MEMPERMAINKAN RAKYAT (NTT)

Mempermainkan Rakyat (NTT)

Kisruh sebulan seputar “Papa Minta Saham”, terasa awalnya menjadi sebuah momen ‘kebangkitan’. Kebobrokan selama ini dalam membagi-bagi jarahan negeri ini diharapkan akan terkuak.SETYA NOVNATONTT aset? (Sumber: http://www.hatree.co/2015/11/terungkap-ini-6-aset-ratusan-miliar.html)

Tidak ada lagi keraguan. Tetapi apa yang terjadi setelah sebulan kisruh? Apa yang dilakukan dalam Sidang MKD Rabu 16 Desember? Apakah kegalauan rakyat dijawab atau yang terjai adalah justeru rakyat dipermainkan? Pertanyaan ini lebih menggigit karena yang menjadi objek dari perdebatan adalah seorang wakil rakyat NTT.

Menggelikan

Membaca dengan tenang ‘akhir’ dari dramaturgi sidang MKD adalah sebuah permainan yang menggelikan. Bagaimana tidak? Selama sebulan, rakyat penuh harapan bakal terjadi sebuah pembelajaran berharga.SETYA NOVANTO05

NTT, ‘surga’ bagi yang ingin memperkaya diri di tengah kemiskinan

Awalnya mencemaskan karena gelagat para ‘Yang mulia’ terbaca bahwa mereka tidak rela sang ketuanya ‘didakwa’. Substansi perkara pun dialihkan dengan mempertanyakan legal standing masalah hukum. Masalah etik tidak bisa dijadikan alasan kalau dasar yang dipakai (hasil rekaman) tidak etis.

Perlahan, oleh desakan publik dan logika minimal yang ditampilkan, terlihat dengan segera kepalsuan para hakim MKD (selain beberapa yang masih punya akal sehat). Tetapi rupanya rakyat kalah gesit dan cepat. Soal menganyam dua skenario ‘kelas kakap’ yang sangat ‘bagus’ didisain itu sudah jadi ‘keahlian’ mereka.SETYA NOVANTO07

Yang lain  miskin dan melarat, ya lain menimbun harta…

Pertama, melalui usulan sanksi berat. Sepintas mengagumkan tetapi yang terjadi adalah mengulur-ulur waktu lewat pembentukan panel. Dengan waktu para ‘pendekar orba’ yang lihai dalam menganyam strategi masih punya waktu tentu saja punya waktu untuk susun strategi yang lebih ‘jitu’.

Kenyataan alternatif ini kandas. Di ‘final’, skor 10 : 7. Lebih mungkin diberikan sanksi ringan yang berarti pemberhentian dari jabatan sebagai Ketua DPR. Skenario 2 nampanya juga sudah disusun. Bila kenyataan sudah demikian maka alternatif lainnya sudah disiapkan. Setya Novanto akan mendahului keputusan. Tinggal beberapa menit sebelum sidang bagian kedua dilakukan, Surat Pengunduran Diri (yang bisa saja sudah disiapkan terlebih dahulu) diberikan.

Menerima hal itu, sidang MKD pun (kelihatan) terkejut. Bagi mereka, kalau yang dimaksdukan dalam upaya selama ini adalah meminta SN mengundurkan diri maka kini tercapai. Mengapa sidang dilanjutkan? Pembacaan Surat pengunduran diri pun menjadi ‘klimaks’. Sidang dihentikan atas nama surat ‘sepotong’ itu.SETYA NOVANTO04NTT. Nusa Tetap Terkorup

Terbukti, baik dalam alternatif pertama maupun kedua, yang selalu mendapatkan keuntungan adalah SN secara pribadi dan sekali lagi menunjukkan ‘kaliberitas’ dari Golkar. Ia terlalu lincah dan tangguh dalam menyusun strategi. Rakyat pun hanya gigit jari. Upaya selama ini yang diharapkan berakhir ‘bahagia’ (seperti suara lepas ketua MKD bahwa itu ‘happy ending), ternyata sangat menggelikan.

Tidak akan lagi

Di balik kisruh ini terutama setelah keputusan yang ‘mengatasnamakan publik, Fahri Hamzah, justeru menjadikan warga NTT sebagai orang yang membela. Tentu saja ada beberapa, tetapi mestinya tidak banyak. Itu pun keterlibatan mereka membela SN mengandung banyak penafsiran tentang kemurnian gerakan di baliknya. Tetapi dalam alam demokrais mestinya hal itu tidak perlu dipertanyakan.

Namun, setelah kasus ini, muncul pertanyaan: mengapa NTT menjadi daerah pemilihan SN? Apakah itu terjadi secara kebetulan atau ‘by designed’, di mana ada ‘kecocokan’ yang bisa membuat untung pihak tertentu? Tapi kasus yang tersibak kini menunjukkan bahwa hal itu barangkali bukan kebetulan,SETYA NOVANTO06(Beta miskin tapi punya harga diri).

Pertama, NTT sudah agak lama dijuluki sebagai ‘surga korupsi’. Aneka kepincangan yang mestinya dengan mudah disibak di daerah lain, ternyata di NTT susah dideteksi. Di NTT, semuanya seakan ‘aman-aman saja’. Bila korupsi itu memang benar seperti yang disangkakan maka tentu saja kelihaian para tersangka menjadi jawabannya. Teringat bahwa di beberapa daerah seperti Lamaholot berkembang kisah ‘Si Kolong Pohong’. Ia adalah pribadi licik, lihai, yang bahkan bangga dengan kelihaiannya setiap kali menipu.SETYA NOVANTO02

Ironi demokrasi. Semua orang bebas ‘berpendapat’, termasuk yang miskin logika…

Kedua, kondisi korusi bisa saja ‘didukung’ oleh pragmatisme rakyat dan kondisi yang didukung oleh kisah rakyat. Unjuk rasa membela Novanto yang dipertontonkan beberapa masyarakat di Kupang bisa saja jadi penjelasannya. Di tengah kepincangan yang mencekam, masih ada segelintir orang yang memperjuangkan sesuatu yang kedengaran lucu di mata publik.SETYA NOVANTO08

Rakyat tidak akan lagi memaafkan pencari surga penyebab neraka di NTT.

Ketiga, kalau pun dua hal di atas benar adanya yakni kelihaian pemimimpin dan politisi dan pragmatisme rakyat, tetapi itu cerita masa lalu. Pengalaman kini menunjukkan bahwa rakyat menjadi sadar. Kebohongan yang kini disibak dalam percakapan nonformal menunjukkan bahwa ternyata wakil mereka cukup cerdas bersandiwara. Nama rakyat dibawa-bawa tetapi yang terjadi justeru memperjuangkan kepentingan pribadi. Atau, penyibakan kini untuk SN yang telah mewakili daerah ini 4 kali membuka kesadaran bahwa apa yang disibak kini tentu saja tidak bebas selama periode itu.SETYA NOVANTO09

Tiada maaf bagimu, hari koruptor dan penghisap darah orang NTT.

Tapi itu masa lalu. Rakyat NTT kini kian sadar bahwa niscaya kepercayaan itu tidak dibayar dengan uang karena derita berlanjut akan sangat dirasakan. Kini, rakyat tidak saja berseru agar menghentikan kebohongan tetapi tidak akan lagi mengizinkan siapa pun yang telah dan akan mempermainkan dirinya.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta