Dari Hadakewa ke Lewoleba

Dari Hadakewa ke Lewoleba

(Kisah Perjuangan 1954-1999)

robertOleh Robert Bala

Suara Lembata, Maret 2011

Statement 7 Maret yang ditandatangani di Hadakewa, bila diibaratkan dengan bayi, kelahirannya mendatangkan aneka reaksi.Tidak sedikit yang menantang, yang sebagian besarnya justru berasal ‘dari dalam’. P.M de Rosari Anggota DPRD Flores yang mewakili Lembata salah satunya yang menuhu inisiator Statement 7 Maret sebagai ‘orang gila’. Ia bahkan kemudian mencek ke setiap hamente tentang kebenaran ‘Statement’ tersebut.Tantangan juga datang dari Partai Katolik SubKomisariat Florest Timur dengan ketuanya F.K Fernandez, yang secara sengaja tidak membawa aspirasi masyarakat Lembata dalam musyawarah di Tingkat Flores.

Tapi, dukungan tidak kurang. Seorang putera Lembata, Yan Kia Poli, Kepala Kantor Agama Flores (yang baru pindah dari Makasar), justru bertindak sebaliknya. Baginya, perjuangan itu sangat mulia, dan ia berjanji untuk ‘berjalan di depan’ mendukung pernyataan bersama itu. Keberaniannya yang mendorong insiator untuk menyerahkan mandat itu kepada mantan Ketua DPRD NTT.

Yang mencengangkan, Kepala Daerah Flores, L.E. Manteiro yang mengunjungi Lembata sesudahnya bahkan sangat mendukung. Ia berjanji akan ‘memperhatikan’ dan keinginan itu akan diakomodasi dalam UU Desentralisasi dan Otonomi yang akan dibentuk.

Dukungan juga datang dari Sarimin Sudiharjo, gubernur Sunda Kecil yang berkunjung ke Lembata. Ia secara khusus mengungkapkan kepuasan akan perjuangan itu dan berjanji ‘memperhatikannya’.

Tindak Lanjut

Dukungan (dan tantangan) tidak membuat deklarator Statement 7 Maret berpuas diri. Keberhasilan hanya ditentukan oleh masyarakat Lomblen sendiri (bukan menunggu hadiah).

Empat bulan sesudah deklarasi, diadakan Konferensi Kerja I di Hadakewa (22-25 Juli 1954). Intinya menyusun renacana kerja, pembagian wilayah, dan terutama penyerahan mandat perjuangan ke Yan Kia Poli. Konferensi II dan III secara khusus mengevaluasi perjalanan ‘Statement 7 Maret’ dan secara proaktif menyerahkan program itu ke pemerintahan daerah Flores, Swapraja Larantuka dan Adonara.

Pada saat itu, rencana kelihatannya memberikan ‘harapan’ yang jauh lebih besar. Pasalnya, Yan Kia Poli, pemegang mandat, menjadi anggota DPRD Propinsi mewakili Lomblen. Sementara itu P. Gute Betekeneng dan P.S. Bediona menjadi anggota DPRD Flores.

Seirama dengan ‘suara’ yang kian didengar, di Lembata digelar Konferensi Kerja IV yang berlangsung di Lewoleba (9-11 Juli 1957). Intinya, menghendaki agar Lomblen menjadi daerah Swantara (setingkat kabupaten) dengan ibu kotanya Lewoleba.

Sementara itu, Konferensi V yang berlangsung di Leuwayang Kedang (2-4 Juli 1961), membicarakan hasil Konferensi Partai Katolik seluruh Indonesia di Yogyakarta (yang diwakili P. Gute Betekeneng dan P.S Bediona) yang intinya membubarkan SubKomisariat Lembata karena sesuai kesepakatan, hal itu hanya meliputi satu kabupaten.

Ke Lewoleba

Semenjak tahun 1960, geliat prospektif Lewoleba mulai dilirik. Keberadaan misi yang sudah lebih dahulu ada mendorong pemerintah untuk ‘beralih’ dari Hadakewa ke Lewoleba, demikian kisah Anton Dolet Tolok (16/2/11).

Peralihan ini ‘dirayakan’ secara khusus lewat gerak jalan dari Hadakewa ke Lewoleba. Hal ini dilaksanakan selain untuk menghidupkan kembali ‘Statement 7 Maret’ yang ditandatangi di Lewoleba, tetapi terutama untuk membangkitkan kaum muda bahwa usaha itu akan menjadi lebih berhasil ketika beralih ke Lewoleba. Di sana peran pemuda untuk meneruskan perjuangan itu sangat dinantikan.

