Lari Toleh – Lari Toleh

Lari Toleh – Lari Toleh

(Suara Lembata Edisi Maret 2011)


Saat membaca berita di Pos Kupang (18/2) bahwa ada 11 kandidat yang ingin maju sebagai Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati, secara spontan saya menaruh tangan di atas dahi (ekspresi capeh deh). 

Apakah ini pratanda baik di mana terdapat begitu banyak orang Lembata yang ‘rela berkorban’ demi Lewotana? Kalau ini motivasinya kita berucap: “deo gratias” (syukur kepada Allah). Tetapi apa yang terjadi bila yang dicari bukan pemberdayaan masyarakat?

Korban Ikhlas

Awal sebelum kemerdekaan dan hingga tahun 1954, ada tokoh ikhlas dengan hati bening melihat gelagat yang kurang baik. Politik kolonialisasi Belanda berusaha memecahbelahkan Lomblen dalam dualisme: Paji-Demon.

Ada aneka dendam, iri hati, dan pikiran negatif terhadap lainnya. Ada perselisihan dan waspada yang selalu muncul. Situasi masyarakat terobrak-abrik dalam ketidakpastian. Belanda tersenyum. Niat “devide et impera” (pecahbelahkan baru kuasai) tercapai.

Hal itu dibaca inisiator Stament 7 Maret, Petrus Gute Betekeneng, dkk. Dengan semangat tanpa menyerah, mereka lansirkan dialog tidak saja secara internal (Partai Katolik pimpinan) tetapi juga dengan Partai Masyumi (Mas Abdulsalam Sarabiti) waktu itu. Mereka berdialog didasarkan pada kesadaran, upaya pemecahan tidak akan ‘sukses’ kalau secara ke dalam kita kuat.

Upaya itu tentu tidak sedikit. Kita bayangkan, Petrus Gute Betekeneng mengelilingi Lomblen untuk menyosialisasikan pentingnya Lembata menjadi Subkomisariat Partai Katolik cabang Lembata, terlepas dari Flores Timur.

Tidak sedikit kata cercaan yang diperoleh. Ia dinilai ‘gila pangkat’ ‘cari kursi’ dan celaan lainnya. Semuanya diterima dalam bisu. Mereka tahu, meski celaan itu ‘benar’ sekalipun, apa sebenarnya yang bisa diharapkan dari sebuah kursi di daerah ‘kering’? Ia jauh dari ‘kursi basah’.

Hal yang sama saat terjadi perjuangan Otonomi Daerah. Suara ingin ’merdeka’ ibarat ”Kavila” terus berjalan bila orang yang di tanah rantau tidak punya kepeduliaan. Semua masih sibuk ’cari makan’. Dengan itu, sebesar apa pun perjuangannya tidak akan berhasil.

Memang ada tokoh yang sudah ’mapan’ secara ekonomi politik waktu itu. Sudah ada jabatan dan sebenarnya bisa berbuat sesuatu memperjuangkan Lembata. Ia punya peluang dan tentu saja dana. Tetapi semua melihat dari jauh. Perjuangan itu dianggap sia-sia. Mereka berdiri melihat dari kejauahan.

Jelasnya, pengorbanan panitia Jakarta sangat diapresiasi. Anton Tifanona, sang brigjen purnawirawan menjadi salah satunya. Ia tidak bermaksud apa pun untuk menjadikan Lembata sebagai ’tempat pensiunan’. Ia memimpin delegasi itu untuk mewujudkan impiannya.

Anton Tifaona tidak berjuang sendiri. Di sampingnya ada tokoh muda yang siap berkorban demi Lembata. Paulus Doni Ruing dan Thomas Ataladjar sempat dipecat dari pekerjaannya gara-gara ’bolos kerja’ memperjuangkan Lembata berdiri sendiri. Bagi mereka tidak ada niat apa-apa untuk memperoleh sesuatu dari Lembata. Yang ada, hanyalah upaya mengingat bahwa sebagai orang Lembata di Lewopana mereka harus berbuat sesuatu untuk Lewopanda.

Balas Budi?

Lalu, apakah dengan itu, kita harus balas budi kepada siapa pun yang pernah berjuang? Apa kita harus membalas budi Petrus Gute Betekeneng, Anton Tifaona, Polce Ruing, Thomas Ataladjar?

Tentu pertanyaan itu terlalu sederhana. Setiap orang yang berjuang, tidak pernah terlintas di benaknya untuk mendapatkan kembali apa yang diperjuangkan. Ia ibarat Musa yang mengantar bangsa Israel ke Tanah Terjanji tetapi harus ’berhenti’ di kejauhan.

Tetapi perlu diingat, korban yang sudah, mestinya tidak dilupakan. Teringat satu pesan dalam kebijakan lokal: Kenangkan Ingat, Lupakan Jangan. Dalam bahasa Soekarno, Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah (Jas Merah). Artinya, supaya kita sukses ke depan, kita harus menoleh (ke belakang tentunya) untuk mempertanyakan APA YANG SUDAH DIBUAT. Saat Lembata belum apa-apa, APA YANG SUDAH DIBERIKAN UNTUK LEWOTANA? Saat Anda memiliki kedudukan, apa yang dibuat untuk Lembata waktu itu?

Pertanyaan ini penting. Mendekati kampanye, ’seni mengibuli’ dalam kampanye itu laris manis. Orang berusaha menebar pesona, menjual janji, dan mengobral celoteh murahan. Mereka ingin tampil beda dan dibanggakan oleh siapa pun karena sukses dengan retorika penuh kibul. Tepuk tangan diperoleh. Tetapi apa yang akan terjadi?

Bila janji didasarkan pada sesuatu yang akan datang, maka hal itu perlu dicurigai dan dipertanyakan. Mengapa janji itu begitu manis diucapkan? Mereka mereka begitu ’berkoar-koar’ dan ’murah hati’ membagi rezeki pada hari ini?

Semuanya tentu ada maksudnya. Udang di balik batu ternyata ada. Korban yang baru diberikan sekarang terutama saat sosialisasi adalah hal yang bukan gratis. Semuanya dibuat ’dalam rangka….’. Dengan demikian jangan lupa, tidak ada dana yang gratis dikucurkan demi ’cinta Lewotana’. Semuanya punya maksud. Atau dalam bahasa Jakarta: ’Maksud lho…..”

Demikian celoteh siang dari seorang Ibu. Tidak ada hasrat apa-apa selain harapan agar Lembata menjadi lebih cemerlang, dipenuhi politisi yang punya nurani dan punya korban ikhlas.  Untuk hal ini orang Lembata tentu tahu. Mendekati pemilu kada mereka akan ’lari toleh, toleh lari toleh’ (seperti syair sebuah Lagu Dolo) guna melihat apa sich yang sudah dibuat masa lalu para kandidat itu? Salam. (Maria FK Namang).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s