JOKOWI, ANIES BASWEDAN, DAN DKI

Jokowi, Anies Baswedan, dan DKI

Pos Kupang 14 Oktober 2016

Sebagai seorang guru, nama Baswedan begitu kuat melekat di pikiran. Kata-katanya begitu meneduhkan. Gebrakan menunda K13 dengan segera memunculkansimpati yang besar dari para guru yang merasa terbebankan dengan kurikulum yang pakai angka sial “13” itu.jokowi-baswedan1

Tetapi mengapa orang yang ‘begitu baik’ ini tak teganya ‘disudahin’ Jokowi di tengah jalan? Padahal sejauh pengalaman membeberkan, di tengah sikut-menyikut pergantian menteri, biasanya Kementrian Pendidikan tidak pernah tersentuh. Orang yang ada di sana adalah tenaga professional. Kebijakannya tentang pendidikan dirancang secara professional sehingga tidak membuat presiden harus menggantinya.

Beda paradigma?

Keputusan Jokowi mengangkat Anies Baswedan sebagai Mendikbud tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebuah rangkaian panjang tentu sudah dilewati dalam menyeleksi orang yang akan menjadi pembantunya, sebagai menteri.

Secara profesional, Anies adalah rektor termuda di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa Baswedan adalah orang profesional yang patut diperhitungkan. Latar belakang pendidikan di AS antara lain memberi keyakinan bagi Jokowi bahwa Baswedan pantas menduduki tempat paling strategis dalam menganyam masa depan bangsa.jokowi-baswedan4

Tidak hanya itu. Kecerdasdan Baswedan tidak dimiliki secara egois tetapi disertai tindakan nyata. Gerakan Indonesai mengajar merupakan sebuah terobosan. Anies tidak terkungkung pada ilmu di universitas tetapi membumi melalui program yang sangat menguntungkan masyarakat di pinggiran Indonesia.

Keputusan Jokowi juga bisa saja terpanah bahwa keterlibatan pada level masyarakat di wilayah pinggiran itu merupakan batu loncatan untuk mencapai sesuatu yang lebih jauh. Saat Baswedan menghadirkan diri sebagai calon presiden melalui Partai Demokrat maka hal itu membuktikan bahwa ada cita-cita luar biasa yang dimiliki Baswedan. Keputusan menempatkan sebagai mendikbud menjadi pilihan cepat.

Dalam benak Jokowi sudah tidak ada pilihan lagi. Dengan meminta Anis sebagai jubirnya, maka sudah dipastikan bahwa ia akan memperoleh jabatan yang pantas. Pemilihannya sebagai Mendikbud membuat rasa lega para pegiat pendidikan. Sudah dipastikan akan membawa banyak perubahan mendasar.

Tetapi, mengapa tokoh yang sangat diidolakan ini diganti di tengah jalan? Apakah karena disinyalir Baswedan akan menjadi saingan di Pilpres 2019 nanti dan diduga ada langkah mempersiapkan diri hal mana mendorong Jokowi menggantinya segera? Ataukah pergantian itu karena irama kerja Baswedan tidak seperti yang dibayangkan oleh Jokowi yang selalu mengedepankan ‘kerja-kerja, dan kerja’ dan perlunya tindakan yang cepat?jokowi-baswedan2

Dugaan tentang saingan Jokowi bisa saja ada. Lebih lagi saat Anies Baswedan dipilih Gerindra sebagai cagub DKI bisa saja membenarkan bahwa Anies memang menjadi ancaman serius bagi Jokowi. Tetapi melihat penetapan Anies pada last minute sebagai cagub meyakinkan bahwa hal itu bukanlah alasan yang perlu diperhitungkan.

Pertimbangan tentang perbedaan paradigma dalam irama kerja bisa saja menjadi alasan yang lebih kuat untuk dipertimbangkan. Yang dimaksud, dalam benak Jokowi, Indonesia sudah terlalu banyak dipenuhi oleh kaum cerdik pandai yang hebat dalam memberikan pikiran. Yang dibutuhkan adalah ‘eksekutor’ yang bisa mewujudkan apa yang telah lama menjadi pergunjingan.

Gerakan ‘blusukan’ menjadi simbol jelas bahwa bagi Jokowi yang terpenting adalah bukti kerja. Ia ingin melihat progres ‘step by step’. Tanpa itu, ia apa yang dilakukan tidak ada maknanya. Memang Jokowi bisa saja beraliran pragmatis. Segala yang teoritis nyaris dianggap ada.

