh penjajah agar coran logam itu bisa ‘disembah’.

Dua tendensi itu ada dan menjadi ancaman terhadap karya tulisan ini., Tetapi dengan kepiawaiannya, penulis berhasil meramu 12 bab  karya ini sehingga menjadi menarik dan seimbang. Di satu pihak, beberan karya ilmiah dilukis secara sederhana dan ditmepatkan dalam keterkaitan dengan fakta lainnya sehingga pembaca dipermudah untuk memahami sesuatu pada konteksnya. Sementara itu aneka cerita coba ditelaah sambil menampilkan kritik atas begitu mudahnya orang Indonesia memercayai hal takhyul

Masyarakat Harmonis

Pada hemat saya, kekuatan tulisan ini ada pada kata tunggal yakni harmoni. Mengapa? Ia terekspresi dari gambaran konstitutif antara feminitas dan maskulitas dalam satu kesatuan. Yang satu mengarah keluar sebagai simbol ‘kelelakian’, sementara simbol ‘kewanitaan’. Ia jauh disebut karya pornografis yang coba mengumbar sisi genital.

Memang pikiran jebakan untuk menafsirnya secara sepihak, bisa saja hadir. Tetapi hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran. Leibh lagi kalau hal itu diwariskan turun-temurun dan akhirnya diakui sebagai sebuah kebenaran hal mana menjadi alasan, mengapa Si Jagur harus mengalami perpindahan yang cukup banyak.

Jelas, harmonisasi merupakan sebuah cita-cita yang bisa saja hadir di tengah praksis masa itu (yang sayangnya masih juga dipraktikkan masa kini), yang begitu merendahkan martabat wanita. Integrasi keduanya pada meriam adalah ekspresi, kemenangan adalah buah dari usaha bersama.

Hal ini juga merupakan kritik sekaligus pembelajaran. Kisah terkadang dikerucutkan hanya pada hal yang dialami oleh kaum pria sebagai kisahnya (his-story) dan akhirnya dipatenkan dalam tulisan sakral yang dijadikan pembenaran atas tindakan kontra emansipasi wanita.

Bisa juga, lukisan itu adalah sebuah seruan keliru yang menambah nafsu penguasa untuk menguasai daerah lain sambil membenarkan tindakan kejam terhadap kaum wanita. Tetapi kalau hal itu terjadi demikian, catatan sejarah penting menjadi sebuah memori passionis, kenangan menyakitkan yang harus diingatkan kepada generasi berikutnya agar tidak mengulang yang sama. Ia terjadi untuk dijadikan pembelajaran agar tidak diulang lagi.

Tidak hanya itu. Sisi harmonis masih terus ditemui sebagai kelanjutannya. Labuh akhir ‘Si Jagur’ di samping patung Hermes di Balai Kota yang nota bene letaknya di daerah Harmoni, bisa saja sebuah kebetulan. Tetapi bila ditelusuri dengan hati, bukan tak mungkin, inilah kelanjutan tentang harmoni.

Harmoni yang dimaksudkan tidak sekedar hubungan akrab antarindividu yang satu dengan yang lainnya. Lebih dari itu, hubungan antar-individu diharapkan meluas hingga membentuk sebuah masyarakat harmonis, ‘Societat de Harmonie’.

Harapan akan harmonisasi ini bisa saja merupakan ekspresi keberhasilan dan karena itu merupakan sebuah keterberian (gabe) yang patut disyukuri. Tetapi bisa juga merupakan sebuah kerinduan dan tugas (aufgabe) bagi siapa pun anak bangsa ini untuk terus mengupayakan terciptanya keharmonisan.

Kalau sampai pada titik ini maka kita sepakat, Si Jagur, dengan sisi historis yang terkadang kontradiktoris hadir mengajarkan harmoni secara internal, antar-kita, dan mengapa tidak, membentuk sebuah bangsa yang lebih harmonis.

Robert Bala.Pemerhati Budaya. Alumnus Universidad Pontificia de Salamnca Spanyol. Mendalami Hermeneutika. (Tulisan ini merupakan Pengantar pada buku: Si Jagur, Riwayat dan Kisah Sejarahnya, tulisan Thomas B Ataladjar, Jakarta 2013).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s