MERAYAKAN KERUKUNAN

Merayakan Kerukunan

Menarik menyimak laporan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Agama RI 2016, tentang indeks kerukunan antar-umat beragama. Dari 35 provinsi, NTT menjadi terdepan, disusul Bali dan Maluku.KERUKUNAN 03

Indikator kerukunan tentu tidak sekedar hubungan sosial basa-basi. Bukan pula hanya sikap toleransi dalam arti membiarkan pemeluk agama lain beribadah. Juga lebih luas dari sekedar tolong menolong, meski di NTT, ketua panitia pembangunan rumah ibadah bisa berasal dari umat beragama lain.

Lalu apa sebenarnya yang mendasari praksis kerukunan hidup beragama?

Michael Amaladoss, dalam Making Harmony: Living in a Pluralist World, 2003, menyibak hal mencengangkan. Konflik yang terjadi, tidak bisa dipungkiri, adalah tanggungjawab agama-agama metakosmik, seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha.

Mengapa? Dengan tradisi yang kaya, agama metakosmik (mestinya) menjadi terdepan dalam mempraktikkan nilai kerukunan. Ada kesadaran, Tuhan itu Esa tetapi sekaligus Maha Agung. Yang membedakan adalah banyaknya agama (budaya) yang memiliki kekhasan dalam memahami wahyu.KERUKUNAN 1

Yang menjadi permasalahan, kehadiran agama metakosmik, telah turut menebarkan  konflik. Dengan keyakinan akan kesempurnaan refleksi ajarannya, kerap menganggap diri superior. Pada saat bersamaan,  agama asli sekedar kepercayaan animistik atau dinamistik dengan level apresiasi yang rendah.

Konsekuensi pemberangusan kepercayaan lokal menjadi sejarah kelam. Yang tertinggal, keharusan menerima agama wahyu. Sementara itu, akar budaya yang melingkupi terkikis. Yang hadir di permukaan adalah pendewaan kebenaran doktrinal sekaligus dapat menumbuhkan benih konflik.

Kenyataan itu kemudian diperunyam oleh visi sempit pemuka agama yang sengaja mengobrak-abrik ayat Kitab Suci sebagai dasar pijakan melakuka kekerasan.  Sebuah cara yang mudah, mengingat menurut N. Lohfink/R. Pesch, Weltgestaltung und Gewaltlosigkeit tidak sedikit ayat kitab suci memang berbau teror.KERUKUNAN 02

Tento ungkapan literal kekerasan itu perlu diletakkan dalam konteks. Selanjutnya melalui hermeneutika, ia dipahami dalam konteks yang lebih luas. Tapi hal itu tidak dilakukan karena muatan sosial politis egoistik terlalu diberi ruang.

Praksis Kreatif

Konflik yang menyatu dalam tiap (dan antar) agama merupakan fakta yang perlu dikelola. Dalam bahasa Franklin Dukes (Structural Forces in Conflict and Conflict Resolution in Democratic Society, 1999), konflik merupakan dasar untuk mencapai perubahan sosial. Di balik setiap konflik sebenarnya adanya mengungkapkan rasa saling membutuhkan.

Hal ini bisa jadi penjelasan mengapa Maluku yang selama 15 tahun terjebak dalam konflik, kini menjadi contoh. Luka akibat tragedi dibuka dan dikelola secara bijak. Ia jadi pembelajaran untuk memulai hidup yang lebih aman dan damai.

Pengelolaan konflik itu mungkin karena ada kesadaran bahwa kerukunan itu sudah ada sebelum hadirnya agama metakosmik. Air, kayu, dan batu, demikian Dr. Gregor Neonbasu, SVD dalam Citra Manusia Berbudaya 2016 menjadi simbol yang membantu manusia dalam relasinya dengan Wujud Tertinggi.

Di sana tersibak nilai yang lebih dalam. Simbol alam menjadi pijakan dalam merangkai hubungan vertikal dengan Tuhan. Tidak hanya itu. Hubungan ekologis pun terbentuk oleh relasi saling mengandaikan. Hal yang lebih mendalam, relasi itu terwujud secara nyata dalam hubungan antarmanusia.KERUKUNAN 02

Dalam perspektif ini, bila NTT, Bali, dan Maluku menonjol dalam hubungan antaragama, tentu tidak dilihat sebagi sebuah prestasi kini. Ia mencerminkan sebuah praksis kreatif yang sudah menjadi warisan budaya. Sejak dulu dan apalagi kini,  semua orang hidup rukun karena ‘katong samua basudara’.

Warisan budaya itu mestinya diaktualisir melalui praksis dialog kini. Para pemimpin lintas agama memahami bahwa dialog akan membuka wawasan yang saling menyempurnakan. Rasa superioritas yang memperlakukan yang lain secara inferior dipinggirkan. Yang ada, kesediaan untuk saling belajar, dan secara proaktif turut menyelesaikan masalah kemanusiaan. Di sana perubahan sosial yang diharapkan dapat terjadi.

Selanjutnya dialog itu akan kian kokoh ketika para pemimpin agama secara berani menghadirkan simbol persatuan lewat ada dan mengapa tidak berdoa bersama. Gandhi sudah melakukan hal itu di India. Paus Yohanes Paulus II juga berdoa bersama para pemimpin agama di Asisi Italia, 1986. Mereka memberi contoh bahwa Tuhan itu esa tetapi ia begitu agung karena disembah dalam cara yang tak terbatas. Tetapi jauh lebih bermakna, keagungan Tuhan justeru terbukti lewat ekspresi kerukunan yang ikhlas dan perwujudan keadilan dan perdamaian secara nyata dalam hidup.KERUKUNAN 04

Nilai budaya yang kaya dan praksis dialog kreatif yang dilakukan di NTT, Bali, dan Maluku tentu tidak sekedar dibanggakan. Ia jadi alasan untuk bersyukur karena di tengah aneka konflik, ada simbol menonjol yang sudah terbukti. Prestasi ini perlu kita rayakan. Kita yakin, contoh menggugah akan menggoda semua untuk bertindak.

Robert Bala. Diploma Resolucion de Conflictos, Facultad Sciencia Politicia, Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Artikel ini dimuat di POS KUPANG, Senin 6 Juni 2016.