Antara Guru “Kapur” dan Guru “Snowman”

Antara Guru “Kapur” dan Guru “Snowman”

Di hari Kamis, 3 September, seorang guru di group Facebook Warta Guru NTT mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: “apa perbedaan antara guru “kapur” dan guru “Snowman”.

Maksudnya pasti jelas. Guru Kapur mengacu kepada guru-guru ‘tempo doeloe’. Alat mengajar adalan papan tulis hitam dan kapur tulis. Terbayang waktu itu, sebagai siswa, kami harus berjalan seharian ke kota hanya untuk membeli kapur tulis. Tanpa kapur tulis, papan hitam tidak bisa menampakkan tulisan putih.kapur 2Guru “Snowman” mengacu kepada guru ‘modern’. Mereka sudah tidak memakai lagi kapur tulis. Papan mereka tidak hitam lagi. Warna hitam kelam bisa dianggap gelap dan mengacu kepada masa lalu. Lebih lagi kapur kadang menyebarkan debu.

Kini dipakai Boardmaker buatan Jepang. Memang petunjuknya cukup jelas: for white-boards, dry wipe erasable ink.

Eh jangan lupa, sesudah pakai jangan tutup (replace cap after use). Tujuannya tentu tidak sekedar agar spidol tidak cepat mengering. Lebih dari itu mengingatkan bahwa spidol mengandung bahan kimia yang disebut xylene yang bisa membahayakan pernapasan. kapurTetapi apakah perbedaan itu hanya menyangkut alat yakni ‘kapur’ dan ‘spidol’ atau lebih dari itu? Apakah ada makna yang lebih mendasar? Inilah pertanyaan rekan guru itu. Ia menggugah pembaca menelusuri lebih jauh, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini.

Inspirasi

Warna hitam pada papan bisa saja menggambarkan paradigma pendidikan yang ada di baliknya. Ada asumsi, masa lalu sebelum sampai ke bangku pendidikan bersiat gelap. Dengan bersekolah, diharapkan ada terang yang bisa terbit sesudah gelap.

Hal itu yang bisa terbahasakan dalam warna hitam papan tulis. Tetapi ia tidak berakhir kelam. Jusetru di tengah kegelapan, akan hadir kapur putih dapat menjadi inspirasinya. Setiap warna putih yang ditampilkan selalu dicernah karena itulah petunjuk yang memberi arah ke mana sebuah langkah harus dilangkahkan.kapur1Warna putih dari kapur bisa juga mengajarkan tampilan kebajikan yang setiap hari bila diikuti dengan saksama dan secara konsisten, maka akan membawa perubahan secara gradual. Karenanya, guru lama punya perhatian yang cukup besar pada terwujudnya kemampuan.

Kadang terasa berlebihan. Setiap hari guru ‘doeloe’ selalu mengarahkan perhatian pada kemampuan siswa. Seakan ada rasa ‘gerah’ kalau siswanya tidak maju-maju. Lebih lagi, guru tidak akan toleril kalau siswa bersantai, membiarkan kesempatan hari itu lewat begitu saja.

Dalam konteks ini, ‘rotan’ bisa dipahami maknanya. Ia bisa saja mengungkapkan pengajaran salah, tetapi juga di baliknya sebuah harapan terlampau besar agar siswanya bisa. Ia mau melihat tumbuh kembang anak dan bertanggungjawab agar siswa bisa. Kadang kekerasan itu ‘diamini’, malah dibesar-besarkan seakan semua tindakan kekerasan itu bernilai pedagogis. Tetapi tidak sedikit yang kemudian mengakui: “Di ujung rotan ada emas”.kapur5Idealisme pengajaran seperti itu bisa saja masih ada kini. Banyak guru yang menunjukkan kinerja kerja luar biasa hal mana terlihat dari ketercapaian siswa dalam pelbagai lomba. Siswa dewasa ini diukur dari kemampuan penguasaan teknologi tentu saja tidak bisa dibandingkan. Itu harus kita akui. Semua kemampuan itu tidak bisa tidak lahir dari seorang guru yang profesional.

