HATI-HATI ‘CABUT GIGI’

Hati-hati ‘Cabut Gigi’

Lebih baik sakit gigi daripada sakit di hati…..”, demikian penggalan sebuah lagu. Bagi sang pengarang, sakit hati lebih dalam sakitnya dariapda sakit gigi. Tetapi bagi yang pernah mengalami sakit gigi seperti saya selama hampir 2 minggu, maka bisa saja lagu itu diubah: Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Benar sekali. Sangat sakit.

Dua minggu yang lalu 22 April, saya merasa nyeri di gusi. Pagi itu saya langsung ke dokter gigi dan langsung ditambal. Tetapi proses itu tidak berlangsung lama. Selama 2 minggu itu hampir belasan kali saya ke dokter gigi. Tidak enak memang. Di klinik (yang untung saja memakai BPJS), mereka sudah bosan melihat saya.

Yang saya mau ceritakan, bahwa di klinik itu ada 3 dokter gigi. Satu orang (dr O), bertugas dari Senin – Jumat pukul 13.00 – 19.00, yang lainnya bertugas hanya di akhir pekan yakni drg Y (Sabtu-Minggu 08.00 – 12.00), dan drg A (sabtu-minggu pukul 12.00 – 16.00).

Karena hanya punya waktu hari Sabtu-Minggu maka awalnya saya bertemu dr Y. Setelah melihat gigi saya, ia menambalnya. Tetapi karena pada hari berikutnya masih sakit dan juga tambalan pada sisi luar dan tidak bertahan, ia menganjurkan agar saya mengadakan rotgent.

Hanya waktu itu masih diberikan pilihan. Kalau tambalan itu sakit maka harus dicek sarafnya. Tetapi kalau tidak, maka bisa diteruskan tambalan. Karena tidak sakit, saya lalu usulkan agar ditambal secara permanen. (inilah kekeliruan yang saya buat karena justru di sinilah malapetakanya. Ternyata saraf itu tidak dimatikan, dan hanya ditambal dari luar, dan menjadi sumber sakit yang begitu dahsyat.

Saat sakit seperti ini, saya coba ganti dokter dan pergi berobat pada sore hari. Ternyata dokternya kerja dari jam 1 – 7 malam dan karena itu punya waktu untuk bisa melihat gigi saya. Dokter ini punya kesimpulan lain. Katanya, percuma rotgent karena memang gigi atas tidak punya topangan di bagian bawah. Yang bisa dilakukan adalah memasang gigi palsu bagian bawah agar bisa menopangnya. (Wah beda-beda ya analisis dokter….).

 Drg O juga memberi alternatif agar gigi itu dicabut. Konsekuensinya, ketika gigi atas dan bawah tidak ada, nanti akan bergerak merapat ke tengah. Tetapi itu jangka panjang. Pikir punya pikir, rasanya lebih baik punya gigi kurang daripada tambah gigi palsu yang tentu tidak nyaman. Juga setelah ngobrol dan teman-teman, rasanya cabut gigi masih lebih baik daripada gigi palsu. Apalagi gigi saya masih utuh semuanya. Yang kurang hanya geraham bagian paling belakang.

Usulan dokter ini benar juga. Saya pikir bahwa gigi ini kan intan permata. Mudah dicabut tetapi tidak bisa dipasang yang asli. Namun karena gigi rahang atas terus sakit, akhirnya pada 2/5 sore, di tengah guyuran hujan yang hebat saya ke Biomedika BS untuk rontgen. Oh ya biayanya Rp 215.000.

Segera dari rontgent saya terus ke poliknik karena dokternya masih ada. Setelah melihat kondisi gigi, ia berkesimpulan gigi bagian atas harus dicabut. Tapi kalau cabut gigi ada banyak ‘aturannya’. Misalnya: gigi tidak boleh sakit, tidak boleh punya riwayat darah tinggi, dan diabetes.

Saya terjerat dengan aturan ketiga karena punya gula. Saya pun kontrol gula. Sudah lama tidak kontrol gula tetapi karena selalu menjaganya maka saya tidak terlalu cemas. Waktu saya kontrol sore hari masih di atas kewajaran tetapi mestinya diturunkan lagi. Hari berikutnya turun 150 dan sempat naik lagi 180. Kalau menurut keterangan sih, gula masih wajar 2 jam setelah makan 180.

