Paus dari Amerika Latin

Paus dari Amerika Latin

papa francisco
‘Rechazó el palacio episcopal y hasta ahora vivía en un pequeño piso con otro cura. Se movía en transporte público para visitar a los pobres’ (Ia menolak istanah keuskupan dan sampai kini hidup dengan seorang imam di sebuah apartemen. Dia menggunakan kendaraan umum untuk mengunjungi orang miskin), demikian tulis El Correo, 14/3.

Barangkali kesederhanaan itu pula yang membuat banyak orang tidak menyangka bakal paus yang memilih nama Francesco I itu bakal memimpin 1,2 miliar umat Katolik dunia. Lebih-lebih bagi oang Italia. Setelah paus sebelumnya yang berkebangsaan Polandia (Paus Yohanes Paulus II) dan Jerman (Paus Benediktus XVI), ada harapan agar kini dijabat oleh orang Italia.

Tapi, mengapa paus baru itu berasal dari Amerika Latin?

Benua Menyala

Jose Luis Tejada, dalam El Laboratorio de la Democracia en America Latina, Espiral, Estudio sobre Estado y Sociedad, Vol. XI No. 32 (2005) menyebut Amerika Latin dengan julukan ‘continente en llamas’, sebuah benua yang tengah menyala.

Bak perapian ia tidak hanya menghanguskan tetapi secara kreatif menyiapkan sesuatu untuk disajikan kepada dunia sebagai santapan. Ia juga disebut laboratorium tempat ideologi baru dipertaruhkan.

Di benua temuan Kolombus ini, dua ideologi besar, Kapitalisme dan Sosialisme beradu kekuatan. Diktator seperti Pinochet (Chile), Aparicio Méndez (Uruguay), dan Alfredo Strossner (Paraguay), sekedar menyebut 3 contoh adalah pemimpin negara yang sukses direkrut AS untuk memperkuat dominasi Liberalisme.
america
Ekspansi ganas kapitalisme telah membangun kesadaran, yang terbaik adalah membangun di atas kekuatan sendiri. Lahirlah paham sosialisme yang tidak ingkar akan modal, seperti sosialisme marxis. Yang diutamakan, bagaimana busa lahir pemimpin altruis yang berani mengatakan tidak pada neokolonialisasi dan secara konsekuen membangun ekonomi kerakyatan.

Tidak hanya itu. Di benua ini, Teologi terkesan abstrak, mengambil wajah yang lebih akrab dan humanis. Di negara yang 40% dari seluruh umat Katolik dunia itu berada, teologi begitu ramah dijadikan pergulatan bagi umat yang diwadahi dalam komunitas basis.

Di kawasan dengan penduduk Katolik 432 juta jiwa ini, lahirlah tokoh pemberani yang mengidentifikasikan diri dengan kaum miskin dan terpinggir. Tokoh seperti Leonardo Boff dengan Teologi Pembebasannya bahkan harus berhadapan dengan takhta suci karena dianggap ajarannya terlalu berani.

Tidak hanya itu. Ada uskup Oscar Romero di El Salvador (1917-1980) yang ditembak saat merayakan ekaristi. Juga uskup Helder Camara (1909-1999) di Brazil yang memilih hidup dengan orang miskin. Mereka adalah contoh tokoh heroik kemanusiaan yang mempersembahkan hidupnya demi sebuah gereja yang lebih merakyat.

Kenyataan itu membuat Paus Yohanes Paulus II, dalam 26 kunjungannya ke Amerika Latin, menyebutnya ‘continente de la esperanza’ alias benua harapan. Sebuah tanda bahwa dari sini lahir hal-hal besar yang membesarkan tidak hanya gereja tetapi juga masyarakat secara umum.
Kekuatan Internal
Apakah mozaik pembaharuan itu juga bakal dibawa dalam diri Kardinal Jorge Mario Bergoglio? Mustahil bertanya demikian. Selama rezim diktator di Argentina (1976-1983), paus kelahiran Buenos Aires 19 Desember 1936 itu diklaim lebih dekat dengan penguasa. Kesetiaannya pada doktrin gereja juga membuatnya tidak akrab dengan Teologi Pembebasan.

Kesangsian itu bisa saja benar. Tetapi masa lalu tidak bisa dijadikan ukuran. Sejarah Amerika Latin mencatat, uskup Oscar Romero, yang sangat merakyat, ternyata awalnya sangat propenguasa. Ia menikmati privilese yang tidak sedikit. Tetapi dengan perjalanan waktu, ia ambil jalan lain yang lebih mengumat dan secara terbuka melawan penguasa yang korup. Harapan yang sama tentu saja digantungkan di pundak paus pertama dari Serikat Yesus ini.

Perubahan itu sudah tampak dari kesaksian hidupnya yang sangat sederhana. Bukan itu saja, dalam homilinya, ia secara tegas mengkritisi pemerintah yang membiarkan struktur ekonomi kapitalis berkuasa dengan konsekuensi ketimpangan sosial yang semakin besar (El Pais 1/10/2009). Ia mengkritik politisi Argentina dengan istilah ‘crispacion politica’, ekspresi pejabat yang lebih kasak-kusuk mencari kekuasaan dan lupa komitmen kerakyatan.

Hal inilah yang memberi optimismo, pemilihan atasnya bukan sebuah kebetulan. Dengan kesaksian hidup dan sensibilitas sosialnya diharapkan dapat membawa angin untuk pembaharuan institusi kuria romana, yang tengah mengalami krisis. Lebih darii tu diharapkan agar ada transformasi birokratis untuk beralih dari Vatikan yang sangat sentralis kepada desentralisasi dengan memberi kekuasaan kepada setiap keuskupan. Dengan itu gereja lebih pas menjawabi tantangan zaman yang sangat kompleks.

Tidak hanya itu. Pemimpin dunia ini diharapkan lebih identik dengan para korban berhadapan dengan kesewenangan siapa pun termasuk negara adikuasa. Mengikuti pendahulunya Yohanes Paulus II yang tak segan mengutuk serangan di Irak dan aneka kepongahan adikuasa lainnya, diharapkan agar paus yang juga penggila bola ini memengaruhi pemimpin dunia untuk semakin ‘fair’ dalam memainkan politik yang lebih beradab. Hanya dengan demikian sebuah dunia yang lebih nyaman dihuni bersama.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. Pernah tinggal di Amerika Latin.

Sumber: Mingguan Hidup Edisi April 2013

(Paus) Dari Amerika Latin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s