Homili dan Seni Berbicara

HOMILI DAN “SENI BERBICARA”

Mingguan Hidup 27 Februari 2007

Apakah sebuah homili perlu dibawakan dalam nuansa “ars bene discendi” alias seni berbicara yang baik? Apakah homili perlu memiliki alur yang disiapkan dengan pendahuluan yang menarik serta penutup yang menggugah dan tidak kalah penting isi yang dikupas secara “seni”?

Pertanyaan seperti ini kedengaran aneh dan agak konyol. Tidak sedikit pengkhotbah (katekis, pastor, malah uskup) yang (terlanjur) punya gambaran, yang terpenting “isinya”. Sementara “caranya” tidak terlalu penting. Atau terkadang ada usaha membenarkan diri, homil bukan public speaking yang penuh ungkapan figuratif.

Nada Persaudaraan

Seni berbicara, sering dipahami secara sangat sempit. Sebuah cara berbicara dengan suara yang dibuat-buat, atau bagai anak TK yang mengadakan deklamasi. Atau seperti Demosthenes, orator Athena, yang meliuk-liukan tubuhnya di panggung demi memberi “nyawa” pada pidatonya.

Padahal seni berbicara, tidak hanya itu. Ia mencakup pemilihan kata, penggunaan gaya bahasa yang menggugah, alur yang mengalir dan menghantar orang kepada makna, dan bahasa yang tidak terlalu moralistik apalagi bombastik. Semua elemen ini, bila diramu, bakal menjadi sebuah bantuan agar isi khotbah itu dapat diterima, dipahami, dan terutama menjadi acuan tata tindak. Meminjam tulisan George Campbel (1719-1796) dalam:  The Philosophy of Rhetoric, menandaskan bahwa sebuah pembicaraan di depan umum perlu:  mencerahkan pemahaman, menyenagkan imajinasi, menggerakan perasaan, dan mempengaruhi kemanuan. Keempat komponen ini yang ingin dicapai.

Pemilihan kata dan kalimat yang tepat bukan hanya untuk tetap menjamin kebenaran sebuah pesan sehingga tidak sampai “kebobolan”, keluar dari pesan Kitab Suci dan Ajaran Gereja. Untuk hal ini, umumnya dimengerti umat bahwa apa pun yang dibicarakan dalam homili, pasti sesuatu yang baik. Masalahnya, apakah jaminan isi itu sekaligus disertai sebuah penyajian yang menarik sehingga dapat diterima Umat Allah?

Pertanyaan usil seperti ini sering muncul, terutama ketika mendengar bahasa dalam khotbah khotbah yang rasanya melawan “good sense” sehingga menyayat hati.  Dalam sebuah perayaan ekaristi dengan tema mendoakan panggilan, seorang pastor (yang tentu bermaksud baik), tetapi kecolongan mengucapkan kata-kata berikut: “Sekarang sulit sekali ada anak yang masuk seminari. Hampir semua keluarga hanya punya dua anak. Atau, ada yang terpaksa punya tiga anak, dengan perhitungan, jangan sampai satu di antaranya meninggal”. Mungkin saja sang pengkhobah mau membuat humor. Sayang sekali, kata-kata seperti itu tidak layak untuk “dihomilikan” karena tidak memiliki respek terhadap Umat Allah.

Bahasa pada gilirannya juga memainkan peranan yang sangat penting. Sabda Tuhan yang diramu dengan bahasa penuh keakraban, penuh persaudaraan (ingat, kata homilein artinya percakapan persaudaraan lho), tidak menggurui, dan otoriter, merupakan bahasa yang semestinya lebih banyak digunakan.  Memang, Yesus sendiri pernah mengecam ahli taurat dan imam-imam kepala yang kelakuannya terlampau menyakitkan. Tetapi, agak jarang, untuk tidak mengatakan mustahil, ia begitu “emosional” memarahi umat sederhana, hanya karena hal-hal kecil. Khotbah kini tak jarang menjadi tempat para pengkhotbah meluapkan emosinya hanya karena umat “sedikit gaduh”. Bahkan, kalau pun umat ribut selama khotbah, pastor semestinya bertanya: “apakah mereka menjadi gaduh karena khotbahku tidak menarik”. Atau seperti kisah seorang misdinar yang tidak mengikuti instruksi pastor untuk membangunkan umat yang lagi tidur dalam Gereja. Kata misdinar: “Anda yang menidurkan mereka, Andalah yang harus membangunkan mereka”.

