ANTARA SBY DAN JOKOWI

Antara SBY dan Jokowi

Pos Kupang 7 November 2016

Sejak turun dari presiden, nyaris SBY mendapatkan perhatian yang cukup seperti kini sebelum Demo 4 November. Bahkan di tengah pemilukada DKI yang meskipun dengan kehadiran puteranya, Agus Harimurti Yudhoyono, tetapi nyaris SBY mendapatkan perhatian untuk dijadikan berita. Hal itu tentu berbeda dengan Megawati yang selalu jadi incaran media. Terlepas dari kekurangannya, Megawati masih menjadi bidikan kamera. Wanita pertama presiden RI terkenal konsisten dengan kata dan perbuatan.sby-dan-jokowi2

Tetapi mengapa SBY yang ‘nyaris’ hilang itu kini hadir malah menjadi ‘pusat perhatian? Apakah melalui pernyataan yang dilansirkan sebelum demo 4 November sekaligus menjadi indikator untuk melihat kesamaan dan perbedaan yang bisa saja esensial antara SBY dan Jokowi?

Bijaksana?

Dalam kasus Ahok, apabila kita mencermati keseluruhan rekaman (dan bukan penggalan yang sengaja dilansirkan si Buni Yani), maka akan terlihat konteks penyampaian. Apa yang disampaikan berbeda ketika diangkat dari konteksnya apalagi setelah kata ‘pakai’ dihilangkan begitu saja karena dapat memberi makna semantic baru.sby-dan-jokowi3

Tapi kebenaran yang mestinya tidak sulit dicari dan dibuktikan itu pada sisi lain tidak bisa meniadakan peran Ahok yang tidak cukup ‘cerdas’. Ia malah terlampau  ‘berani’ menyentil hal yang semestinya bukan kompetensinya. Selain karena ia memanfaatkan momen kunjungan sebagai gubernur, tetapi juga watak Ahok yang terkesan ‘kasar’ dan ‘tidak bermoral’ yang ‘main sikat’ saja apapun yang tidak dianggapnya wajar. Jelas, orang akan menunggu momentum tepat untuk menggiringnya sebagai ‘tesangka’ atas apa yang diucapkan. Di sinilah gaung ‘Al Maidah 51’ itu bisa dipahami.

Hal yang ditakutkan pun terjadi. Ahok yang kerap membanggakan diri pernah bersekolah di sekolah islam dan menganggap diri telah mengetahui banyak hal, memberikan perntayaan yang mestinya tidak perlu disampaikan.  Dengan cepat pernyataan itu diangkat ke publik. Lebih-lebih ketika ‘Si Buni Yani’ yang merupakan orang pintar dan cerdas (apalagi lulusan dari AS, tidak ‘asal mencopot’ kutipan dari konteksnya. mengeluarkan teks dari konteksnya dan menjadikannya begitu provokatif. Amarah warga muslim dengan mudah diplintirkan.

Reaksi publik atas permasalahan ini pun tidak bisa dianggap sepenuhnya keliru. Dalam sebuah kolektivitas, mereka berhak memberikan intepretasi atas teks yang dengan cepat dilihat sebagai tindakan provokatif. Emosi bisa saja bergolak. Permasalahan dengan mudah diarahkan kepada penistaan agama. Bludaknya massa pada demo 4 November adalah tanda, masalah itu telah telah dianggap sangat serius.  sby-dan-jokowi4

Apapun reaksi khalayak yang memaksakan kehendak masih bisa dimengerti. Lebih lagi karena agama mudah untuk diprovokasi.  Yang diharapkan, kehadiran pribadi yang bisa melihat dengan terang melampaui pendapat umum. Dengan kejernihan berpikir, akumulasi pengalaman nan bijak akan memberanikan seseorang berpendapat beda oleh kejernihan menganalisis kaitan masalah.

Hal itulah yang diharapkan dari SBY. Dengan diksi yang jelas dan kebijaksanaan yang sebelumnya terkesan dimiliki SBY diharapkan ia memberikan pernyataan pribadi tanpa melibatkan emosi massa yang tentu saja dalam kolektivitas memiliki logikanya sendiri.  Sayangnya, SBY memilih ‘populer’. Ia lebih memilih membuat pernyataan yang bagi banyak orang bisa saja dianggap mendukung demo 4 November yang bahkan seakan mengamini tindakan kekerasan.

