DKI, MEMILIH ‘APA’ DAN ‘SIAPA’

DKI, MEMILIH ‘APA’ DAN ‘SIAPA?’

Menjelang Pemilukada serentak jilid 2 pada Februari 2017, pertanyaan paling sering muncul adalah ‘siapa yang akan dipilih’. Dari pertanyaan itu muncul figur hingga kandidat yang sudah menjadi bakal calon resmi.calon-gubernur2

Pada proses ini aneka isu digulirkan hanya untuk menjegal ‘siapa’ dan mendukung ‘siapa’. Isu itu saking hebatnya sehingga membingungkan. Cara cerdas hingga ‘abal-abalan’ dikeluarkan hanya demi mencapai kursi nomor 1 di daerah masing-masing khususnya di DKI ini.

Apa sebenarnya yang menjadi masalah di baliknya?

‘Tablet’ yang tepat.

Diskusi tentang ‘siapa’ yang menempati posisi kepala daerah akan tetap jadi perdebatan ketika orang berhenti pada membahas figur. Masing-masing orang / kelompok berusaha menggoalkan idolanya. Aneka sanjungan di satu pihak dan ironi terhadap pihak lain begitu digulirkan hanya demi mencapai kekuasaan.calon-gubernur3

Yang kerap dilupakan adalah ‘apa’ sebenarnya yang mau dipilih? Pertanyaan itu hemat saya jauh lebih penting daripada sekedar berkutat pada ‘siapa’ yang dipilih. Itu berarti di tiap daerah sudah terdapat persoalan dan gambaran tentang upaya ke depan mengatasi masalah tersebut.

Masalah itu sudah lama dan mengapa tidak sudah ‘mendarah daging’. Ia menjadi benang kusut yang harus diusut tuntas. Pada banyak daerah, terutama DKI misalnya, masalahnya pada rumitnya kondisi kota. Banjir bertahun-tahun telah menjadi masalah klasik yang nyaris bisa disentuh.

Tidak itu saja. Para pejabat publik sudah menjadi penguasa lokal yang bergelimpangan harta di tengah kemiskinan warga kota. Semuanya bisa jadi sumber uang. Bahkan kuburan pun bisa jadi tempat empuk. Di sana para ‘mayat’ diperas demi memberi rezeki yang haus harta.

Pada tataran agama, bahkan pencetakan Kitab Suci bisa jadi berkah korupsi. Tuhan yang ingin disanjung dalam firmanNya rela dijadikan berkah memperkaya diri sesaat. Menyesatkan. Tetapi itu tidak penting. Bagi mereka uang adalah segalanya.

Singkatnya korupsi telah menjadi segalanya. Yang lebih memprihatikan, ada partai yang menjadikan ‘No pada Korupsi’ sebagai jargonnya. Tokoh populer dihadirkan sambil memberi tanda ‘tidak’ pada korupsi. Justeru nyaris semuanya kini terseret korupsi.

Singkatnya masalah seperti inilah yang semestinya jadi kecemasan besar. Dari masalah itu mestinya dengan mudah kita mencari ‘siapa’ yang akan menempati ‘apa’ (posisi kepala daerah). Dengan kata lain pemimpin yang akan dipilih menjawabi masalah yang sudah ada. Ia datang bukan membawa janji tetapi sungguh menjadi solusi atas masalah yang diperoleh.calon-gubernur4

Secara analogis, kandidat ‘siapa’ hadir bak ‘tablet’ yang diharapkan sesuai dengan jenis penyakit yang diderita masyarakat. Sebaliknya bila tidak didasarkan pada realitas penyakit (realitas masyarakat) maka kita akan terjatuh pada usaha mempromosikan obat yang bisa saja sangat berkualitas. Sayangnya ia bukan jawaban atas penyakit yang diderita. Dengan kata lain bukan soal obatnya yang berkualitas tetapi ‘kesesuaian’ antara penyakit dan obat. Itulah yang harus dipahami dalam konteks kampanye dan pemilukada seperti ini.

