Kisah “Membongkar” LKF Mitra Tiara

Kisah “Membongkar” LKF Mitra Tiara

Dengan ditemukannya Niko (di biang ke) Ladi, buronan yang paling dicari di Flores Timur, di Jatiluhur 14 Maret, maka muncul pertanyaan penting: apa yang sebenarnya ingin dicari di baliknya?BONGKARRR

Sekilas, jawabannya adalah uang nasabah. Setengah triliun (atau sumber lain malah memprediksi 1,7 triliun dari 16 ribu nasabah tidak sedikit. Setara dengan APBD Kabupaten Flotim.

Tetapi apakah hal itu mungkin?

“Tak (Pernah) Sadar”

Sebelum menjawab pertanyaan di atas (yang mestinya tidak sulit dijawab), penulis sekedar mengajak untuk ‘flash back’.

Selama 4 tahun berjalan, sebelum akhirnya ‘colapse’ pada September 2013, kelihatan Mitra Tiara berjalan ‘aman’. Bunga 10% dianggap ‘lumrah’, minimal oleh nasabah lama karena setiap akhir bulan mereka ‘menikmatinya’.

Padahal, keberanian memberi bunga begitu tinggi, dengan penjelasan sekuat apa pun, telah mengangkangi akal sehat. Dengan modal 500 miliar, berarti Niko Ladi harus ‘putar otak’ menyediakan 50 miliar tiap bulan untuk memenuhi ‘dahaga’ nasabah.

Dari mana ia memperoleh dana sebesar itu? Sehebat apakah si (biang ke)Ladi memperolehnya? Terhadap pertanyaan ini, pemerintah daerah hanya sebatas memanggil Niko untuk menanyakan sumber dana yang diperoleh. Padahal, dengan logika minimal, pemerintah harus segera menyetopkan karena seperti namanya, setidaknya salah satu sumber dananya adalah dari kredit kepada anggota (sebagaimana namanya Lembaga Kredit Finansial). Yang terjadi, lembaga kredit itu ternyata tidak memberikan kredit hal mana menjadi celah terlampau besar bahwa sumber dana itu adalah pembohongan. Tidak lebih dari itu.

Pemerintah pun akan segera membaca bahwa animo masyarakat pada MT sudah tidak sehat. Bagaimana tidak? Tidak sedikit pegawai negeri yang pinjam dari bank pemerintah untuk ‘dititip’ di Mitra Tiara. Hal itu belum cukup ketika tidak sedikit uang dari biara (pastor dan suster) pun ‘dititip’ demi mendapatkan bunga ‘demi pewartaan Injil’, demikian alasan mulia yang dikemukakan Ladi.

Di tengah eufori tak terkendali ini, penulis sangat kebetulan berada di Larantuka dalam sebuah pelatihan guru pada 27 Maret 2013. Di sela seminar itu, saat mendengar kabar (yang sebelumnya tidak diketahui), penulis segera mengambil sebuah kesimpulan bahwa yang terjadi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akal sehat.

Karena itu, malam itu, penulis yang terkesima atas kisah ajaib dari Mitra Tiara, tak lupa melewatkan waktu mendekati kantor MT. Dari ketinggian pada posisi kantor MT, penulis memandang ke bawah, Larantuka di keheningan malam. Terasa sangat inspiratif. Orang nagi tiap malam begitu lelap tertidur, membayangkan, besok pagi, saat bangun, uangnya sudah ‘beranak-pinak’.

Inilah ketaksadaran yang tidak bisa dibiarkan berlanjut. Mereka harus segera dibangunkan dari ninabobo. Lebih lagi karena animo itu telah meluas, sampai ke Lembata, Sikka, Ende, sekedar menyebut beberapa contoh. Dalam waktu dekat, anggaran malah berlipat ganda, semakin tak terkendali.

“Tak Tahan Api”

Proses membongkar Mitra Tiara ditelusuri sesaat kembali ke Jakarta. Setelah mempelajai pola penipuan yang terjadi di berbagai tempat di negeri ini, penulis sampai pada kesimpulan bahwa otoritas yang paling bertanggungjawab dalam mengklarifikasi kesangsian saya atas mekanisme kerja Mitra Tiara adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Proses pelaporan ini dirasa efektif. Hal ini menjadi pertimbangan karena melalui tulisan, beberapa putera nagi telah melansirkan beberapa tulisan mengkritisi mekanisme MT. Tetapi hal itu sebatas himbauan, yang nyaris mendapatkan sambutan dari pembaca. Lebih lagi, tulisan mengkritisi kerap dilihat sebagai ekspresi ‘iri hati’ melihat orang lain bahagia dengan bunga tinggi.BONGKARR

Atas dasar pemikiran ini, proses pelaporan pun dilaksanakan, dengan pengiriman email ke konsumen@ojk.go.id dan fax pengaduan ke 021-3866032 pada tanggal 31 Agustus 2013. Sebuah proses yang tidak mudah karena penulis sempat ragu karena membongkarnya kini berarti melenyepkan angan tidak sedikit uang nasabah. Wajah orang kampung yang memberi segalanya menjadi sebuah pergulatan panjang. Duka mereka terasa sangat pahit kalau pembohongan ini dibongkar begitu cepat.