Aneka reaksi di media sosial muncul dengan nada ironis. Ada asumsi pernyataan itu ditempatkan dalam konteks menggoalkan puteranya agar bisa bebas menjadi gubernur. Hal itu bisa saja disangkal. Tetapi pernyataan terbuka tanpa memberi ruang pada pendapat pribadi tentang kepastian masalah (yang mestinya begitu mudah dilihat) memberi pembenaran bahwa dalam konteks itu SBY sekedar ada demi sebauh tujuan yang bukan lagi terselubung.sby-dan-jokowi5

Lebih lagi ketika SBY memberikan pernyataan terbuka bahwa demo bukanlah sebuah kejahatan. Sebuah pernyataan yang kelihatan sangat bijaksana. Setiap orang punya kebebasan untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya hal mana diisyaratkan undang-undang. Yang tidak dilupaka dan apalgi sangat diketahui oleh seorang mantan presiden seperti SBY adalah esensi dari sebuah protes. Ketika dalam refleksi bening dan jernih melihat secara mendalam masalah, maka seseorang bisa saja berpendapat berbeda dari khalayak.

Hal inilah yang absen dalam pernyataan SBY. Mengutip Bruce Lee: A wise man can learn more from a foolish question than a fool can learn from a wise answer, seakan orang bodoh dipaksakaan untuk mengetahui jawaban bijaksana dari SBY. Padahal sebagai orang bijaksana hal mana kita tahu dari SBY, ia bisa belajar dari pertanyaan khalayak yang bisa saja sekedar memaksakan kehendak.

Memilih tak Populer

Kehadiran SBY yang bisa tampil secara elegan dengan sensitivitas terhadap gossip serta mudah terpesona pada opini publik justeru hadir secara berbeda dengan Jokowi. Yang ada pada Jokowi adalah visi ke depan dan nyaris takut terhadap risiko. Baginya kekuasaan milik rakyat dan karena itu yang ditakutkan adalah ketika kepentingan masyarakat terpinggirkan dan bukan sekedar popularitas belaka.sby-dan-jokowi6

Keberanian menaikkan harga BBM beberapa saat setelah berkuasa dan kini keberanian menyatakan agar para pendemo tidak memaksakan kehendak menunjukkan komitmennya pada kebaikan dan kebenaran. Baginya, yang namanya kebaikan dan kebenaran tidak tergantung pada berapa banyak orang yang protes tetapi pada realitas yang terjadi. Ancaman kelompok besar baginya tidak dengan sendirinya mewakili kebenaran.

Pilihan untuk tidak menerima demonstran adalah kebijakan lainnya. Ia tahu seluruh Indonesia akan menjadikannya sentral perhatian. Tetapi ia tidak menggunakannya. Baginya, ia tidak bisa sekedar ‘berdialog’ kalau yang dicari adalah memenangkan tuntutan.  Di sini justeru terlihat kada kebijaksanaan yang dimiliki oleh Jokowi.  Mengutip Saskya Pandita, If a wise man behaves prudently, how can he be overcome by his enemies? Even a single man, by right action, can overcome a host of foes.sby-dan-jokowi7

Ia dapat tampil beda dan kelihatan melawan massa.  Ia tidak merasa tertekan dengan publik. Ia memiliki pendapat sendiri yang didasarkan pada kebenaran. Sebuah kebenaran yang lahir dari hasil análisis mendalam tentang rangkaian sebab akibat permasalahan. Dalam kesendirian ia bisa memperoleh jawaban tepat atas permasalahn yang terjadi.

Berbeda dengan SBY yang masih bisa ‘bermain’ dengan kata-kata dan kelihatan begitu terbuka terhadap demo karena itu bukan kejahatan, Jokowi ternyata tampil dengan pesan jelas.  Baginya, setiap orang berhak mengungkapkan pendapat. Namun yang tidak bisa diterima, demo tidak bisa dijadikan alat untuk memaksakan kehendak. Kehendak mayoritas tidak bisa dijadikan ukuran atau begitu mudah mengalahkan menarik komitmennya pada minority rights atau hak minoritas.

Dalam konteks ini, Jokowi tidak hadir sekedar ‘asal omong’ dengan bermanis mulut.  Mengutip  Heinrich Heine, Talking and eloquence are not the same: to speak and to speak well are two things. A fool may talk, but a wise man speaks.  Ia tidak sekedar omong (apalagi asal omong). Yang paling penting, menyampaikan pesan (speaks) yang tidak saja menyejukkan tetapi membuka wawasan orang atas apa yang semestinya dilakukan.sby-dan-jokowi1

Untuk hal ini kita tentu bersyukur. Setelah SBY yang penuh tebaran pesona bahkan hingga saat jadi mantan presiden, kita punya Jokowi yang bisa mendeliver pesan dengan jelas. Jelas, antara SBY dan Jokowi ada perbedaan yang kejelasan perbedaan itu kita saksikan kini.

Robert Bala. Alumni Diploma Resolusi Konflik Universidad Complutense Madrid Spanyol.

Sumber Pos Kupang 7 November 2016.

Advertisements