Antara Soeharto dan Tibo Cs

Antara Soeharto dan Tibo cs

Pos Kupang 30 Mei 2006

RUPANYA agak aneh (lagi lucu) untuk ‘menyandingkan Soeharto dan Tibo cs.  Soeharto, mantan presiden RI, merupakan sosok yang paling ‘disegani’ selama 32  tahun pemerintahannya. Pribadi yang sering digelar “The Smiling President”,  menyimpan senyum khas, meski tak jarang sulit ditebak maksudnya. Bahkan tak  jarang, senyum manis itu berakhir tragis. Dengan kepiawaian dan kejeniusan  militeristiknya, dia berhasil menjadikan ABRI dan Golkar sebagai ujung  tombaknya dalam menafsir pelbagai kegiatannya. Tiga Serangkai itu cukup kompak  hingga bisa bertahan dalam kurun waktu 32 tahun.

Tibo cs (bersama Dominggus da Silva dan Marianus Riwu) bukanlah figur yang  dapat diperbandingkan. Mereka hanyalah warga sederhana lagi miskin. Bahkan  begitu melaratnya hingga tidak bisa bertahan hidup di kampung halamannya.  Mereka lantas tergerak untuk mengubah nasib melalui program transmigrasi. Namun  sial menimpah. Mereka akhirnya ‘terkenal’. Nama mereka ramai dibicarakan karena  disinyalir sebagai dalang bahkan otak intelektual di balik Tragedi Poso.  Hukuman mati pun tengah menanti, mengikuti proses isolasi yang sudah dimulai  minggu lalu.

Lalu, mengapa dua kasus yang sangat berbeda itu disatukan? Jawaban atas  pertanyaan ini bukan saja soal waktu. Pengumuman tentang pembatalan proses  peradilan terhadap Soeharto kebetulan hadir bersamaan dengan penolakan grasi  terhadap Tibo cs. Lebih dari itu, kedua kasus di atas diperbandingkan karena  esensi permasalahannya mirip kalau enggan disebut sama.

Soeharto, mantan rezim Orde Baru, yang dosa-dosanya sudah diketahui (belum  terhitung dosa yang belum diketahui dan diakui) “diampuni” (baca: dihentikan  proses peradilannya) dengan pertimbangan kemanusiaan. Keadaan kesehatannya yang  semakin memburuk, ditambah umurnya yang sudah sangat renta, sambil tidak  melupakan jasa-jasanya dalam membangun Republik ini (hingga pernah digelari  Bapak Pembangunan Indonesia), maka rasanya sangat keterlaluan untuk  menghakiminya tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu dalam  nada seia sekata, senada dan seirama para petinggi negara (bukan masyarakat)   ‘mengamini’ penghentian proses peradilan.

Keberanian para petinggi negara perlu disaluti. Di tengah kontroversi yang  sangat mungkin berakibat terhadap pengenduran dukungan hingga melemahnya  popularitas pemerintah terutama SBY dan JK (dan pejabat yang lainnya), mereka  ingin mengetuk rasa kemanusiaan kita semua. Mereka menyapa kita untuk  menghidupi sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sebuah sila penuh makna  lantaran menggugah setiap pribadi untuk tidak hanya berkuatat pada tuntutan  hukum (yang tak jarang sangat rentan terhadap dendam dan rasa kecewa  ataskesalahan Pak Harto), tetapi menerobosnya hingga masuk kepada relung  pribadi kita. Di sana rasa kemanusiaan kita disentuh, hati nurani kita disapa,  dan pertimbangan akal budi kita diuji untuk dapat mengambil sebuah keputusan  yang tepat. Hasil dari semuanya diharapkan untuk mengarah kepada absolusi  mutlak tanpa memberi tempat kepada rasa dendam dan kecewa. Biarkan “the big  boss” dari Orde Baru menikmati hari tuanya. Hukuman selanjutnya diserahkan  kepada “Yang Di Atas” sana.

Menonjolnya pertimbangan kemanusiaan dalam kasus Pak Harto menjadi acuan untuk  mempertanyakan hal yang sama dalam kasus Tibo cs. Tanpa meremehkan proses  peradilan yang telah ditempuh dalam mengkaji, meneliti Tragedi Poso, yang  tentunya sudah dipertimbangkan dari pelbagai segi, tetapi masih tersisa  kebingungan yang bukan mustahil memunculkan kegalauan dalam menerima begitu  saja eksekusi mati. Salah satu diantaranya adalah penolakan terhadap PK II,  meski pengajuannya telah disertai bukti-bukti baru yang seharusnya perlu  dipertimbangkan.

Penolakan di atas memunculkan pertanyaan: mengapa proses peradilan itu begitu  cepat ditempuh? Pada tanggal 5 April 2001, Pengadilan Negeri Palu memutuskan  hukuman mati terhadap Tibo cs. Hanya sebulan kemudian (tepatnya 17 Mei 2001),  keputusan itu diperkuat oleh keputusan Pengadilan Tinggi Sulteng. Mahkamah  Agung sebagai lembaga tertinggi peradilan meneguhkan keputusan yang sama pada  tanggal 21 Oktober 2001.

Begitu cepatnya proses peradilan seperti ini di satu pihak dapat menjadi  indikasi keseriusan SBY dan JK, sebagaimana dijanjikan ketika menjabat Menko  Kesra dan Menko Polkam untuk menyelesaikan sampai tuntas Tragedi Poso. Namun  bukankah hal itu dapat menutup kemungkinan terhadap munculnya bukti-bukti baru  (novum) sesudahnya yang selain mengklarifikasi permasalahan, tetapi juga lebih  memberikan bobot keputusan?

Bukan itu saja. Yang lebih menyayat hati ketika bukti-bukti baru itu akhirnya  tidak dapat mengubah keputusan lantaran Peninjauan Kembali (PK) hanya bisa  dilakukan sekali dan tidak memberikan kesempatan untuk PK II. Dalam konteks  ini, niat untuk menyelesaikan kasus secepat mungkin dapat berdampak tragis. Di  satu pihak kita menghukum orang yang belum tentu menjadi dalang kerusuhan. Di  lain pihak kita membiarkan dalangnya untuk terus menganyam kasus serupa guna  diterapkan di tempat lain. Hal seperti itu tentu sangat kita sesalkan.

Cela yang masih tersisah dalam kasus Tibo Cs kini hadir menyapa rasa  kemanusiaan kita. Hal itu bukan saja terkait eksekusi mati yang nota bene  bertentangan dengan HAM, tetapi lebih dari itu karena terdakwa yang kini  menanti ajal tidak bisa terbebas dari jeratan hukum yang sebenarnya sudah  meringankannya melalui bukti-bukti baru hanya karena PK II tidak memberi  tempat. Kalau demikian, maka bukankah hukum itu dibuat untuk manusia?

Kalaudalam kasus Soeharto, pertimbangan kemanusiaan begitu nampak, mengapa hal  itu menjadi absen dalam kasus Tibo cs? Jawaban atas pertanyaan ini hanya  terdapat dalam diri petinggi negeri ini yang memiliki kuasa dalam menafsir  hukum dan menjadikan reformasi sebuah transformasi nyata.

Robert Bala. Penulis, pengamat masalah sosial politik. Sumber: Pos Kupang 30 Mei 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s