‘Terkutuklah’ Mereka yang Memecahbelahkan Lembata


“TERKUTUKLAH” MEREKA

Yang Memecahbelahkan Lembata

robertOleh:  Robert Bala

(Suara Lembata edisi Maret 2011)

Alkisah, ada seorang lelaki, (sebut saja namanya Taru Bala). Asalnya dari sebuah desa yang saat itu termasuk wilayah Paji. Karena tuntutan, ia harus mengantar bekal untuk keluarganya yang lagi belajar di Hadakewa. Sayangnya, untuk sampai ke sana, ia harus melewati daerah ‘Demong’. Di sana, hanya karena ia bersal dari Paji, kesalahan kecil yang dibuatnya harus dibayar dengan nyawa.Dendam itu berlanjut. Sikap saling menunggu kesempatan terus dijalin hingga suatu saat, ketika berada di Nuwa Lolo (Tanjung Boba), balas dendam pun terjadi. Baha Pereto (sebut saja namanya), membalas dendam, membunuh seorang bapak, hanya karena berasal dari Demong.Roh dendam dan murka terus membara. Kepada anak sekolah pun ditanamkan sikap waspada. Ada ancaman yang selalu mencekam. Sikap saling membalas dendam terus muncul, hingga menjadikan Lembata yang kecil, menjadi terobrak abrik oleh lingkaran balas dendam.

Sengaja ‘dipecahkan’

Sepotong kisah yang kebenarannya bisa diragukan, adalah ungkapan, betapa dendam itu sudah ada. Ia bahkan sengaja dihidupkan, pada zaman kolonial Belanda. Politik memecahbelahkan (devide) masyarakat Lembata begitu disusun dan dalam kenyataan cukup berhasil (et impera) hingga menghasilkan pertumbahan darah seperti dikisahkan.

Menurut saksi sejarah, Petrus Gute Betekeneng, pada masa kolonial, rakyat Lembata sudah dipercahkan dan dibagi dalam dua golongan: Paji dan Demong. Yang mengherankan, kedua wilayah yang nota bene dari pulau yang sama, tunduk pada atasan yang berbeda.

Wilayah DEMON(G), demikian ditambahkan oleh Anton Dolet Tolok, pensiuann guru yang kini menetap di Lewoleba, mencakup tiga hamente yakni: hamente Hadakewa, hamente Kedang dan hamente Lewotolok. Kepala mereka disebut Kapitan. Ketiganya, bergabung dengan hamente Terong di Adonara, untuk tunduk ke Swapraja Adonara yang saat itu beribukota di Sagu.

Sementara itu, wilayah PAJI, menckaup tiga hamente yakni: hamente Labala, hamente, Hadakewa, dan hamente Kawela (yang sekarang daerah Belang). Pemimpin mereka disebut KAKANG. Ketiga hamente ini selanjutnya bergabung dengan hamente Pamakayo, Lohayong, dan Lamakera yang ketiganya dari pulau Solor untuk tunduk di bawah Swapraja Larantuka.

Memang, di Lembata (Lomblen waktu itu), ditempatkan seorang bestur yang diangkat oleh Kontroler Gezakeber Solor Inladen atau pengontrol wilayah kepulauan solor. Tapi apa daya. Ia hanya berperan sebagai fasilitator sementara itu secara yuridis, relasi langsung lebih dijalin dengan Swapraja baik Larantuka (Paji) maupun Adonara (Demong).

Pembagian ini hanya merupakan konsekuensi dari sebuah ‘pengobrak-abrikan’ yang telah disusun secara struktural dari pemerintahan kolonial. Swapraja Larantuka dan Adonara, ternyata hanya dua dari sembilan swapraja Flores. Semuanya memiliki kontrol yang disebut Dewan Raja-Raja yang berpusat di Sikka.

Upaya pemecahbelahan ini ternyata tidak usai dengan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Belanda yang sudah menyerah di tangan sekutu, kemudian berusaha bangkit lagi mengacaukan negeri ini melalui pembentukan negara bagian. Letnan Jenderal Van Mook menjadi pemimpinnya. Inilah konsekuensi dari sebuah pengelompokkan Indonesia ke dalam negara bagian.

