LEMBATA: MUNGKIN KALAH

 

LEMBATA: MUNGKIN KALAH

Membaca dinamika politik di Lembata, pertanyaan menggelitik: Apakah para paslon selain siap memang juga siap kalah? Pertanyaan penting karena kemungkinan menang adalah hanya 20% dari kemungkinan. Artinya seseorang akan menang bila 4 paslon lainnya kalah. Sementara kekalahan justru berbanding terbalik. Potensi kalah adalah 80%.

Lalu apa yang mestinya dibuat?

Ujaran Kebencian

Kalau potensi menang lebih kecil dari kalah, maka mengapa orang melansirkan ujaran kebencian sekadar mendulang suara? Mengapa orang begitu ‘tak terkontrol’ mengumumkan 100 persen sementara bahkan kemenangan 20% saja sudah ‘lumayan’?

Jelas, reaksi-reaksi seperti ini bersifat tidak wajar dan tentu saja tidak normal. Team sukses begitu ‘antusias’. Mereka mengklaim kehadiran orang dalam kampanye dialogis sebagai indikatornya. Padahal hal itu belum tentu menjamin.lembata

Masyarakat di beberapa kampung Desember silam mengutarakan bahwa mereka ingin mendengar program yang ditawarkan. Ya, bisa saja ada sajian ‘mamiri’ (alias makan minum ringan) gratis. Tetapi rakyat ternyata lebih dewasa dari paslon dan team sukses. Mereka hadir secara netral sementara team sukses mengklaim dari berapa jari yang diangkat sebagai dukugan 100%. Terlalu berani.

Yang paling disayangkan tentu saja ujaran kebencian. Dengan bantuan media sosial, begitu banyak ujaran kebencian dilansirkan. Yang negatif dari lawan diangkat selain sebagai lawakan juga ingin menunjukkan ketakwarasan lawan.

Yang tidak dipikirkan, kata-kata ironis itu tentu saja disambut ‘gegap gempira’ team sukses. Mereka berteriak gemuruh menyambut ketaklogisan yang dihadirkan paslon lain. Tetapi bagi pemilih netral (termasuk masyarakat di kampung) mereka lihat alasan untuk tidak memilihnya. Mereka merasa, tidak ada gunanya memilih orang yang hanya memperbesar ujaran kebencian.

Ada pertanyaan yang lebih menggelitik. Apakah paslon tidak membayangkan apa yang terjadi ketika harus dipimpin oleh orang yang selama ini menjadi objek ujaran kebencian? Sudah dipastikan, 5 tahun ke depan penuh ketidapastian. Selain sangat menderita karena orang yang dihina justru jadi pemimpin. Selain itu sederetan konsekuensi bisa saja hadir sebagai reaksi manusiawi dari orang yang sudah direndahkan martabatnya (meskipun kita tidak inginkan hal itu).

Di sini ujaran kebencian sama sekali tidak ada maknanya. Kekurangan orang lain, hendakhnya disibak sendiri oleh rakyat. Rakya punya logika hati untuk membuktikan hal itu tanpa perlu didikte. Malah ketika didikte, ia berbalik dari simpatisan menjadi lawan.

Berpikir Positif

Di tengah minimnya waktu berada di Lewoleba pada Desember lalu, saya sangat berkeinginan menemui semua kandidat. Sayangnya, oleh kasibnya para kandidat, hanya 3 kandidat yang bisa ditemui : Sunday, Winners, dan Titen. Victory dan Halus tidak bisa ditemui karena ada jadwal yang nyaris bisa disesuaikan.

Tetapi dari minimnya pengenalan saya, saat berbincang mengadu program, saya daptkan bahwa memang yang menjadi paslon adalah figur terbaik dari Lembata. Herman-Vianney dengan jaringannya yang bisa mengangkat Lembata dari keterpurukan infrastruktur; Winners yang sudah mengenal birokrat dari dalam dengan pikiran strategisnya; Sunnday yang sudah terbukti bekerja dan itulah yang diingat masyarakat kecil.tekutuklah-yang-memecahbelahkan-lembata

Artinya, siapapun dari ketiganya (atau kelimanya), pasti saja merupakan tokoh terbaik Lembata. Minimal melalui kampanye, mereka memberikan informasi ke public tentang apa yang bisa saja selama ini begitu tidak diketahui. Kontribusi mereka menyibak, adalah sebuah sumbangan yang amat besar.

