Memili(a) Sekolah

MEMILI(A)H SEKOLAH

Pos Kupang, 5 Juni 2006

Tahun Ajaran 2005-2006 sebentar lagi pamit. Para siswa umumnya sudah menanti hari liburnya. Bisa dipahami. Setelah sebuah proses yang cukup panjang dan melelahkan, anak-anak mempunyai hak untuk mendapatkan istirahat. Liburan karena itu disambut dengan gembira.

Namun, adakah kegembiraan anak-anak jarang diikuti orangtua? Bertanya demikian berlasan, karena saat-saat seperti ini orang tua lagi ‘sport jantung’ memilih sekolah. Kemanakah akan kusekolahkan anak saya? Sanggupkah saya membayar SPP dan segala tuntutan lainnya? Adakah lembaga yang menjadi tempat belajar anak-anak sungguh-sungguh menjamin kualitas (sepertinya yang diiklankan)? Apakah out put yang diharapkan dapat terwujud pada akhirnya? Pertanyan itu bahkan semakin membingungkan ketika kenyataan (untuk orangtua yang bisa memilih) menunjukkan munculnya aneka sekolah baru dengan tawaran promosi yang menggiurkan. Tak sedikitnya bahkan begitu hadir ‘seadanya’.

Merumuskan Kriteria

Para pakar pendidikan umumnya sepakat bahwa keberhasilan sebuah pendidikan sangat bergantung pada lima hal yakni: hardware, software, brainware, dataware, dan netware. Kelima elemen ini dapat menjadi acuan dalam memilih sebuah sekolah.

Elemen pertama adalah hardware. Yang dimaksudkan aneka fasilitas fisik yang sangat menunjang proses pendidikan. Untuk itu ruang kelas, laboratorium, ruang khusus untuk musik, kesenian, laboratorium menjadi kondisi yang tidak bisa ditawar-tawar. Tentu saja diharapkan agar ruangan-ruangan tersebut terdapat dalam sebuah bangunan yang disebut sekolah (dan bukannya KBM dilaksanakan di rumah-rumah atau bekas toko misalnya).

Elemen seperti ini sangat penting. Tanpa bangunan fisik yang memadai, niscaya terjadi proses belajar mengajar. Lebih lagi, adalah sulit merancang sebuah proses belajar mengajar kalau hal itu ‘terpaksa’ dilaksanakan di ruko. Bagaimana konsentrasi dapat tercipta?

Untuk hal ini tentu diharapkan agar pendirian sekolah benar-benar dipersiapkan. Hal itu untuk menghindari asumsi seakan sebuah sekolah dibangun karena ada tuntutan ‘pasar’. Lantas segala cara dihalalkan, termasuk ‘menyulap’ rumah atau toko menjadi ‘sekolah’. Namun pada giliran lain, para ‘inisiator’ yang begitu menggebu-gebu dalam mendirikan sekolah tidak mungkin terealisir kalau ada kontrol dari dinas yang terkait. Izin yang disertai survei tentu sangat diperlukan, selain komitmen para petinggi pendidikan untuk menciptakan pendidikan yang sungguh bermutu.

Lain lagi dengan software. Keindahan (apalagi kemegahan) sebuah bangunan sangat penting tetapi perlu diisi dengan elemen yang sangat vital yaitu perangkat lunak. Hal ini terutama mengacu kepada penggunaan kurikulum. Ia dapat dianalogkan dengan kompas penunjuk arah pada sebuah kepal. Di tengah  amukan badai dan ganasnya lautan, dibutuhkan kompas yang memberikan arah. Hanya dengan demikian sebuah kapal dapat berlabuh pada tujuan yang hendak dicapai.

Perlu diakui bahwa dalam realitas pendidikan Indonesia, elemen software belum memiliki kestabilan. Pergantian kurikulum setiap kali ada pergantian menteri (memang lumrah sebuah perubahan), tak jarang sebatas sebuah perubahan nama tanpa perombakan mentalitas. New game with old players. Mentalitas lama masih dipertahankan, meski sengaja dikelabui dengan aneka nama. KBK yang kini diterapkan misalnya, secara sangat ideal telah menampilkan kemajuan yang berarti. Secara teoretis ada peralihan dari teacher centered leraning kepada student centered learning adalah terbaik dari semua metode belajar mengajar. Namun, apakah sudah tersiapkan segala sarana yang menunjang? Apabila hal ini tidak bisa dipersiapkan, maka seindah apapun kurikulum, ia akan sebatas wacana teoretis dan tidak dapat terjelma menjadi kenyataan.