Lomblen waktu itu berada di bawah Negara Indonesia Timur yang beribukota di Makasar dengan presidennya adalah Cokoerde Gede Sukawati. Di bawah pemerintahan NIT (Negara Indonesia Timur), tedapat pemerintahan daerah Flores (dengan sembilan swapraja) yang dikepalai oleh Don Thomas Ximenes da Silva (raja Sikka). Kepala Daerah Flores selanjutnya beralih ke tangan L.E. Manteiro, dan berlangsung hingga tahun 1958, sebelum diadakan pemekaran Flores ke dalam lima kabupaten.

Tidak didukung

Suasana tercabik, sudah lama dirasa bak duri dalam daging. Disebut demikian karena meski sudah merdeka, tetapi model kolonial telah dihidupi. Pertikaian Paji-Demong terus ada. Malah ia telah mengarah ke pertikaian darah.

Tetapi, bagaimana keluar dari suasana terkungkung seperti ini? Para tokoh Lembata (Lomblen waktu itu) sadar bahwa usaha pemisahan diri dari kungkungan yang mengobrak-abrik harus dilakukan secara cerdas melalui partai politik. Jelasnya, ia tidak bisa dilakukan lewat cara kekerasan. Kekerasan hanya menuai kekerasan.

Jadilah, sejak tahun 1948, di Larantuka dibentuklah Persatuan Politik Katolik Flores (PERPOKAF) yang diketuai oleh P.D Lrantukan. Tapi umurnya hanya setahun. Ia kemudian dibubarkan dan dileburkan ke dalam Partai Katolik yang saat itu diketuai oleh I.J Kasimo.

Di Partai Katolik, mestinya upaya Lembata berdiri sendiri lebih mendapatkan sambutan. Dalam kenyataan tidak terjadi. Partai Katolik yang saat itu diketuai oleh A.BL. De Rosari dan membawahi semua ranting di Flores Timur, tidak mengupayakannya. Malah Lembata sengaja dibagi dalam tiga ranting yakni: ranting Kedang, ranting Lomblen Utara, dan Ranting Lomblen Selatan.

Namun diam-diam, ranting Lomblen Utara yang diketuai Petrus Gute Betekeneng dan sekretarisnya Stanislaus Lela Tufan ‘bermain’. Mereka mengordinir dua ranting lainnya untuk bersatu merancang perubahan di Lomblen. Dalam diri mereka hanya ada satu cita-cita, yakni: penghapusan swapraja Larantuda dan Adonara, dihilnakgannya nama Paji dan Demon, dan Lomblen hanya mengenal satu kesatuan persaudaraan. Jelasnya, Lomblen harus berpemerintahan sendiri.

Upaya ini tidak diapresiasi, secara khusus oleh Partai Katolik Cabang Larantuka. Usulan dari bawah agar Lomblen berdiri sendiri tidak dihiraukan. Makanya pada saat Konferensi Gabungan Partai Katolik Komisariat Flores tahun 1954 di Flores yang bertujuan menyusun daftar claon partai katolik untuk DPR dan Konstituante I tahun 1955, serta pemekaran cabang-cabang Flores ke subkomisariat.

Mestinya dalam proses ini, Larantuka menyetujui agar Lomblen menjadi subkomisariat tersendiri. Dengan demikian perjuangan untuk berdiri sendiri dapat mencapai titik terang. Sayangnya, perjuangan itu kandas. Ketua delegasi Flores Timur, F.K Fernandez ternyata tidak menyampaikan usulan itu. Usulan, saran, dan pendapat dari ranting-ranting Lomblen tidak didengarkan. Mereka berangkat atas nama dan mewakili Lomblen, dan mengatur semuanya tidak bersama, demi kesaksian Petrus Gute Betekeneng, membahasakan perjuangan saat itu.

