ME(MATA-NAJWA)I RANO KARNO DAN WAHIDIN HALIM

ME(MATA-NAJWA)I

RANO KARNO DAN WAHIDIN HALIM

Secara jujur, hingga beberapa saat sebelum diadakan Debat (melalui Mata Najwa), saya belum mengenal kandidat calon gubernur Banten. Dalam sebuah perjalanan pulang dari kerja, ketika rekan saya bertanya tentang siapa yang akan dipilih, saya bingung.

Di satu pihak, Rano Karno dengan latar belakang sebagai artis, sudah pasti (dalam bayangan saya) hanya dibekali ‘kepopulerannya’. Itupun yang bisa jadi alasan mengapa ia dipinang jadi ‘wabub Tangerang’ dan kemudian wagub Banten.banten1

Sementara itu Wahidin adalah ex walikota Tangerang. 5 tahun lalu, saat masih ‘segar’, ia mau lawan ‘sang jawara’ Banten, Ratu Atut. Dengan slogan melawan politik dinasti, ia hadir untuk mendongkel sang ratu dari takhtanya. Sayangnya, sang ratu terlalu kuat.

Kini ia maju lagi. Yang anehnya, dengan putera dari ‘sang dinasti’ (Andika Hazrumy) Hal itu memunculkan kegalauan. Minimal membuat saya (dan barangkali banyak orang lain lagi) bingung.

Mengawang

Tadinya saya tidak ada rencana menontont debat Rano dan Wahidin di Metro TV 1/2 yang lalu. Secara kebetulan acara debat itu saya temukan saat berpindah-pindah cannel. Ya ini barangkali pengaruh dari dominasinya pilkada DKI Jakarta sehingga kita yang dipinggiran Jakarta lebih merasa identik dengan DKI dan lupa bahwa sebenarnya yang ada di depan adalah Banten.

Lalu apa kesan saya selama menyaksikan acara debat yang nota bene dibandingkan dengan 2 debat PILKADA DKI, hemat saya merupakan debat terbaik dengan moderator tercerdas. Saya bisa memberi nilai 9untuk Najwa, dibandingkan Tina Talisa (6) dan Ira Koesno (7). Alasannya, Najwa bisa memberikan tantangan atas jawaban yang sudah dikemukakan oleh kandidat. Dengan demikian terjadi penajaman pikiran.banten5

Sesungguhnya saat mengikuti debat itu anggapan saya, Wahidin Halim, kelahiran 14 Agustus 1954 (62 tahun) adalah kandidat yang paling baik. Dengan pengalaman sebagai walikota Tangerang 2 periode (2003 – 2013) dan kini sebagai anggota DPR RI, selain merupakan adik dari Menlu Hassan Wirajuda (2001-2009), ia menjadi kandidat terbaik. Pengalaman mengelola birokrasi dianggap menjadi kekuatan yang bisa menjadikan Banten berkembang lebih baik.

Sayangnya, dalam debat itu tidak terasa ada jawaban yang begitu mencolok, minimal bisa mengaet orang yang masih ‘abu-abu’ seperti saya. Malah beberapa jawaban kelihatan ‘tidak nyambung’ dan datar saja. Saat ditanya di mana Andika yang sebenarnya sudah memastikan sebelumnya akan hadir, Wahidin mengungkapkan ia ada bebera kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan dan berada di posisi yang menyulitkannya datang mengikuti debat.

Namun ketika ‘dikejar’ Najwa, bahwa ia sebenarnya tidak berada jauh, Wahin sadar bahwa apa yang ia sampaikan hanya ‘basa-basi’ menutupi absensi sang wakil. Wahidin kemudian dengan tegas mengatakan ‘akan menegur’ sang wakil.

