Memilih untuk Indonesia

Memilih Untuk Indonesia?

Gemuruh Pileg 2014 begitu jauh diumumkan, disiapkan, dan kini dilaksanakan. Namun mendekati hari pemilihan, Kartu Undangan yang diharapkan bisa menjadikan saya salah seorang pemilih tidak nongol juga.

Sedikit mengherankan. Asumsi saya, karena dalam pemilihan gubernur sudah tercatat, maka kali ini tidak perlu repot-repot lagi. Ternyata yang tidak diharapkan pun terjadi. Itu berarti saya akan menambah ‘golput’, bukan karena ‘kehendak’, tetapi karena keadaan.

Tetapi setelah membaca ‘running text’ bahwa yang tidak mendapatkan undangan, bisa mengandalkan KTP, maka pukul 10.50, bersama isteri (tak terkecuali, Diego, anak kami), mampir ke TPS yang berjarak 400an meter dari rumah.jokowii

Samapai di sana, kami diminta untuk mencopykan KTP. Setelahnya, ketika kembali mendaftar, ternyata alamat KTP kami di Jombang, daerah lain di Tangsel. Setelah berembuk begitu lama, akhirnya diputuskan, sampai pukul 12.00 akan diprioritaskan bagi yang sudah terdaftar. Bagi yang belum terdaftar, akan memilih setelah pukul 12.00.

Bingung

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saat jadwal untuk pemilih tambahan, saya pun mendekat dan ‘untung saja’ diberi kesempatan untuk bisa memilih.

Sebelumnya, saya merasa tertarik untuk melihat sebentar daftar calon yang ditempelkan. Harus saya akui, tak seorang pun yang saya kenal. Hali tu makin jelas ketika saya membuka empat kertas suara, masing-masing DPRD Tangsel, DPRD Banten, DPR Pusat, dan DPD, ketakjelasan itu menjadi lebih nyata lagi.

Ternyata bukan saya saja. Saat berdiri sebentar di pintu TPS, saya melihat-lihat calon yang ada dan berdiri bersama beberapa orang lainnya. Ternyata kesan tidak tahu itu bukan saya saja. Orang yang ada di samping saya pun punya kesan yang sama: tidak megenal siapa yang akan dipilih.Jokkowi

Saya lalu membayangkan, bagaiman yang terjadi pada pileg 2009 lalu dengan 40an partai? Bagaimana besarnya kertas pemilihan dan bagaimana bingungnya orang. Memang, di negara yang sangat besar dan luas, harus dipersempit lagi. Partai politik perlu diperkecil. Caleg pun dikurangi. Hal itu akan menjadikan partai politik lebih efektif mengingat, pendidikan politik masih sangat diharapkan terjadi dari partai politik.

Cara paling praktis adalah melihat gambar dari partai politik. Kebetulan popularitas Jokowi yang cukup tinggi, dan juga ditambahakn dengan pengalamannya menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI (meski baru dua tahun), jadi alasan yang cukup. Yang penting meloloskan Jokowi ke RI 1, yang lainnya, nanti tugas partai penguasa yang menetapkan siapa yang duduk di DPR(D).

Untuk DPD, tentu harus menggunakan ‘tebakan’. Penghilatan sekilas saja untuk menusuk pada orang yang bisa dianggap mewakili. Hal itu juga dikarenakan oleh minimnya promosi yang dibuat oleh anggota tersebut. Tak seorang pun caleg yang saya lihat ‘bergantungan’ di pohon. Artinya, bagi yang bergantungan saja sulit dipilih, apalagi yang ‘tidak bergantungan’, hehehe.

Evaluasi

Setelah mencoblos, saya ada rasa ingin tahu. Minimal orang yang saya harap agar orang yang saya pilih bisa menjadi menang. Atau, kini saya merasa bertanggungjawab untuk menuntut kepada orang yang saya pilih agar lebih sungguh-sungguh lagi. Sebaliknya, kalau tidak ikut memilih, apakah saya bisa menuntut?

Dari catatan peroleh suara, saya mendapatkan kesimpulan sementara bahwa akhirnya ada tiga partai yang sangat menonjol: PDIP, Golkar, dan Gerindra. Hasil yang dicapai bisa menggambarkan juga tentang prospek calon presiden yang akan diajukan kemudian.

Sekilas, PDIP pantas untuk duduk di posisi tertinggi. Meski bukan mutlak, tetapi itu merupakan sebuah penghargaan atas apa yang sudah diperoleh. Selama 10 tahun, konsistensi pada ideologi itu sangat terasa. Ia tidak terjebak dalam politik pragmatis, sekedar bagi-bagi kursi.

Kenyataan inilah yang bisa diharapkan sesudah pileg ini ke pilpres, Juli nanti. Artinya, koalisi dengan partai lain, penting, tetapi tidak bisa dipahami dalam sekedar bagi-bagi kursi. Andaikan sekedar melengkapi syarat administratif, 20%, maka dengan kemungkinan ‘lengsernya’ PBB dan PKPI, suara itu diharapkan bisa menggenapi yang masih kurang.

Dengan syarat itu bisa mengajukan calon presidennya tanpa harus jatuh untuk ‘tawar-menawar’ kursi. Tetapi kalau pun ada tawar-menawar, kompetensi dan konsistensi itu sangat diperhatikan. Partai pendukung bisa mengajukan nama tetapi kata akhir harus tetap pada pemenangnya.

