AMANUE, NABI, DURI DALAM DAGING

Amanue, “Nabi”, Duri dalam Daging

Kabar wafatnya Romo Frans Amanue, Pr, menjadi topik yang menarik perhatian. Di tengah kesibukan ‘Semana Santa’, dalamnya Amanue juga ikut, khusus perayaan Kamis Putih dan prosesi Jumat pagi, wafatnya pejuang keadilan dan peprdamaian itu justeru mengalihkan perhatian tidak sedikit orang padanya.AMANUE2

Mengapa sehingga Amanue, pria dengan rambut putih nyaris terurus, bisa ‘memikat’ begitu banyak orang? Apa yang menjadi sisi positif (di samping kelemahan sebagai manusia) yang bisa ditonjolkan?

Mengganggu

Kehadiran pastor kelahiran Karing 17 November 1944 selalu menarik. Terkesan di mana ada kepincangan, ia dengan gigih berdiri di depan. Hal itu bukan kebetulan. Bukan juga sekedar ‘iko aro jo’ (sekedar ikut arus) dalam bahasa nagi. Ia justeru secara konsisten.

Tiga hal bisa ditampilkan sekedar contoh. Saat menjadi Panitera Yeyasan Persekolah Umat Katolik Flores Timur (Yapersuktim), ia secara frontal dengan Kepala Dinas Pendidikan saat itu. Ada kebijakan yang bisa saja tidak dicernah secara utuh oleh Amanue, tetapi bila hal itu sangat melukai akal sehat, ia dengan tegas mengambil posisi melawan.AMENUE4

Kisah paling menggemparkan adalah konflik dengan Felix Fernandez, bupati Flotim (2000-2005). Bagi lulusan master of artsbidang antropologi dari Universitas San Carlos, Cebu, Filipina, dugaan korupsi itu sangat jelas. Deretan fakta ditampilkan.

Dari sisi Bupati, informasi itu tak lengkap. Proses peradilan pun dilakukan dengan dalil pencemaran nama baik. Sayang, kisah itu berakhir ricuh, terutama pembakaran kantor Pengadilan dan Kejaksaan.AMANUE4

Terhadap kasus ini, Amanue, imam pertama yang ditahbiskan oleh Mgr Darius Nggawa tahun 1974 dengan tegas menghadapi. Berinspirasi pada kata-kata Gandhi: I do believe that where there is only a choice between violence and cowardice, I would advise violence, ia ingin tegaskan, ia hadapi. Pilihan melarikan diri dari tanggungjawab bukan tipe dia. Ia menentang kekacauan tetapi baginya, kekacauan itu harus dilihat secara utuh. Aksi kekerasan dilihat sebagai sebuah perjuangan hal mana lebih baik ketimbang melarikan diri.

Kisah terkini yang tetap menjadi kepedihan adalah kasus Lewoleba. Dengan data yang diperoleh, Amanue secara gambalang menuding Yantji Sunur terlibat dalamnya. Sebuah tuduhan yang tentu saja tidak diterima sang bupati. Lebih lagi kalau atas keyakinannya memang tidak terjadi.

Yang ada dalam benak bupati, Frans sangat mengganggu. Di akhir siding pada 19/9/2015, bupati Lembata melontarkan kata-kata secara langsung kepada Amanue yang hadir dalam persidangan: “Kau yang membuat perkara di Lembata”. Seruan yang tentu tidak keliru. Kehadiran Amanue selalu mengganggu kenyamanan. Ia telah menjadi duri dalam daging juga bagi Lembata.AMENUE1

Tiga contoh yang ditampilkan, Amanue memang telah mengganggu. Ia menggugat kemapanan. Minimal ia membangungkan penguasa agar tidak sampai menjadikan kekuasaan berubah jadi tirani oleh kesewenang-wenangan. Apa yang dikemukakan bisa saja keliru, hal mana manusiawi. Tetapi yang dicapai hanyalah mengingatkan sebagai imam, hal mana disampaikan dalam sidang tentang pencemaran nama baik Bupati Larantuka.

Menghadirkan Keadilan

Wafatnya Frans Amanue di Sabto (nan) Santo, bisa saja membuat rasa legah orang yang merasakan keterlibatannya selama ini sebagai duri dalam daging. Keterlibatannya mengkritik kebijakan politik pemda, khususnya Flotim, kelancangan mengkritik yang diterima sebagai merusak nama baik, merupakan beban. Kematiannya bisa dilihat sebagai ‘terkabulnya’ doa orang yang merasa selama ini telah dirugikan Amanue.AMANUE5

Tetapi apapun yang terjadi, suara perjuangan itu, terlepas dari kekeliruan yang bisa saja dilakukan, telah meghadirkan beberapa pemikiran sebagai makna. Pertama, Amanue telah membangunkan kesadaran tentang apa yang dikatakan Jane Addams: “True peace is not merely the absence of war but the presence of justice” (Perdamaian sejati bukan semata-mata oleh absensnya perang tetapi kehadran keadilan.

Di sini dengan kematiannya, ia hedak mengatakan kepada masyarakat Flotim dan Lembata bahwa secara umum, wilayah Lamaholot ini aman-aman saja. Tidak ada koflik horizontal tragis. Tetapi dari mata seorang nabi, ia melihat adanya ketakadilan yang terjadi. Ia buka kesadaran bahwa keamanan dan kenyamanan sampai batas tertentu berbahaya karena meninabobokan.

Kedua, Amanue adalah pejuang yang konsisten pada perjuangan, termasuk menerima risko terburuk. Dengan watak yang keras (tetapi murah senyum), ia tahu, perjuangannya itu membuat banyak orang tidak nyaman dan pada titik tertentu bisa membahayakannya.amanue

Hal itu sudah terbukti. Di Lewoleba, ia malah dikecam langsung oleh sopir sang bupati. Amanue diklaim dan diancam sebagai penyebar informasi keliru, hal mana diterima dengan senyum. Dengan serangan umat seperti itu (hal mana aneh untuk wilayah Lembata), terlihat bahwa keamanan diri terancam.

Tetap bagi Frans hal itu justeru tidak membuatnya mundur. Kalau pun kematian akhirnya menjemputnya oleh perjuangan itu, ia akan sadar bahwa kata-kata perjuangan Tupac Shakur itu selalu benar: “If you can’t find something to live for, you best find something to die for”. Bisa saja apa yang diperjuangkan itu tidak dirasakan manfaatnya. Tetapi ia sendiri merasa bahwa ada alasan untuk mati demi memperjuangkan nilai yang ia yakini benar.

Ketiga, sebagai imam, Amanue telah ha jaddir sebagai simbol. Selama 42 tahun, ia telah menampilkan diri sebagai imam yang tidak mudah ‘dibeli’ dengan apapun, termasuk hadiah ‘kendaraan’ demi ‘tujuan pastoral’. Ia tidak mudah terkecoh dengan relasi subordinatif dengan penguasa baik politik maupun gereja. Ia tidak punya perhitungan akan jabatan karena baginya yang terpenting adalah dedikasi dan bukan sekedar mencari jabatan.AMENUE3

Di sana ia telah hadir sebagai imam murni yang tidak berdiri sebagai pelaksana ritus. Juga tidak sekedar sebagai pegawai Gereja. Ia adalah imam dan nabi yang berada di luar untuk berbicara. Kini ia sadarkan kita, meski apa yang pernah dilakukan telah melukai bak duri dalam daging, tetapi yang hendak dicapai hanyalah menjadi nabi yang menjaga agar perdamaian sejati itu terwujud dengan adanya keadilan sejati.

Robert Bala, Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Sumber Pos Kupang 29 Maret 2016