DUA ORANG MALANG

Dua orang Malang

Saat refleksi tema 2 APP, Kerahiman Allah (ilahi), tiba-tiba pikiran liar muncul. Untuk apa kita hidup? Bagaimana memaknai kehidupan itu agar menjadi berguna?

Pertanyaan ini muncul karena semua orang ingin mencapainya. Kondisi beragam yang dimiliki peserta membenarkan bahwa semua orang ingin mencapainya. Tetapi mengapa hal itu masih sulit dicapai? Apa yang jadi kendala?

Bukan Penjara

Setelah mendengar refleksi tulus dari setiap orang, saya sampai pada kesimpulan, sesungguh kebahagiaan yang ingin dicapai itu bisa diperoleh orang Kristen, khususnya teman-teman di lingkungan. (Saya tidak mau meperluas refleksi ke orang Ateis atau beragama lain. Saya hanya merefleksikan untuk semua yang hadir).

Pertama, kebahagiaan bisa dicapai oleh orang sederhana atau orang yang menderita. Mengutip Plato, murid Sokrates itu, tubuh adalah penjara jiwa. Manusia baginya, terlahir dengan kerinduan mendalam untuk mencapai eudaimonia atau kebahagiaan. Hal itu mestinya dicapai secara otomatis oleh kondisi jiwa yang murni adanya.PLATO

Plato: Tubuh penjara jiwa

Sayangnya, ketika jiwa ‘dibaluti’ tubuh, jiwa mengalami ‘kelupaan’. Kondisi ‘kemurnian’ jiwa menjadi tercemas. Karenanya, adalah tugas manusia untuk mengingatkan lagi jiwanya akan kondisi itu. Dari sana, jiwa kembali diberi tempat oleh aneka latihan penguasaan tubuh.

Itu berarti, bagi yang miskin, menderita, berkekeruangan, ia bisa mencapai kebahagiaan sejauh melihat bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. Ada janji hidup yang lebih tinggi, sebuah hiburan (kaum komunis melihat agama sebagai opium / narkoba). Terhadap derita harus diterima.

Pada sisi lain, ada yang melihat sebaliknya. Mengutip Foucault, bukannya tubuh penjara jiwa tetapi malah jiwa penjara tubuh. Bagaimana mungkin itu terjadi? Semestinya tubuh biasa leluasa melakukan apa yang ia mau (sesungguhnya hanya 4 hal yang ingin dilakukan tubuh: makan, minum, tidur, dan seks). Namun, keinginan tubuh itu kerap dianggap rendah oleh kerinduan jiwa mencapai sesuatu yang lebih tinggi.FOUCOULTFoucault: jiwa penjara tubuh.

Keinginan untuk makan dan minum apa saja (karen apunya uang), kerinduan untuk tidur di tempat yang paling empuk (hal mana disodorkan aneka tempat istirahat untuk memanjakan tubuh) dan kenikmatan seks bisa dinikmati oleh gelimpangan uang.

Dalam dua pandangan ini yang saling ‘memenjarakan’ terlihat bahwa antara badan dan jiwa dilihat sebagai dua kekuatan kontradiktif. Agar satunya bisa menang maka ia harus ‘berperang’ menguasai yang lainnya. Jiwa, agar selamat, dan kembali ke kondisi ‘murni’ maka ia harus bertarung melawan keinginan tubuh.

Tubuh juga tidak demikian. Ia harus menyadarkan manusia bahwa keinginannya hanya sebatas itu. Dan rupanya hal itu dengan mudah diperoleh orang mampu. Mereka bisa mempunyai keempatnya. Perjuangan fisik yang dilakukan dengan cara apapun, pada akhirnya hanya bermuara pada: makan, minum, tidur, dan seks.derita1

Apakah manusia harus menderita untuk bahagia?

Kalau terjadi demikian maka hidup tak ubahnya dengan perjuangan yang akhirnya membagi manusia pada dua bagian. Yang satu, menerima derita sebagai bagian hidup dan sarana pemurnian jiwa. Ia bisa bertahan dalam penderitaan karena ‘pikir’ (iman) bahwa segera setelah derita kini, ia bisa menikmati kebahagiaan abadi.kesenangan-yang-menipu

Apakah makan, minum, tidur, dan seks adalah yang utama?

Pada sisi lain, kemewahan juga membuat seseorang merasa puas karena telah sukses memperoleh sesuatu yang diiginkan oleh tubuh. Itulah kesenangan (bukan kebahagiaan) maksimal yang bisa diperoleh tubuh.