Tetapi membiarkan hal itu berarti memperpanjang. Dalam analisis penulis, yang terjadi sebenarnya menunggu bom waktu. Ibarat bisul, lebih baik ‘pecah’ masih lebih baik daripada membiarkannya ‘bengkak’. Akan memperpanjang derita, hal mana akhirnya proses itu pun dilaksanakan.

Tetapi proses membongkar itu pun tidak keliru, malah positif. Artinya, ibarat emas, ia akan teruji dalam perapian. Demikian juga Mitra Tiara, kalau memang ia ‘asli’ maka akan bertahan dalam goncangan kalau kemudian dipertanyakan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Di sana pamornya malah akan kian ‘menjulang’ karena sudah teruji.

Tetapi sebaliknya, bila tidak bertahan, maka jelas, yang terjadi selama ini adalah pembohongan. Dan terjadilah. Setelah proses pelaporan, pada minggu kedua, September, penulis mendapat telepon dari OJK (021-500655), menanyakan kepada penulis tentang tindak lanjut yang telah dilaksanakan.NIKO LADI

Kepada OJK penulis mengungkapkan rasa terima kasih. Sejak intervensi OJK, dengan segera keluar pengumuman dari MT bahwa ada penurunan bunga dari 10 menjadi 8%. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan penegasan Niko Ladi bahwa sampai Januari 2014, tidak ada lagi pengambilan dana karena lagi dibenai administrasi. Jelas, MT tak beda ‘emas palsu’ yang tak tahan api ketika dibakar.

Jangan Lagi

Dengan terbongkarnya kepalsuan, maka jelas bahwa harapan sangat kecil untuk tidak mengatakan tidak mungkin memperoleh uang kembali. Hal itu terjadi karena bunga nasabah diambil dari tabungan nasabah. Setiap bulan nasabah memakan dirinya. Dalam 10 bulan, uangnya itu sebenarnya sudah habis.

Ia masih bisa bertahan dengan ‘saling memakan’. Nasabah lama ‘mencaplok’ nasabah baru, dan lingkaran itu terus bergulir. Ia bisa hidup, ya karena animo nasabah baru semakin tak terbendung. Tak terkecuali, nasabah lama, yang karena kelewat ‘rakus’, meski sudah untung, masih terus menyimpan dananya biar ‘berbunga’ besar dan semakin besar.

Sialnya, pascaterbongkarnya MT, nasabah juga masih belum percaya. Aneka pendekatan malah diwaliki pastor untuk menemui Niko di Jakarta. Padahal, dengan logika minimal, mestinya Niko sudah langsung ditangkap. Semakn cepat diproses, dana yang ada bisa ditahan dan dibagi secara proporsional kepada semua nasabah.

Yang terjadi, justeru proses ‘dialog’ tidak menutup kemungkinan agar hanya nasabah tertentu yang ‘diuntungkan’. Mereka bisa ‘tawar-menawar’ sehingga uang mereka dikembalikan sementara nasabah lain dibiarkan menderita kini, hal mana menjadi duka masih tersisa.PAKAI OTAK

Pakai otak bro, kalau disodorkan investasi bodong seperti itu’

Singkatnya, tertangkapnya Niko Ladi, tidak serta merta uang nasabah dikembalikan. Yang bisa terjangkau, ia membangun kesadaran untuk tidak melakukan kesalahan sejenis. Minimal mendekati anekdot seorang penjudi yang berdoa agar menjadi kaya dalam loterei yang diperoleh. Anehnya, doa orang itu ternyata diterima Tuhan yang berkata: “Ya, kamu akan jadi kaya sebagaimana permintaanmu, tetapi hanya ada satu sarat yang kamu harus penuhi yakni berhenti bermain judi”. Doa nasabah untuk jadi kaya pun terjawab dengan syarat: “jangan lagi menjadi nasabah dalam investasi bodong serupa itu”.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Sumber: POS KUPANG Jumat, 27 Maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s