50 TAHUN SMP LEREK, MERAYAKAN DENGAN “CARA LAIN”

50 TAHUN SMP LEREK,
MERRAYAKAN DENGAN ‘CARA LAIN’

Sebuah perayaan emas, biasanya dirayakan dengan cara yang hampir sama: ada perayaan ibadah dan diakhiri dengan perayaan berupa hiburan. Hal itu tidak salah. Sebuah syukur harus dirayakan dengan kegembiraan atas berkah yang sudah diterima.

Tetapi apa yang terjadi ketika dalam perayaan 50 Tahun SMP Lerek ini dirayakan dengan ‘cara lain’? Lebih lagi cara itu bisa saja dianggap ‘aneh’?

“Kegiatan Aneh”

Jauh di pedalaman Lembata, tepatnya di Selatan Lembata, sebuah desa kecil menjadi saksi bisi 50 tahun lalu. Saat itu para pendiri: Agustinus Leyong, Victor Nimo Wutun, Leo Lado Watun, Blasius Lalung, dan Pit Lidun Lein meretas sebuah Pendidikan menengah.

Tidak bisa dibayangkan awal yang sulit. Lebih lagi krisis G 30 S / PKI sesudahnya merupakan momok yang menakutkan. Aneka blokade yang berimbas kepada kemiskinan merupakan masalah yang sangat nyata. Makan saja susah, apalagi sekolah, demikian ungkapan yang bisa muncul.

Tetapi tekad itu telah mendorong masyarakat untuk bersama-sama mendukungnya. Ada tiga badan usaha yang punya andil besar untuk mendirikan SMP Lerek yakni Koperasi Sepakat (ketuanya Bapak Leo lado Watun), Koperasi Sudi Mampir (Ketuanya Bapak Andreas Patal Tolok) dan Koperasi Koda Dei (Ketuanya Bapak Willem Beleta Tolok), yang masing-masingnya menyumbang Rp 100 untuk proses pendirian.

Sepanjang waktu itu, sudah 1400 siswa yang pernah mengenyam Pendidikan di SMP yang selama 43 tahun bernama “Tanjung Kelapa”. Di antara jumlah itu, 1100 pernah belajar sampai kelas 3 meskipun hanya 800 orang yang dinyatakan lulus dari SMP yang sejak 7 tahun terakhir bernama SMP Negeri 2 Atadei.SERTIFIKAT 50 TAHUN SMP LEREKDalam momen emas ini, Panitia juga akan menyerahkan Piagam Penghargaan kepada 11 tokoh yang telah berjasa dalam pendirian dan pengembangan SMP Lerek selama 50 tahun.

Selama jangka waktu itu tidak sedikit guru yang telah mengabdikan dirinya. Patut disebutkan? Victor Nimo Wutun, Paulus Uran Koban, Petrus Lidun Leinm, Hendrikus Hemaer, Blasius Lalung, Agnes Uku Tolok, Yosef Tei Atawolo, Batolomeus Gafeor, Doroteus Belayan Tapoona, Matias Langgar Witak, Mikael Tokan, Mateus Bala Henakin, Maxi Laga Watun, Mikael Watun, Yohanes Laga Watun, Marta Marwa, Rosa Watun (Rosa Bura), Maria Anselma Tolok, Paulus Mea Watun, Anton Nuba Bagur, Sr. Stefani, PRR, Stefanus Laga Tukan, Aloysius Tue Tolok, Blasius Baha Henakin, Karolus Kia Tolok.KELAPA HARAPAN HIDUP SMP TANJUNG KELAPA LEREK

Selain itu ada juga, Frans Bala Bliko, Yosef Dai Tukan, Marsel Bala watun, Antonius Aib Bean, Blasius Ado Roma, Gabriel Pito Tukan, Paulina Barek Lajar, Fransiskus Nuba Huar, Patrisius Patal Wutun, Marselinus Lidun Tolok, Yustina Woli Lejap, Helena Helu Lajar, Yosef Kupertino Pati, Wilem Lojor, Agustinus Dewa Kolin, Yohanes Ali Udak, Paulus Resmin, Matius Ola Namang.