Ketika topik ‘dinasti’ yang diangkat Najwa sebagai ‘peluru’ 5 tahun lalu waktu melawan Atut, Wahidin memberikan jawaban yang agak mengambang. Ia memahami ‘dinasti’ tidak sebagai ikatan darah dalam pemerintahan tetapi kepada kepentingan. Sebuah jawaban yang mestinya tidak terjadi.8banten9

Semestinya ia akui bahwa 5 tahun lalu memang benar adanya. Tetapi dalam perjalanan waktu, ketika proses itu terjadi, maka sang ‘jawara’ Atut sudah diproses hukum. Tetapi itu tidak berarti apa yang dibuat oleh Atut semuanya tidak baik.
Itulah yang kerap terjadi di negeri ini. Pemimpin sebelumnya dianggap semua yang dilaksanakan ‘jelek seluruhnya’. Tekad inilah yang ingin dilaksanakan oleh Andika dan dirinya. Minimal pengalaman itu tidak terulang lagi. Lubang yang jadi tempat terantuk tidak akan terulang lagi. Pada sisi lain, setiap orang dalam dinasti punya hak yang sama sebagai warga negara.

Ketika didiskusikan tema yang lebih penting tentang jaminan sosial terutama bagi yang sakit, Rano Karno melihat bahwa program yang dianjukan Wahidin terlalu mengada-ada. 11,83 juta. APBD Banten baru mencapai Rp 9,5 triliun. Dengan dana itu tidak akan cukup untuk dana sosial. Tetapi hal itu dijawab Wahidin bahwa dalam pengalaman sebagai walikota, tidak semua orang sakit. Maksimal 10% saja, hal mana dijawab Rano Karno bahwa dalam membuat perhitungan, dialokasikan untuk semua orang.

Terperangah Rano

Rano Karno dan Embay Mulya Syarief memang tidak saya bayangkan akan memberikan jawaban yang lebih baik dari prasangka. Artinya, kalau pun jawabannya dari segi kualitas bisa ‘setingkat’ dengan WAhidin, tetapi itu saya anggap lebih tinggi dari asumsi saya.

Dari debat saya mendapatkan informasi tentan prestasi banten memperoleh Opini Wajar dengan Pengecualian (WDP) dari BPK. Prestasi ini lebih baik karena 2 tahun sebelumnya Banten memperoleh predikat ‘disclaimer’.banten2

Banten, melalui kepemimpinan dari pria kelahiran 8 Oktober 1960 (56 tahun) juga memperoleh penghargaan Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan dalam Kemendagri. Banten menjadi 7 propinsi terbaik menurut penilaian Kemendagri. Selain itu, Banten juga menduduki peringkat ke-4 secara nasional dalam keterbukaan informasi publik untuk kategori pemerintahan provinsi dari 34 provinsi.

Yang menarik dan bisa jadi penjelasan, mengapa Rano Karno dapat memperoleh prestasi seperti itu? Hemat saya didasarkan pada dua hal penting. Pertama, oleh pengenalannya akan masalah di lapangan. Sebagai aktor ia sadar bahwa niscaya orang bisa melakonkan sesuatu kalau tidak memahami keadaan riil. Dengan demikian sudah ada dalam dirinya ‘penjiwaan’ akan permasalahan. Ada empati yang mendalam merasakan apa yang dialami masyarakat.

Kedua, Rano sadar bahwa ia terpilih jadi pejabat publik itu karena ‘popularias’. Kalau ia tidak pernah jadi artis, tidak ada orang yang meliriknya. Tetapi hal itu dianggap sebagai peluang sekaligus tantangan. Keputusannya untuk kuliah hingga akhirnya wisudah pada tahun 2013, menunjukkan sebuah upaya membekali diri dengan pengetahuan.banten13

Tidak hanya itu. Keputusan Banten menggandeng KPK dalam pencegahan Korupsi. Sejak 12 April 2016, Banten bekerjasama dengan KPK yang dituangkan dalam 10 kesepakatan besama. Penyusunan rencana teknokratis RPJMD 2017-2022, adalah salah satu kerja sama yang dibangun antara KPK dan Provinsi Banten.

Saya tidak boleh berhenti terkagum dengan Rano. Berhenti mengagumi tanpa mendalami pihak lain bisa ditafsir sebagai tak seimbang dan tendensius. Dari segi kualitas pribadi, ia menjadi sangat sedikit bupati yang bergeral doktor. Ia punya kemampuan intelektualitas yang luar biasa.banten4

Dari sisi prestasi, Wahidin yang berasal dari Partai Demokrat mendapatkan sanjungan dari SBY, presiden saat itu. Ia sanggup mengalokasikan 48% dari seluruh total APBD menjadi contoh yang patut diikuti daerah lain. Alokasi 20% dari APBD untuk pendidikan juga menjadi program menonjol.banten9

Perhatian pada guru juga menjadi hal yang sangat nyata. Saat mulai menjadi walikota, insentif yang diterima guru hanya Rp 50rb. 10 tahun kemudian telah menjadi Rp 50.000. Semuanya itu belum cukup kalau ditambahakn dengan program menggratiskan biaya kesehatan untuk semua msyarakat. Biaya rawat nginap digratiskan baik untuk orang kaya maupun orang miskin.

