MENAFSIR POSTINGAN MEDIA SOSIAL

Menafsir Postingan Media Sosial

Apakah orang yang kerap mempertontokan kemesraan (antara suami isteri, pacar) di FB misalnya adalah benar-benar demikian? Ataukah hal itu mengungkapkan kerinduan atau juga sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi dalam kenyataan.  Apakah orang yang kerap mempertontonkan makanan yang dinikmati atau situasi kerap berada di restoran menggambarkan hidup yang sudah sejahtera atau sekedar sebuah kerinduan akan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan jarang dinikmati.

Ada lagi pertanyaan. Apakah orang yang sering menampilkan foto selvie baik sendiri atau kelompok karena merasa diri cantik atau ganteng? Apakah postingan berada di satu tempat menggambarkan sebuah kebanggaan atau justeru sebuah keadaan bahwa ia baru menikmati pertama kalinya, sementara orang lain mungkin sudah merasa biasa sehingga nyaris memerhatikannya?media-sosial01

Inilah pertanyaan yang sering muncul saat memerhatikan postingan orang. Ada rasa ingin tahun (bukan sekedar kepo) tetapi melihat apa yang ada di baliknya.

Ekspresi Diri

Sudah pasti memostingkan sesuatu tentu berkaitan dengan apa yang dirasa oleh seseorang bahwa hal itu menarik. Menarik karena barusan menikmati sesuatu. Permasalahannya, apakah sesuatu itu menyangkut kepentingan pribadi atau juga kepentingan orang lain? Apakah yang mau ditonjolkan adalah dirinya (dan keluarganya) atau ada sebuah pesan sosial yang mau disampaikan?

Seseorang yang menampilkan suasana kekeluargaan dalam kesederhanaan misalnya menunjukan nilai yang ada di baliknya. Ia merasa senang karena berada di antara sekeluarga dan menikmati kebersamaan dalam kesederhanaan. Ia bangga karena orang lain atau minimal berada bersama orang lain.

Situasi itu menggambarkan bahwa selama ini ia merasa sendirian. Bisa saja ada permasalahan yang menghalanginya. Dengan demikian situasi itu kembali dinikmati kini. Hal itu menjadi berita hal mana mendorong dirinya memosting foto selvie tentang kebersamaan.

Tetapi apa yang terjadi ketika melihat foto orang yang lagi makan di restoran tidak hanya sekali tetapi beberapa kali? Yang ditampilkan menjadi sebuah pertanyaan karena makan di restoran tentu bukan hal yang mudah dicapai oleh semua orang. Bahkan ada banyak facebooker yang bisa saja belum pernah menikmati makan mewah di restoran.

Terhadap postingan seperti ini segera terpikir bahwa bagi banyak orang yang ‘biasa makan di restoran’, tidak akan melihatnya sebagai sesuatu yang ‘mewah’. Mereka melaksanakan hal itu karena sebuah tuntutan kerja. Juga tidak ada keterpaksaan karena itu sebuah tontotan.

Tetapi bagai orang yang sering memosting makan di restoran, hal itu jadi pertanyaan besar. Apakah ia benar-benar mengalami bahwa rumahnya bak sebuah restoran? Atau foto itu menggambarkan atau lebih tepat mengekspresikan sebuah ketiadaan momen yang dialami di rumah. Ia memiliki kerinduan agar di rumahnya ada suasana seperti itu: makan mewah. Tetapi hal itu kurang tercapai karena banyak hal antara lain karena kondisi hidup yang tidak memungkinkan atau karena pola hidup boros yang ia lakukan sehingga lebih banyak menghabiskan uang di restoran ketimbang di rumah.media-sosial02

Atau orang yang kerap mempertontonkan tengah berada di hotel bisa saja menandakan bahwa kondisi itu tidak ada di rumahnya. Ia mengalami hal itu untuk pertama kali. Atau kadang saya sedikit nakal berpikir, apakah orang yang selalu memosting saat berada di hotel bisa saja karena ia cukup menderita hidup di rumahnya. Bahkan terpikir, barangkali untuk rumah sendiri malah ia belum miliki. Ia masih menjadi seorang ‘kontraktor’ alias dari tempat kontrak satu ke tempat kontrak lainnya. Ia lalu memosting keadaan itu sekedar mengelabui apa sebenarnya yang terjadi.