Dengan demikian, masyarakat yang netral akan kian puas ketika masing-masing paslon berlomba memaparkan hal positif yang sudah atau akan dilakukan. Mereka focus pada strategi yang dilakukan. Memang dalam proses itu, logis orang membanding-bandingkan program yang dilaksanakan sebelumnya. Hal itu wajar.

Yang disayangkan, yang dibandingkan bukan program kerja tetapi justru hal-hal privat. Mereka begitu fokus mengkritik hal yang tidak penting. Hal itu bisa saja menguntungkan timses sendiri tetapi bagi pemilih netral, mereka sangat gelih dengan gelagat timses maupun balon yang terlalu focus pada kelemahan orang lain.ahok8

Jelasnya, timses apalagi balon perlu berpikir positif. Pertama, mengakui bahwa semua kandidat memiliki kemungkinan menang sama seperti menginginkan dirinya menang. Hal itu akan memunculkan respek hingga berpikir bahwa ketika lawan menang, ia pun masih bisa berkontribusi memberikan masukan sesuai temuan selama kampanye.

Kedua, dengan membanyangkan akan kalah, seseorag tidak terlalu reaktif dan terlibat dalam kampanye hitam yang sekedar menjatuhkan orang lain. Ia rasa kampanye negatif itu akan begitu pahit dirasakan karena orang yang jadi objek, justru kini menang dan berkuasa. Sebuah sakit hati doble: sudah berbuat yang tidak etis dan juga tidak mengenyam kekalahan.neraka4

Ketiga, kemungkinan kalah membuat seseorang bisa merancang masa depan yang lebih baik. Kini selama kampanye, selagi ada kontribusi ‘sana-sini’. Pengawal begitu banyak. Tetapi apa yang terjadi setelah 15 Februari? Bisa saja masih ada orang yang mengelilingi, tetapi mungkin saja dari orang yang masih ‘dekat’, itu karena ingin menagih janji atas pinjaman. Kekalahan karena itu begitu sadis. Membayangkan kekalahan itu sulit dan pahit. Tetapi selalu membayangkan manisnya kekuasaan, akan berakibat fatal.

Kempat, bayangan kekalahan mengingatkan semua kandidat bahwa pilkada ini tak lebih dari sebuah ‘permainan’. Kita beradu visi, misi, dan strategi. Kita berusaha bermain sebaik mungkin tetapi tidak boleh dilupakan bahwa kelompok lain pun tidak akan membiarkan begitu saja gawangnya kosong agar jadi bulan-bulanan. Mereka pun punya strategi yang tidak sedikitnya justru dikeluarkan di ‘last minute’. Mereka yang tadinya tidak dianggap, bisa saja jadi pilihan dan berkuasa.januari4

Sebuah contoh membangun Lembata dengan berpikir positif melalui budaya, persatuan, dan kewirausahaan (Yayasan KOKER NIKO BEEKER, Jakarta)

Dengan demikian, permainan ini mesti disadari bawa ada babak pertama, ada istirahat, dan babak kedua. Yang paling penting, setelah permainan, semua harus kembali ke hidup normal. Permainan telah usai dan bekerja. Hal ini mengingatkan untuk membayangkan bahwa waktu permainan hanya sedikit kecil saja dari keseluruhan waktu kita. Karena itu realistis atas ‘permainan kini’ dan juga realistis juga dengan ‘permainan hidup yang sebenarnya’.

Pada akhirnya bayangan mungkin kalah akan memungkinkan untuk bersikap leibh positif membangun Lembata. Yang menang, harus berpikir, kekuasaan yang ada digunakan untuk rakyat. Ketika rakyat dikhianati, maka pengarusnya besar. Penjara telah jadi tempat mukim dari orang yang selama 5 tahun berkuasa. Mereka lupa, 5 tahun itu tidak ada artinya dengan seluruh hidup yang masih panjang. Kita ingat menang, tetapi ingat kalah karena di sana mengajarkan kita banyak rahasia hidup. Selamat. 28/1/2017. Robert Bala.

 

Advertisements