Satu dalam Pandangan

Yang kita sayangkan, kesesuaian yang kita nantikan seperti ini jauh dari kenyataan. Pada konteks DKI, hal itu malah telah beralih dari apa yang diharapkan. Kita tidak bisa menganggap remeh dugaan penistaan agama. Pada hemat saya, Ahok harus bertanggung jawab atas kesalahannya menjadikan ayat suci sebagai pijakan untuk meminta dukungan memenangkan pemilukada.

Kecemasan dan emosi massa seperti ini juga kita sangat pahami, malah sangat dimengerti. Ketika agama dijadikan isu, siapa pun yang merasa begitu menyatu akan marah. Tetapi setelah sebuah proses waktu dengan  memberi ruang pada refleksi dan analisis yang kritis dan seimbang, mestinya kita pun sadar bahwa permasalahan dan isu itu tidak bisa melupakan kita pada konteks pemilukada yang tengah bergulir.calon-gubernur5

Lebih lagi masalah agama yang bergulir bisa diletakkan dalam posisinya sambil memberi tempat pada hal yang berada di baliknya. Dengan demikian emosi yang ada bisa dijernihkan untuk menempatkan setiap permasalahan pada tempatnya.

Yang dimaksud, emosi kita tidak bisa menutup kenyataan bahwa yang tengah kita cari di DKI adalah pemahaman tentang ‘apa’ yang terjadi di DKI (permasalahan) yang dihadpai ‘siapa’ yang akan memberikan jawaban tersebut. Di sini pada akhirnya kita pahami bahwa yang kita cari adalah seorang gubernur yang bisa mengatur DKI. Seorang gubernur yang minimal menjadi ‘lain-dari-pada-yang-lain’ dalam hak korupsi.

Lebih lagi gubernur yang bisa memberikan solusi dengan keberanian untuk mengambil tindakan ‘out of the box’ dalam membangun Jakarta. Di tangannya diharapkan akan menjadikan ibu kota ini menjadi lebih baik dan benar dan menjadi contoh bagi daerah lain di negeri ini.calon-gubernur

Yang tidak kalah penting, gubernur yang akan terpilih nanti adalah orang yang tidak saja menjanjikan ‘no pada korupsi’ seperti pernah dijanjikan sebelumnya, tetapi yang secara pribadi terkenal bersih dan punya komitmen dalam memberantas korupsi. Ia tidak lagi menjaga image (jaim) dengan kata-kata bijak, menghadirkan diri sebagai tokoh yang ‘damai’ tetapi dalam kenyataannya mengobrak-abrik bangsa dengan ‘perselingkuhan’ dengan pembuat kekerasan.tanda-tanya

Terhadap hal ini, masyarakat DKI sangat cerdas untuk bisa memilah tanpa harus ditekan apalagi digiring. Mereka bisa memantau dengan mata jernih dan melihat dengan nurani murni terhadap siapa yang bisa menempati posisi paling menjanjikan negeri ini mengingat siapa yang akan sukses kini bisa saja menjadi calon pemimpin masa depan.

Tidak hanya itu. Pemimpin yang dinanti, tentu bukan sekadar orang yang kaya yang telah menjadi konglomerat yang barangkali sudah bergelimpangan harta. Kita tidak sedang memilih orang kaya. Yang kita cari adalah pemimpin yang bisa menata kesejahteraan rakyat. Ia bukannya konglomerat yang sudah puas dengan harta dan kini yang dicari hanya kekuasaan hal mana dilakukan para konglomerat di ‘Barat’ yang melakukan cara seperti ini.

Singkatnya yang dicari adalah pemimpin yang punya kekuatan mengenal masalah yang ada (apa). Artinya, kita semua boleh berbeda dalam tokoh idola kita masing-masing tentang ‘siapa’ yang kita jago kan tetapi mestinya kita semua sama dalam melihat ‘apa’ yang sedang terjadi.  Kita mesti satu dalam pandangan.

Inilah yang sangat dibutuhkan kini. Bila kita sudah sepakat tentang masalahnya, maka dengan mudah (diharapkan) kita bisa menentukan dengan jelas ‘siapa’ yang akan memimpin DKI ini. Selamat memilih.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.