Lalu bagaimana dengan pengajar dan siswanya, dan struktur sekolah, serta elemen pendukung pendidikan lainnya? Elemen ini termasuk dalam brainware. Merekalah yang menghidupkan elemen hardware dan softaware. Menghadapi aneka promosi menjelang tahun ajaran tentang aneka program menawan yang ditawarkan, tentu tidak bisa dijadikan standar. Orang tua perlu mencek lebih jauh. Adakah sekolah memiliki guru-guru yang berpengalaman dan berkualitas? Adakah mereka memiliki ijazah formal atau para sarjana karbitan yang dalam sekejap mata sudah menyandang SPd, MPd, dan sebagainya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini banyak kali lolos dari perhatian orang tua yang serba sibuk. Belum lagi orang tua yang hanya memiliki pandangan praktis tanpa kesempatan menganalisa lebih jauh. Bagi mereka yang terpenting promosi karena itulah yang terbaik. Padahal orang tua perlu mengetahui siapa yang akan membimbing anaknya dan bagaimana kredibilitas pendidikan dan ilmu yang dimiliki oleh sang guru.

Masih dalam brainware adalah siswa. Sebuah sekolah disebut baik, bukan saja karena SPPnya tinggi dan sebaliknya. Yang paling menentukan sebenarnya bagaimana motivasi yang melatarbelakangi para siswa untuk belajar. Banyak siswa yang tidak melihat pendidikan sebagai proses penanaman nilai-nilai kehidupan. Bagi mereka, sekolah sebatas menghabiskan waktu. Kalau demikian maka sekolah telah kehilangan elemen terpenting dari pendidikan itu sendiri.

Dan yang tidak kurang penting adalah rangkaian struktur sebuah sekolah. Hal ini dimulai dari kepala sekolah yang merupakan nahkota kapal. Ia memiliki fungsi supervisi pendidikan dan mengadakan evaluasi kontinyu tentang dinamika sekolah. Ia juga memotivasi semua elemen agar dapat berjalan secara baik dan terencana. Melalui fungsi yang demikian, diharapkan sebuah sekolah dapat berjalan dengan baik.

Pendidikan pada pihak lain bukanlah sebuah karya perseorangan yang eksklusif. Sebaliknya ia merupakan karya banyak orang yang secara bahu membahu dalam memajukan pendidikan. Untuk itu netware merupakan hal yang sangat penting. Kehadiran seorang pimpinan sekolah pada sebuah pertemuan dengan Dinas Pendidikan misalnya merupakan hal yang sangat urgen. Ia perlu hadir untuk mengetahui informasi sambil secara bersama-sama mengadakan sharing tentang dinamika pendidikan. Tidak hanya itu, secara ke dalam perlu dibentuk team work yang kompak dan jitu. Sebaliknya, pendidikan yang sangat ekslusif, jauh dari pergaulan sosial, dan rapuh dalam kerja sama akan tidak mendukung proses pendidikan. Untuk itu diperlukan relasi yang dijalin dari hari ke hari, diramu dalam suasanan persaudaraan dan kerendahan hati.

Dan yang tak kurang penting adalah elemen dataware. Sebuah sekolah perlu memiliki data dan informasi tentang perkembangan sekolah, pelbagai peristiwa yang terjadi serta pelbagai kejadian yang sangat berkaitan dengan proses pendidikan. Data-data ini digunakan sebagai perbandingan dan pembelajaran dari saa ke saat. Kesalahan dan kekeliruan diperbaiki berkat memori yang membaharui. Sementara itu hal-hal baik dijadikan acuan untuk semakin ditingkatkan. Hal seperti ini hanya bisa muncul dalam proses waktu dan usaha yang kontinya untuk membangun sebuah data yang dapat membantu proses pendidikan ke arah yang lebih baik. Dan tak kurang penting, dataware memiliki peran dalam merancang dinamika pendidikan. Pelbagai hal yang dianggap masalah dievaluasi. Untuk hal ini, tentu saja evaluasi dapat dibuat dengan membuat perbandingan dengan sekolah lain. Namun demikian, hal itu sebatas pertimbangan. Diperlukan usaha untuk menjadikannya sebagi program sendiri, hasil dari perjalanan sejarah pendidikan sebuah sekolah.