Kenisah Roh Kudus

Ketika refleksi berhenti pada dua sisi di atas, sesungguhnya kebahagiaan dalam arti sebenarnya kian jauh. Yang satu menderitakan tubuh demi sesuatu yang ‘lebih luhur’, yang lainnya mencapai kesenagnan sebagai sebuah tindakan melepaskan badan dari penjara jiwa.

Bila terjadi demikian maka sungguh sebuah kemalangan. Kehidupan kristiani akhirnya hanya menghasilkan dua tipe orang malang dalam Gereja. Yang satu akrab dengan penderitaan. Mereka diwakili banyak orang Kristen yang masih ‘teguh imannya’, oleh kerinduan bahwa jiwa yang murni masih bisa dikembalikan dalam kondisi sebenarnya oleh penerimaan tubuh atas nilai lebih tinggi yang diperjuangkan.ATAMBUA 9

Hidup sebuah pencarian mendapatkan kebahagiaan….

Yang lainnya justeru sukses oleh keyakinan bahwa semua perjuangan di dunia ini bisa dibeli, termasuk dengan kebahagiaan, malah keselamatan itu sendiri. Seseorang memiliki segagala-galanya. Bila orang kaya ke Gereja misalnya bisa saja yang dicari bukan makan, minum, dan seks. Orang sudah tahu bahwa dia tidak akan memperolehnya. Juga kalau orang beribadah, tentu bukan karena ingin memperoleh kebahagiaan dalam menikmati tiga hal di atas.

Tetapi yang bisa adalah ‘beristirahat’. Ia mengistirahatkan tubuhnya dari keletihan. Ia ingin memperoleh kekuatan. Tak heran, demi kenyamanan dan ketenangan itu, seseorang bisa saja sangat murah hati, solider, berderma. Yang ingin diperoleh, semoga dengan itu, pikirannya lebih fokus pada karya yang dilaksanakan. Hanya dengan demikian ia bisa mencapai dan menyediakan makan dan minum yang cukup. Itu sudah lumayan. Kalau masih lebih, siapa tahu bisa menikmati seks yang lebih baik.

Hari ini, setelah pertemuan itu saya sadari bahwa jawaban atas kesia-siaan dari dua tipe kemalangan di atas adalah memahami bahwa tubuh adalah Kenisah Roh Kudus (1 Kor 6, 19). Tubuh tidak tercipta sebagai penjara. Tubuh juga tidak diadakan hanya demi terpenuhi keinginannya. Yang ada tubuh itulah jalan itu sendiri.

Tubuh, pada hemat saya tercipta sebagai kenisah yang harus mengalami kebahagiaan bahkan kini. Ia tidak bisa sekedar ‘dihibur’ akan hidup nanti, tetapi bahkan kini mengalami kebahagiaan itu sendiri kini. Keuletan berjuang, usaha pantang mundur, hanya menunjukkan sebuah penghargaan bahwa tubuh kini tidak bisa dibiarkan. Ia harus diperjuangkan karena memberi ruang karena di dalam tubuh yang kuat, jiwa bisa bermakna.

Sementara kenisah Roh Kudus juga mengingatkan bahwa kebahagiaan melampaui kesenangan. Artinya, dengan keunggulan yang dimiliki, seseorang dengan mudah mengalami kesenangan tubuh. Secara iman, (sedikit etika protestan) orang bisa menghibur bahwa dalam kesuksesan, sudah tertera cinta Allah yang diterima.

Sebaliknya, kesenangan mestinya dipahami bukan tujuan akhir. Ia hanyalah ‘jalan’. Artinya, orang kaya dapat juga menjadi bahagia sejauh ia memahami kesenangan tubuh dalam arti yang lebih dalam. Ia tidak hanya makan dan minum untuk dirinya sendiri tetapi memahami tuntutan nutrisi itu juga dimaknai sebagai sebuah tanggungjawab. Kerinduan untuk makan dan minum mesti dipahami juga sebagai sebuah usaha memungkinkan banyak orang mengalaminya. Di sana kebahagiaan itu terjadi.

Tuntutan istirahat pun dipahami demikian. Seseorang boleh beristirahat dalam damai tidak saja karena ia telah mencapai segalanya, tetapi karena ia juga memungkinkan semua orang beristirahat dalam damai. Dengan kata lain, ia tidak memperoleh kedamaian di atas penderitaan yang ia ciptakan untuk orang lain.

Seks pada akhirnya juga jalan. Prokreasi sebagai konskuensi dari sebuah hubungan adalah sesuatu yang mulai. Tetapi seks juga tidak sekedar dalam ‘alat kelamin’. Ia lebih jauh pada kemampuan menggunakan semua potensi diri yang ada, pikiran dan kehendak, tubuh atau badan untuk sesuatu yang mulia. Minggu 28 Februari 2016.

Advertisements