Hal inilah yang bisa menjadi alasan mengapa Jokowi ‘menyudahi’ Anies Baswedan sebagai menteri. Di sana sudah jelas bahwa Baswedan adalah pribadi yang baik yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. Namun sebagai pemimpin dalam berhadapan dengan keadaan masyarakat dibutuhkan tindakan lain hal mana tidak ditemukan pada Baswedan.

Sebut saja masalah Kurikulum. Di tengah aneka penolakan terhadap K13 yang terkesan terburu-buru, Anis memilih jalan popular mendukung protes sosial. Malan bagi yang mau melaksanakan K13 harus melalui proses izin, hal mana mestinya setiap sekolah yang telah merasa nyaman dengan K13 bisa meneruskan tanpa ‘dihalangi’.

Kebijakan tentang guru kelihatan indah. Yang tidak diketahui, kata-kata inspiratif tentang guru kerap tanpa implementasi. Kebijakan indah dalam kenyataan harus disertai petunjuk praktis mengingat masih begitu banyak guru yang masih ‘tunggu petunjuk’. Inisiatif dan kreativitas masih jauh hal mana mestinya diketahui. Dalam kenyataan, Baswedan masih lebih suka memberi memo dan kata-kata inspiratif yang memang indah. Sayangnya hal itu masih belum cukup untuk merobah situasi hal mana bisa saja menjadi alasan mengapa ia diganti.

Kesimpulan Terbuka

Mengangkat ‘relasi’ Jokowi-Anies Basweda dalam kondisi saat ini tentu tidak netral. Yang dimaksud, apakah anteceden di atas dapat menjadi pertimbangan dalam menilai gelagat politik yang bisa terjadi khususnya ketika Baswedan dihadirkan sebagai cagub dan akhirnya menjadi capres nanti?jokowi-baswedan5

Tentu hanya waktu yang akan menjawabnya. Namun selagi hal itu belum final, maka dua kesimpulan terbuka perlu dibuka. Pertama, curriculum vitae Anies sejak bisa menjadi rektor di umur 38 tahun dan pada umur 40 tahun sudah dipercayakan secara publik dengan menjadi moderator dalam debat dalam pilpres tahun 2009 menunjukkan bahwa Anies Baswedan memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Dalam diri pria kelahiran Kuningan 7 Mei 1969 terdapat pikiran cemerlang yang akan sangat menguntungkan Indonesia apabila diperkenankan menjadi pemimpin negeri ini. Untuk sampai pada tingkat itu maka menjadi gubernur DKI menjadi sebuah tempat strategis. Kepiawaian dalam menahkodai DKI pada dua tahun ini akan menambah CV Baswedan untuk dapat dipertimbangkan dalam duel dengan mantan bosnya, Jokowi.jokowi-baswedan7

Tetapi apa yang terjadi ketika yang menjadi keputusan Jokowi adalah benar? Artinya, untuk menjadi motivator dan inspirator, pria lulusan PhD dari Northern Illinois University adalah orang tepat. Namun sebagai pembantu presiden, yang dibutuhkan tidak sekedar memberi motivasi tetapi kecekatan dalam mengambil tindakan.

Bila hal ini benar pada akhirnya maka menempati posisi politis seperti Gubernur atau Presiden tidak semudah memberikan nasihat atau kata-kata inspiratif? Yang dibutuhkan adalah kecekatan dan keberanian dalam menetapkan tindakan. Inilah sisi meragukan yang menyertai pria yang memperoleh gelar master Kebijakan Publik dalam Politik Ekonomi dan Keamanan Internasional dari Universitas Mayland.

Pada sisi lain kehadiran Anies yang pernah mengklaim bahwa ada mafia di balik Prabowo (yang kini menyanjungnya) menjadi bukti bahwa apa yang diucapkan akan menjadi harimau yang siap menerkam Baswedan. Artinya, sebagai akademisi, Anies terlampau berani mengeluarkan statement yang secara politis merugikan Prabowo karena disinyalir merupakan warisan Orba. Hal itu tentu saja bisa saja wajar karena sebagai jubir, Baswedan harus berani mengeluarkan pernyataan yang mengunggulkan Jokowi.jokowi-baswedan3

Tetapi sebagai akademis cerdas, justeru menjadi sisi yang meragukan. Minimal ia menjadi awasan bahwa mengambil peran strategis dalam politis tentu tidak semudah mengeluarkan pernyataan ataupun kata-kata inspiratif untuk memotivasi. Yang dibutuhkan adalah keberanian bertindak demi rakyat dan bukan sekedar menggagas pernyataan yang indah didengar tetapi nyaris diwujudkan.

Tapi benar tidaknya hal ini, tentu saja masih jadi kesimpulan terbuka. Hanya kenyataan yang akan membuktikan.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Advertisements