Tak dilupakan juga nama lain seperti: Dominikus Pemulet Koban, Maria Habu, Leonarda Kei, Yohanes Bala Tolok, Simeon Koban, Gerardus Bala Banjar, Vinsen Kobun, Yohanes Welok, Lena Jawa Tolok, Alex Ata Koban, Dionisia Dike Tolok, Dusban, Blasius Bala Tolok, Damianus Dai Koban, Rafael Laba Tolo, Nikolaus Honi Watun, Fransiska Letek Wullo.SMP TANJUNG KELAPA LEREK TAHUN 1984. Kiri bawah (duduk): Robert Bala, Damianus Dai KobanDemi menghormati guru di atas maka inti perayaan 50 tahun adalah pelatihan guru. Hal ini merupakan kegiatan yang bisa disebut  aneh atau ‘lain dari pada yang lain’. Lain karena di sebuah kampung yang barusan dalam 10 tahun terakhir bisa dilalui kendaraan bermotor, bisa dilaksanakan sebuah kegiatan besar ilmiah yang biasanya hanya dilaksanakan di kota besar.ACARA WORKSHOP PELATIHAN GURU SMP LEREKKegiatan ‘SANGAT PADAT’ tetapi dijalaksanakan secara ‘santai’ dan menarik…

Tidak hanya itu. Kegiatan itu menjadi lain karena materi yang diberikan sungguh sesuai kebutuhan guru. Dewasa ini, dibutuhkan kembali penyegaran tentang panggilan guru. Dahulu, dengan hanya mendapatkan honor ‘seadanya’, tetapi guru mengabdikan diri secara total. Kini, hal itu kian mengendur. Tidak sedikit guru yang mengira, sudah menjadi “Peenes” (PNS) dan tidak peduli lagi dengan perhatian dan pengabdian.

Atas krisis nilai itu maka dibutuhkan penyegaran. Materi tentang “Belajar Mengikuti Kemauan Otak” yang dibawakan Robert Bala diharapkan dapat memberi inspirasi.

Melatih Menulis

Kegiatan juga menjadi aneh karena biasanya guru yang melatih menulis. Dengan piawai mereka melatih siswa untuk dapat membaca dan menulis.Tetapi apakah guru menikmati indahnya menulis? Apakah guru dapat menulis secara profesional? Inilah kendala. Pemerintah mengharuskan guru untuk dapat meniti karir lebih tinggi dengan syarat harus bisa menulis. Nyatanya hal itu terasa sangat berat. Tidak sedikit guru yang akhirnya ‘parkir’ di golongan IVA karena tidak bisa menulis.SERTIFIKAT PELATIHAN GURU SMP LEREKPelatihan kali ini justeru akan melatih guru untuk menulis. Tetapi berbeda dengan pelatihan pada umumnya yang biasanya mulai dari teori abstrak, model penulisan kali ini lain. Guru akan diajak untuk menulis dari pengalaman yang dimiliki. Jelasnya, tulisan bertolak dari narasi, cerita rakyat yang sudah ada dan diangkat menjadi sebuah tulisan ilmiah.SI JAGUR

Tentu saja melalui tangan dingin Thomas Ataladjar, penulis sejarah Jakarta, materi ini akan dibawakan secara sederhana. Lebih lagi karena penulis buku Toko Merah dan Si Jagur ini akan sekaligus mempresentasikan buku : Lame Lusi Lako yang diterbitkan oleh Yayasan Koker Jakarta. TOKOH MERAH

Melalui buku ini akan ditunjukkan bagaimana kisah sederhana itu dikumpulkan hingga menghasilkan sebuah tulisan.LOGO 50 TAHUN SMP LEREKTulisan itu menurut Thomas, yang juga adalah praktisi PR, merupakan sebuah karya yang harus diperdalam dan dikritik. Dari sana, bisa muncul inspirasi untuk dapat menjadi bahan tulisan.DOMINIKUS DOLET UNARADJAN

Drs Dominikus Dolet Unaradjan, M.A (Dekan FIA Atamajaya 2009-2012)

Pada bagian akhir, model tulisan akan ‘diperbaiki’ oleh Dominikus Dolet Unaradjan, M.A. Domi yang mantan Dekan FIA Atmajaya ini akan membantu para guru menemukan inspirasi sederhana. Ia akan bertolak pada hal-hal kecil dan sederhana yang bisa jadi inspirasi. Intinya Domi ingin menyadarkan bahwa hal-hal kecil itu selalu inspiratif dan indah: Small is beautiful.

Yang tidak kalah menarik, pelatihan akan diakhiri dengan sebuah Diskusi Panel.Diskusi yang akan dipandu oleh Gabriel Kia Tolok M.M akan coba menggali akar permasalahan pendidikan di Paroki Lerek dan selanjutnya mencari dan menggagas bersama kemana arah pendidikan kita.

Acara menarik tidak belum selesai disebut. Pada saat para guru mendapatkan motivasi, siswa tidak dilupakan. Dua figur akan dihadirkan untuk ‘share’ dengan anak-anak. Bapak Bernardus Boli Rebong, figure di balik pembangunan Gereja Lewokurang dan Atawolo, adalah alumnus SMP Tanjung Kelapa. Di tengah kondisi serba susah, karena saat itu tidak ada lagi lagi KBM, ia bisa meniti karir hingga menjadi pejabat eselon di Pertanahaan di Jakarta.