Siapa yang Dipilih?

Bagi tidak sedikit warga Banten yang berada di pinggiran Jakarta seperti saya, tipe orang yang tidak kenal daerahnya (Banten) seperti saya, pasti cukup banyak. Mereka terlalu berkiprah ke Jakarta dan lupa induknya, Banten.

Bagi yang sempat mengikuti debat 1/2 yang lalu, hemat saya tidak sedikit orang cukup terperangah dengan keberhasilan dan kesuksesan Rano. Ia telah mencuri perhatian. Dalam waktu yang cukup singkat menjadi gubernur 2 tahun dan 3 tahun sebagai wagub, ia sudah bisa memetakan permasalahan. Ia melakukan tindakan yang cukup berani dengan menggandeng KPK karena ia tahu, ada kaitan yang sangat ‘erat’ antara dinasti dan KKN.banten7

Hal itu cukup erat berkaitan dengan RPJMD 2017-2022.Rano telah mengambil bagian dalam menyusun dan saya kira tidak berlebihan kalau program itu bisa dilanjutkan. Tetapi harus diakui bahwa keberhasilan itu akan ditentukan oleh profesionalisme yang harus dijadikan hal penting dalam pembangunan. Figur yang potensial harus diorbitkan dan bukan karena relasi kekerabatan.

Pada sisi lain, dengan pengalaman Wahidin, tentu jadi hal yang sangat bermanfaat. Ia akan menjadikan ‘Banten’ seperti Tangerang Selatan. Program unggulan yang telah diujicoba dan berhasil akan terus diwujudkan. Wahidin tidak butuh waktu lagi untuk belajar, hal mana masih akan dilakuakn Rano Karno yang pasti harus mencari informasi.

Tetapi fakta bahwa Banten adalah provinsi dan bukan sekadar sebuah kota (seperti Tangerang). Bila saat Wahidin berkuasa, Tangerang telah menjadi sangat profesional, sementara daerah lain di Banten masih terikat dengan dinasti. Minimal dalam pengalaman Rano Karno beberapa tahun terahir, Dinasti telah menadji penghambat.

Dengan demikian proses itu tidak mudah dilawan. Pikiran cerdas (seperti diwakili kecerdasan Wahidin) tidak akan mudah masuk kalau KKN masih menjadi begitu kuat. Gandengan Wahidin, yakni Andika sebagai wagub, bisa saja mewakili generasi baru yang tidak akan mengulang lagi kesalahan yang sama. Tetapi pengalaman itu masih terlalu baru, dari ibu kepada anak.banten6

Artinya, selagi ikatan emosional kita dengan ibu masih kuat, maka apapun yang dilaksanakan anak tentu memiliki kadar pengaruh yang sangat besar. Sampai pada titik ini, pikiran cerdas dari Wahidin akan berhadapan dengan keragu-raguan mempertanyakan keseriusan di balik Wahidin.

Secara pribadi, sebagai orang yang tidak berafiliasi dalam partai manapun dan tidak terikat dengan Rano Karno atau Wahidin, saya merasa, bahwa apabila kedua calon ini ‘sama saja dalam kualitas’, maka saya akan memilih Rano. Alasannya, karena apresiasi saya sebenarnya lebih rendah dari yang ia tampilkan dalam debat di mana ia sudah berhadapan sama mampu dengan Wahidin.

Suaya saya tentu tidak ada pengaruhnya. Setiap warga Banten punya suara masing-masing. Tetapi kalau yang mengikuti debat dan masih ragu-ragu, minimal saya kisahkan bahwa saya tidak ragu lagi. Pilihan saya pada Rano Karno. (Robert Bala, Warga Banten 5 Februari 2017).

Advertisements