 

Dengan data itu saya siap-siap Jumat sore. Dari sekolah pun izin dengan alasan cabut gigi. Tetapi sampai di poliknik, ternyata dokter tidak masuk. Kata pegawai, anaknya diare dan doter tidak masuk kerja.

Agar tidak sia-sia pulang, karena obat untuk nyeri dan bengkak itu sudah habis, saya mampir di dokter umum untuk memberikan resep obat yang sama. Untung dokter M, orangnya baik sekali dan memberikan resep untuk mengambil obat yang sama seperti resep dokter gigi.

Pada Sabtu pagi, saya kembali lagi ke poliknik. Kali ini ketemu drg Y, yang setelah melihat gigi saya dan saya sempat ceritakan tentang gula darah, ia meminta agar dibuat analisis darah. Proses itu selanjutnya kami minta petugas lab dan diadakan uji, yang selesainya 3 jam kemudian.

Bagi drg Y, kalau ada gejala gula darah maka akan dirujuk ke RS. Saya pun mulai was-was. Berarti sudah agak parah atau minimal harus tambah waktu lagi untuk menderita sakit gigi karena kalau ke rujukan prosesnya lebih rumit. Tetapi tidak apa-apa, kalau dirujuk berarti dokternya lebih spesialis dan harus dilaksanakan di RS yang besar.

Karena hasil lab baru datang pada Sabtu sore, maka saya harus ke klinik lagi. Syukur, kali ini saya ketemu dokter lain (drg A).  Minimal inilah drg ketiga yang selama ini saya belum ketemu. Seperti biasa saya sodorkan hasil rotgent tetapi tidak memberitahukan bahwa saya konsultasikan dengan dokter lain. Atau minimal dia sudah tahu karena dalam klinik yang sama berarti dia bisa baca catatan.

Hasil observasi dokter A ini sungguh berbeda. Setelah melihat hasil rotgen ia berkesimpulan memang sudah sampai di saraf gigi. Tetapi saraf ini harus dimatikan. Kalau saraf sudah mati, pasti saja sakit malam pertama tetapi kemudian sudah baik lagi. Hari berikutnya ditambal gigi satunya dan kemudian bisa ditambal secara permanen.

Kata-kata itu bagi saya sudah di luar dugaan. Minimal keluar dari rasa serem sebelumnya karena saat itu saya dianjurkan untuk gigi saya dicabut dengan diadakan bius lokal. Bius yang tentu saja sangat menyakitkan dan menyerikan kalau sudah selesai bius. Ini ternyata dokter punya kesimpulan lain.

Saat pulang, saya tidak habis pikir. Apa yang terjadi kalau saya hanya konsultasi saja di satu dokter? Pasti keputusannya menjadi satu-satunya. Kalau keputusannya baik, tidak apa-apa. Tetapi kalau nekad mencabut gigi maka kekeliruannya (atau kebenarannya) tidak diperdebatkan oleh drg lain.

Tetapi kesimpulan saya pun belum final. Malam ini saya masih tunggu apakah gigi kembali sakit atau tidak. Kalau benar, besok pagi menghadap lagi dan ditambal di bagian lainnya sambil menunggu minggu depan lagi, harus menghadap dokter kembali untuk ditambal gigi secara permanen.

Tetapi dari pengalaman singkat ini, saya berkesimpulan demikian.

  • Jangan terlalu cepat mencabut gigi. Meskipun sudah divonis dokter tetapi harus cari pembanding. Dengan mencari pembanding tanpa menceritakan tindakan dokter sebelumnya, kita bisa punya pendapat alternatif.
  • Kalau sakit gigi sudah sampai ke saraf maka tindakan yang tepat adalah mematikan sarafnya. Setelah saraf dimatikan baru bisa ditambal. Karena kalau ditambal tanpa melihat keterkaitan saraf maka menambal hanya menambah sakit karena apa yang sakit ditutupi tetapi belum disembuhkan.
  • Rontgen adalah hal yang sangt penting untuk mengetahui kondisi gigi. Meski sedikit mengeluarkan kocek tetapi hal itu untuk melihat lebih jauh gigi dari dalam.
  • Kalau cabut gigi yang masih kuat (seperti gigi saya), dianjurkan agar diadakan dengan dokter di RS. Lebih lagi kalau ada darah tinggi atau diabetes. Hal itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Robert Bala, 5 Mei 2017
Advertisements