Alur yang mengalir

Homili sebagai bagian dari “berbicara di depan umum”, mestinya tidak lepas dari hal ini. Ia perlu mengangkat hal yang menyapa, menggugah, dan bahkan mengampil hal-hal yang bernuansa “shock” sebagai pengantar. Shock yang bermaksud menangkap perhatian pendengar hanya mungkin kalau kepada pendengar dihadirkan hal-hal indah, atau sesuatu yang baru. Hal-hal lama, tidak punya kesan.

Isi, apalagi, perlu dikemas sedemikian sehingga menyapa. Pengkhotbah memahami bahwa yang terpenting adalah “pesan” sebuah khotbah dan bukan hal-hal pinggiran. Perikop Yesus menggandakan lima potong roti dan dua ekor ikan, merupakan kisah yang tidak mesti diulangi setelah membacanya. Sebaliknya, diperlukan upaya aktualisasi pesan. Dari mana asal roti dan ikan itu, kalau bukan dari kedermawanan orang yang hadir? Mengapa Yesus menggunakan apa yang dimiliki untuk membuat mukjizat? Apakah ada peristiwa-peristiwa yang menjadi contoh dimana mukjizat itu hadir secara nyata dalam dunia kini?

Dengan kata lain, yang terpenting dalam homili bukan mengulang kembali bacaan tetapi membuka mata umat melihat dan menyadari bahwa apa yang dikatakan Yesus waktu itu, kini sedang terwujud. Di sini Sabda Allah menjadi begitu konkret. Umat hadir ke Gereja bukan untuk merayakan sebuah masa lalu, seindah apa pun. Ia datang untuk merayakan masa kini, hari ini dengan segala pengalamannya.

Tahu menutup

Rangkaian sebuah homili akhirnya bakal diingat ketika sang pengkhotbah tahu menutupnya. Malah bagian inilah yang bakal diingat karena di sana terdapat undangan untuk bertindak (appeal for action). Singkatnya, penutup yang menggugah, menjadi kata kunci.

Penutup sebaliknya bukan kesempatan mengulang, tetapi menyapa, menggugah untuk memberikan jawaban (sebagai orang dewasa tentunya) yang diungkapkan dalam kata-kata yang terpilih dan singkat. Bahkan, sebuah khotbah yang begitu menarik sekali pun perlu diakhiri saat pendengar sebenarnya masih mau mendengar. Kerinduan untuk homili berikut bakal terus dinantikan.

Robert Bala. Pemerhati Homili.

Advertisements

2 Responses to Homili dan Seni Berbicara

  1. Hendrik Bala Wuwur says:

    Magran, makasih banyak untuk artikel ini. Tidak saja mengingatkan saya akan kuliah retorika dan homiletik, tapi lebih dari itu mengingatkan dan menyadarkan saya akan tugas saya mewartakan Sabda Allah di tanah Afrika, khususnya dalam menyiapkan kotbah-kotbah saya. Sekali lagi terima kasih berlimpah

    • robert25868 says:

      Terimakasih Hendrik. Semua yang saya hadirkan di sini adalah buah refleksi yang saya perlo saat saya mendalami tentang HOMILI DAN RETORIKA. Hendaknya kata yang hadir dari imam, saat khotbah, adalah kata-kata bernas, refleksi yang membangkitkan semangat umat. Hidup sudah berat, imam harus memberikan kata-kata yang mencerahkan buka nasihat moralistik……. Naro ama. Kerje di sare..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s