Lebih Strategis

Upaya legal melalui Partai Katolik Larantuka yang gagal, tidak membuat pejuang Lembata patah semangat. Didorong iniatif Partai Katolik Ranting Lomblen Utara, Petrus Gute Betekeneng, maka dibentuklah Panitia Aksi Perjuangan Rakyat Lomblen. ‘Gur Gute’ demikian sapaannya, selanjutnya menjadi Ketua didampingi Yan Notan da Proma sebagai wakil. St. Lela Tufan dan L.K Kedang, masing-masing sebarai sekretaris I dan II. Seementara bendahara I dan II adalah Frans Paji Letor dan P. Wuring Beding. Juga disebutkan Yan Sego Lazar sebagai pembantu.

Upaya ini tidak selesai. Inisiatif dari Lomblen Utara ini justeru dibuat lebih luas dengan merangkul ranting Partai Katolik di Lomblen Selatan dan Kedang. Strateginya tidak murahan. Pada tanggal 7 Maret 1954, tidak hanya Partai Katolik ranting Lembata Utara, tetapi juga ranting Lomblen Selatan dan Kedang.

Secara sangat vokal, menyampaikan pernyataan bersama untuk membentuk Sub Komisariat Lomblen. Petrus Gute Betekeneng diangkat sebagai ketua dengan wakilnya, Bernadrus Bala Klide sebagai wakilnya. Sekretaris I dan II atas nama: Stanislaus Tela Tufan dan L.K Kedang. Bendahara I dan II atas nama: Frans Paji Letor dan P. Wuring Beding. Juga, disertai pembangu-pembantu yakni: Theo Toran Layar, Yan da Proma, Y.B Liliweri, B. Sanga Key, Anton Fernandes, dan Frans Daton.

Rapat yang digelar tanggal 7 Maret 1954 pun itu ternyata menyimpan skenario yang lebih strategis.  Kesepakatan internal Partai Katolik Sub Komisariat Lembata ternyata dijadikan kekuatan untuk menggelar pertemuan kedua, yang hanya berselang 15 menit setelah pertemuan pertama. Tepat pukul 11.30, rapat dibuka. Yang baru dan menakjubkan adalah hadirnya tokoh Partai Masyumi cabang Kedang  diketuai oleh Mas Abdulsalam Sarabiti dan sekretarisnya Ambarak Bajeher. Itu berarti kekuatan Statement 7 Maret lebih kuat dan tentu saja lebih strategis.

Sambutan Ketua Partai Masyumi cabang Kedang pun begitu kuat menggaung. “Kita harus hormat-menghormati, harga-menghargai, kasih-mengasihi hidup bersaudara dalam damai untuk diwariskan kepada anak cucu kita, gernerasi penerus kita. Kita tidak mewariskan perpecahan dan kekacauan karena Injil dan Al Quran mengajar kita saling mengasihi dan hidup bersaudara antarsesama sebagia anak Tuhan.”

Setelah sepakat bersama, ditandatanganilah Statement 7 Maret yang diwakili Partai Masyumi Cabang Kedang (diwakili Abdulsalam Sarabiti dan S.A Badjeher), serta Partai Katolik SubKomisyariat Lembata (diwakili Petrus Gute Betekeneng dan St. Lela Tufan). Statement itu berisi pernyataan bahwa Lomblen ingin berdiri sendiri, terlepas dari kekuasaan swapraja Larantua dan Adonra. Selain itu, dicetuskan semangat persaturan karena Lomblen adalah satu. Dan yang tidak kalah penting, otonomi itu tidak punya tujuan selain agar rakyat Lomblen dapat mengecap sepenuh-penuhnya kemerdekaan Republik Indonesia.

Terhadap pernyataan di atas, wakil Pemerintah-Asisten Wedana Lomblen (A.W) H.A Riwu memberi apresiasi. Ia berharap,  selama proses itu berjalan, kerjasama dengan pemerintahan yang ada tetap dijalankan. Rapat pun diakhiri dengan resepsi sederhana, sambil siswa kelas VI SDK Hadakewa, yakni Piet Beluta Letor, Andreas Duli Manuk, dan Maria Beding Oleona memperbanyak statement itu dengan tulisan tangan.

