GERAK, PINTU MASUK PEMBELAJARAN

 

MOVEMENT IS THE DOOR TO LEARNING

(Gerak, Pintu Masuk ke Pembelajaran)
Studi Kasus: SMA Sekolah Tunas Indonesia

Hadiah buku “Teach Like Finland” dari Grasindo yang merupakan hadiah dari team publisher Grasindo sudah selesai say abaca. Sebuah buku yang sangat menarik sehingga meski memiliki tebal 200an halaman, tetapi telah diselesaikan. Bahkan ada beberapa poin yang harus saya kembali lagi untuk mencek apakah pemahaman saya.

Di antara banyak hal, ada yang paling menarik perhatian saya yaitu tentang kombinasi antara belajar dan gerak. Ia bisa disingkat dalam ungkapan: gerak merupakan pintu masuk kepada pengetahuan (Movement is the door to learning). Mengapa hal ini begitu penting?

Hal yang paling utama, bergerak dalam pembelajaran tentu saja menyenangkan. Anak tidak mau ‘ditekan’ untuk harus ‘duduk’ sambil mendengarkan dan tidak bisa berbuat selain mendengarkan. Para guru juga merasa terganggu dengan setiap gerakan anak karena dianggap menghalangi pembelajaran. Singkatnya, anak dibuat ‘duduk manis’.

Cara seperti ini sangat disayangkan dan mengapa tidak bisa dikategorikan memprihatinkan. Saya ingat, ada seorang guru ‘asing’, dalam sebuah workshop memberikan pengertia pada ‘Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan’ (KTSP) sebagai ‘Keep The Students Pressured).

Sekilas model pembelajaran seperti ini baik-baik saja. Pembelajaran harus butuh ketenangan. Yang menjadi masalah, dengan diamnya anak tidak menjadi jaminan bahwa ia paham. Malah dengan kembali kepada ungkapan ‘movement as the door to learning’, maka tanpa disadari, proses belajar tidak jadi. Yang terjadi hanyalah anak duduk untuk bisa menghafal, tetapi sebenarnya mereka tidak masuk dalam aktivitas belajar itu sendiri.

Mengakomodir Gerak

Mengapa sehingga gerak itu penting dalam pembelajaran? Bukan sebuah kebetulan kalau topik ini saya dalami khusus dalam buku CREATIVE TEACHING yang terbit di Grasindo pada Februari 2018 yang lalu. Dengan bergerak, maka ada sirkulasi oksigen. Dengan adanya peredaran oksigen, maka otak akan kian terbuka untuk dimasuki pengetahuan baru. Pengetahuan yang diperoleh dengan kombinasi gerak.

Masing-masing siswa menulis pertanyaan dan kemudian menanyakan pertanyaan yang dianggap paling penting.

Hari ini saya praktikkan dengan siswa kelas 11 SMA Sekolah Tunas Indonesia di Bintaro. Mereka membuat presentasi dalam bentuk MIND MAPPING (kerja kelompok). Tugas itu mereka sudah siapkan selama kakak kelas UNBK. Kali ini merka bawa hasil kerjanya tentang SITEM HUKUM INTERNASIONAL. Kelas dibagi dalam 4 kelompok.

Salah satu karya Mind Map siswa SMA Sekolah Tunas Indoneisa 

Mengapa mereka buat Mind Mapping karena model seperti itu sejalan dengan kemauan otak. Agar bisa paham secara keseluruhan, sebuah topik harus dibagi dalam topik berbeda. Mereka lalu membuat mind map dengan kombinasi warna, kata, gambar, yang memudahkan mereka untuk memahami sebuah topik.

Setelah itu, saya meminta untuk ditempelkan di dinding (4 sudut). Mengapa presentasi itu yang dibuat dengan variasi metode dan cara berbeda itu saya tempelkan di 4 sudut ruangan? Tentu saja hal ini berbeda dengan banyak guru yang meminta anak ke depan kelas untuk membaca presentasi mereka sambil menunjuk gambar yang perlu. Model seperti ini hanya memberi gerak kepada siswa yang mengadakan presentasi, tetapi bagi peserta lain mereka tetap duduk tenang di tempat.

Yang dilakukan dalam pembelajaran ini, semua siswa saya minta untuk berjalan keliling sambil membaca presentasi yang ada. Di sana sudah ada gerakan karena mereka berjalan dari satu titik ke titik lainnya. Saya perkirakan mereka bisa berjalan 20 – 30 menit, hal mana menjadi sebuah aktivitas yang membantu sirkulasi oksigen yang kita sadari sebagai prasyarat terjadinya pembelajaran yang efektif.

Tidak hanya berjalan. Ada aktivitas lain yang saya mintakan. Masing-masing siswa meminta agar semua siswa mengajukan minimal 3 pertanyaan dan mencatatnya di sebuah kertas. Dengan meminta mengajukan pertanyaan, secara tidak langsung saya meminta konsentrasi dan kesungguhan dalam membaca. Mereka tidak sekadar melihat tetapi sungguh membacanya dengan teliti karena dari sana akan terlahir pertanyaan kritis dan kreatif.

Gerak Efektif

Saat menunggu siswa mencatat pertanyaan, muncul ide lain. Saya memintakan siswa untuk mengumpulkan pertanyaan. Tetapi agar pembelajaran tidak selesai begitu saja (apalagi masih ada waktu), saya meminta siswa untuk mengajukan pertanyaan yang peling penting dan diajukan secara lisan.

Ada kejadian menarik. Saat memberi kesempatan untuk bertanya, ada seorang anak yang saya langkahi. Kebetulan dia seorang anak pendiam dan agak pasif. Andai kata diajukan pertanyaan secara bebas, sangat besar kemungkinan dia tidak akan bertanya. Tetapi kali ini dia ‘protes’ karena ia tidak saya kesempatan untuk bertanya, padahal dia sudah siapkan pertanyaan.

Cukup menarik. Tanpa disadari, hampir semua kelompok mendapatkan pertanyaan yang saat itu langsung dikelompokkan. Di papan tertera aneka pertanyaan yang kemudian saya arahkan kepada kelompok presenter untukmenjawab pertanyaan. Cukup menarik karena siswa memberikan jawaban sesuai apa yang dipelajari dan apabila perlu, saya tambahkan.

Dari pengalaman sederhana ini, saya yakin bahwa gerakan merupakan pintu pembelajaran. Sebuah aktivitas bermakna luas. Pertama, siswa merasa gembira karena diakomodir keinginannya untuk bergerak. Sebuah metode yang berbeda dari banyak guru yang lebih cendrung ‘mendisiplinkan’ siswa dengan duduk tenang. Hal itu memang menghasilkan ‘kedisiplinan’, tetapi tanpa disadari telah memunculkan kegalauan dan rasa sedih dalam diri siswa.

Kedua, gerakan telah menjadi pintu kepada pembelajaran. Mereka diajak untuk menelitik hasil karya teman sambil mengajukan pertanyaan. Pada awal pertemuan, saya katakan, kita bisa mengukur kecerdasan seseorang dari cara bertanya. Karena itu mereka dilatih untuk mengajukan pertanyaan secara cerdas.

Pengalaman hari ini, Rabu 25 April kembali meyakinkan saya bahwa memang gerak merupakan pintu menuju pembelajaran dan harus terus saya ingat sebagai seorang guru.

Robert Bala. Penulis buku CREATIVE TEACHING (Terbit di Gramedia). Guru SMA Sekolah Tunas Indonesia.

Advertisements