Seimbang

Tidak ada salahnya memosting foto. Meski demikian, perlu ada proses seleksi awal. Pernah terjadi, kepada isteri saya kirimi foto sendiri lagi di kantor (lagi selvie). Saya rasa dia adalah orang yang bisa memberikan penilaian jujur tentang saya. Hal itu berbeda kalau saya tampilkan foto sendiri di media sosial. Banyak orang yang ‘like’ tetapi bisa disertai rasa geli. Saat melihat postingan reaksi negatif juga bisa muncul.

Agar postingan mendapatkan penilaian positif, mestinya dilakukan dalam dua sisi. Tidak salah memosting foto pribadi atau kondisi pribadi berada di tempat bagus. Hal itu wajar adanya. Tidak ada salah kan menikmati sesuatu yang bukan hal biasa dan karena itu disebut luar biasa. Tetapi yang tidak boleh dilupakan, agar postingan itu juga bersifat imbang.

Apap artinya? Ketika berada dalam suasana kesederhanaan, juga ia tak lupa memosting. Ia bisa memosting saat berada dalam pesawat tetapi ketika berada di kapal laut ia juga tidak lupa memosting. Di sana ia gambarkan kehidupan yang sederhana. Ia menikmati hidup indah berada di antara orang lain dalam kondisi kesederhanaan. Ia juga memosting saat makan di rumah. Ia gambarkan sesuatu yang terjadi apa adanya.

Selain itu, bagi yang kerap memosting gambar sendiri, mestinya juga mengevaluasi diri. Yang dimaksud, postingan tentang diri itu semuanya datang dari diri sendiri atau juga dari orang lain? Apakah kemewahan yang dialami juga dirasakan sepadan dengan apa yang kita alami?

Hal itu untuk mengukur sensibilitas sosial. Artinya, apa yang kita tonjolkan tentang diri kita tidak dilihat sebagai sesuatu yang menggelikan tetapi sungguh sesuatu yang wajar. Artinya, orang lain merasa wajar bahwa apa yang kita postingkan sungguh sesuatu yang juga dirasakan oleh orang lain. Mereka memosting seseuatu saat menangkap momen kita.

Contoh sederhana. Ketika berada dalam sebuah acara pesta, orang lain yang mengambil foto tentang diri kita. Mereka merasa kehadiran kita menarik untuk dikenang dalam foto. Mereka lalu memosting tentang kehadiran kita di sana. Di sini postingan tentang keberadaan kita tidak selalu datang dari diri kita tetapi juga datang dari orang lain.

Hal sederhana memperolehnya tentu melalu share gambar. Orang yang punya lingkup pergaulan tinggi tidak akan mengambil foto apabila sudah ada orang lain yang memfoto. Di even ia tidak akan mewajibkan orang lain mengambil foto dari cameranya tetapi membuka pergaulan baru dengan orang yang baru dikenal. Ia mendekati, mencari perkenalan, sekedar meminta agar gambar itu ‘dishare’.

Postingan tentang diri karena itu bisa ditafsir dari berbagai aspek. Sensibilitas sosial, kemudahan bergaul, kesederhanaan, keterbukaan, dan kerendahan hati merupakan modal yang sangat penting di era media sosial seperti itu. Bagi yang terlanjur, ia tentu perlu belajar menjadi ‘nice’ di depan media sosial.

Robert Bala. Mendalami ‘Public Speaking’ di Universitas Complutense dan Media Massa di Universitas San Damaso Madrid Spanyol.