M.S.N (M. SANUSI – BARCELONA) DAN UANG PERTEMANAN?

  1. M.S.N (M. SANUSI-BARCELONA), DAN UANG PERTEMANAN?

Memiliki saudara adalah sebuah keharusan. Orang pasti punya saudara meski tidak punya teman. Kita lahir sudah ditakdirkan bersaudara dalam keluarga. Hal itu berbeda dengan berteman. Meski makhluk sosial, tetapi tidak semua orang bisa mendapat teman yang baik.M. SANUSI

Lalu apa kaitannya kalau orang mengatakan ‘Uang tidak bersaudara’. Artinya, saudara saja tidak ia miliki, apalagi teman. Tetapi apa yang terjadi ketika uang yang katanya tidak bersaudara itu dalam kenyataan dijuluki, khusus oleh anggota DPRD DKI sebagai ‘uang pertemanan?’ Model pertemanan yang bagaimana? Mengapa ia bisa ‘berteman’ meski ‘tidak bersaudara?’

‘Teman Abadi’?

Meski susah dipahami, tetapi bagi saya bisa dimengerti apa  maksud kata-kata M Sanusi, saat mengungkapkan bahwa uang Rp 1 miliar yang diterima saat ditangkap juga uang Rp 1 miliar sebelumnya merupakan ‘uang pertemanan’.M SANUSI3

Itu bisa saja sebuah pengakuan polos. Pertemanan dalam lingkungan bisnis juga ada dan dianggap biasa.  Kita musti punya banyak teman supaya usaha kita bisa laku. Di sana setiap orang harus saling ‘memerhatikan’, artinya saling memberi.

Tetapi orang Latin Latin bilang: “do ut des”, saya memberi supaya kamu memberi. Artinya, tidak ada yang ‘tiba-tiba saja’ memberi Rp 1 miliar. Uang itu terlalu banyak. Sudah pasti uang itu diberikan karena sesuatu.M SANUSI4

Permasalahannya, apakah uang itu dianggap ‘sesuatu’ yang wajar atau tidak wajar? Nampaknya, hal mana terlihat dalam pembelaan, M. Sanusi tidak menganggapnya sebagai masalah. Hal itu barangkali sudah pernah dilakukan sebelumnya. Secara pribadi barangkali ia sudah menganggap hal itu wajar.

Bisa saja ia pernah menerima dalam ‘kebersamaan’ dengan orang lain. Artinya, kalau orang lain melakukan dan kini dilakukan, rasanya dianggap ‘biasa-biasa saja’. Semua orang melakukan hal itu dengan demikian mengulang atau melaksanakan dalam cara lain dianggap ‘wajar’.UANG PERTEMANAN2

Lalu kalau uang yang diterima sebagai ‘uang pertemanan’, maka apa model teman yang dimaksud? Teman yang dimaksud di sini tentu bukan dalam arti sebenarnya. Bukan teman abadi melainkan pertemanan karena kepentingan. Sejauh ada saling menguntungkan, membantu dan dibantu, maka selama itu masih ada pertemanan. Di sini pertemanan itu tentu saja tidak abadi.M SANUSI2

Maksudnya jelas. Selagi segala sesuatu ‘aman’, maka pertemanan itu bisa dilanjutkan. Tetapi ketika terjadi ‘sesuatu’ seperti OTT, maka pertemanan itu mulai dikaburkan. M. Sanusi barangkali mulai merasa ‘ditinggalkan’. Para ‘teman’ yang dulu pernah mengalami, berusaha untuk ‘cuci tangan’. Mereka semua pergi sambil mengklaim bahwa itu tindakan ‘sendiri’, tidak ada kaitan dengan kolega.

Ambruk Seketika

Kisah korupsi terutama OTT yang terus terjadi mestinya membuat orang merasa jera dengan perlakuan itu. Mestinya orang berpikir sejenak, memperoleh ‘sesuatu’ secara tidak wajar, maka ia raib’ seketika itu juga.UANG PERTEMANAN2

Kalau mengikuti kebijakan ‘sadis’ di negara lain, pelaku korupsi bisa langsung dimejahijaukan dan selanjutnya bisa ‘dihukum mati’. Artinya, mengapa harus ‘bersenang-senang sesaat’, kalau akhirnya justeru menderita selamanya?

