HUKUMAN MATI ‘HERMAN JUMAT’

Hukuman Mati ‘Herman Jumat?’

Pos Kupang Sabtu 17 September 2016

Apakah terpidana atas nama Herman Jumat Masan (HJM) yang merupakan imam projo (de jure) asal Keuskupan Larantuka akan dieksekusi mati? Dalam waktu dekat HJM alias ‘Herder’ yang telah menjalani hukuman selama 2 tahun 9 bulan di Rutan Maumere akan dihukum mati, demikian pemberitaan beberapa media.herman-jumat-masan4

Bukan maksud tulisan ini membenarkan sebuah tindakan yang secara hukum telah terbukti. HJM telah terbukti terlibat dalam kasus pembunuhan berencana dan dijerat dengan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 338 KUHP. Kesalahan menjadi kian berat karena hal itu dilakukan dua kali, hal mana tidak bisa dipahami dengan akal sehat.

Tetapi apa sebenarnya yang mengganjal?

Sesat Pikir

Dua kelakuan keji yang berujung kepada kematian bayi hasil hubungan gelap dengan Yosefin Keredok Payong (YKP) alias Merry Grace pada tahun 1999 dan kembali berulang pada tahun 2002 yang juga mengorbankan nyawa sang ibu tidak bisa ditoleril. Dalam tataran ini, penerapan hukum yang diputuskan untuk HJM itu sudah tepat.

Yang mengganjal, apakah realitas terdalam yang melatarbelakangi kejahatan itu juga menjadi bahan pertimbangan para pengambil keputusan dalam hal ini hakim?herman-jumat-masan

Foto: HJM membaca sebuah puisi pada HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 2015. Puisi berjudul: Kutitip Rindu Ini Untukmu Negeriku.

Yang dimaksud, tindakan mencekik bayi yang dilakukan dua kali tidak sekedar dipahami sebagai aksi menghabiskan nyawa seorang yang tak berdaya tetapi juga sesat pikir yang dimiliki. Sang terpidana tidak saja dipenjara secara fisik, tetapi juga tetap terkungkung dengan pemikiran (keliru) bahwa martabat ‘imamat jabatan’ lebih pentimbang daripada martabat manusia khususnya hak hidup orang lain (bayi) hal mana melatarbelakangi pembunuhan bayi tak berdaya itu.

Lebih lagi, akumulasi harapan banyak orang telah menjadikan jabatan itu ‘sangat tinggi dan disanjung’ dan harus dipertahankan dengan harga apapun. Untuk itu ketika berada dalam pilihan dilematis, dengan mudah terpidana mengorbankan martabat manusia dan hak hidup hanya demi menyelamatkan hal yang dianggapnya lebih penting.

Pada sisi lain, realitas karnal berupa keinginan daging-lahiriah juga tidak bisa dibendung begitu saja. Dengan kecerdasan pikir (yang menyesatkan), kerap ada upaya membenarkan tindakan untuk ‘keluar rel’ tetapi masih bisa diterima oleh pembenaran diri sendiri atas tindakan sesat. Orang yang sangat cerdas seperti HJM (sejak SMA hingga PT, HJM selalu menjadi juara kelas) akan mampu mengajukan rasionalisasi yang dengan mudah diterima akal sehat sekedar membenarkan tindakannya sendiri.

Pada sisi lain, sebagai teman yang mengenal cukup dekat HJM dan YKP, saya harus acungi jempol atas luasnya pergaulan yang mereka miliki. YKP sebagai satu-satunya puteri di lautan laki-laki calon imam, terkenal sangat luwes dalam pergaulan dan disenangi oleh semua orang. Ia mengenal semua orang dan menjalin relasi yang sangat profesional. Siapapun harus angkat topi atas kebaikan hati serta kemurahan yang ditampilkan YKP.

Dalam konteks ini, biila didapatkan bahwa ia memiliki anak dengan HJM, maka hal itu adalah sebuah pukulan berat yang sangat memalukan. Sanjungan yang selama ini dimiliki akan hancur lebur bersama lahirnya bayi di antara mereka. Di sana pilihan mencekik mati bayi yang lahir dan upaya HJM membantu YKP yang tengah mengalami pendarahan hebat adalah sesat pikir lain yang demi mempertahankan nama baik, upaya dilakukan.herman-jumat-masan2

Botol infus misalnya adalah saksi bahwa keduanya berusaha untuk ‘selamat’. Di sini saya setuju bahwa hukuman mati terjadi atas upaya dua kali melenyapkan bayi tak berdaya meski untuk menghabiskan nyawa YKP saya ragu oleh kesadaran bahwa bagaimana pun keduanya akan berusaha untuk selamat.

