SEBUAH PELUANG BERNAMA INDUSTRI OLAHRAGA


SEBUAH PELUANG BERNAMA INDUSTRI OLAHRAGA

Pos Kupang, 15 Agustus 2017

Ketika team persebata, dalam Piala NTT di Ende ditelantarkan karena tidur di lantai, dengan cepat aneka kritik terhadap pemerintah. Tidak salah juga karena pemda punya segalanya untuk mendukung majunya prestasi olahraga. Tetapi benarkah demikian?

Dalam dunia manajemen, penerapan dalam bidang olahraga dianggap cukup baru. Untuk periode lama, keberhasilan olahraga dipertaruhkan pada upaya atlit dan aneka sokongan selama seseorang berprestasi. Olahraga dikembangkan secara amatiran, seirama hobby pengelolanya.

Namun dengan berjalannya waktu di sadari, industri olahraga sebenarnya sangat menjanjikan. Hasil yang dicapai akan gemilang, ketika ditangani secara profesional. Mengutip Janet B Parks dalam Journal of Sport Management, mengemukakan dengan jelas: Sport management as “ any combination of skills related to planning, organizing, directing, controlling, budgeting, leading, and evaluating within the context of an organization or department whose primary product or service is related to sport and or physical activity”

Di sini terdapat poin penting tentang pengelolaan profesional yang melingkupi perencanaan, organisasi, pengarahan, kontrol, dana, serta kepemimpinan dan evaluasi. Sebuah prestasi cemerlang tidak bisa sejenak diciptakan. Ia butuh perencanaan. Kejuaraan di aneka even nasional misalnya hanya bisa diimpikan setelah aneka proses perencanaan matang digagas.

Ide itu tidak sekali hadir. Gagasan besar kerap harus melewati proses seleksi yang ketat dengan organisasi yang lengkap. Di sana dibentuk organisasi yang menjadi wadah darinya sebuah gagasan dan rencana itu dapat diwujudkan. Dengan oganisasi yang baik, pemikiran itu akan semakin diarahkan ke tujuan yang diimpikan.

Pada tahap ini, pengelola olahraga sangat sadar, sebagai sebuah manajemen, faktor penting penentuk keberhasilan adalah perhatian pada atlit. Kebutuhan, kesejahteraan, dan keamanan, serta kenyamanan sangat dijaga. Hanya dengan demikian ia dapat lebih fokus dalam berprestasi.

Tidak kurang, atlit tidak hanya sebagai ‘objek’ dari manajemen olahraga. Ia justru perlu jadi subjek, pelaku yang bisa merancang sendiri secara profesional kehidupannya. Ia perlu merancang target prestasi sekaligus jaminan masa depan dari bidang olahraga. Hal ini masih menjadi celah dalam dunia olahraga kita. Jatuh miskinnya Elyas Picall hinga akhirnya terjerumus dalam narkoba dan berjuang hidup menjadi satpam, adalah contoh buram dari manajemen olahraga kita.

Di sini kita disadarkan bahwa keberhasilan tidak saja ditentukan oleh budgeting atau dana pendukung tetapi juga ditentukan oleh tata kelolahnya. Kesukses meraup uang jutaan malah ratusan juta rupiah mestinya dikelola secara baik. Dalam banyak kasus, atlit yang sukses mendulang uang, hidup melimpah kekayaan dan akhirnya jatuh dalam kemiskinan oleh salah kelolah.

Pada akhirnya manajemen olahraga akan sukses ketiak didukung oleh evaluasi kontrinyu. Bahan evaluasi akan dijadikan dasar dalam menentukan strategi baru. Fleksibilitas seperti ini hanya mungkin ketika disokong oleh kepemimpinan demokratis yang selalu terbuka terhadap evaluasi dan tanggap menentukan strategi baru.

Di atas seluruh proses ini baru kita bisa berharap akan adanya hasil yang memuaskan. Sebaliknya impian sekilas tanpa proses kuat, sudah dipastikan hanya sekedar bunga tidur di siang bolong. Ada impian memeluk gunung prestasi, apa daya tangan tak sampai.

Perlu Manajemen

Ketidakberhasilan pencapai target dalam olahraga mapun keterlantaran pera pemain sebagaimana terjadi pada pentas Olahraga NTT baru-baru ini, sebenarnya menggambarkan bahwa pengelolaan olahraga kita masih jauh dari harapan. Hal itu tentu tidak saja tidak memersalahkan pemerintah (meski tidak bisa disangkali perannya), tetapi menjadi bahan refleksi, dalamnya swasta mengambil peran yang sangat penting.