Tetapi memerhatikan white-board (papan putih), kadang hadir pertanyaan menggelitik: “apakah itu tanda bahwa sebenarnya siswa dewasa ini yang datang ke sekolah sebenarnya adalah ‘putih’? Ia menggambarkan bahwa mereka bukan lagi siswa dulu yang digambarkan dengan warna hitam, gambaran kekelaman hidup. Siswa dewasa ini sudah punya pengetahuan yang kadang lebih luas dari guru. Oleh banyaknya sumber belajar, mereka dapat peroleh pengetahuan dari mana saja, tidak saja dari guru.kapur4

Pertanyaannya: apakah kemampuan itu sudah dimaksimalkan? Apakah guru modern memberi inspirasi pada mereka? Hadirnya warna hitam (dominan) pada snowman bisa menjadi gambaran buram. Guru dewasa ini bukannya memberi harapan, optimisme, menunjuk titik putih di tengah kegelapan (seperti kapur dan papan hitam) tetapi justeru meletakan noda hitam di benak siswa.

Dewasa ini, cap negatif itu cukup dominan (meski masih ada contoh banyak tentang guru kreatif kini). Panggilan menjadi guru hal mana sangat dominan pada masa lalu, perlahan memudar. Seorang ojek di pinggir sekolah ku bilang, tipe guru “Oemar Bakri” sudah tidak ada lagi. Guru kini sudah hidup ‘lumayan’. Hal itu bisa saja dari penghargaan yang diberikan pemerintah, tetapi bukan tak mungkin, guru kini lebih ‘cerdas’ dalam mencari duit. Guru tidak jadi sandaran satu-satunya.kapur tulis

Seorang pembaca di FB Warta Guru NTT memberikan ironi. Guru ‘doeloe’ memang punya sedikit uang. Guru kini jusetru ‘sedikit-sedikit uang’. Pengajaran tidak dianggap pengorbanan apalagi pengabdian tetapi semuanya diukur dengan uang. Tanpa uang, kegiatan pengajaran tidak dilaksanakan.

Ada bersama

Gambaran negatif tidak berarti sekedar menghadirkan pesimisme. Juga tidak bermaksud membenarkan semua yang dilakukan masa silam. Pengalaman negatif juga tidak kurang jadi bahan kritik pada ‘guru kapur’. Terutama, mengambil sisi positif dari masing-masing.guru1

Integrasi seperti ini penting. Bukan saja karena penulis merasa tersapa saat mengunjungi Jakarta Japanese School beberapa waktu lalu. Di sekolah yang sangat sarat makna yang bisa ditiru, terlihat sebuah pemandangan menarik. Mereka masih mempertahankan papan tulis di satu sisi dan di sisi lainnya ada ‘whiteboard’. Sebuah tanda bahwa keduanya bisa ada secara konstruktif.

Pertama, guru yang mengarahkan perhatian pada siswa. Keunggulan guru ‘kapur’ adalah berpusat pada penguatan kemampuan siswa. “Student centered’ seperti ini yang mesti jadi acuan bagi guru dewasa ini. Bila hal ini jadi kesadaran maka perhatian untuk mendalami realitas sosial dan psikologis siswa sangat penting. Guru yang cerdas ditandai oleh kesediaan selalu untuk memahami siswa karena ia sadar di atas pemahaman itu akan terbentuk model pembelajaran yang tepat.guru3

Di atas pemahaman yang tepat pada realitas siswa memungkinkan guru dapat menemukan metologi pengajaran yang tepat. Guru karena itu ibarat pemancing ikan. Ia punya hasrat agar ‘pancingannya’ itu bisa ‘disantap’ oleh ikan. Pendidikan karena itu perlu disertai strategi di mana guru selalu mencari apa yang diharapkan siswa dengannya dapat memberikan jawaban yang tepat.

Kedua, kesuksesan guru bukan pertama-tama pada transfer ilmu tetapi pada transfer kehidupan. Keunggulan guru masa lalu adalah pada keberadaan (being) dan kemampuan untuk hidup bersama (live together). Kehadiran guru menjadi penting karena keberadaan dan hidupnya selalu jadi inspirasi bagi siswa. Bila ia begitu kuat diingat tentu bukan pada rotan yang digunakan. Lebih dari itu pada kemampuannya untuk memberi contoh hidup.guru2

Ketiga, guru adalah pengalaman. Tampilan sisi negatif guru di satu sisi dan contoh lain menggugah hanyalah sentilan untuk perubahan. Dengan perjalanan waktu, pengalaman itu perlu diolah. Di sana, ketika diolah, pengalaman justeru jadi guru terbaik.

Kini, sentilan guru ‘kapur’ dan ‘snowman’, sekedar menggugah agar pengalaman masa lalu dan masa kini serta masa depan bisa dikelola secara lebih konstruktif demi perbaikan pendidikan kita. Semoga.

Robert Bala. Pemerhati Pendidikan. Tinggal di Jakarta.

Sumber Pos Kupang, 5 September 2015