MENJUAL TANAH (KEUSKUPAN)

Menjual Tanah (Keuskupan)

Atambua selalu punya arti khusus. Meski sudah 27 tahun yang lalu, hanya sempat mendiami Nenuk-Atambua (1988/1989) tetapi kesan begitu mendalam. Pada saat Natal misalnya, kami kunjungi Mgr Anton Pain Ratu, SVD. Di kamar uskup bersongko merah yang pensiun pada tahun 2007 itu, tidak ada barang mewah. Ada satu barbell, terbuat dari coran semen yang bisa diangkat sebagai beban saat berolahraga. Itulah gambaran kemiskinannya. Di masa pensiun, ia kembali ‘mengumat’ di Bintauni-Kiupukan.ATAMBUA10Mgr Anton Pain Ratu, SVD, Uskup Atambua (1984-2007) sosok uskup sederhana. Hanya alat ‘babell’ di kamarnya

Uskup pendahulu, Mgr Theodor Van den Tillaart, SVD tidak kalah praksis kemiskinan. Setelah melaksanakan tugas kegembalaan (1984), ia tidak mendirikan istanah peristirahatan. Ia memilih ‘mengumat’, menggembala di Atapupu hingga wafatnya, 1991. Bahkan lebih ekstrem, ia memilih jadi ‘petani garam’. Dengan pick-upnya, ia masih mengantar garam ke biara-biara.Mgr Theodorus van den Tillaart SVDMgr Theodor Van den Tillaart, SVD, Uskup Atambua (1961-1984), memilih jadi ‘petani garam’ setelah pensiun sebagai uskup dari Atambua.

Kini, kisah keugaharian pendahulu itu menjadi bahan tanya ketika pihak keuskupan, menjual tanah di sebelah Puskot dan SDI Wekatimun dengan harga (katanya) miliaran. (Katanya) Ada tanah lagi yang akan dijual. Sebuah keputusan yang tentu saja sudah dipikirkan Dewan Imam, tetapi logika umat (yang bisa dipandang bodoh), hal itu sulit diterima.

Hal itu memunculkan tanya dan mengapa tidak hingga mengakibatkan keresahan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana semestinya menyingkapi hal ini?

Tanah dan Trauma

Rupanya tak berlebihan ketika mengaitkan tanah sebagai tumpah darah. Hal itu sangat dirasakan oleh warga Atambua. Pasca lepasnya Timor Timur (kini Timor Leste) apresiasi tanah itu kian penting. Warga Atambua yang berbatasan langsung memahami perjuangan itu, baik sebelum integrasi, saat kemerdekaan, hingga kini. Tanah adalah hidup dan mati. Hanya karena tanah, taman makam di Seroja-Atapupu jadi saksi.ATAMBUA 9Warga eks ‘Timor Timur’ mengungsi, mencari ‘tanah’ di Indonesai. Atambua jadi ‘tuan rumah?’

Juga karena tanah, para eks-Timor Timur itu masih jadi mengelu atas kesulitan mendapatkan akses atas hidup layak. Mereka berada di sekitar Atambua, mencari hidup yang lebih baik. Dan sebagai orang Katolik, para pengungsi itu tentu saja jadiakan Katederal sebagai tempat doa dan mengapa tidak, mengadu kepada Sang Khalik atas kesulitan hidup. Tanah karena itu bagi tidak sedikit warga Atambua dan Belu pada umumnya, adalah sebuah ‘trauma’.

Kepemilikan tanah oleh misi tentu tidak jauh berbeda. Ia adalah simbol kepasrahan dan penyerahan diri umat sederhana. Gereja yang hadir melalui misionaris asing, (Yesuit maupun SV) awalnya tentu tidak punya akses pada kepemilikan tanah. Tetapi atas nama agama, kesaksian hidup yang mengagumkan, umat (diwakili para tuan tanah) untuk menyerahkan tanahnya ‘demi kemuliaan Tuhan’.ATAMBUA 8Dalam kesadaran iman mendalam, para ‘tuan tanah Timor’ waktu itu menyerahkan tanahnya kepada Gereja, sebagai ‘wakaf’.

