Teologi Elang-Musang

Teologi “Musang” dan “Elang”

Tahun 2015 memiliki makna yang sangat khusus bagi masyarakat di Atawolo Lembata. Sebuah kampung yang hanya berpenduduk 341 jiwa tetapi mampu membangun sebuah Gereja megah senilai 1,5M. Gereja yang akan ditahbiskan oleh Mgr Frans Kopong Kung pada tanggal 5 Juli punya makna yang sangat khusus.

Mengapa sehingga bangunan megah yang dibangun hanya dalam 2 tahun oleh swadaya masyarakat itu dapat terwujud? Nilai teologis apa yang menjadi kekuatan? Inilah pertanyaan menggugah hal mana ingin dijawab dalam tulisan ini yang tidak lain juga merungkapkan summary dari buku yang diterbitkan oleh Penerbit Koker (Nicko-Beeker) untuk event ini: Lame Lusi Lako, tulisan Thomas B. Ataladjar.

Buku dengan editor Robert Bala ini selain mengangkat latar belakang perjalanan suku-suku di selatan Lembata juga menjadi penjelas, mengapa orang Atawolo bisa begitu bersatu padu dalam membangun Gerejanya, hal mana menjadi sebuah pembelajaran.

Dua Kekuatan

Leonardo Boff dalam Teologia de la Liberacion mengangkat dua simbol yang menggambarkran yang semestinya dalam beragama. Kehidupan orang beriman harus seperti elang (aguila) dan ayam betina (gallina).

Dengan figure elang dimaksud sebuah ilusi, angan, dan hasrat tinggi yang mestinya dimiliki oleh tiap orang beriman. Ada harapan akan sebuah kehidupan yang lebih baik. Harapan itu selanjutnya tidak boleh kosong. Ia menjadi kekuatan yang mendorong orang untuk terus melangkah di tengah realitas yang kontrdiktoris.ELANG MUSANG2

Dengan figur ayam betina diharapkan bahwa sebuah agama harus ‘mendarat’. Ia harus membumi lewat hal-hal nyata. Malah ia menjadi titik berangkat dari setiap peristiwa keagamaan dan peristiwa iman. Orang sederhana misalnya niscaya diajarkan tentang Tuhan “Yang maha Tinggi” kalau tidak mulai dengan hal nyata.

Simbol yang diangkat Boff, juga menjadi sebuah simbol nyata di sebuah kampung bernama Atawolo. Kampung itu juga dikenal sebagai “Lusi Lame” yang semestinya lebih lengkap sebagia “Lame Lusi Lako”. Di sana ada gambaran dua binatang: lusi (elang) dan lakor (musang).

Kedua binatang ini memiliki peran sangat besar bagi persatuan. Dikisahkan, setelah tragedi ular yang memangsa anak kecil dan akhirnya terbunuh, muncullah bau menyengat yang membuat orang melarikan diri dari bukit Atawolo.

Di tengah keterpecahan itu, hadirlah dua binatang: luher dan lakor yang menyapa semua suku untuk kembali ke bukit (wolo). Mereka sudah terlahir sebagai orang bukit (Atawolo) dan di sana mereka harus terus mewujudkan dirinya.

Seruan itu ditanggapi oleh 15 suku. Mereka hadir dan membentuk satu kesatuan persaudaraan. Ke 15 suku itu kemudian menyatu dalam sebuah frase: LAKO (Lamalangun-Koleh)-LUHE (Luon-Henakin)-HUWI (Huar-Witin)-DOHI (Dolun-Hipir)-KAME (Karangora Lamaroning-Mehan)-NULA (Nuban-Ladjar) –TOU (Tolok-Laba Nobeng Unarajan), dan NA (Namang).

Bersatu

Di atas kesadaran akan persatuan yang tidak saja pada masa lampau tetapi juga pada masa kini, maka pada tahun 2012, tercetuslah pikiran untuk membangun sebuah Gereja. Sayangnya, setelah setahun, ide itu baru terwujud. Pada tahun 2013, semua orang Atawolo baik yang di “Lewotanah” (341 orang) maupun lewopana bersepakat untuk memberi dari apa yang dimiliki. Dimulailah dibuat komitmen masing-masing orang. Petani dan anggota Satpam misalnya sudah mamatok Rp 3 juta rupiah untuk dicicil selama dua tahun. Tidak hanya itu. Orang ATawolo yang menyebar di Lewoleba, Hokeng, Larantuka, Maumere, Mbai, Manggarai, Timor, Kalimantan, Singapura, Batam, Singapura, dan Jakarta (sekedar menyebut beberapa nama) mengamini untuk memiliki sebuah gereja.

Proses itu berjalan begitu cepat. Hanya dalam waktu 2 tahun, telah terbangun sebuah Gereja megah. Hal yang membanggakan bukan pada kekuatan masyarakat yang rela memberi dari kekurangan. Lebih lagi karena masyarakat menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan teologis mendalam yang tidak secara kebetulan dijadikan simbol oleh leluhur.ELANG MUSANG

Yang dimaksud, sebuah panggilan untuk menyadari kekayaan teologis yang dimiliki. Sebuah keagamaan menjadi utuh karena apa yang diharapkan dalam iman dan diyakini sebagai kehidupan kekal penuh bahagia tidak tinggal sebagai janji yagn nanti diwujudkan tetapi sudah terbukti kini di atas bumi.

Dua model saling mengandaikan ini sekaligus menjadi kritik terhadap banyak ide atau niat besar yang disampaikan tetapi nyaris mendapatkan perwujudan. Kini masyarakat di Selatan Lembata menghadirkan sebuah contoh menggugah. Sebuah iman tidak mesti terbatas pada kata-kata tetapi juga perlu diejawantahkan dalam perbuatan.

Selain itu, kehadiran dua simbol teologis: elang dan musang, menjadi sebuah kritik pedas atas masyarakat kita yang begitu terpecahbelah. Niat politik memperoleh kekuasaan kadang harus mengorbankan nilai persaudaraan. Dengan demikian kehidupan bersama menjadi tak seharmonis yang diharapkan.

Hal itu berbeda dengan “Luher” dan “Lakor”. Meski berbeda secara alam, yang satu terbang di atas dan yang lainnya ‘hanya’ di bawah. Tetapi hal itu tidak membuat mereka saling konflik. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi. Masyarakat Atawolo karena itu menghadirkan kini sebuah contoh tentang persaudaraan sejati. Kalau hewan saja bisa bersatu, apalagi manusia. Inilah rahasi dari “Luher” dan “Lakor”. Profisiat Atawolo. Profisiat Lusilame.ELANG4

Robert Bala. Pemerhati Sosial Budaya. Tinggal di Jakarta.