Itu barangkali yang tidak terpikir oleh orang yang melakukan korupsi. Selain karena sudah terbiasa sehingga suara hatinya sudah tumpul, juga tidak berpikir bahwa ‘kekayaan’ itu sebenarnya tidak ada artinya dengan derita (bila ditangkap), atau derita batia karena telah mencuri. Bagi yang ditangkap, punya waktu untuk memperbaiki diri tetapi yang tidak, tentu saja membawanya sampai mati. Ia jadi beban.

BARCELONA, SPAIN - NOVEMBER 28: Neymar (C) of FC Barcelona celebrates with his teammates Luis Suarez (L) and Lionel Messi of FC Barcelonaa after scoring his team's third goal of FC Barcelonaduring the La Liga match between FC Barcelona and Real Sociedad de Futbol at Camp Nou on November 28, 2015 in Barcelona, Spain. (Photo by David Ramos/Getty Images)

BARCELONA, SPAIN – NOVEMBER 28:

Untuk kasus M. Sanusi, saya langsung membayangkan seperti team tangguh MSN dari Barcelona, Messi, Suarez, dan Neymar. Sampai dua minggu sebelumnya, Barcelona dengan MSN dianggap sebagai segalanya. Ia bahkan menang puluhan kali berturut-turut. Mengahadapi Barcelona berarti menerima kekalahan. Itu sudah dianggap pasti.MSN3

Dalam periode yang sama, M. Sanusi menyingkat namanya mengikuti keberhasilan trio Barcelona sebagai “M.SN), Alias Muhammad SaNusi). Ia merasa di saat itu ia Berjaya.

Tetapi apa yang terjadi? Kejayaan itu sesaat. Kejayaan berbulan-bulan yang menjadikan Barcelona di atas segala-galanya, dalam dua minggu terakhir, berada di jurang. Barcelona dipermalukan oleh musuh bebuyutannya di kandangnya sendiri. Itu derita paling mengerikan daripada kalah dari La Liga.

Tidak hanya itu. Sejak saat itu, Barcelona dianggap ‘nada’ (tidak ada artinya). Berturut-turut ia dikalahkan hingga ketika tulisan ini dibuat, Barcelona sudah sama nilai dengan Atletico Madrid. Dengan Real Madrid, hanya beda 1 poin sementara di depan masih ada pertandingan. Itu belum terhitung kekalahan di perdepana Champions yang ‘ditendang’ oleh Atletico Madrid.MSN5

Derita paling sadis. Di depan, wajah kekalahan itu begitu nyata. Kalah dari Champions. Dari La Liga, ia mungkin saja terperosok ke jurang, hal mana belum terjadi sebelumnya. Piala “Copa del Rey”, bisa juga akan hilang. Barcelona akhirnya jaya berbulan-bulan, disanjung hampir sepanjang kompetisi. Tetapi diakhir, ia jatuh, dan jatuh.MSN4

Kisah di atas hanya mau mengingatkan tetang makna ‘kejayaan’ dan pertemanan dalam arti sebenarnya. MSN dari Barcelona, meski kalah, ia mengingatkan bahwa kejayaan itu bisa ambruk seketika. Hanya oleh sikap tidak hati-hati, kejayaan yang begitu dijaga itu jatuh seketika dan semuanya lenyap seketika.M. SANUSI

Untuk MSn (M. Sanusi), dari penjara tentu sadar bahwa kejayaan akan ambruk lebih dalam malah menghilang segala-galanya hanya karena tindakan tak terpuji, Kejayaan yang bertahun-tahun dijaga, kini hilang seketika dengan sangat memalukan.

Tetapi bagi kita yang ‘di luar panggung’, bisa belajar. Baik MSN maupun MSn, tidak ada yang abadi. Tidak ada teman yang abadi. Yang ada hanya kepentingan yang abadi. Lalu, apakah kita masih mau melanjutkan pertemanan seperti itu?

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.