Pertama, pemerintah tentu saja memainkan peran penting. Dengan kekuatan modal dan tenaga (sumber daya manusia), pemerintah perlu menciptakan kondisi yang dapat memungkinkan roda ekonomi olahraga dapat berkembang.

Untuk proses ini, peran menentukan pemimpin pada induk organisasi olahraga dengan menempatkan figur profesional tanpa adanya intrik politik atau pertimbangan sesaat (yang tentu saja juga sesat) sangat dihindarkan jauh. Dalam banyak kasus, kemerosotan olahraga disebagkan oleh karena figur yang mengepalainya bukan merupakan ‘the right man’. Mereka hanya menempati posisi strategis oleh ‘kedekatan’.

Kemerosotan utama olahraga di NTT, harus diakui, berawal dari sini. Dengan masih digadang-gadang sebagai provinsi terkorup, sangat boleh jadi membenarkan bahwa bahkan dalam pemilihan pemimpin olahraga pun telah dinodai oleh intrik koruptif.

Kedua, kemunduran olahraga di NTT juga disebabkan oleh lemahnya manajemen even olahraga. Roda ekonomi mestinya dapat bergulir dan mendatangkan kebermanfaatan ekonomis. Itu berarti even olahraga tidak dikelola sebagai permainan belaka tetapi didukung oleh faktor ekonomis yang menunjang. Hadirnya penonton misalnya menjadi sebuah peluang disejajarkan bisnis tambahan yang bisa dimanfaatkan pada kesempatan dimaksud.

Harus diakui, pihak swasta sangat profesional dalam mengelola even. Pengalaman dalam bisnis membuat swasta akan berpikir komprehensif dengan pengelolaan profesional. Perencanaan akan sangat matang, oganisasi akan dikelola dengan meminimalisir resiko, kepemimpinan yang kuat, serta evaluasi yang terencana serta tindak lanjut memerhatikan kesimpulan yang diambil merupakan langkah strategik yang menjadi domain swasta.

Peluang atas hal ini sangat terbuka di NTT. Yang menjadi Kendal, dalam banyak aspek, tidak sedikit pengusaha yang justru mendapatkan ‘kemudahan’ mengelola event olahraga, dalam kenyataan merupakan ‘pengusaha proyek’. Mereka menjadi ‘besar’ bukan karena usaha tetapi karena ‘dibesarkan’ oleh proyek hadiah pemerintah. Akibatya event olahraga yang seharusnya menjadi ladang kesuksesan, jatuh lagi ke dalam pragmatisme yang memilukan.

Ketiga, perlunya manajemen fasilitas olahraga. Keberhasilan olahraga maupun bisnis olahraga juga ditentukan oleh fasilitas yang memadai. Mengharapkan banyaknya penonton hadir dalam sebuah pertandingan, tentu tidak bisa dilepaskan dari jaminan fasilitas. Fasilitas kolam renang, sport centre, fitness centre, gelanggang olahraga, sangat dibutuhkan karena jadi ajang di mana potensi olahraga dapat dikembangkan.

Yang menjadi keprihatinan, selain minimnya fasilitas olahraga, kendala manajemen fasilitas masih menjadi kendala yang memprihatinkan. Fasilitas olahraga yang dibangun dilakukan sekedar mengejar proyek tetapi tidak disertai pemikiran strategis untuk mengelola fasilitas itu secara baik.

Di banyak kabupaten, fasilitas megah olahraga seperti GOR atau Kolam renang dibangun dengan anggaran besar tetapi minim pengelolaan dan penjagaan. Di sini pemerintah masih lupa bahwa pengelolaan profesional harus dilakukan dengan pola manajemen swasta. Artinya, kalau pemerintah tidak kompeten dalam pengelolaan, tidak ada salah kalau diadakan kerjasama dengan swasta agar pengelolaan dan penjagaan itu bisa lebih dilakukan.

Gambaran dan analisis ini hanya menyadarkan bahwa bisnis olahraga menawarkan peluang yang besar. Sebuah peluang yang hanya bisa dimanfaatkan ketika antara pemerintah dan swasta bekerjasama secara profesional. Hasil olahraga akan tercapai ketika tantangan itu dikelola secara potensi dan peluang. Bila proses ini bisa digagas, dijamin, hasil berupa juara akan segera datang.

Robert Bala. Ketua Yayasan Koker Niko Beeker, Penyelenggara Sekolah Keberbatakan Olahraga Swasta San Bernardino – Lewoleba – Lembata.

Advertisements