Saya malah bisa paham bahwa upaya merahasiakan kematian baik bayi maupun ibunya telah menjadi ‘deal’ antara keduanya. Bisa saja tidak ada permintaan selain agar biarkan ia pergi tanpa perlu diusik atau diperbincangkan lagi. Biarlah ia menghilang. Janji itu tetap jadi komitmen bagi HJM untuk dijaga. Malah ketika harus melewati hukuman mati, ia malah ‘terima’ karena itu adalah bagian dari komitmen menjaga ‘amanah’.

Hukuman (Mati) Badan?

Apakah sesat pikir seperti ini bisa diatasi dengan hukuman mati? Apakah sesat pikir itu mempan ketika diberikan pembelajaran melalui hukuman mati? Sepintas, korban yang adalah bayi tak berdaya yang dihilangkan secara sengaja harus dibalas dengan hal serupa. Terpidana dapat merasakan bahwa nyawa dibalas nyawa. Itulah hukum talion yang dianggap pas untuk diterapkan.

Tetapi apa maknanya? Siapa yang harus mendapatkan pembelajaran dan perlu ‘dimasyarakatkan?’ Mestinya terpidana perlu menjalankan proses ini. Sesat pikir yang dimiliki perlu diberi ruang untuk disadarkan bahwa martabat manusia berada di atas segalanya. Ia jauh di atas melampaui martabat imamat. Jelasnya ketika ada dilema antara hidup dan mati antara pangkat dan hajat hidup maka yang terpenting adalah martabat manusia.herman-jumat-masan1

Sayangnya kesesatan berpikir seperti ini bisa saja tidak menjadi bagian pertimbangan. Malah tanpa disadari kita mengambil keputusan yang membenarkan sesat pikir itu. Jelasnya, dengan melaksanakan hukuman mati, maka kita telah ingkar untuk membangun kesadaran akan martabat manusia dan malah membangun sebuah kesesatan berpikir lain yang nota bene dibawa sampai mati oleh sang terpidana mati. HJM akan mati dan pergi membawa asumsi, demi menjaga komitmen dan janji antara HJM dan YKP, ia mengorbankan hak hidup orang lain.

Pergulatan memahami dilematika ini hemat saya perlu diberi ruang yang cukup. Pengambil keputusan mestinya bisa mempertimbangkan kembali karena bukan sekedar menghukum kelakuan tetapi juga memahami sebuah sesat pikir yang dimiliki bisa saja bukan hanya terpidana yang melihat martabat atas nama jabatan (imamat) berada di atas martabat manusia. Hukuman seumur hidup sementara itu menjadi hal yang lebih pas karena dengan demikian semasa hidup terpidana tersadarkan tentang prioritas apresiasi atas kehidupan di atas segala yang lain.

Hukuman mati badan yang akan dilakukan atas HJM karena itu justeru akan membawa sebuah sesat pikir baru yang sayangkan dibawa sampai mati oleh sang terpidana mati. Ia bisa saja sudah siap karena merasa bahwa apa yang dipikirkan dan dipertahankan selama itu adalah baik. Ia telah mempertahankan jabatan dan juga telah berkomitmen merahasikan kematian itu. Ia malah bangga bisa tampil kesatria tidak takut mati hanya karena ingin mempertahankan komitmennya. Di sini sesat pikir itu malah terus dibawa mati dan tidak ada proses penyadaran dalam diri.herman-jumat-masan1

Memang ada yang tentu saja berasumsi bahwa hukuman mati bisa jadi sebuah pembelajaran untuk yang lain. Martabat manusia harus diprioritaskan di atas pertimbangan lain dan tidak bisa dipermainkan oleh siapapun. Sampai di sini, akal sehat menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Tetapi bila hukuman itu harus dirasakan oleh sang terpidana, maka hukuman mati adalah sebuah pengingkaran yang sangat jelas. Di sini kita hanya mau meminta peninjauan kembali. Kita tidak sekedar meninjau kelakuan negatif (membunuh) tetapi memberi ruang untuk memperbaiki sesat pikir selain bahwa hukuman atas sesat pikir tidak bisa begitu saja teratasi dengan hukuman (mati) badan.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta. Teman dari HJM dan YKP.