Berita itu kemudian dikirim  ke Pemerintah Pusat di Jakarta, Gubernur Soenda Ketjil di Singaraja, Ketua DPR Daerah Floress, KPS Larantuka dan Adonara, anggota DPR Flores yang mewakili Lomblen, serta siaran pers dan radio untuk disiarkan.

Celakalah…

Proses lahirnya Statement 7 Maret memang sebuah perjuangan. Hal itu pun dilakukan dengan ketulusan dan jauh dari upaya ‘gila kursi’ seperti yang disinyalir anggota DPRD Flores yang mewakili Lembata, P.M. de Rosari.

Upaya tulus berpijak pada kenyataan, Lembata yang satu diobrak-abrik secara sengaja ke dalam Paji-Demon yang berujung pada perselisihan berkepanjangan. Lebih lagi, mekanisme pemerintahan yang masih ‘menunduk’ ke pemerintahan Swapraja Larantuka dan Adonara dilihat sebagai upaya baru ‘penjajahan’ yang tidak perlu. Jelasnya, selama model itu dipertahankan, maka kemerdekaan RI pada itu ketiadaan makna bagi masyarakat Lomblen.

Melihat alur persiapan hingga dihasilkannya Statemet 7 Maret maka terbersit harapan agar persatuan yang sudah digalang, tidak dipermainkan. Petrus Gute Betekeneng, sebagai inisiator, membahasakannya secara sangat mendalam lewat sambutannya dengan menilai orang yang ingin menyebabkan perpecahan sebagai orang ‘TERKUTUK”: “Rakjat Lomblen harus bersatu, karena rakjat Lomblen adalah satu mendiami pulau Lomblen jang dikeliling oleh laut dari dahulunya adalah satu. Karena itu, TERKUTUKLAH orang jang mentjebabkan keretakan, perpetjahan bagi persatuan jang sudah kita sepakati bersama”.

Robert Bala (Suara Lembata Edisi Maret 2011)

Advertisements

6 Responses to ‘Terkutuklah’ Mereka yang Memecahbelahkan Lembata

  1. Mustan Boli Paokuma says:

    Kita sebagai generasi muda perlu jangan lupa tentang sejarah, tetapi juga sejarah ini perlu diluruskan kerana menurut beberapa tokoh mudah lembata bahwa sejarah yang mereka tau itu yang lebih benar.
    Mumpung Pelaku sejarahnya masih ada, seperti Bapa Guru Gute dan Bapa Ande Manuk yang waktu itu menulis statemen 7 maret.
    Terima kasih…………

  2. fh67 says:

    Para saudara Se-Lembata yang terkasih,
    Marilah kita membuka hati bersama guna mendalami pemahaman bahwa:

    Lembata kini merupakan sebuah wilayah kesatuan. Ini merupakan suatu bukti bahwa rakyatnya sudah lama bersatu. Ya.., bagaikan Sebatang pohon yang tumbuh subur, dimana semakin tinggi pohonnya tumbuh, maka terpaan angin yang meniup pohon itupun semakin kencang.
    Agar pohon ini tetap tegak berdiri, maka akarnyapun harus dan selalu secara terus menerus menancap kedalam dan makin dalam lagi ke dalam tanah guna mencengkram lebih kuat lagi sehingga dapat menahan teguh batang pohonnya demi tetap berdirinya pohon itu.

    Semua kisah sejarah lengkap sengan buktinya memang diakui dan diterima secara lengkap bagaikan Kisah dalam Perjanjian Lama, walau tidak lengkap namun sebagaimana itu adanya.

    Masa Sebelum Penandatanganan Statement 7 Maret, itu adalah masa peralihan ke sebuah Lembata yang lebih baik. Saya sebut saja ini adalah masa “Pra Persatuan (dari Paji dan Demong) dari masyarakat Lembata.” Banyak kisah sejarah menunjukkan banyak kisah dan kejadian kala itu yang perlahan tapi pasti maka kita telah banyak menikmatinya dengan berbagai rasa apa adanya.

