Tragedi Cebongan, Sebuah Rekayasa

Tragedi Cebongan, Sebuah Rekayasa?

cebongan
Sehari setelah penembakan 4 tersangka di Lapas Cebongan Yohanis Juan Manbait, Benyamin Sahetapy (Decky), Adrianus Chandra Galaja (Dedy), dan Yeremis Rohi Riwu (Adi) pada pukul 01.30 (23/3), running text di sebuah TV swasta menulis sebagai berikut: Asrama mahasiswa NTT di Jogjakarta dikosongkan. Mahasiswa takut akan adanya penyerangan susulan.

Beberapa saat kemudian, seorang sahabat dari Yogya mengabarkan, sejumlah mahasiswa bahkan meninggalkan koga Gudeg ini karena merasa tidak aman. Ada aneka informasi yang menyudutkan tidak hanya mahasiswa tetapi juga masyarakat NTT.

Pertanyaannya: mengapa tragedi dilakukan oleh pribadi tertentu (yang kebetulan berasal dari NTT) itu meluas menjadi sebuah generalisasi? Ada apa di balik peristiwa itu? Apakah sekedar sebuah aksi kejahatan biasa atau sudah direkayasa untuk hal yang lebih besar?

‘Dilepas di Lapas?’

Tidak mudah menjawab pertanyaan di atas, apalagi hingga tulisan ini diturunkan, aneka penyidikan masih berjalan, termasuk kesediaan TNI untuk melakukan investigasi (Kompas 31/3).

Namun aneka peristiwa seputar kejadian yang terjadi begitu cepat-kilat itu memunculkan dugaan akan adanya kejadian aneh yang bisa menjadi pangkal tanya.

Lihat saja. Setelah kejadian pengeroyokan hingga tewas Sertu Santoso pada tanggal 19 Maret, dengan sangat (malah terlalu) cepat keempat tersangka ditangkap. Secepat itu pula Bripka Yohanis Juan Manbait dipecat dari keanggotaannya sebagai Polri. Tiga hari kemudian keempatnya dipindahkan ke LP Cebongan (22/3), dengan alasan tahanan polisi lagi direnovasi, sebuah alasan yang masih bisa dicek kebenaran faktual di lapangan.

Ada hal yang lebih mencekam lagi. Dalam proses pemindahan dari Tahanan Kepolisian ke LB Cebongan, keempat tersangka, demikian keterangan pengacara para korban, Rio Rama Baskara, empat tahanan diperlakukan bak teroris dengan dikawal ketat pasukan Brimob Polda Yogyakarta, (Kompas 28/3). Informasi lainnya menambahkan, mereka ‘digiring’ ke Lapas dalam keadaan tangan terikat, sebuah penjagaan super ketat yang bahkan tidak dilakukan untuk teroris paling berbahaya di negeri ini.

Meskipun terkesan berlebihan tetapi hal ini mestinya tidak usaha terlalu dipertanyakan karena sebuah penjagaan ketat harus dilaksanakan. Apalagi yang menjadi korban pemukulan hingga tewas itu adalah seorang anggota Kopassus. Penjagaan dilakukan agar mengantisipasi jika ada serangan sebagai balas dendam dari mereka yang merasa dirugikan. Penjagaan akan serangan susulan seperti ini bisa dipahami.

Sampai di sini semuanya logis diterima. Tetapi yang disayangkan, mestinya pemindahan itu terus dikawal meskipun sudah berada di Lapas. Alasannya, karena penjagaan di Lapas tentu tidak seketat bila masih berada di bawah Polri. Apalagi keempat tahanan itu logisnya masih merupakan tahanan titipan polda.

Lebih lagi, kalau melihat ‘model’ pengawalan saat dihantar ke lapas, maka mereka perlu dikawal super ketat. Tidak sedikit pun cela diberikan agart mereka tidak bisa membebaskan diri. Jelas, tanggungjawab masih berada di tangan pihak kepolisian. Namanya saja ‘titipan’.

