HOMILI, BERBICARA KE HATI

 HOMILI, BERBICARA KE HATI

Inspirasi Homili Paus Fransiskus, 7 Mei 2017

Minggu ke-4 Prapaskah sekaligus minggu panggilan. Sebuah momen yang di banyak paroki diramaikan oleh Serikat Misioner Anak yang berdandan bak biarawan-biarawati. Di Vatikan, Paus Fransiskus merayakan secara khusus dengan menahbiskan 10 imam baru.

Yang menarik, dalam homilinya, Paus menekankan hal yang kelihatan sederhana tetapi tanpa disadari menjadi masalah mendasar salah satunya tentang homili. Kata Paus: Agar homili sampai menyentuh hati. Tidak perlu homili yang terlalu intelektual dan begitu terelaborasi. Berbicaralah secara sederhana, berbicaralah ke hati.Apa yang disampaikan dalam homili akan menjadi bekal hidup.

Mengapa hal ini begitu mendapatkan perhatian dalam homili panggilan? Apa sebenarnya yang terjadi dengan homili?

Secara jelas, Paus menandaskan tidak sedikit homili yang tidak mengena di hati umat. Mengapa? Karena yang dielaborasi adalah sebuah homili yang begitu ‘intelektual’. Sebuha homili intelektual berpijak pada dasar-dasar umum yang sudah dikenal. Ia dijadikan pijakan. Darinya akan ditarik kesimpulan yang bisa diterapkan umat.

Homili seperti ini disebut homili deduktif. Sebuah homili yang selalu bertolak pada format yang merupakan hasil studi. Hal itu bisa terlihat dari model paparan homili yang ‘menjelaskan’ semua bacaan dalam misa tersebut dari bacaan pertama (biasanya dari Perjanjian Lama), Bacaan Kedua (Surat-surat), dan Injil.

Masing-masing dijelaskan latar belakang. Sang pengkhotbah lalu menjelaskan latar belakang eksegesenya agar ‘diketahui’ oleh umat. Tentu saja ia berpandangan, umat harus diberi pengetahuan eksegetis. Iman bisa diperkaya dengan intelek yang makin terasah.

Sebuah pandangan yang tidak terlalu salah juga. Di tengah kontak dengan masyarakat luas, kerap umat ditanyakan dasar imannya. Mereka tidak bisa menjelaskan. Homili lalu menjadi begitu intelektual. Imam menjelaskan apa yang tentu saja penting yang harus dijelaskan dengan baik agar diketahui.

Tetapi apa sebenarnya tujuan dari ibadah atau perayaan liturgi? Namanya saja perayaan. Berarti umat yang hadir perlu mengalami kegembiraan (namanya saja pesta). Dalam pesta seperti itu, yang perlu digerakan adalah hati. Mereka yang datang dengan aneka beban, ingin bergembira, ingin mendapatkan kata-kata yang menguatkan yang menjadi alasan baginya untuk bergembira.

Di sinilah sebuah homili yang perlu mengena ke hati, hal mana ditandaskan oleh Paus. Sebuah homili yang mengena, tidak bisa diawali dengan hal-hal intelektual. Ia tidak bisa bersifat deduktif, dari atas ke bawah, tetapi perlu muncul dari bawah ke atas. Inilah homili induktif.

Sebuah homili induktif, mulai dari pengalaman riil. Ia mulai dari hal nyata yang diketahui oleh orang yang hadir. Mereka semua terpusat pada masalah atau pengalaman itu. Pikiran mereka tengah dihantui oleh perasaan itu. Minimal pengalaman itu menjadi pembicaraan tidak sedikit orang.

Pengalaman riil itu ketika diangkat sebagai pengalaman nyata akan menarik perhatian pendengar. Mereka yang hadir mengdidentikkan diri dengan hal itu. Kalaupun belum mengetahuinya, mereka dengan segera paham karena dengan mudah diterima. Inilah titik berangkat sebuah homili yang disebut Paus, ‘sederhana’. Sebuah awal yang diketahui oleh semua orang dan menjadi pijakan bagi setiap orang.

Dalam kaitan dengan Public Speaking, memulai sesuatu yang dipahami sudah menjadi bagian terpenting dalam berbicara. Sebuah pembicaraan akan mudah diterima sangat ditentukan oleh 3 menit pertama. Sebaliknya apabila 3 menit pertama diisi dengan pendasaran yang intelektual dengan menjelaskan tiga bacaan secara eksegetis, sudah dipastikan bahwa homili telah kehilangan momen yang sangat penting.

Memang pada akhir setiap homili intelektual misalnya biasa diakhiri dengan ‘penerapan’. Hal itu dibuat agar ‘homili dapat membumi’. Sebuah metode yang sangat umum dipakai. Sayangnya, sebuah uraian yang terlalu intelektual akan mudah jatuh kepada seruan moralisme. Sebuah homili intelektual akan mudah diakhiri dengan ‘penegasan’ tentang apa yang ‘harus dilaksanakan oleh umat’ sebagai tindak lanjut.

Homili seperti ini akan menjadi beban yang berat. Sebuah homili moralistis akan dirasakan sebagai hal yang memberatkan dan dijadikan beban. Lebih lagi, umat yang hadir merasakan diperlakukan seakan-akan ia masih anak kecil. Terlalu banyak teguran, nasihat, arahan, padahal terlepas dari kelemahan manusiawi, seperti halnya juga sang pastor, umat juga merupakan orang dewasa dengan keunggulan yang tidak biasa dianggap remeh.

Kembali ke Hati
Perubahan mendasar atas homili, seperti ditandaskan Paus adalah ‘parlare al cuori’ (berbicara ke hati). Sebuah ajakan yang kelihatan sederhana tetapi sangat mengena dan mendalam.

Homili pada dasarnya sebuah pembicaraan, percakapan. Dari kata ‘homilein’ berarti percakapan kekeluargaan. Sebuah pembicaraan yang tanpa ada rasa superior, tetapi justru kesederajatan. Sang pengkhotbah tidak merasa paling tahu dan karenanya cendrung menasihati, tetapi turun sebagai saudara untuk berbicara apa adanya.

Pembicaraan antar saudara tidak akan bergerak jauh dari pertautan hati. Sebuah pembicaraan yang menekankan hati. Apa yang disampaikan ditanggapi dengan hati. Ada rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Orang yang berbicara tidak mengklaim diri sebagai yang paling tahu tetapi memahami tugasnya sebagai sebuah pelayanan persaudaraan.

Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menekankan bahwa model homili menjadi ukuran kedekatan dengan umat. Sebuah homili yang terlalu abstrak, intelektual, dan terlalu mengena di otak, adalah tanda kejauhan dari umat yang nota bene lebih menekankan rasa. Sebuah homili yang terlalu eksegetis, moralistis, doktinal, sekilas menunjukkan ‘kehebatan’ pengkhotbah, tetapi pada saat yang sama, menunjukkan ‘jauhnya sang pengkhotbah dari umat’. Homili telah menjadi ukuran kedekatan yang tidak terwujud antara pengkhotbah dan umat

Seruan yang disampaikan pada Minggu Panggilan ini tentu tidak saja ditujukan kepada para imam baru. Ia juga menjadi sebuah seruan kepada semua umat. Paus menitipkan lewat imam baru agar semua pengkhotbah belajar lagi berbicara ke hati. Sebuah pembicaraan sederhana, megena, karena yang digerakan adalah hati. Ketika hati digerakan, maka seluruh diri akan bergerak besamanya.

Robert Bala. Penulis buku: Homili Yang Membumi (Penerbit Kanisius Yogjakarta, 2017).