Jangan Karena Pilkada, Kita Ricuh

Jangan Karena Pilkada, Kita Ricuh

Suara Lembata, Maret 2011

Pemilukada Lembata sebentar lagi digelar. Apakah masyarakat sudah siap? Apakah pengalaman kegagalan Flores Timur dalam melaksankan pemilukada akan terjadi di Lembata?  

Di tengah kesibukan para camat Lembata menghadiri Bintek Peningkatan Kapasitas Camat dalam Menangani Konflik Pertanahan di Wilayah Kerja Camat, Suara Lembata coba mewawancari lima camat dari Kabupaten Lembata.

Masyarakat Dewasa

Melihat pengalaman ‘gagalnya’ Flores Timur, Frans Gewura Langobelen, Camat Nubatukan melihat kritis. Kita tidak bisa sekedar membandingkan, apalagi meramalkan, Lembata bakal melewati masalah yang sama. Apa yang terjadi ‘di sana’ tidak bisa ditarik kesimpulan, bakal terjadi ‘di sini.’ Hal yang membuat kita optimis bahwa tidak terjadi di Lembata, karena masyarakat kita sudah lebih dewasa.

Hal yang sama dinyatakan, Markus Labi Waleng. Camat yang cukup muda dan sangat gesit ini mengakui adanya kedewasaan masyarakat. Masyarakat kita sudah sangat paham akan mekanisme yang terjadi. Mereka juga cukup cerdas dalam membaca aneka ‘permainan’ sehingga mereka akan sulit terpancing. Namun demikian, ungkap camat asal Watuwawer ini, semua elemen yang terlibat dalam pilkada, harus ikut campur tangan. Bila ada masalah, hal itu harus diselesaikan secara baik dan benar.

Kematangan itu juga dilihat oleh Lazarus Teka Udak. Camat Omesuri itu mengungkapkan contoh yang sangat sederhana. Masyarakat yang dewasa tidak akan mudah mencampuradukan kepentingan. Bila itu masalah antara “Kewa” dan “Boli”, maka hendaknya tidak ditiupkan menjadi isyu yang lebih besar. Dari situ, masyalah yang tadinya kecil, tidak akan dibesar-besarkan.

Menjaga Lembata

Menyinggung kemajuan yang sudah dicapai, Mahmud Rempe, camat Buyasuri menilai, adanya kemajuan. Contohnya, jalan yang melingkari Kedang, hampir sudah dinikmati bersama. Tetapi bagaimana pun, ukuran seperti ini tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya indikator.

Tentu ada orang yang bisa berpendapat lain. Tapi apa pun pendapatnya, demikian Rempe yang sebelumnya awalah sekwilcam Wulandoni mengakui, sikap positif perlu ditingkatkan. Siapa pun kandidat yang maju di pilkada misalnya, tidak hanya mengkritik hal negatif yang masih ada, tetapi harus memberikan alternatif bagaimana memperbaikinya.

Senada denga Rempe, Stefanus Talu, camat Ile Ape Timur menilai upaya positif itu sangat terlihat di Ile Ape Timur. Sebagai kecamatan baru, masyarakat berusaha agar pengalaman yang kurang baik tidak diulang lagi. Pelbagai pendekatan dilakukan, aneka masalah diselesaikan, dan sikap saling membantu diutamakan. Hal itu akan menjadi sebuah ketahanan ke dalam yang sangat penting bagi masyarakat dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan bersama.

Isu Sentimen Wilayah

Menyinggung adanya upaya mengangkat sentimen wilayah dalam pemilukada, diakui Lazarus Teka Udak, ada. Setiap kandidat pasti membutuhkan dukungan dari lingkup keluarga dan kelompok yang paling dekat yakni wilayahnya. Tetapi, ujar Teka, dengan hadirnya 11 kandidat ke pentas pemilukada, isyu itu perlahan membuyar. Di setiap daerah terdapat lebih dari satu kandidat. Malah untuk wilayah Kedang, terdapat lebih dari lima kandidat. Di sini, secara tidak langsung telah membuyarkan sentimen wilayah itu.

Senada dengan Lazarus, Markus Labi Waleng melihat lebih jauh. Isyu yang digulirkan kandidat, tidak banyak mendapat sambutan dari masyarakat setempat. Bahkan bila isyu itu sekedar ditiupkan, masyarakat juga yang bali mempertanyakan kandidat. Bagi mereka, sentimen “Paji-Demon”, “Kawan-Musuh”, sudah ketinggalan zaman. Kita harus lebih mengupayakan persatuan daripada membesar-besarkan perbedaan.

Dalam bahasa sederhana, camat lulusan Fakultas Hukum Unwira Kupang menekankan, Jangan hanya Pilkada kita retak. Pilkada hendaknya dinilai sebagai hal lumrah dalam perhelatan. Setiap orang yang ingin maju, hendaknya juga siap kalah. Demikian juga Frans Gewura. Baginya, kandidat yang gagal, hendaknya tidak berhenti membangun Lembata. Ini adalah pertandingan yang harus kita laksanakan secara ‘fair’. Yang kalah, harus menerima. Yang menang, mestinya tidak tenggelam dalam eufori kemenangan tetapi terus mengisi hari-hari dengan membangun Lembata ke arah yang lebih baik.

Bangun Dari Desa

Tentang pembangunan dari desa, Frans Gewura dan Markus Lagi sangat tegas dalam pernyataannya. Bagi Gewura, setiap kandidat yang akan memimpin Lembata, hendaknya membangun konsolidasi dari Desa. Desa harus dikembangkan sehingga menjadi kuat. Kalau Desa kuat, maka Lembata secara keseluruhan akan menjadi lebih kuat.

Markus Labi Waleng, punya kiat yang sangat sederhana. Camat yang sudah 8 tahun di Wulanduni ini punya cara yang ampuh. Setiap masalah di desa harus diselesaikan di desa. Kalau kita bisa selesaikan bersama, mengapa harus membawanya ke tingkat yang lebih tinggi seperti pengadilan? Cara seperti ini, ungkap Markus, sejalan dengan Bintek Peningkatan Kapasitas Camat dalam Menangani Konflik Pertanahan yang sedang diikuti di Jakarta. Masyarakat kita harus disadarkan bahwa setiap konflik lebih baik diselesaikan ‘empat mata’ ketimbang di bawah ke tingkat yang lebih tinggi. Kalau kita selesaikan secara kekeluargaan, maka selain masalah itu berakhir, juga kita mengambil hikmahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s