Tanah, karena itu menjadi saksi sejarah. Pertanyaannya, apakah penghargaaan sejarah diartikan sebagai usaha mempertahankannya atas nama apapun? Apakah dilarang menjualnya, ketika tujuan yang hendak dicapai adalah demi kebaikan umat juga? Lebih lagi, umat umumnya memiliki kepercayaan bahwa aneka penyelewengan mustahil terjadi. Namun kepercayaan yang dulunya ‘buta’, kini dengan mata telanjang umat sedikit ‘nakal’ mempertanyakan. Kalaupun itu salah, bisa dipahami posisi sebagai ‘domba’ yang bisa saja tersesat di jalan karena malu bertanya.

Tetapi mengapa reaksi (beberapa) umat begitu besar? Mengapa kata-kata kasar yang terasa menyakitkan bisa dikeluarkan umat untuk ‘sang gembalanya?’ Tulisan di ‘beritalima.com’ misalnya sangat keras (malah kasar). Kritik begitu pedas seakan para petinggi Gereja Atambua tidak berbuat apa-apa. Kritikan pun terasa membuat resah karena langsung menyerang pribadi (uskup). Sebuah penilaian yang tidak mesti terjadi.ATAMBUA 2Apakah ‘salah, Uskup Domi Saku, Pr menjual tanah demi membangun keuskupan? Apa yang salah? Akumulasi kekecewaan umat? 

Namun bila memahami lebih jauh maka komentar pedas itu terjadi oleh akumulasi kekecewaan, bisa saja atas kesaksian hidup yang kontrakdiktif.Teladan para misionaris dan pendahulu yang meskipun berasal dari keluarga ‘berada’, negara kaya, tetapi rela meninggalkan ‘kepunyaannya’ dan hidup ‘apa adanya dengan umat’. Mereka hidup ada adanya dan selalu ‘betah’ dalam merasul. Seluruh hidup dibaktikan untuk umat. Mereka baru meninggalkan tempat tugas untuk rekoleksi atau retret serta cuti ke negaranya. Yang lain, mereka selalu setia para ‘tourne’.

Dedikasi itu membuat umat tidak pasif menerima. Memang apa yang diterima tentu banyak tetapi apa yang mereka buat sebagai balas budi, jauh lebih besar. Penyerahan tanah ‘tumpah darah’ murah hati, dan memerlakukan gereja sebagai ‘ahliwaris’ adalah sebuah kepasrahan total. Itu berarti Gereja telah menerima dengan cuma-Cuma dari umat. Lalu, apakah pemberian cuma-cuma yang bisa disebut ‘wakaf’ itu bisa dijual? Dalam logika iman kristiani, sambil mengutip ayat suci (Mt 10:8): apa yang diterima dengan cuma-cuma (mestinya) akan diberikan juga dengan cuma-cuma pula.ATAMBUA 6Saksi sejarah, Uskup kedua Indonesia, Mgr Gabriel Manek, SVD. Putera ‘Lahurus’ Atambua, saksi sejarah Gereja Timor. Tanpa Lahurus, tanpa Atambua, tidak ada Gereja Nusa Tenggara

Dalam perspektif ini, mestinya tanah itu tidak dijual. Dalam logika minimal ditambah dengan sedikit penilaian moral, tidak ada hak sedikitpun bagi ‘pejabat gereja’ (bukan Gereja) untuk menjualnya. Karena menjualnya kini, bisa saja mengusik ketaknyamanan warga. Meskipun telah didonasikan oleh leluhur, tetapi kini telah ‘dibisniskan’, maka prosesnya bisa menjadi lebih panjang oleh tuntutan generasi kini. Tapi kalau pun tidak ada yang menuntut, tuntutan moral minimal menunjukkan bahwa tidak mestinya dijual atas alasan apapun.

Jangan Cemas

Ketergantungan pada sumber daya (tanah, pengakuan, dan sejarah) merupakan keuntungan yang dimiliki oleh Gereja. Donasi tanah berlimpah dari umat, adanya pengkuan dan keseganan serta respek yang masih dimiliki umat terhadap para gembala, adalah sebuah keunggulan komparatif. Gereja memiliki sesuatu yang cukup besar dalam jumlah yang banyak (tanah misi) yang bila dibandingkan dengan orang lain, maka Gereja telah menjadi institusi yang cukup kaya.ATAMBUA 5Gereja kini harus meneladani para misionaris yang membaktikan diri seutuhnya untuk Tuhan. Umat tidak tinggal diam. Mereka bakal memberi ‘lebih’ dari yang diterima.

