REKAYASA MANIPULATOR?

Rekayasa Manipulator?

(Di balik Pemilukada DKI)

Bagi tidak sedikit warga NTT, membicarakan kekalahan Ahok-Djarot adalah topik yang menyakitkan. Sejak jagoannya ‘tepar’, bahkan berita TV pun tidak diminati. Antusiasme menjawab aneka postingan di Medsos pun berkurang drastis.

Dengan keterbatasan pendidikan dan minimnya informasi, hanya mengandalkan akal sehat yang mestinya secara minimal dimiliki setiap manusia, diyakini bahwa kinerja menjadi penentu. Atau mengutip Abraham Lincoln, selama Ahok-Djarot diberikan kuasa, mereka telah membuktikan keahlian dirinya.

Tetapi apa yang berada di baliknya? Pembelajaran apa yang bisa diperoleh? Inilah pertanyaan frustratif tetapi minimal dapat mengumpulkan sedikit makna sebagai pembelajaran.

Yakin Menang

Sebuah kenyataan yang secara akal sehat terasa aneh adalah soal keyakinan Anies-Sandi akan menang dalam pilkada DKI. Statemen meyakinkan bahwa di atas kertas kemenangan itu sudah diperoleh. Hanya ‘manipulasilah yang bisa mengalahkan.

Sebuah pernyataan yang sepintas menggambarkan keyakinan begitu kuat. Kita lalu membayangkan peta politik saat pemilukada Surabaya. Prapemilukada aneka survei sudah mengklaim kemenangan Suara Tri Rismaharini-Whisnu Sakti di atas 80%. Popularitasnya mencapai 93% dan elektabilitas mencapai 40an %.

Fakta di lapangan pun tidak beda jauh. Lawannya Rasiyo-Lucy Kurniasari hanya 13.78 persen. Petahana, Risma-Wisnu mencapai 86,22%. Sebuah pencapaian yang nyaris bisa terbantahkan. Kualitas dan kinerja Risma menjadi bukti yang sangat nyata. Lebih lagi tidak ada isu lain dengan menggunakan alasan agama (seperti wanita tidak bisa jadi pemimpin, seperti Megawati dulu) sukses digulirkan.

Dalam kondisi seperti ini, apabila tim Risma-Wisnu mengungkapkan pernyataan adanya manipulasi yang menghalangi kemenangan, maka hal itu bisa dimengerti. Tetapi apa yang terjadi ketika ungkapan itu dilansirkan sendiri oleh tim Anies-Sandi yang bahkan menurut survei beberapa lembaga hanya menang tipis 1%?

Terasa sebuah pernyataan berlebihan. Yang dicemaskan, keyakinan diri yang begitu kuat dapat menjadi pembenaran akan adanya tindakan destruktif yang bisa menyusul apabila jagoannya kalah. Yang disayangkan, pernyataan menjurus seperti itu dilansirkan oleh figur yang mestinya membuat keteduhan. Sebuah penciptaan opini publik menjurus telah dibuat (direkayasa).

Ungkapan tak langsung seperti itu telah menjadi sinyal kuat. Bagi Ahok-Djarot yang tentu saja membaca rekayasa bahasa seperti ini menafsirnya lebih jauh. Apa yang diungkapkan bibir mewakili sebuah strategi di balik yang harus ditanggapi. Kekuasaan yang dikejar tentu saja didambakan agar diperoleh. Tetapi kekuasaan tidak bisa dicapai ‘harga berapapun’. Artinya, apa maknanya sebuah kekuasaan ketika justru keamanan, ketentraman banyak orang justru diganggu malah keamanan umum justru terancam?

Memang di satu pihak manipulasi bahasa seperti ini patut disayangkan. Terasa menyakitkan akal sehat dan relung bening ketika terlihat indikasi bahwa bisa jadi para para manipulator memahami diri sebagai korban. Fakta justru memunculkan kesan bahwa justru di sana sebuah manipulasi bisa saja dianyam.

Keadaan ini tentu tidak bisa diterima begitu saja oleh para pejuang keadilan. Kebaikan mestinya menjadi nilai yang melampaui tuntutan pencapaian kebenaran. Artinya, kebaikan umum dan keamanan masyarakat dan nasib lebih banyak orang lebih diutamakan.

Seimbang: akal-Emosi

Pilkada DKI yang telah selesai meski meninggalkan duka bagi tidak sedikit (untuk tidak mengatakan semua warga NTT) mesti tidak terus menjadi trauma. Ia tidak bisa tertinggal luka yang sekadar dibalut untuk menyembunyikan diri.