Sekolah untuk Apa?

Menjawabi semua pertanyaan di atas bukan berarti semuanya selesai. Kriteria di atas bagaimanapun juga merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi pemilihan sebuah sekolah. Namun yang terpenting adalah faktor internal berupa motivasi yang melatarbelakangi usaha menyekolahkan anak.

Ada segelintar orang tua yang berasumsi bahwa menyekolahkan anak di sebuah sekolah favorit adalah jaminan segala-galanya. Ia merasa tidak bertanggungjawab. Dengan kata lain uang menjadi ukuran. Padahal, dalam pendidikan, peran serta orang tua tidak bisa tergantikan dengan apapun. Dalam kontesk ini, pendidikan dianggap sebagai sebuah ‘share’ yang dilaksanakan dengan melibatkan komponen sekolah dan keluarga (guru dan orang tua). Dalam ikatan kerja sama ini dapat tercapai nilai-nilai yang lebih diharapkan.

Selain itu, apa sebenarnya yang ingin diperoleh dari sekolah? Apakah untuk mendapatkan nilai bagus?  Memang nilai seperti ini dapat menjadi satu ukuran tetapi bukan satu-satunya. Yang terpenting sebenarnya nilai sebagai sebuah akumulasi harapan dan internalisasi kebajikan moral yang hendak dicapai seorang sebagai manusia. Jelasnya, seseorang ingin belajar karena ingin meruncingkan lagi rasa kemanusiaannya, mengasah hati nuraninya dan menghaluskan budi bahasanya dalam hidupnya. Kalau demikian maka seseorang akan diharapakan menjadi manusia yang semakin beretika, inklusif dan memiliki relasi sosial yang baik dengan orang lain. Pendidikan nilai seperti ini yang seharunya menjadi target dari setiap peserta didik dan orang tua. Mereka mengharapkan agar putera dan puterinya menjadi manusia yang memiliki hati yang luhur, emosi yang diolah secara terus-menerus, dan rasa kemanusiaaan tinggi.

Sesungguhnya perlu kita akui bahwa nilai seperti ini semakin kendur. Tak jarang orang tua terjerumus dalam materialisme pedagogis yang hanya memahami pendidikan demi mencapai sejumlah tujuan jangka pendek. Mereka terbatas mengevaluasi perkembangan anak dari nilai raportnya. Padahal, itu baru menjadi satu aspek. Orang tua perlu melebarkan kriteria penilainnya untuk melihat pendidikan sebagai sebuah proses yang mematangkan orang baik secara spiritual, intelektual, sosial maupun budaya. Tanpa keterkaitan dengan nilai-nilai ini, sebuah pendidikan dapat diancam kegagalan dan sedang berada dalam bahaya. Untuk itu, dalam memilih sekolah, kita perlu memilah yang berarti analisa yang lebih jauh tentang makna sebuah pendidikan darinya menjadi acuan bagi komponen pendidikan untuk merancang sebuah pendidikan yang lebih baik. Untuk konteks Indonesia mempertanyakan arah pendidikan dalam kerangka pembinaan rasa kemanusiaan pada awal tahun ajaran seperti ini merupakan sebuah langkah yang sangat penting. Kesadaran seperti itu bukan mustahil dapat menjadi langkah maju dalam menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik oleh karena generasinya sungguh ditempah secara baik kini. Untuk itu, diawal tahun, kita bukan saja memilih sekolah, tetapi diperlukan juga kesadaran untuk memilah nilai yang hendak diperoleh.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Pendidikan. Sumber: Pos Kupang 5 Juni 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s