Upaya itu sungguh nyata di  Lewoleba. Di sini, P. Gute Betekeneng mulai meretas panitia swasta pusat perjuangan rakyat Lomblen yang diketuai P. Gute Betekeneng. Juga dibentuk kemudian Panitia Pembentukan Daerah Tingkat II Kabupaten Lomblen (P3DKL) tahun 1961-1967) yang diketuai P.S. Bediona.

Pada sisi lain, dibentuk panitia persiapan yang diketuai M.A. Rayabelen yagn dengan tujuan membangun prasarana berupa kantor, rumah jabatan, dan rumah pegawai di Lewoleba agar menjadi lebih layak dilakukan. Panitia ini kemudian dijadikan permanen dan diketuai oleh utusan pemerintah waktu itu, Drs. B.L Boli Toby.

Di Lewoleba, arah perjuangan semakin mendapat titik terang. Theo Toran Layar yang menjadi Koordinatorschap Lembata menyiapkan tahapan yang perlu untuk akhirnya Lembata memperoleh Koordinatorshcap pada tanggal 18 September 1968 dengan koordinatornya H.A Labina.

Proses perlahan pun dilaksanakan dan kemudian dilanjutkan oleh Drs. B.L. Boli Toby , dan seterusnya diambil alih oleh H. Sumarmo, SH. Setelah, Koordinatorshap diganti nama menjadi Pembantu Bupati Flores Timur untuk wilayah Lembata dengan Drs. P.B Letor sebagai pimpinannya.  Ia kemudian diganti oleh oleh Antonius Patimangoe. Drs Philipus Riberu selanjutnya mengambil alih dan diserahkan kemudian ke Drs. S.S Betekeneng. Jabatan ini berakhir pada Drs Stanis Atawolo karena sesudahnya Lembata menjadi Kabupaten.

Dari Lewoleba juga, akhirnya komunikasi diintensifkan. Sambutan dari Jakarta yang siap mewujudkan impian lembata, menjadikan momen yang dinantikan pun tiga. 12 Oktober, sebuah tanggal yang sungguh dinantikan. Ibarat Amerika Latin menemukan dirinya 12 Oktober 1492, demikian Lembata juga pada tanggal dan bulan yang sama, 12 Oktober 1999, menemukan dirinya yang aslinya.

Lalu?

Apakah amanah 7 Maret ini masih terus dijaga? Apakah sesudah “Lewoleba’ tidak ada impian lagi untuk maju?

Tidak mudah menjawab ini. Tapi kalau kita lihat ‘roh’ 7 Maret mestinya masih hidup. Bukan kebetulan kalau tokoh paling menentukan di balik perjuangan ini, Petrus Gute Betekeneng, masih hidup dan mengikuti semua proses ini dengan sangat mendalam. Dengan demikian, sesungguhnya pemimpin yang hendak maju melanjutkan amanah ini, mestinya tidak hanya berniat baik, tetapi perlu menyatukan niat sekarang dengan harapan waktu itu.

Jelasnya, mestinya Gute Betekeneng punya jawaban, bukan saja bagaimana membangun Lembata tetapi siapa yang mestinya melanjutkan estafet ini.

Advertisements

3 Responses to Dari Hadakewa ke Lewoleba

  1. Niko says:

    Selamat Opu, ternyata Suara Lembata terbit lagi. Apakah ini lanjutan terbitan waktu yang lalu atau terbit dengan format baru sama sekali? Sejak kapan terbitnya dan bisa saya dapatkan dimana? Mungkin saja saya bisa menulis sesuatu di wadah ini. Saya juga punya catatan wawancara dengan Bapa Kepala Nuba Mato Koban tentang Statemen 7 Maret, ketika saya pulang libur belasan tahun lalu sebelum beliau meninggal. Ternyata dia juga salah satu pelaku yang hampir terlupakan, mungkin baik juga kalau dipublikasikan di Suara Lembata. Sekali lagi selamat dan terima kasih. Salam, Niko

  2. robert25868 says:

    Terimakasih ama. Suara Lembata sudah terbit lagi bulan Maret yang lalu. Edisinya cukup meledak. Kebetulan berkaitan dengan pemilu kada di Lembata jadi kita ingin agar para kandidat tidak melupakan akar sejarah.

    Rencannya edisi berikut akan muncul awal Mei ini. Sore ini ada rapat redaksi sehingga akan lebih spesifik rencannaya. Kalau ama ada bahan, silakan kirim, nanti akan dipublikasikan apalagi kalau hal itu sangat penting mencakup kesaksian sejarah.

    Begitu saja ama.
    Salam
    Robert Bala

    • Niko says:

      Terima kasih infonya opu, dan proficiat untuk Team Suara Lembata. Tentang wawancara dengan Bapa Nuba Mato akan saya tulis kembali dan mengirimnya. Sekali lagi selamat dan terima kasih.

      Salam,
      Niko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s