Pilkada DKI justru mestinya menghadirkan sebuah pembelajaran. Pertama, manipulasi seperti itu tidak hanya menjadi milik DKI tetapi dalam cara berbeda bisa juga menjadi duri dalam daging dalam dinamika politik NTT. Kerinduan akan pemimpin berani, bersih, terbukti dalam kerja, dalam kenyataannya tidak mudah menerobos kerasnya manipulasi yang masih kuat.

Pembicaraan tentang pemimpin berbobot sebatas wacana karena ketika tiba saatnya justru rekayasa emosi masyarakat yang diutamakan. Untuk masyarakat sederhana dengan pendidikan terbatas tentu tidak bisa dipersalahkan. Keterbatasan analisis telah memungkinkan kekeliruan dalam tafsir. Di sinilah harapan kita pada para pemimpin, negarawan, kaum bijak mencerahkannya.

Sayangnya yang ada justru ‘kepiawaian’ menghadirkan diri sebagai ‘bersih’ di tengah rekayasa manipulatif. Yang terjadi karena itu otak yang ‘lihai’ begitu diberi ruang untuk memanipulasi emosi warga sederhana dan miskin.

Kedua, emosi tidak diberi ruang yang cukup untuk diproses secara baik. Para pemikir politik terlampau mengandalkan bahwa akal sehat adalah satu-satunya faktor penentu. Kinerja seseorang menjadi yang paling utama daripada sekadar lansiran emosional. Video editan ‘Su Buni Yani’ misalnya awalnya tidak begitu diberi perhatian. Ahok misalnya dengan enteng, karena tahu bahwa tidak ada niat’, menjawabnya sebagai sebuah rekayasa belaka.

Perjalanan waktu justru berbeda. Dalam peta konflik, masalah ini bisa menjadi ‘titik berangkat’ yang bisa dikategorikan sebagai sebuah ‘casus belli’. Kasus di mana ia menjadi pijakan untuk terjadi sesuatu yang lebih jauh. Aneka ketidakpuasan yang sudah ditanamkan sebelumnya sebenarnya menunggu agar terjadi kekeliruan ‘sederhana’ yang akan menjadi awal dari sebuah masalah yang lebih besar.

Fakta ini menyadarkan para politisi cerdas, bersih, bermartabat, untuk tidak sekadar mengandalkan ‘akal sehat’. Akal sehat penting tetapi tidak mesti meniadakan upaya menyadari bahwa setiap upaya manipulatif bisa bermula dari hal-hal kecil. Hal ini memunculkan kesadaran bahwa keberhasilan sebuah politik perlu memerhatikan keseimbangan antara keduanya: akal dan emosi.

Akal membuat seseorang untuk hadir bersahaja, menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang transparan dan sungguh menjadi yang pertama menghidupi aneka program. Akal sehat juga membuat seseorang yang membuatnya lebih bersahaja dengan mundur apabila ia sadari bahwa kepentingan lebih besar harus diutamakan.

Tetapi pada pihak lain ia pun sadari bahwa emosi adalah bagian dari diri yang punya logika tersendiri. Ia perlu didengar, diperhatikan, diberi ruang ekspresif dan selanjutnya dijadikan pijakan untuk meretas hal-hal yang lebih besar lagi.

‘Kesukesan’ memainkan bendera agama dalam pilkada DKI misalnya menyadarkan bahwa emosi dengan mudah diikuti. Manusia lebih mudah tersapa dan tergugah oleh ungkapan yang melibatkan rasa. Sementara hal logis yang kerap kering kerap tinggal ide bagus tetapi tidak bisa terwujud karena tidak menyapa.

Hal itu tidak berarti NTT memainkan isu yang sama, hal mana sangat jauh panggang dari api. NTT telah menjadi identik dengan Nusan Terkenal Toleran yang tidak akan mudah terjebak dalam isu agama. Kita hanya diingatkan bahwa faktor emosi masih rentan untuk direkayasa dalam berbagai bentuk, tidak saja dalam bidang agama. Hal itu karena hati adalah bagian yang mudah dimanipulasi.

Tetapi pada sisi lain kita pun disadarkan bahwa akal sehat tidak bisa berdiri megah (mungkin arogan) dengan mengandalkan bahwa semua orang sudah ‘sehat’ akalnya. DKI misalnya menjadi indikator tentang kematangan berpolitik yang mestinya dimiliki. Tetapi pada akhirnya kita disadarkan bahwa ‘hati’ masih menjadi faktor penting. Karena itu, kita harus tetap mengikuti kata hati, tetapi jangan lupa memwa akal sehat kita: Follow your heart but don’t forget to bring your brain with you.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Advertisements