Sayangnya hal itu tidak terjadi. Penjagaan yang ‘super ketat’ itu hanya berlangsung sampai di depan (atau mungkin sampai di dalam tahanan saat menghantar keempat tahanan itu) sebagai tanda usainya tugas. Sesudahnya tidak ada penjagaan yang cukup berarti hingga 9 jam kemudian mereka diserang oleh orang yang bersenjata lengkap. Dalam proses ini tentu tidak berlebihan kalau keempatnya bak ‘di lepas di lapas’ begitu saja.

Dengan melepaskan keempatnya sekaan tugas Polisi menjadi selesai. Bila terjadi ‘sesuatu’ ia bukan lagi tanggungjawab mereka (karena sudah berada di Lapas). Juga polisi tidak akan dicurigai menggingat dalam kasus yang yang melibatkan empat tersangka asal NTT itu ditangkap, yang menjadi korban adalah seorang anggota Kopassus, dan bukan Polri. Bila terjadi ‘sesuatu’ maka aneka curiga pun hilang.

Kalau sampai terjadi seperti itu maka dugaan adanya sebuah kenario kejahatan terencana (organized crimes) bukan kebetulan. Apalagi melilhat begitu cepatnya semua ‘eksekusi’, maka memberi kesan, upaya menghilangkan nyawa keempatnya bisa jadi dilatarbelakangi skenario lebih besar yang hanya bisa dibuktikan dalam perjalanan waktu.

Pertaruhkan Martabat

Bukan maksud tulisan ini membuat pembelaan terhadap keempat pelaku yang sesuai dengan berita yang tersebar, terlibat dalam pemukulan hingga tewas Sertu Santoso. Aksi mereka (kalau benar terjadi) tidak akan ditolerir karena sudah mencederai bahkan melenyapkan seorang nyawa orang. Siapa pun juga warga NTT tidak diuntungkan oleh kasus itu. Tuntutan yang paling logis adalah hukuman maksimal atas tindakan yang sangat mencederai martabat manusia.

Di sini kita salut pada Polri yang sangat cekatan menelusuri, menahan, hingga mengadakan proses hukuman pada anggotanya yang terlibat (Bripka Juan). Dengan proses yang singkat ia sudah ‘dinonaktifkan’. Kita sepakat, ketika aksi itu begitu menjijikan, tindak cepat itu harus diambil. Jempol sukses pada Polri yang sudah menjalankan proses ini dengan sangat cepat dan jitu.

Yang disayangkan, para tersangka yang mestinya dikawal itu begitu saja dilepas dan terjadilah aksi kejahatan yang sangat memprihatinkan. Bukan lagi mata ganti mata tetapi lebih luas alias seorang korban harus dibalas dengan satu korban pula. Ini bahkan meluas dengan menelan korban.

Lebih lagi proses yang sangat tidak ditoleril itu dilakukan secara bersama oleh kelompok orang bersenjata. Mereka melakukan show power (hunjuk kekuasaan) dengan memaksa masuk ke Lapas dan dengan pasti menuju ke tempat di mana keempat tahanan itu berada. Selebihnya sebuah tragedi kemanusiaan terjadi. Nyawa mereka melayang disanksikan oleh tahanan lainnya, sebuah trauma yang tentu susah hilang dari para tahanan lainnya.

Dari sisi strategi pun tidak bisa dibenarkan. Apabila mereka adalah otak dari sejumlah kejahatan maka menghabiskan nyawa adalah tindakan tak masuk akal. Siasat, strategi licik, termasuk keterlibatan mereka dalam mafia bisa dijadikan pembelajaran. Di sini peran mereka lebih penting. Ibarat pesawat yang jatuh, mereka adalah kotak hitam yang dapat memberi tahu alasan yang lebih dalam. Sayang sekali, pemikiran seperti ini tidak masuk hingga memunculkan kesan, aksi kejahatan dbalas dengan kejahatan hanyalah tindakan mafia yang sekedar menghilangkan jejak.

Tidak hanya itu. Aksi yang mencederai nilai kemanusiaan itu ternyata meluas hingga menebarkan ketakutan atau teror ke para mahasiswa NTT di Yogyakarta. Aneka cap yang mendiskreditkan dilansirkan seakan tidak ada sedikit pun yang baik. Sungguh sebuah generalisasi yang tidak masuk akal karena siapa pun tidak membenarkan adanya kejahatan.