Untuk Golkar, bagaimana pun ‘sentimen’ keberhasilan Orba begitu kuat. Lantunan lagu “Dari Banda Aceh hingga Papua”, cukup menggaung. Banyak siswaku menyanyikan itu secara spontan.
Lagu itu terasa menarik karena saat suasana tenang, masih terus dinyanyikan. Memang tanpa promosi, tetapi orang tahu bahwa itu untuk. Orang lalu memberikan pujian akan ‘nasionalisme’ dari ARB.

Sayangnya, ternyata ‘nasionalisme’ itu hanya selama ‘masa tenang’. Setelah pengumuman hasil pileg oleh Quick Count, lagu itu pun menghilang. Padahal, justeru di saat itu nasionalisme ARB dan Golkar diuji dan akan menjadi nilai tambah pada saat pilpres nanti. Sayangnya, terbukti langsung menghilang…berarti????

Ada masalah lain lagi. Apakah identifikasi Golkar dengan kesuksesan masa lalu, apalagi dalam kampanye disertakannya puteri-puteri Soeharto, akan berimbas juga saat ABR menajdi calon presiden? Malah bila mengaiktkan dnegan sentiment Orde Baru, bagaimana pun juga ARB juga bisa menggunakan hal yang sama. Malah dari kedekatan, meski sudah cerai denagn puterinya Soeharto, ia sempat menjadi anak mantu Soeharto.

Di sinilah letak persaingan ketat antara ARB (Golkar) berhadapan dengan Prabowo dan Jokowi. Kalau partai Golkar realitastis, hendaknya diakui persaingan dengan Prabowo dan apalagi Jokowi adalah sangat sulit. Meski punya media TV tetapi pamor itu sangat berada di bawah jauh dengan Prabowo apalagi Jokowi. Dengan demikian, sedemikian Golkar yang selalu ingin ‘di pemerintahan’, harus benar-benar memperhitungkan majunya ARB di Pilpres nanti. Sebaliknya bila maju sendiri, tentu punya dampak tersendiri.

Prabowo dengan Gerindra pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Figur Prabowo yang kelihatan memiliki konsep ekonomi kerakyatan dan ketegasannya memberikan harapan yang besar. Prabowo juga mengukir kesan sangat positif dengan perjuangannya membebaskan TKW Wilfrida warga TTS, NTT dari cengkeraman hukuman mati di Malaysia.pojian

Hal ini menjadikannya cukup kuat. Masalahnya, apakah akan lolos? Tentu saja semuanya akan kembali pada rakyat. Namun figur ABRI yang melekat erat pada Prabowo bisa jadi kekuatan, tetapi juga bisa jadi kelemahan. Penampilannya yang jarang dengan keluarga, bisa jadi sebuah pertanyaan.

Semuanya belum lagi dikaitkan dengan kehidupan pribadi, keluarga Prabowo. Memang tidak ada kaitan antara keretakan rumah tangga dan mengurus negara. Tetapi rumah tangga adalah nukleus terkecil. Di sana seseorang dilatih untuk memimpin sebuah keluarga. Selain itu keluarga menjadi sebuah kekuatan tersendiri untuk seseorang yang ingin jiwa dan raganya diserahkan untuk negara.

Tetapi itu pun belum jadi ukuran. Banyak orang justru berjuang dalam ‘kesendiriannya’. Ia justru lebih bebas tanpa ‘halangan’ dari keluarga. Ia akan lebih fokus, tidak seperti banyak orang yang begitu terpenjara oleh ikutan keluarga. Di sini juga bisa jadi kekuatan Prabowo. Siapa tahu.

Untuk Indonesia

Keterlibatan dalam pemilu legislatif sudah menjadi langkah awal. Itu berarti sebuah landasan telah dibangun. Hal itu jelas bahwa ia tidak berhenti di situ. Perjalanan masih jauh. Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa juga dan terus kita bangun hingga orde baru dan reformasi masih belum tercapai seutuhnya.

Pertanyaannya, apakah langkah ke depan yang penuh tantangan, di tengah pasar bebas dan arus globalisasi pada umumnya membuat kita lebih kuat berjuang? Apakah langkah yang dicapai ke dalam khususnya popularitas membuat kita juga tangguh keluar?

Kenyataan menunjukkan bahwa langkah sigap untuk menempatkan diri di tengah arus yang ada sangat penting. Artinya pandangan untuk berpikir global menjadikan kita juga menetapkan langkah strategis untuk melangkah lebih pasti untuk Indonesia.

Di sinilah harapan untuk semua, khususnya mereka yang terpilih. Pada mereka, tidak saja dinantikan komitmen kepada masyarakat hal mana dijanjikan, tetapi perlu menunjukkan komitmen kebangsaan sehingga lebih menetapkan langkah strategis, berani, dan matang untuk Indonesia yang lebih baik.

Sebaliknya, apabila hasil yang dicapai tidak ditunjukkan dalam kinerja positif, maka semuanya akan dipertanyakan. Konsep Indonesia yang kita maksudkan tidak bisa tercapai. Inilah tantangan yang sangat penting dan harus dijawab sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s