Bersama pa Boli Rebong, P. Lambert Lalung, SVD, misionaris SVD di Chile. Lambert merupakan imam pertama SVD Indonesia yang dikirim ke Amerika Latin 25 tahun lalu. Bertepatan dengan perak imamatnya, Lamberto ingin membagi pengalaman bersama para siswa.

Gabriel yang juga kepala sebuah SMK Farmasi di Bogor ini akan menggali dari para peserta inspirasi besar agar dapat mengembalikan kembali kejayaan SMP Tanjung Kelapa.RAPAT PANITIA 50 TAHUN SMP LEREK: Bernard Boli Rebong, Damianus Dai Koban, Gabriel Kia Bakin Tolok, Domi Dolet Unaradjan, Thomas Ataladjar, Robert BalaPertemuan terakhir panitia di Jakarta, 14 Juni untuk memfinalkan persiapan. Sebuah kerja keras untuk lewotanan. Tampak narasumber dan panitia membicarakan detil kegiatan.

Last but no least, ketua panitia pelaksana, Damianus Dai Koban, M.Pd, mengucapkan syukur atas partisipasi semua pihak. Ada sebuah kebanggaan, kata damianus, jebolan master untuk pendidikan biologi, adalah partisipasi alumni di seantero jagat. Dalam waktu dekat terkumpul dana hampir Rp 40 juta rupiah demi menunjang kegiatan tersebut.

Hal yang sama dikemukakan oleh Kristina Tere Pukay. Alumni tahun 1985 ini menjempoli alumni yang sepakat untuk membuat kegiatan luar biasa. Tidak ada kata lain selain ucapan syukur.

HOLOK WEKI DAN SWADAYA

Pada Jumat 3 Juli 2015, alumni SMP Tanjung Kelapa tidak kehilangan moment. Setelah selesai dengan kegiatan yang menyerap energi, kini ada acara bersukaria bersama. Marching Band SMA Negeri 1 Nubatukan akan menjadikan Lerek ‘ribut’ oleh bunyi drumband.RAPAT PANITIA SMP LEREK DI CARREFOUR CAWANG ATAS BERSAMA P. LAMBER LALUNG, SVD P. Lamber Lalung, SVD, misionaris SVD di Chile bersama Pa Bernard Boli Rebong, akan memberikan motivasi kepada para siswa. Penderitana masa lalu tidak jadi halangan tetapi pemicu kini.

Acara itu menjadi sebuah perayaan meriah, tentunya setelah pada pagi hari, dirayakan perayaan ekaristi. Dari misa ke meja. Acara paling akhir adalah ‘HOLO WEKI’. Sebuah kebiasaan orang Paroki Lerek adalah membawa makanan masing-masing, makanan tradisional, dan diletakkan pada sebuah meja bersama. Semua makan bersama, boleh menambah makanan pada meja lain.PANITIA 50 TAHUN SMP LEREK DENGAN MANAJER PENERBIT ERLANGGA PA DOMINGGUSPara guru akan mendapatkan bonus buku pelajaran dari Penerbit Erlangga. Tampak pa Dominggus, Manajer Penerbit Erlangga tengah berbincang dengan panitia sambil merencanakan kehadirannya di Lerek tanggal 2 Juli 2015

Kebersamaan dan gotong royong juga terlihat dari cara pengumpulan dana. Kegiatan 50 tahun ‘murni’ dibiayai oleh alumni.  Dalam waktu 5 bulan, panitia secara ‘door to door’mengentuk hati para alumni untuk memberi dari apa yang dimili. Seminggu sebelum kegiatan berlangsung, dana terkumpul mencapai Rp 40.000.000 untuk panitia di luar Lembata. Bila dikumpulkan dana panitia Lewoleba dan Lerek, maka sudah pasti, melampaui Rp 50.000.000

KONTRIBUSI SMP LEREK 01KONTIBUSI SMP LEREK 02KONTRIBUSI SMP LEREK 03KONTRIBUSI SMP LEREK 04 FINALDana murni dari alumni. Dalam 5 bulan, panitia berhasil menggerakkan alumni untuk memberi dengan ikhlas. Alumni tergerak karena apa yang dilakukan sejalan dengan kebutuhan para gur di kecamatan Atadei.

Yang pasti, harus siapkan perut karena di sana kita rayakan kebersamaan. Dengan acara ini hendak mengingatkan bahwa banyak hal yang terjadi selama 50 tahun menjadi mungkin karena kita saling ‘gemohing’ (saling membantu) dan holol weki (saling berbagi). Yang lebih membaginya kepada yang kekurangan. Yang kekurangan juga memberi dari kemurahan hatinya.

Robert Bala. Alumni SMP Tanjung Kelapa Angkatan 1984.

One Response to 50 TAHUN SMP LEREK, MERAYAKAN DENGAN “CARA LAIN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s