    Saat Penandatanganan Statement 7 Maret merupakan sebuah detik Keputusan untuk menjadi Lembata yang semakin dan lebih baik lagi. Masa sejak Penandatanganan Statement 7 Maret hingga kini adalah bukti bahwa Masyarakat Lembata memang mau bersatu dan hidup damai serta saling menghargai satu sama lainnya.

    Ini adalah bukti pemahaman yang sangat mendalam di dalam diri semua rakyat Lembata yang memang dihimbau dalam Sambutan Bapak Ketua Partai Masyumi cabang Kedang pun begitu kuat menggaung sebagaimana termuat dalam Suara Lembata Edisi MAret 2011. “Kita harus hormat-menghormati, harga-menghargai, kasih-mengasihi hidup bersaudara dalam damai untuk diwariskan kepada anak cucu kita, gernerasi penerus kita. Kita tidak mewariskan perpecahan dan kekacauan karena Injil dan Al Quran mengajar kita saling mengasihi dan hidup bersaudara antarsesama sebagia anak Tuhan.” Dan ini tetap menyala di hati semua rakyat Lembata.

    Olehnya mari secara bersama kita Nyalakan kembali dengan penuh rasa semangat persatuan menentang semua pihak yang mencoba memecah belah persatuan kita, Persatuan Lembata kita tercinta demi mencapai sebuah Lembata yang menjadi sebuah Pulau yang damai, sebuah Pulau yang penuh persatuan, sebuah tempat yang tentram dan sebuah pulau yang penuh dengan semua rasa yang sama-sama kita impikan dan dambakan bersama.

    Salam Persatuan Lembata.

    • robert25868 says:

      Persatuan merupakan kata kunci ama Felix. Pengalaman perpecahan masa silam harusnya jadi pembelajaran agar kita semakin bersatu. Yang keliru diperbaiki bukan saling menjatuhkan dan ‘memotong’. salam Persatuan..

  3. Petrus Higo Elaman says:

    Lembata adalah darahku, darahmu & darah kita semua !!!.
    Jangan pernah ada perpecahan dalam masyrakat Lembata. Hentikan perpecahan, jangan pernah ada keinginan dari hati kalian untuk memecah belah Lembata hanya karena ada keinginan untuk menjadi pemimpin demi kepentingan pribadi.
    Tapi sebagai darah Lembata dimanapun anda berada tunjukkanlah jati diri anda sebagai putra-putri Lembata bahwa andalah yang terbaik dalam skala nasional maupun internasional !!!.
    Salam sejahtera buat semua masyarakat yang ada di Lembata & dimanapun kalian berada.
    Teriring salam & doa dariku buat mu Lembata.

    Kendari, 26 Juli 2014
    Hormat saya,
    Petrus Higo Elaman

    • robert25868 says:

      Terimakasih Pak Petrus Higo Elaman. Kita butuh persatuan dan persaudaraan. Hal itujusteru merosot di Lembaga. Paji Demon yang dulu hendak dikikis, kini ‘dipiara’. Kita harap ke depan,keadaankit amenjadi lebih baik. Salam ke Kendari (Note: Kenal Pak Yosef Daga Elaman? Itu teman kelas saya di Hokeng dan Ledalero).

      • Petrus Higo Elaman says:

        Dear Mr. Robert
        Persatuan, Ketentraman & Kedamaian akan selalu tercipta bila KEADILAN selalu diterapkan pada seluruh masyarakat & para tokoh adat yang ada di Lembata.
        Khusus untuk pemimpin daerah saat ini di Lembata:
        Jadikanlah diri anda sebagai sosok pemimpin yang memiliki jiwa seorang patriotisme. Tata pembangunan sebaik mungkin untuk kepentingan rakyat Lembata & bukan kepentingan pribadi atau golongan.
        Hindari KKN dalam pemerintahan yang ada serta berani mengambil sikap & tindakan yang tegas untuk kelangsungan pemerintahan yang bersih.
        Dan yang paling utama dan terutama jadikanlah masyarakat Lembata sebagai bagian dari KELUARGA agar roda persatuan & kesatuan selalu tergalang.

        BR//
        P Higo E
        0816583614 / 0818920001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s