Warisan itu ditambah dengan kesaksian hidup para misionaris yang luar biasa. Banyak imam-misionaris yang jadi ‘orang Timor’, mengambil nama Dawan atau Tetun, hanya karena rasa cinta. Kesaksian mereka ditambah dengan para uskup pendahulu yang luar biasa, telah menambkan sebuah keuntungan yang mestinya hanya bisa dipetik. Lebih lagi karena inti dan kekuatan Gereja adalah pelayanan kasih, bukan kekuasaan apalagi modal.ATAMBUA 1Gereja harus lebih sederhana, berkompetisi dalam pelayanan kasih dan bukannya menjadikan keunggulan komparatif (tanah) sebagai sarana,

Yang mestinya menjadi tugas para pengganti kini (uskup dan imam) adalah menambah bobot dengan sebuah keunggulan kompetitif. Di dunia dewasa ini, kekuasaan, apalagi arogansi kian dipinggirkan. Yang ditampilkan sebagai keunggulan adalan kompetisi diri. Keunggulan kompetitif inilah yang mesti ditampilkan. Lebih lagi, kaum awam telah menjadi sebuah kekuatan. Itu berarti, sejauh pelayanan kasih itu efektif, kekuatan dahsyat umat itu bisa melakukan apapun atas dasar kasih yang sama.

Yang dicemaskan, kekuatan kompetitif itu bisa saja melemah. Kasih yang mestinya jadi pilar utama dalam agama telah menyusut untuk tidak mengatkaan pudar dan melemah. Rasa memiliki umat atas Gereja sebagai institusi berkurang. Perpuluhan atau minimal kolekte yang diharapkan tidak seperti yang diharapkan. Hal itu akhirnya memunculkan inisiatif menjual warisan yang ada. Bisa saja alasannya selain tuntutan untuk adanya pembangunan, juga memiliki tanah dengan pembayaran pajak sementara tidak produktif menjadi alasan lain.ATAMBUA 4‘Hei.. anak muda, jangan lupa kami’…. (Pesan yang bisa ditangkap dari Uskup emeritus, Anton Pain Ratu, SVD

Lalu apa yang mesti dibuat? Hemat saya, rekasi umat mesti dilihat secara positif. Pertama, umat keuskupan Atambua ingin menekankan eksistensinya. Mereka tetap ada, dan karenanya, pemimpin gereja (keuskupan) tidak perlu cemas. Mereka adalah aset yang masih bisa berbuat apa saja demi mengembangkan Gereja yang dicintainya. Protes akan penjualan tanah hanya menunjukkan bahwa di era modern kini, umat adalah asset berharga, lebih tinggi dari sekedar tanah (yang dijual).

Kedua, keluhan hanya mau menyadarkan kaum klerus akan pelayanan kasih yang mestinya dikedepankan. Ketika kasih diberi utuh (dan tidak dijual), maka balasannya itu jauh lebih besar. Kasih ketika dibagi mestinya tidak berkurang tetapi malah bertambah, demikian pesan yang kerap disampaikan dari mimbar. Hal ini harus kembali dihidupi. ATAMBUA 7Berjalan bersama umat lagi, sebuah pilihan yang harus diambil

Ketiga, Gereja diajak dan disapa untuk menjadi miskin. Meskipun ia memiliki, tetapi ia menghambakan diri. Teladan para misionaris, uskup pendahulu, dan banyak awam kaliber telah membuktikan bahwa mereka hidup dalam kesederhanaan tetapi justeru melaluinya, mereka kini kaya oleh berkah.Papan Mgr. ManekHarus kembali ke ‘jalan yang benar’ jalan yang ditunjukkan pendahulu. Inilah jalannya…

Karena itu, ‘konflik’ yang bisa saja terjadi hanya sekedar ajakan untuk mengenang kembali pendahulu, baik Van den Tillaart, Pain Ratu, maupun para imam, suster, bruder yang pernah berbakti. Teladan mereka menunjukkan bahwa mereka berkorban dan tenggelam dalam pelayanan hal mana dinikmati umat sebagai pengabdian dan bukan menjual tanah, warisan yang bukan miliknya seperti yang tengah terjadi kini.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.