Perlu Bangkit

Terlepas dari ada tidaknya rekayasa, yang lebih penting adalah mengadakan pembelajaran dari kasus Cebongan. Pertama, di satu pihak polisi sebagai kekuatan penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat digugat untuk mengintrospeksi diri untuk mempertanyakan keanehan yang terjadi dalam proses penangkapan dan hingga melepaskan 4 tahanan di Lapas.

Bila pada proses itu, ada indikasi kelalaian yang tidak disengaja (yang tidak mengawasi lapas) dengan memindahkan tahanan tanpa pengawasan memadai maka hal itu akan menjadi titik tolak untuk pembelajaran selanjutnya. Ke depan, proses itu akan lebih diantisipasi lagi.

Masih pada hal yang sama, tidak tertutup kemungkinan, kalau proses itu bisa dikemas (siapa tahu oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab dengan mengorganisir sebuah kejahatan terencana (organized crimes). Bila hal ini terjadi maka oknum-oknum tersebut perlu bertanggungjawab dan dihukum seberat-beratnya agar ke depan tidak mengulang lagi perbuatannya.

Kedua, pada gilirannya tentara perlu memaknai kembali solidaritas korps, hal mana kerap terjadi dalam konflik antara TNI dan POLRI. Harus diakui, tindakan tak terpuji seorang oknum atau derita yang diterima seseorang tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan aksi kekerasan mengatasnamai kekuatan yang lebih besar.

Kisah ini bisa saja tidak terjadi dengan Sertu Santoso, anggota Kopasus yang mati dianiaya di Hugo’s Caffe (19/3), tetapi kasus penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu (Oku) di Sumatera Selatan adalah contoh terdekat yang bisa kita hadirkan.

Kenyataan ini pula yang mestinya menjadikan para petinggi TNI untuk secara matang mengeluarkan statement tentang ‘ke(tidak)terlibatan anggotanya, sebagaimana dilakukan Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Hardiono Saroso. Ketidakhadiran fisik tidak menjadi alasan bahwa tidak ada keterlibatan nonfisik, sebuah model keterlibatan yang mestinya diketahui oleh tentara bahwa lebih berbahaya di erah reformasi seperti sekarang ini dimana kekuatan nonkonvensional alias non militer lebih berbahaya daripada serangan fisik, hal mana tidak bisa secara cepat mengklaim diri bersih tanpa dosa.

Ketiga, generalisasi atas warga NTT termasuk dalamnya mahasiswa NTT adalah tindakan tak terpuji yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tindakan dan perbuatan pribadi tidak bisa dijadikan kesimpulan generalitatif. Dengan demikian kejahatan yang dilakukan secara cepat dilokalisir dan ditangani tanpa meluaskan menjadi lebih jauh.

Tetapi cap negatif itu bisa juga jadi masukan dan pembelajaran. Kian kerap terjadinya aksi kejahatan yang melibatkan warga NTT sebagai pelaku, dan begitu banyaknya sektor pekerjaan penjaga keamanan (satpam) yang identik dengan orang NTT, menyadarkan kita bahwa pendidikan menjadi salah satu tugas berat oleh pemerintah NTT. Politisi harus beralih memanfaatkan masyarakat tetapi lupa memberdayakan mereka.

Dasar ini, bisa jadi blessing in disguise bagai para mahasiswa yang tengah dilanda ketakutan. Sebagai kekuatan, mereka akan menyelesaikan studinya, balik ke Flobamora menyiapkan generasi mendatang agar lebih siap dengan soft skillnya.

Sementara tokoh-tokoh sukses NTT entah di di level nasional maupun lokal mestinya menjadi segelintir orang yang bahagia dengan kesuksesannya tetapi lupa menengok apalagi membantu mereka yang belum memiliki kesempatan. Tragedi Cebongan mengingatkan bahwa semua orang harus bangkit menyikapinya secara arif lagi bijak.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian di Asia Pasifik pada Universidad Complutense Madrid Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s